Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Kejauhan
Di dalam kamar yang hening, aku masih terduduk di kursi meja belajar, memandangi layar ponsel yang menyala di genggamanku. Di sampingku, Naura masih bergelung nyaman di balik selimut tebal, mengeluarkan dengkur halus yang teratur.
Mataku terpaku pada barisan tiga kata dari Kania yang dikirimkannya semalam:
"I miss you..."
Sambil mengulas senyum tipis, jemariku mulai mengetikkan balasan dengan nada berguyon.
"Baru sehari gak ketemu udah kangen aja, gimana kalau udah lulus haha"
Tak sampai satu menit berselang, ponselku bergetar pelan di telapak tangan. Sebuah balasan masuk dari Kania.
"Maksud Sera apa?"
Aku terkekeh pelan membaca balasan polos dari sahabatku itu. Jemariku kembali menari cepat di atas layar touch screen.
"Semalem kamu chat I MISS YOU maksudnya apa cobaaaa, kangen yaaa, sini main ke rumahku"
Aku menanti balasan Kania seraya membayangkan raut wajah manjanya yang pasti sedang mengernyit bingung di seberang sana. Namun, saat balasan berikutnya muncul di layar, seluruh sel darah di dalam tubuhku serasa berhenti mengalir seketika.
"Itu kayanya yang chat Mas Adrian deh, Nia ga pernah chat Sera begitu. Semalem HP Nia dipinjam Mas Iyan sebentar emang"
Prak!!!
Genggaman tanganku melemas seketika. Dadaku berdegup kencang bagai derap genderang perang, dihantam oleh rasa guncangan yang datang tanpa peringatan.
Mas Adrian...
Jadi, tiga kata yang sempat membuat hatiku bergetar hangat pagi tadi sama sekali bukan dikirimkan oleh Kania. Itu adalah Adrian. Pria yang telah kublokir seluruh akses komunikasinya, pria yang kuanggap telah menghancurkan rasa percayaku, rupanya diam-diam menggunakan ponsel adiknya sendiri hanya untuk menyampaikan bisikan rindu yang kini terasa begitu menyengat di dadaku.
Rasa sesak yang amat familiar mendadak menyusup kembali ke dalam relung sanubariku.
"Eungh..."
Suara lenguhan halus dari atas kasur memecah keheningan yang membekukanku. Naura bergerak gelisah, menggeliatkan badannya yang kaku sebelum akhirnya perlahan membuka kedua matanya. Ia mengusap matanya yang masih lengket, menyapu pandangan ke sekeliling kamar sebelum akhirnya menatapku yang terduduk kaku di depan meja belajar.
"Jam berapa nih, Ser?" tanya Naura dengan suara parau khas bangun tidur.
"Udah jam 10, Ra," sahutku berusaha keras menetralkan nada suaraku yang sempat bergetar.
Naura mendudukkan dirinya di tepi kasur, mengusap wajahnya seraya menguap lebar.
"Aduh, pegel banget badan gue. Eh, Ser, mumpung udah bangun dan hari Minggu nih... keluar yuk? Ke kafe abangnya Bastian aja yuk? Yang punya Bang Bram itu loh."
Mendengar nama kafe milik Bram disebut, jantungku seketika berdesir hebat. Tempat itu—halaman belakangnya yang asri, bangku kayu di bawah pohon rindang, dan kenangan saat Adrian mendaratkan kecupan serta memintaku menjadi kekasihnya, sekilas berkelebat tajam di ingatan.
"Gak mau, Ra. Jangan ke sana," tolakku cepat dengan nada tegas.
Naura mengernyitkan dahi, menatapku heran. "Loh? Kenapa, Ser? Kan kafenya lo suka banget, tempatnya juga adem. Lagian kan Bastian temen kita, bisa dapet diskon kali dari abangnya."
Aku menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang. "Gue belum siap ke sana, Ra. Ke kafe lain aja, ya?"
Naura memiringkan kepalanya sejenak, mengamati raut wajahku yang berubah keruh. Meskipun ia belum tahu secara detail alasan traumatis di balik kafe itu, sebagai sahabat lama, Naura cukup peka untuk tidak memaksakan kehendaknya.
"Yaelah, kalo di kafe lain mah gak dapet diskon dong, Ser!" keluh Naura setengah bercanda seraya mengerucutkan bibirnya. "Tapi ya udah deh, daripada kita cuma diem di kamar terus. Tapi abis dari kafe kita langsung ke rumah gue ya?
Gue mau ngambil baju."
"Oke, sepakat," jawabku memaksakan senyum tipis.
Setelah beremas-kemas dan mandi bergantian, kami segera berpamitan pada Ibu di dapur.
Aku memajukan motor Scoopy merahku membelah jalanan pagi yang mulai dihangatkan oleh pendar sinar matahari.
Tujuan kami adalah sebuah kafe kecil berkonsep minimalis yang terletak tak jauh dari komplek perumahan Naura. Kami sengaja memilih tempat itu agar memudahkan perjalanan kami menuju rumah Naura setelahnya.
Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di lokasi. Kafe dua lantai itu tampak cukup lengang di pagi hari Minggu ini. Aroma biji kopi sangrai dan mentega dari dapur roti menyapa indra penciuman kami begitu kami melangkah masuk.
"Gue pesen ice Hazelnut Latte sama croissant, lo mau pesen apa, Ser?" tanya Naura di depan meja kasir.
"Gue Matcha Latte hangat aja deh, Ra," sahutku pelan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, kami berjalan menaiki tangga menuju lantai dua yang berkonsep semiterbuka dengan kaca-kaca besar yang menghadap ke jalan raya. Kami memilih duduk di sebuah meja kayu kecil di dekat sudut ruangan, dikelilingi oleh tanaman hias gantung yang asri.
"Enak juga nih tempatnya, adem," ujar Naura mendudukkan dirinya di kursi berseberangan denganku.
"Bukan main," balasku tersenyum tipis seraya meletakkan tas kainku di atas meja.
Kami pun mulai berbincang santai, menikmati pesanan yang tak lama kemudian diantarkan oleh pelayan. Gelak tawa renyah sesekali meluncur saat Naura menceritakan kejadian-kejadian konyol di sekolahnya. Kehadiran Naura cukup berhasil mengalihkan pikiranku dari rasa guncangan akibat pesan singkat Adrian tadi pagi.
Namun, di tengah-tengah obrolan seru kami tentang rencana liburan semester, pandangan Naura mendadak terhenti.
Matanya menyipit menatap lurus ke arah sudut lain ruangan lantai dua ini, sebuah meja besar yang terletak cukup jauh di seberang kami, di dekat deretan jendela kaca utama.
"Ser..." panggil Naura pelan, intonasi suaranya mendadak berubah serius.
"Kenapa, Nau?" tanyaku bingung melihat perubahan raut wajahnya.
Naura memiringkan kepalanya sedikit, menyenggol pelan kaki meja kami dengan ujung sepatunya. "Coba deh lo lirik pelan-pelan ke seberang sana... dekat jendela besar. Itu bukannya Mas Adrian?"
Deg.
Jantungku serasa melompati satu detakan. Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, aku memutar kepalaku sedikit, mengarahkan pandanganku menuju sudut seberang ruangan yang ditunjuk oleh Naura.
Dan di sana, di bawah tembusan sinar matahari dari balik kaca besar, berdiri sebuah kenyataan yang seketika mengunci seluruh aliran napasku.
Pria itu ada di sana. Adrian.
Ia mengenakan kaus polos berwarna hitam dengan jaket denim yang tergeletak di sandaran kursinya. Namun, yang membuat dadaku serasa diremas oleh jemari tak kasat mata bukan hanya keberadaan Adrian semata, melainkan sosok yang duduk tepat di hadapannya.
Seorang perempuan.
Perempuan itu berambut pendek sebahu dengan tatanan yang rapi. Ia mengenakan pakaian yang modis. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat betapa aktifnya perempuan berambut pendek itu berbicara. Bibirnya tak berhenti mengutarakan cerita, jarinya sesekali bergerak gestural di udara, mencoba menarik perhatian pria di depannya dengan binar antusias yang membuncah.
Tapi Adrian?
Pria itu duduk menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pandangan matanya menatap kosong ke arah cangkir kopi dingin di atas meja, atau sesekali terlempar ganjil ke luar jendela kaca. Wajahnya begitu dingin, kaku, dan datar.
Adrian sama sekali tidak merespons cerita perempuan itu. Ia mengacuhkannya sepenuhnya, membiarkan perempuan berambut pendek itu menggebu-gebu sendirian di tengah dinding keheningan yang dibangunnya.
"Gila..." bisik Naura pelan di depanku, matanya masih tak lepas dari pemandangan di seberang sana. "Itu cewek ngomong panjang lebar dari tadi tapi cowok lo, eh, maksud gue si Adrian, malah cuek gitu. Itu siapa lagi ceweknya, Ser?"
Aku membisu di atas kursiku, memandangi sosok Adrian dari kejauhan.
Rasa pahit, bingung, dan kekecewaan mendadak menyatu di dalam benakku. Pria yang semalam diam-diam mencuri ponsel adiknya hanya untuk mengiringkan kalimat " I miss you'"padaku, kini sedang duduk berdua bersama wanita berambut pendek di sebuah kafe.
Aku menarik napas panjang yang teramat berat, menggenggam erat gelas Matcha Latte hangat di tanganku seraya memalingkan pandangan sepenuhnya dari sudut seberang sana.