NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 JEJAK LAMA DAN MUSUH YANG MENGINTAI

 

Lin Mo melangkah keluar dari hutan lebat itu saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Sinar matahari pertama yang berwarna jingga keemasan menyapu wajahnya yang tampak tenang namun kini memancarkan wibawa yang tak terlukiskan. Cahaya ungu keemasan yang sempat bersinar terang dari tubuhnya semalam kini telah tersembunyi kembali di kedalaman kulitnya, namun kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya tak pernah hilang sedikit pun. Setiap tarikan napasnya kini terasa lebih ringan dan lebih dalam. Setiap langkah kakinya terasa lebih mantap dan lebih kuat seakan tanah di bawahnya kini menjadi miliknya untuk dipijak.

Lin Mo berjalan terus menyusuri jalan tanah yang berkelok menuju desa kecil tempat ia tinggal selama ini. Di sepanjang jalan, para petani yang berangkat ke ladang menatapnya dengan pandangan heran dan takjub. Mereka semua mengenal Lin Mo sebagai anak yang lemah, sering sakit-sakitan, dan selalu berjalan menunduk penuh ketakutan. Namun pemuda yang berjalan di hadapan mereka pagi ini tampak berbeda sepenuhnya. Punggungnya tegak lurus. Tatapannya lurus ke depan penuh keyakinan dan ketenangan. Bahkan pakaiannya yang sederhana pun tampak berkilauan samar terkena sinar matahari seakan menyembunyikan kekuatan yang luar biasa di balik kain yang lusuh itu.

Sesampainya di dekat rumah kayu kecil yang sederhana di pinggir desa, Lin Mo berhenti sejenak menatap pintu kayu yang sudah mulai lapuk itu. Di dalam rumah itulah ia dibesarkan oleh orang tua yang selama ini ia kira adalah orang tuanya yang sebenarnya. Namun semalam, saat kekuatan darahnya terbangun, bayangan dan suara leluhurnya menyampaikan hal-hal yang membuat hatinya bergemuruh hebat. Ada banyak hal yang ternyata disembunyikan darinya. Ada banyak rahasia yang perlahan mulai terbuka.

Lin Mo melangkah masuk ke dalam rumah. Seorang wanita paruh baya yang tampak lemah dan penuh keramahan sedang menyusun sayuran di atas meja kayu tua. Saat melihat Lin Mo masuk, wanita itu tersenyum lembut namun seketika terkejut melihat perubahan yang tampak pada wajah dan sikap putranya. Ia meletakkan sayuran di tangannya dan melangkah mendekat dengan pandangan yang penuh kecemasan namun juga penuh takjub.

"Mo... Ada apa denganmu? Wajahmu tampak berbeda... Cahaya apa yang bersinar dari matamu..."

Wanita itu berbicara dengan suara yang lembut namun sedikit bergetar. Lin Mo menatap wanita yang selama ini ia panggil ibu itu dengan pandangan yang penuh kasih namun juga penuh tanya yang mendalam. Ia perlahan mendekat dan menatap mata wanita itu lekat-lekat. Di sana, di balik pandangan yang penuh kasih sayang itu, Lin Mo melihat samar-samar bayangan kekhawatiran dan kesedihan yang selama ini tersembunyi darinya. Lin Mo menarik napas panjang dan bertanya dengan suara yang tenang namun tegas.

"Ibu... Siapakah aku sebenarnya? Dan siapakah kedua orang tuaku yang asli? Jangan sembunyikan apa pun lagi dariku... Karena semalam... sesuatu yang telah lama tertidur di dalam diriku akhirnya terbangun..."

Wanita itu tersentak hebat mendengar pertanyaan itu. Tubuhnya melemah seketika dan ia mundur beberapa langkah hingga bersandar pada dinding kayu yang kasar. Matanya berkaca-kaca menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh keputusasaan namun juga penuh rasa takut yang mendalam. Ia tahu bahwa hari ini pasti akan datang. Ia tahu bahwa kekuatan darah keturunan itu pasti akan terbangun suatu hari nanti. Namun ia tak menyangka bahwa hari itu datang begitu cepat dan begitu tiba-tiba.

Wanita itu jatuh berlutut di lantai kayu yang dingin. Air mata jatuh membasahi pipinya yang keriput. Ia menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh penyesalan dan kasih sayang yang tak terhingga.

"Maafkan Ibu... Maafkan Ibu yang telah menyembunyikan kebenaran darimu selama ini... Bukan karena Ibu tak menganggapmu sebagai anak sendiri... Melainkan karena Ibu takut... Takut akan bahaya yang pasti datang mengetahui keberadaanmu... Selama ini Ibu dan Ayah hanyalah pelayan setia keluargamu... Kami bersembunyi di sini... menyembunyikanmu... berharap agar kekuatan itu tak pernah terbangun... berharap agar kau hidup tenang tanpa harus menanggung bahaya yang mengancam nyawamu..."

Lin Mo berdiri diam mendengar pengakuan itu. Hatinya terasa perih namun juga terasa semakin jernih. Segala hal yang selama ini terasa aneh dan membingungkan kini perlahan mulai tersusun menjadi satu gambaran yang jelas. Ia melangkah maju dan membantu wanita itu bangkit berdiri dengan lembut. Lin Mo menatapnya dengan pandangan yang lembut namun teguh.

"Ibu... Terima kasih telah membesarkanku dan melindungiku selama ini... Aku tidak menyalahkan Ibu sedikit pun... Namun sekarang... aku harus tahu kebenarannya... Siapakah ayah dan ibuku yang sebenarnya? Dan mengapa aku harus disembunyikan di sini?"

Wanita itu menghapus air matanya perlahan dan menatap Lin Mo dengan pandangan yang berat namun penuh keikhlasan. Ia menarik napas panjang dan mulai menceritakan segala hal yang disembunyikan selama belasan tahun itu.

"Ayahmu... adalah Pangeran Agung dari Kekaisaran Langit... Ia adalah pria yang paling perkasa dan paling mulia... Namun karena kehendak takdir dan persekongkolan orang-orang jahat... ibumu yang tercinta tewas... dan nyawamu pun terancam bahaya... Ayahmu menyuruh kami membawamu lari menyembunyikanmu di tempat yang tak diketahui siapa pun... berharap agar kau tumbuh selamat dan jauh dari bahaya... Selama ini ayahmu selalu mengetahui keberadaanmu... Namun ia tak berani menjemputmu... karena musuh-musuhnya selalu mengawasi... menunggu saat kekuatan darahmu terbangun... agar mereka dapat datang dan mencoba membunuhmu..."

Lin Mo mendengarkan setiap kata yang diucapkan wanita itu dengan saksama. Di dalam dadanya, energi qi yang berwarna ungu keemasan berdenyut lembut namun semakin kuat seakan menegaskan kebenaran cerita itu. Sekarang ia mengerti segalanya. Mengapa ia disembunyikan. Mengapa ia lemah selama ini. Dan mengapa musuh-musuh ayahnya pasti akan datang mencarinya saat kekuatannya terbangun. Karena darah yang mengalir di dalam nadinya adalah darah pewaris sah takhta kekaisaran. Dan keberadaannya menjadi ancaman terbesar bagi mereka yang merencanakan kejahatan.

Lin Mo mengangguk perlahan dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih Ibu... Kini aku mengerti... Jangan khawatir... Mulai hari ini... aku tak akan lagi membiarkan siapa pun menyakiti kalian... Dan aku tak akan lagi bersembunyi... Saatnya aku melangkah keluar... dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku..."

Belum selesai kata-kata itu terucap, tiba-tiba jendela rumah kayu itu pecah berkeping-keping seketika. Angin kencang menerobos masuk membawa hawa dingin yang mematikan dan berbau busuk. Lima sosok berpakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh melesat masuk berdiri melingkari Lin Mo dan wanita itu. Cahaya hitam pekat memancar dari tubuh mereka memancarkan aura pembunuh yang dingin dan kejam. Salah satu dari mereka melangkah maju perlahan dan menatap Lin Mo dengan mata yang menyala penuh kebencian dan niat membunuh. Suaranya terdengar berat dan serak seakan berasal dari kerongkongan yang sudah rusak.

"Akhirnya... kekuatan darah keturunan itu terbangun... Tugasku sederhana... membunuhmu sebelum kekuatanmu berkembang sepenuhnya... Tak ada yang mampu menyelamatkanmu hari ini..."

Wanita itu berteriak ketakutan dan hendak melindungi Lin Mo di belakang tubuhnya. Namun Lin Mo perlahan menepis lembut tangan wanita itu dan melangkah maju berdiri di hadapan kelima pembunuh itu sendirian. Cahaya ungu keemasan yang lembut namun kokoh perlahan bersinar dari tubuhnya menyapu sekeliling. Lin Mo menatap pemimpin pembunuh itu dengan pandangan yang tenang namun begitu tajam dan begitu berwibawa hingga membuat pembunuh itu mundur selangkah tanpa sadar.

"Kalian datang terlambat... Jika kalian datang semalam... mungkin aku tak memiliki kekuatan untuk melawan... Namun hari ini... Kalian datang untuk mati..."

Lin Mo berbicara perlahan dengan suara yang rendah namun bergema di seluruh ruangan seakan digaungkan oleh kekuatan yang tak kasat mata. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya melesat keluar berubah menjadi energi spiritual yang tajam dan kuat menghantam lantai kayu hingga retak menjalar ke segala arah. Kelima pembunuh itu terkejut bukan main. Mereka tak menyangka bahwa anak yang seharusnya lemah itu justru memancarkan kekuatan yang begitu dahsyat dan begitu mulia.

"Mundur dan serahkan nyawamu... Atau hancur bersama tempat ini..."

Lin Mo melanjutkan dengan suara yang kini penuh tekanan dan ancaman yang nyata. Tangannya perlahan terangkat ke depan. Energi qi ungu keemasan berputar cepat di telapak tangannya membentuk bola cahaya yang semakin lama semakin besar dan semakin terang. Kelima pembunuh itu saling berpandangan sejenak lalu mengangguk serentak. Mereka melesat menyerang bersamaan dengan senjata tajam yang memancarkan cahaya hitam mematikan berusaha menebas tubuh Lin Mo.

Lin Mo berdiri diam tak bergerak sedikit pun. Saat senjata-senjata itu hampir menyentuh kulitnya, seketika itu juga cahaya ungu keemasan dari tubuhnya meledak menyapu segala arah. Kelima pembunuh itu terpental mundur menghantam dinding rumah hingga runtuh seketika. Darah segar menyembur dari mulut mereka berhamburan di lantai kayu yang hancur. Lin Mo melangkah perlahan mendekati mereka yang terbaring lemah dan tak berdaya di antara reruntuhan. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang dingin dan tajam.

"Siapa yang menyuruh kalian datang? Katakan... dan aku akan membiarkan kalian hidup... Jika tidak... Kalian tahu akibatnya..."

Pemimpin pembunuh itu menyeringai penuh kebencian meskipun napasnya terasa berat dan nyawanya tinggal seutas benang. Ia menatap Lin Mo dan berkata dengan suara yang tersendat namun penuh ancaman.

"Kau boleh membunuh kami... Namun ribuan pembunuh lain akan datang... Tak akan ada tempat yang aman bagimu... Takhta itu milik tuan kami... dan kau hanyalah sampah yang berdiri di jalannya..."

Lin Mo menatap mereka dalam diam sejenak. Ia menyadari bahwa musuh-musuh ayahnya tak akan berhenti hanya dengan kematian kelima orang ini. Ancaman yang sesungguhnya baru saja dimulai. Lin Mo menghela napas panjang dan melangkah mundur perlahan.

"Aku tak akan membunuh kalian... Kembalilah kepada tuan kalian... dan sampaikan pesanku... Katakan padanya... Aku Lin Mo... Putra Mahkota yang masih hidup... Dan aku akan datang mengambil kembali apa yang menjadi hakku... Katakan padanya... bersiaplah... karena aku tak akan pernah berhenti..."

Kelima pembunuh itu menatap Lin Mo dengan pandangan tak percaya. Mereka tak menyangka bahwa pemuda itu justru membiarkan mereka hidup untuk menyampaikan pesan yang begitu berani dan begitu menantang. Dengan susah payah mereka bangkit dan melarikan diri pergi secepat mungkin seakan takut Lin Mo berubah pikiran.

Setelah mereka pergi, Lin Mo berbalik menatap wanita itu yang berdiri terpaku diam penuh kekhawatiran. Lin Mo mendekat dan menatapnya dengan senyum yang lembut namun penuh keteguhan hati.

"Ibu... Rumah ini tak lagi aman... Kalian harus pergi dari sini... Pergilah ke tempat yang aman... Sementara aku pergi... menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan..."

Wanita itu menatap Lin Mo dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tahu bahwa sejak hari ini, anak yang dibesarkannya itu telah tumbuh menjadi pria sejati. Dan tak ada kekuatan apa pun yang mampu menahannya untuk melangkah menuju takdir yang menantinya. Wanita itu mengangguk pelan dan memeluk Lin Mo untuk terakhir kalinya.

"Pergilah... Anakku... Semoga kekuatan leluhurmu selalu melindungimu... Dan ingatlah... Di mana pun kau berada... Ibu selalu mendoakanmu..."

Lin Mo melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap wanita itu untuk terakhir kalinya lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah kayu yang mulai runtuh itu. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh menyelimuti tubuhnya menerangi jalan di hadapannya. Langkah kakinya tegak dan mantap menuju arah jauh di mana takdirnya sedang menantinya.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!