"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Hilang Bukan Hanya Kalung
“Kalau salah satu pihak bersikeras mempertahankan pernikahan, prosesnya memang bisa cukup panjang. Dalam beberapa kasus, bisa sampai berbulan-bulan. Namun kalau alasan gugatan jelas, bukti lengkap, dan tidak ada kendala berarti, biasanya prosesnya bisa selesai lebih cepat.”
Sean mengernyitkan dahi. “Berbulan-bulan? Nggak bisa dipercepat sedikit, Bang? Misalnya… pakai jalur khusus?”
Diandra spontan melotot ke arahnya.
“Sean!”
Sean langsung mengangkat kedua tangan. “Bercanda, Mbak. Jangan galak-galak.”
Victor hanya tersenyum kecil. “Sebaiknya kita tetap mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Saya akan membantu semaksimal mungkin agar proses perceraian Diandra dengan Bastian berjalan lancar.”
Diandra menghela napas pelan. “Terima kasih, Bang Victor.”
“Jangan berterima kasih dulu. Tunggu sampai semuanya benar-benar selesai.”
Ucapan itu membuat Diandra terdiam. Ia memang ingin pernikahannya dengan Bastian segera berakhir. Terlalu banyak luka yang sudah ia pendam selama ini. Namun, ia sadar bahwa ada proses hukum yang harus dilewati.
Sean tiba-tiba menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau begitu, Bang Victor masih ada urusan lain, kan?”
Pria itu menatapnya heran. “Memangnya kenapa?”
“Karena setelah ini saya mau makan siang berdua sama calon istri saya.”
Diandra langsung menatap Sean tajam.
“Siapa calon istri kamu?”
Sean tersenyum santai. “Ya siapa lagi kalau bukan Mbak Diandra?”
Victor tertawa kecil. “Kalau begitu saya permisi. Masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan.”
“Hati-hati di jalan, Bang.” ujar Sean sambil melambaikan tangan.
Setelah Victor pergi dan tidak lagi terlihat dari tempat mereka duduk, Diandra langsung mencubit lengan Sean.
“Aduh! Sakit, Mbak!”
“Biar kapok. Kamu itu kalau bicara sama orang yang lebih tua nggak pernah punya rem.”
Sean mengusap lengannya sambil cengengesan.
“Memangnya aku tadi menghina Bang Victor?”
“Bukan begitu. Tapi ucapanmu tadi…”
Sean tiba-tiba mendekat dan menyentuhkan telunjuknya di depan bibir Diandra.
“Sudah. Jangan dipikirkan.”
Ia kemudian tersenyum.
“Sekarang makan. Aku lapar.”
Diandra menggelengkan kepala, tetapi tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat. Entah kenapa, di tengah beratnya urusan perceraian, kehadiran Sean selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Diandra menghela napas panjang. “Aku mau langsung pulang saja. Mau jemput anak-anak.”
“Sekarang baru jam dua siang.” Sean melirik jam tangannya. “Azzam dan Azzura masih pulang jam empat. Temani aku makan dulu, ya.”
Diandra mendengus pelan, lalu mengetuk kepala Sean dengan jarinya.
“Kamu ini, ya. Berhenti memanggil aku calon istri dan jangan mengaku-ngaku sebagai calon suamiku.”
Sean terkekeh. “Iya, iya. Aku berhenti.” Ia mengangkat tangan seolah menyerah. “Sekarang ayo makan. Biar aku yang pesan.”
Karena sejak pagi Diandra belum menyentuh makanan, akhirnya ia mengangguk. Ia pun memilih makan siang bersama Sean sebelum menjemput kedua anaknya.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan tersaji di atas meja.
Diandra mulai makan. Anehnya, setelah pembicaraan mengenai perceraian tadi, dadanya terasa jauh lebih lega. Setidaknya kini ia memiliki jalan keluar dari pernikahan yang selama ini membuatnya terluka.
Bahkan setelah beberapa hari kehilangan selera makan, untuk pertama kalinya ia bisa menikmati makanannya dengan cukup lahap.
Sean memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya bertanya, “Diandra, selama proses perceraian berlangsung, kamu masih mau tinggal satu rumah dengan Bastian?”
Gerakan tangan Diandra terhenti.
“Aku juga bingung,” jawabnya lirih. “Kalau aku pergi dari rumah itu, aku nggak tahu harus tinggal di mana.”
Ia menunduk sejenak.
“Apartemen yang dulu juga sudah aku jual. Aku juga nggak mungkin kembali ke panti asuhan.”
“Kenapa?”
“Aku belum siap menceritakan semuanya kepada Bu Liliana.” Diandra menarik napas. “Selama ini beliau selalu menganggap Bastian sebagai suami yang baik. Kalau tahu kami akan bercerai, aku takut beliau kecewa.”
Diandra kemudian terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.
“Selain itu, aku memikirkan Azzam. Dia pernah bilang kalau aku berpisah dari Bastian, dia ingin ikut denganku.”
Sean mengangguk pelan.
“Kalau masalah tempat tinggal, kamu nggak perlu khawatir.”
Diandra menatapnya.
“Aku punya beberapa tempat yang bisa kamu tempati sementara. Tempat-tempat itu juga nggak mudah diketahui orang. Aku bisa memastikan Bastian nggak akan tahu kamu tinggal di mana.”
Diandra tampak ragu.
“Kalau Azzam memang ingin ikut kamu, bawa saja. Jangan sampai kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”
“Aku nggak mau terlalu merepotkan kamu, Sean.”
Sean justru tersenyum santai.
“Kenapa merasa merepotkan? Aku membantu karena aku memang mau.”
Diandra masih diam.
Sean lalu menyeringai jahil. “Lagian, masa sama calon istri sendiri harus perhitungan?”
Mata Diandra langsung menyipit.
“Sean.”
“Oke, oke.” Sean buru-buru menutup mulutnya. “Aku lupa.”
“Aku sudah bilang jangan mengaku-ngaku calon suamiku.”
Sean mengangguk patuh.
“Iya, Bu Diandra.”
“Bagus.”
Diandra kembali menyantap makanannya. Namun kali ini, senyum tipis terlihat di wajahnya.
Di tengah kekacauan hidupnya, setidaknya ia masih memiliki seseorang yang bersedia berdiri di sisinya.
“Selain itu...” Sean kembali membuka suara.
Diandra mengangkat wajah ketika mendengar suara Sean berubah lebih pelan dari sebelumnya.
“Selain itu apa?”
Sean terdiam sesaat. Senyum jahil yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang.
“Anggap saja semua bantuan yang aku berikan ini sebagai bentuk permintaan maaf.”
Diandra mengernyit. “Permintaan maaf?”
Sean mengangguk.
“Karena keluargaku sudah ikut membuat hidupmu berantakan.”
Tatapan Sean berubah sendu.
“Serly berkali-kali menuduhmu macam-macam, mencoba mengambil Bastian darimu, bahkan melakukan berbagai hal yang membuatmu tertekan. Ayahku yang biasanya memilih tidak ikut campur pun akhirnya termakan hasutan Serly. Dia sampai tega memperlakukanmu dengan buruk dan melontarkan kata-kata yang seharusnya nggak pernah kamu dengar.”
Sean menarik napas panjang.
“Dan Serly ...” Ia menunduk sejenak. “Mama selalu membela Serly, bahkan ketika tahu tindakannya sudah menyakitimu.”
Diandra hanya diam mendengarkan.
“Aku sering merasa malu setiap kali bertemu kamu.” Sean tersenyum pahit. “Bukan karena kamu. Aku justru malu karena keluargaku sendiri gagal memperlakukanmu dengan baik.”
Ia mengepalkan tangan di atas meja.
“Yang paling membuatku kecewa adalah diriku sendiri. Aku seharusnya bisa melindungimu dari mereka, tapi ternyata aku nggak cukup kuat untuk melakukannya.”
Diandra menggeleng pelan.
“Sean, sudah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”
“Tapi—”
“Bukan kamu yang melakukan semua itu.” Diandra tersenyum tipis. “Jadi kamu nggak perlu terus meminta maaf atas kesalahan orang lain.”
Sean terdiam.
“Aku juga nggak pernah membencimu karena keluargamu. Justru aku akan kecewa kalau setelah semua yang terjadi, kamu malah memilih menjauhiku.”
Sean menatap Diandra cukup lama.
“Aku nggak akan pernah menjauh.”
“Benarkah?”
“Benar.” Senyum Sean perlahan kembali muncul. “Lagipula, kalau aku menjauh sekarang, bagaimana aku bisa menikah denganmu nanti?”
“Sean!”
Diandra langsung melotot.
Tawa Sean pecah melihat ekspresi kesal perempuan itu.
“Kenapa? Aku cuma mengingatkan rencana masa depan.”
“Aku sudah berkali-kali bilang, jangan bicara seolah-olah aku pasti akan menikah denganmu.”
Sean mengangkat kedua tangannya.
“Baik, baik. Aku diam.”
Diandra menggelengkan kepala. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana Sean bisa tetap bercanda di tengah pembicaraan seserius itu.
Namun, jauh di dalam hatinya, perhatian Sean memang sedikit demi sedikit membuatnya merasa tidak sendirian.
Meski begitu, Diandra belum sanggup memikirkan pernikahan baru.
Setelah perceraian dengan Bastian nanti, ia bahkan tidak tahu apakah dirinya masih ingin membuka hati untuk seseorang.
Luka dari pernikahan itu terlalu dalam.
Dulu, ia mencintai Bastian dengan segenap hati dan percaya bahwa pernikahan mereka akan menjadi tempatnya pulang. Namun kenyataan justru membuatnya belajar bahwa cinta sebesar apa pun tidak selalu mampu menyelamatkan sebuah hubungan.
Karena itu, Diandra memilih berhati-hati.
Ia tidak ingin kembali memberikan seluruh hatinya kepada seseorang hanya untuk merasakan kehancuran yang sama.
Untuk saat ini, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanyalah menyembuhkan dirinya sendiri dan memastikan kedua anaknya tetap baik-baik saja.
Sekitar pukul setengah empat sore, setelah menyelesaikan urusannya bersama Sean, Diandra segera menuju sekolah untuk menjemput Azzam dan Azzura.
Begitu sampai, kedua anak itu sudah menunggunya di depan gerbang.
“Mommy!”
Azzam langsung berlari menghampiri dan memeluk Diandra erat.
Sementara itu, Azzura hanya berjalan menuju mobil tanpa banyak bicara. Wajahnya tampak kurang bersemangat. Rupanya ia masih berharap Serly yang datang menjemputnya.
Diandra memperhatikan putrinya dari kejauhan, tetapi tidak ingin memaksanya.
“Azzam senang banget Mommy sudah sembuh. Sekarang Mommy bisa jemput Azzam lagi.”
Diandra tersenyum dan mengusap kepala putranya.
“Iya, Sayang. Yuk, kita pulang.”
Setelah memastikan kedua anaknya masuk ke mobil, Diandra mengambil posisi di kursi pengemudi. Azzam duduk di sampingnya, sedangkan Azzura memilih duduk di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, Azzam tak berhenti bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Mulai dari pelajaran yang ia sukai, permainan bersama teman-temannya, sampai kejadian kecil yang membuatnya tertawa.
Diandra sesekali menanggapi sambil tersenyum.
Berbeda dengan Azzam, Azzura justru lebih banyak diam. Tatapannya terpaku pada pemandangan di luar jendela.
Diandra tahu, selama ini Azzura memang lebih terbuka ketika bersama Serly dan Bastian.
Namun, ia tidak ingin membiarkan jarak di antara dirinya dan putrinya semakin lebar.
“Azzura,” panggil Diandra lembut.
Gadis kecil itu menoleh sekilas.
“Tadi di sekolah melakukan apa saja?”
“Belajar.”
“Selain belajar?”
“Main.”
Jawabannya singkat, lalu Azzura kembali menatap ke luar jendela.
Azzam yang melihat itu akhirnya ikut bersuara.
“Sudah, Mommy. Nggak usah tanya Azzura terus. Tanya Azzam saja.”
Diandra terkekeh kecil. Tangannya sempat mengusap rambut Azzam sebelum kembali memegang kemudi.
“Baiklah.”
Namun beberapa detik kemudian, Diandra kembali membuka suara.
“Sayang, Mommy mau bicara sedikit dengan Azzam dan Azzura.”
Azzam langsung menoleh.
Diandra melirik putranya, kemudian melihat Azzura melalui kaca spion.
“Belakangan ini Mommy sering melihat kalian bertengkar. Mommy merasa mungkin ada banyak hal yang membuat kalian tidak nyaman.”
Azzura perlahan berhenti memandang ke luar jendela.
“Mommy minta maaf kalau masalah antara Mommy dan orang dewasa membuat kalian ikut terkena dampaknya.”
Diandra menarik napas.
“Mommy juga minta maaf kalau selama ini ada sikap Mommy yang membuat kalian terluka.”
Azzam segera menggeleng.
“Mommy nggak salah sama Azzam. Mommy selalu baik sama Azzam.”
Diandra tersenyum haru.
Namun Azzura justru berkata pelan, “Mommy sebenarnya nggak jahat sama Azzura.”
Diandra terdiam.
“Tapi Mommy jahat sama Mama Serly. Azzura nggak suka kalau Mommy jahat sama Mama.”
Diandra menelan ludah. Ia tahu persepsi Azzura terbentuk dari banyak hal yang belum mampu dipahami anak seusianya.
“Iya, Sayang.” Suaranya tetap lembut. “Kalau memang ada kesalahan Mommy kepada Mama Serly, Mommy akan berusaha memperbaikinya.”
Diandra menatap putrinya melalui kaca spion.
“Yang paling penting, Mommy nggak ingin Azzura membenci Mommy karena semua masalah orang dewasa.”
Azzura terdiam.
“Kalau Mommy sudah berusaha memperbaiki kesalahan Mommy, Azzura mau memaafkan Mommy?”
Azzura mengangguk kecil.
“Beneran?”
“Iya.”
Senyum tipis muncul di wajah Diandra. Meski perceraian dan berbagai masalah masih menunggunya, setidaknya hari itu ia mendapatkan satu hal yang sangat berarti: kesempatan untuk kembali mendekat kepada putrinya.
" Mommy nggak salah dengar?"
“Iya, Mommy,” jawab Azzura pelan.
Diandra tersenyum lega. “Terima kasih, Sayang.”
“Sama-sama, Mommy.”
Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah merah. Diandra menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah kedua anaknya.
“Sekarang Mommy mau kalian berjabat tangan.”
Azzam dan Azzura saling pandang. Keduanya terlihat masih gengsi untuk memulai lebih dulu.
Diandra terkekeh kecil.
“Begini saja. Siapa yang berani meminta maaf lebih dulu, berarti dia yang paling hebat.”
Tanpa diduga, kedua tangan kecil langsung terulur bersamaan.
“Aku!”
“Aku juga!”
Keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya berjabat tangan.
Diandra tersenyum melihat tingkah mereka.
“Nah, sekarang bilang sesuatu yang baik untuk satu sama lain.”
Azzam dan Azzura kembali saling pandang.
“Azzam bilang, ‘Azzam sayang Azzura.’ Setelah itu Azzura juga bilang, ‘Azzura sayang Abang Azzam.’”
Keduanya kembali terdiam.
Azzura akhirnya mengalah.
“Abang Azzam... Azzura sayang Abang.”
Azzam langsung menjawab dengan suara pelan, “Aku juga.”
Diandra menahan tawa.
“Azzam, yang jelas. Mommy mau dengar.”
Azzam menggaruk kepalanya dengan malu.
“Sayang.”
“Sayang siapa?”
“Azzura.”
Diandra tersenyum.
“Sekarang bilang lengkap. Tatap adikmu.”
Azzam menghela napas, lalu berbalik menghadap Azzura.
“Azzam sayang Azzura.”
Begitu selesai mengucapkannya, Azzam buru-buru kembali menghadap ke depan karena wajahnya mulai memerah.
Diandra langsung tertawa kecil sambil mengacak rambut putranya.
“Kenapa malu begitu?”
Azzura justru tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk mobil, wajahnya terlihat jauh lebih ceria.
Tak lama kemudian lampu berubah hijau. Diandra kembali menjalankan mobil.
Suasana yang sebelumnya terasa kaku perlahan mencair. Azzam dan Azzura mulai saling bercanda, sementara Diandra merasa dadanya sedikit lebih ringan.
“Sekarang kita nyanyi, yuk!”
“Lagu apa, Mommy?” tanya Azzam.
“Terserah kalian. Yang penting suaranya harus keras.”
Mereka pun mulai bernyanyi bersama. Suara Azzam dan Azzura yang bersahutan memenuhi kabin mobil, membuat perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan.
Diandra tersenyum sambil sesekali melirik kedua anaknya melalui kaca spion.
Ia ingin menyimpan momen sederhana itu dalam ingatannya.
Sebab ia tahu, sebentar lagi hidup mereka mungkin akan berubah.
Jika akhirnya ia benar-benar pergi dari rumah Bastian, Diandra tidak ingin kedua anaknya ikut terpecah hanya karena masalah orang dewasa.
Ia tidak ingin Azzam menyalahkan Azzura hanya karena putrinya lebih dekat dengan Serly.
Azzura tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Ia hanya seorang anak yang melihat dunia berdasarkan apa yang dikatakan orang-orang yang ia percaya.
Karena itu, Diandra berharap apa pun yang terjadi setelah perceraian nanti, Azzam dan Azzura tetap saling menyayangi.
Bagaimanapun juga, mereka adalah saudara.
Dan Diandra tidak ingin perpisahannya dengan Bastian menjadi alasan hubungan kedua anaknya ikut hancur.
Sesampainya di rumah, Azzam dan Azzura langsung menuju kamar untuk berganti pakaian. Sementara itu, Diandra berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam bagi kedua anaknya.
Untuk Bastian?
Diandra sudah tidak terlalu peduli. Bisa saja saat ini pria itu sedang bersama Serly seperti biasanya.
Baru saja tangannya hendak membuka pintu kulkas, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Jadi begini kamu sekarang?”
Diandra langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh dan mendapati Bastian sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Tumben sekali dia pulang lebih awal.
“Begini bagaimana, Mas?”
“Kamu melarangku bertemu Serly, tapi ternyata kamu sendiri pergi makan siang dengan pria lain.”
Diandra mengernyit.
“Pergi makan siang?”
“Jangan pura-pura nggak tahu.” Tatapan Bastian mengeras. “Aku tahu kamu bertemu Sean siang tadi.”
Diandra menyipitkan mata.
“Dari mana kamu tahu? Selama ini kamu memata-mataiku?”
“Itu bukan inti masalahnya.” Bastian melangkah mendekat. “Jawab saja, kenapa kamu bertemu Sean tanpa memberitahuku?”
Diandra tertawa hambar.
“Memangnya selama ini kalau kamu bertemu Serly, kamu selalu meminta izinku?”
Bastian terdiam.
“Tidak, kan? Jadi jangan mempermasalahkan sesuatu yang selama ini juga kamu lakukan.”
“Itu dulu. Sekarang aku sudah berusaha berubah.”
“Berubah?” Diandra menatapnya tajam. “Lalu siapa yang bisa menjamin besok kamu nggak kembali menemui Serly?”
Bastian mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku sudah berusaha memperbaiki semuanya, Diandra. Tapi kamu terus mencurigai aku.”
“Aku bukan mencurigaimu tanpa alasan, Mas. Semua yang terjadi membuatku kehilangan kepercayaan.”
Diandra kembali membuka kulkas.
“Sudahlah. Aku mau menyiapkan makan malam untuk anak-anak.”
Ia berusaha mengabaikan Bastian, tetapi pria itu justru mendekat dan menahan langkahnya.
“Mas, minggir. Aku mau masak.”
Bastian memandangnya dalam-dalam.
“Aku cuma ingin bicara.”
“Aku sudah nggak punya tenaga untuk bertengkar.”
Ketika Bastian mencoba mendekat, Diandra segera mendorong dadanya.
“Jangan.”
Bastian akhirnya berhenti. Ia menatap Diandra yang jelas-jelas tidak nyaman berada sedekat itu dengannya.
“Aku kangen sama kamu,” ucapnya lirih.
Diandra justru menggeleng.
“Jangan bilang begitu sekarang, Mas.”
“Aku serius. Seharian tadi aku kepikiran kamu.”
“Kalau benar begitu, seharusnya kamu juga ingat semua hal yang sudah membuatku terluka.”
Bastian terdiam.
Diandra menarik napas panjang lalu mengambil bahan makanan dari kulkas.
“Aku hanya ingin menyiapkan makan malam untuk anak-anak. Tolong jangan buat semuanya semakin rumit.”
Bastian tidak menjawab.
Untuk beberapa saat, dapur itu hanya dipenuhi keheningan. Diandra tetap sibuk menyiapkan makanan, sementara Bastian berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Kali ini, tidak ada lagi candaan atau rayuan yang mampu menghapus jarak di antara mereka.
Diandra sudah terlalu lelah untuk kembali mempercayai kata-kata yang sama.
Bastian perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Diandra, lalu mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh pipinya.
Namun Diandra segera menghindar.
“Jangan.”
Tangan Bastian berhenti di udara.
“Diandra, kamu hanya akan membuang waktu kalau terus berusaha menjauh dariku. Lebih baik kita selesaikan masalah ini dan kembali menjalani rumah tangga seperti dulu.”
Diandra tidak menjawab.
Ia tahu percuma berdebat dengan Bastian. Ada satu hal yang tidak diketahui pria itu: diam-diam Diandra sudah mengajukan gugatan cerai.
“Aku sedang bicara denganmu.”
“Aku dengar.”
“Berarti kamu setuju?”
“Tidak.”
Bastian terkekeh kecil. “Kamu benar-benar keras kepala kalau sedang marah.”
Plak!
Tamparan Diandra mendarat di pipinya.
Bastian terdiam sesaat, lalu mengusap pipinya.
“Sekarang masih niat bercanda?”
“Masih.” Bukannya marah, Bastian justru tersenyum tipis. “Kalau itu membuatmu puas, silakan marah. Tapi aku tetap ingin memperbaiki semuanya.”
Diandra menatapnya penuh kekecewaan.
“Jangan berharap aku akan kembali hanya karena kamu tiba-tiba bersikap baik.”
“Aku cuma ingin kita berdamai.”
“Aku nggak mau.”
“Karena Sean?”
“Jangan bawa-bawa nama Sean.”
Bastian menghela napas.
“Diandra, aku tahu kamu dekat dengannya. Tapi aku nggak ingin menjadikan dia alasan untuk terus bertengkar denganmu.”
“Bagus kalau begitu. Karena masalah kita bukan Sean.”
Diandra menatap mata Bastian dengan tegas.
“Masalah kita adalah kepercayaan yang sudah kamu hancurkan.”
Senyum di wajah Bastian perlahan menghilang.
“Aku sudah mencoba berubah.”
“Terlambat.”
Jawaban itu membuat Bastian terdiam cukup lama.
Diandra kemudian berbalik hendak kembali menyiapkan makan malam. Namun suara Bastian menghentikannya.
“Tunggu.”
Diandra menoleh.
“Aku punya sesuatu untukmu.”
Bastian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berukuran sedang.
“Ini.”
Diandra langsung menggeleng.
“Aku nggak mau menerima hadiah darimu.”
“Buka saja dulu.”
“Nggak perlu.”
Diandra mendorong kotak itu hingga terlepas dari tangan Bastian. Kotak tersebut jatuh ke lantai dan terbuka.
Sebuah kalung dengan berlian biru tergelincir keluar dan berhenti tak jauh dari kaki Diandra.
Diandra membeku.
Matanya membesar.
“Kalung itu...”
Ia perlahan berjongkok dan mengambilnya.
“Itu kalungku.”
Bastian mengangguk.
“Aku berhasil menemukannya.”
Diandra menatap kalung tersebut dengan perasaan campur aduk. Benda itu memiliki kenangan yang sangat panjang dalam hidupnya.
Namun kali ini, ia tidak tahu apakah sebuah benda dari masa lalu masih mampu mengubah keputusan yang sudah dibuatnya.
Bastian memperhatikannya dengan penuh harap.
“Aku tahu mungkin ini nggak cukup untuk memperbaiki semuanya.”
Diandra menggenggam kalung itu erat.
“Memang nggak cukup, Mas.”
Ia kemudian berdiri dan menatap Bastian.
“Karena yang hilang dari pernikahan kita bukan cuma sebuah kalung.”
Tatapan Diandra berubah sendu.
“Kepercayaan dan perasaanku juga sudah hilang.”