NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Tidak Berniat Membayar Gaji?

Para pekerja baru yang sejak tadi masih tenggelam dalam ketakutan perlahan menoleh.

Puluhan pasang mata langsung tertuju kepada Adrian.

Pria Texas yang tadi menulis surat terakhir bahkan berhenti di tengah kalimat. Ujung pulpennya menembus tisu yang dijadikan kertas, sementara tenggorokannya bergerak berkali-kali.

Pria bertato kalajengking juga tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

“Bro... kau benar-benar yakin mereka bakal membayar kita?”

Adrian menoleh.

“Kenapa?”

Pria itu melirik ke arah pintu tenda sebelum mendekat dan merendahkan suaranya.

“Bayaran 28.000 dolar untuk 3hari.”

Adrian sedikit mengernyit.

“Maksudmu?”

Pria bertato itu tersenyum getir.

“Aku punya kenalan yang pernah bekerja untuk Black Fox. Mereka sering menarik orang baru dengan menawarkan bayaran yang sangat besar.”

Dia berhenti sejenak.

“Masalahnya, banyak dari mereka tidak pernah menerima uang tersebut.”

Tatapan Adrian berubah.

“Kenapa?”

“Karena mereka mati sebelum sempat menagih.”

Pria itu menunjuk ke arah senapan tua yang berada di dekat Adrian.

“Orang-orang seperti kita dikirim ke garis paling berbahaya. Mereka ingin menggunakan kita untuk menguji pertahanan lawan dan menghabiskan amunisi mereka.”

“Setelah jumlah kita berkurang, barulah pasukan utama mereka bergerak.”

Adrian terdiam.

“Lalu gaji?”

Pria itu tertawa hambar.

“Orang mati tidak membutuhkan gaji.”

Dia menepuk lututnya.

“Kalau semua orang yang dikirim ke garis depan tewas, perusahaan tinggal menyimpan uangnya. Mereka bahkan tidak perlu mengeluarkan kompensasi.”

Krek.

Garpu plastik di tangan Adrian patah.

Dia perlahan menoleh.

Wajahnya masih tenang, tetapi tatapannya berubah dingin.

“Coba ulangi.”

Pria bertato itu menelan ludah.

“Mereka... tidak berniat membayar.”

Adrian terdiam beberapa saat.

Dia sudah melakukan perjalanan jauh.

Dia sudah datang ke tempat yang bahkan bisa mengancam nyawanya.

Dan sekarang dia baru mengetahui bahwa orang yang merekrutnya mungkin sejak awal memang tidak berniat memberikan seluruh haknya.

Adrian berdiri.

Bagi seorang pekerja, ada beberapa hal yang masih bisa ditoleransi.

Pekerjaan berat.

Atasan yang kasar.

Lingkungan kerja yang buruk.

Namun ada satu hal yang tidak bisa diterima.

Gaji ditahan.

Adrian menatap ke arah pintu tenda.

“Kalau begitu, masalah ini harus diselesaikan.”

Pria bertato itu menatapnya bingung.

“Kau mau melakukan apa?”

Adrian tidak menjawab.

Tatapannya justru jatuh pada senapan tua yang tadi diberikan kepadanya.

Dia membungkuk dan mengambil senapan tersebut.

Begitu tangannya menyentuh senjata itu, kemampuan Mastery Senjata Api langsung bekerja.

Informasi mengenai kondisi senjata tersebut muncul begitu saja dalam pikirannya.

Komponennya sudah aus.

Perawatannya buruk.

Beberapa bagian bahkan mengalami kerusakan yang cukup serius.

Adrian membalik senapan tersebut.

“Senjata ini hampir seperti barang bekas.”

Dia memeriksanya sekali lagi.

“Kalau digunakan dalam kondisi seperti ini, kemungkinan mengalami gangguan sangat tinggi.”

Pria bertato kalajengking mengerutkan kening.

“Kau bisa mengetahui semua itu hanya dengan melihatnya?”

Adrian tidak menjawab.

Kedua tangannya mulai bergerak.

Klik!

Satu bagian dilepaskan.

Klik!

Bagian lainnya menyusul.

Tangannya bergerak cepat, tetapi tetap teratur.

Dalam waktu kurang dari beberapa detik, senapan yang sebelumnya masih utuh telah terurai menjadi beberapa bagian di atas ranjang.

Tenda langsung sunyi.

Pria Texas yang sedang menulis surat menatap Adrian dengan mulut sedikit terbuka.

Pulpennya bahkan terlepas dari tangan.

Beberapa pekerja baru lainnya juga menatap tanpa berkedip.

Mereka baru saja melihat seorang pemuda yang datang dengan pakaian seadanya membongkar senjata dalam waktu yang hampir tidak masuk akal.

Adrian tidak memperhatikan mereka.

Dia memeriksa setiap bagian satu per satu.

Kotoran dibersihkan.

Komponen yang bermasalah diperiksa.

Setelah semuanya selesai, kedua tangannya kembali bergerak.

Klik.

Klik.

Krak.

Satu demi satu komponen kembali ke tempatnya.

Tidak lama kemudian, senapan itu kembali utuh di tangannya.

Adrian menggerakkan mekanismenya.

Klak!

Suara logam terdengar jelas.

Kali ini jauh lebih lancar.

Pria bertato kalajengking sampai mengucek matanya.

“Tidak mungkin...”

Dia pernah melihat orang yang ahli merawat senjata.

Namun kecepatan dan ketepatan Adrian benar-benar di luar pemahamannya.

Adrian hanya memandang senapan itu sebentar.

“Setidaknya sekarang bisa digunakan.”

Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.

Mereka semua masih berusaha memahami apa yang baru saja mereka lihat.

Namun suasana tersebut tidak berlangsung lama.

WIIIIIT!

Suara peluit panjang tiba-tiba terdengar dari tengah pangkalan.

“SEMUA KELUAR!”

Suara kasar komandan bermata satu menggema di antara tenda-tenda.

“BERKUMPUL! CEPAT!”

Para pekerja baru langsung bergerak.

Beberapa anggota lama membuka tirai tenda dengan kasar dan menyuruh mereka keluar.

Di luar, malam telah turun sepenuhnya.

Langit gurun tampak gelap.

Angin malam membawa pasir halus yang terus menghantam kain tenda.

Beberapa kendaraan sudah menyalakan lampu.

Di kejauhan, sekitar dua kilometer dari pangkalan, tampak beberapa bangunan tua berdiri di balik bukit pasir.

Tempat itu terlihat seperti bayangan hitam di bawah cahaya bulan.

Seorang pekerja baru memandang ke arah tersebut.

Wajahnya langsung pucat.

“Pak... kita benar-benar harus berjalan ke sana?”

Komandan bermata satu menatapnya.

“Kenapa?”

Pria itu menelan ludah.

“Tidak ada alat penglihatan malam?”

Komandan tersebut mendengus.

“Tidak perlu banyak bertanya.”

Dia menunjuk ke arah bukit pasir.

“Bergerak sesuai kelompok. Jangan berpencar.”

Kemudian dia mengangkat suaranya.

“Kalau berhasil menyelesaikan tugas malam ini, masing-masing akan mendapatkan 1.000 dolar!”

Mendengar jumlah tersebut, beberapa orang langsung saling pandang.

Seribu dolar memang bukan jumlah kecil.

Namun tidak ada yang terlihat benar-benar senang.

Mereka semua memahami arti sebenarnya dari tugas tersebut.

Bayaran itu diberikan karena risikonya sangat tinggi.

Komandan bermata satu mengangkat tangannya.

“Berangkat!”

Beberapa anggota lama mulai mengawasi mereka dari belakang.

Para pekerja baru akhirnya bergerak.

Mereka berjalan menuju gurun dengan langkah berat.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya suara angin dan langkah kaki yang terdengar di tengah kegelapan.

Adrian berada di barisan paling belakang.

Pasir membuat sandal jepitnya beberapa kali bergeser, tetapi keseimbangan tubuhnya tetap terjaga.

Dia tidak terburu-buru.

Matanya mengamati lingkungan sekitar.

Bukit pasir.

Bangunan di kejauhan.

Jalur terbuka.

Kemungkinan tempat berlindung.

Semuanya secara otomatis dianalisis oleh kemampuan bertahan hidup yang sudah dia miliki.

Adrian menggenggam senapan di tangannya.

Tatapannya semakin tajam.

Dia datang ke sini untuk bekerja.

Dia juga sudah menerima syarat pekerjaannya.

Namun sekarang ada satu hal yang membuatnya jauh lebih serius.

Adrian tidak suka orang yang tidak membayar gaji pekerjanya.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!