NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAN 23 : Rahasia Gelap di Balik Bisnis Keluarga

Udara pagi di Batavia pada tahun 1928 terasa begitu menyesakkan, seolah seluruh oksigen di kota pelabuhan itu tersedot oleh ketegangan yang merambat dari balik tembok-tembok tinggi rumah peristirahatan keluarga Liem di kawasan Menteng. Di dalam ruang kerja utama yang luas, aroma tembakau cerutu berpadu dengan bau kertas tua dari arsip-arsip rahasia yang berserakan di atas meja kayu jati bergaya kolonial.

Clara berdiri di balik pintu kayu yang sedikit terbuka, menahan napasnya rapat-rapat agar tidak ada suara gesekan sekecil apa pun yang lolos dari bibirnya. Di dalam ruangan itu, Tuan Besar Ho—ayahnya yang disegani sekaligus ditakuti sebagai penguasa sindikat bawah tanah pesisir utara Jawa—tengah berdiri membelakangi pintu, menatap tajam ke arah peta pelabuhan Sunda Kelapa yang terbentang di dinding. Di hadapannya, Bang Jafar berdiri tegak dengan kepala tertunduk, melaporkan hasil pengintaian intelijen semalam.

"Jadi, Tuan Besar... apa langkah selanjutnya?" tanya Bang Jafar dengan suara berat, memecah keheningan yang terasa sangat pekat. "Anak buah kita di lapangan sudah memastikan bahwa Tuan Muda Julian van Houten tidak hanya mendekati Nona Clara secara sembunyi-sembunyi, tetapi mereka juga merencanakan pertemuan lanjutan di pelabuhan rahasia timur. Keluarga besar Van Houten tampaknya menggunakan kedok perusahaan dagang kolonial mereka untuk menyelundupkan senjata dan memonopoli jalur distribusi yang selama ini menjadi wilayah kekuasaan kita."

Mendengar laporan tersebut, bahu Tuan Besar Ho bergetar pelan, menahan gelombang amarah yang luar biasa besar. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi Tuan Besar Ho, sindikat bukan sekadar organisasi kriminal atau sarana mencari kekayaan materi; sindikat adalah benteng pertahanan darah dan keringat yang ia bangun untuk menjamin keselamatan hidup putrinya, satu-satunya permata berharga yang tersisa dari mendiang istrinya.

"Keluarga Van Houten benar-benar sudah kehilangan akal sehat mereka," desis Tuan Besar Ho dengan suara serak yang mematikan. Ia perlahan berbalik, memperlihatkan garis wajahnya yang mengeras seperti batu karang yang diterpa ombak badai. Matanya menyalang tajam penuh ancaman. "Selama ini aku membiarkan ekspansi bisnis mereka karena aku mengira mereka tahu batasan wilayah teritorial kita. Tapi jika mereka berani menyentuh putriku... dan menggunakan nama besar keluarga Van Houten untuk menghancurkan apa yang telah kutanam selama puluhan tahun, maka perang darah ini tidak bisa dihindari lagi."

Clara, yang mendengarkan setiap patah kata dari balik pintu, merasakan sekujur tubuhnya mendadak dingin. Ketakutan yang hebat mencengkeram relung hatinya. Ia tahu persis seberapa kejam dunia sindikat tempat ayahnya berkuasa. Di era kolonial ini, pertikaian antar-klan tidak diselesaikan di ruang pengadilan atau meja perundingan yang damai, melainkan di ujung laras senjata, di dermaga gelap yang basah oleh darah, dan di atas mayat-mayat yang dibuang ke laut lepas.

Jika ayahnya bergerak untuk menghabisi Julian, dan keluarga Van Houten membalas dengan mengerahkan pasukan bayaran kolonial mereka, maka pertumpahan darah besar-besaran akan segera meletus di kota Batavia. Dan yang paling mengerikan bagi Clara, sejarah tragis di masa lalu seolah sedang diputar kembali dengan naskah yang sama: cinta mereka dipisahkan oleh kebencian abadi dari orang-orang terdekat mereka.

Namun, di tengah rasa takut yang melumpuhkan itu, sebuah kilasan ingatan tentang kehidupan pertamanya di Roma mendadak melintas di dalam kepalanya—ingatan tentang bagaimana pangeran Marcus menolak tunduk pada Dewan Senat, bagaimana pria itu melepaskan mahkotanya demi mempertaruhkan segalanya di sisi sang kekasih. Clara sadar, ia tidak boleh tinggal diam di dalam sangkar emas rumah Menteng ini. Ia tidak boleh membiarkan takdir merenggut belahan jiwanya untuk kedua kalinya tanpa perlawanan.

Dengan langkah kaki yang sangat berhati-hati dan tanpa suara, Clara menarik diri dari depan pintu ruang kerja ayahnya. Ia berjalan mundur perlahan, menyusuri koridor rumah yang sepi menuju kamar tidurnya di lantai dua. Sesampainya di dalam kamar, ia mengunci pintu rapat-rapat, menyandarkan punggungnya di daun pintu, dan menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila.

Clara tahu ia harus bertindak cepat. Ia harus menemui Julian sekali lagi, bukan sekadar untuk melepas rindu atau mengulang janji manis masa lalu, melainkan untuk membongkar sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh kedua belah pihak keluarga besar.

Di dalam arsip rahasia yang tadi dibicarakan oleh ayahnya dan Bang Jafar, tersimpan sebuah dokumen penting di laci besi ruang kerja utama—sebuah dokumen yang membuktikan bahwa permusuhan darah antara keluarga Liem dan keluarga Van Houten sebenarnya bukanlah murni karena perebutan wilayah dagang atau ideologi kolonial. Puluhan tahun yang lalu, sebelum ayah Clara dan ayah Julian memegang kendali penuh atas sindikat dan perusahaan dagang, kedua keluarga besar itu pernah terikat oleh sebuah perjanjian damai rahasia. Perjanjian damai itu hancur bukan karena perebutan kekuasaan, melainkan karena sebuah pengkhianatan berdarah yang direkayasa oleh oknum petinggi pemerintah kolonial Belanda demi memecah belah kekuatan pribumi dan sindikat lokal agar mereka bisa menguasai seluruh monopoli pelabuhan di Nusantara.

Jika rahasia gelap itu berhasil diungkap, jika Julian dan Clara bisa menunjukkan bukti dokumen tersebut kepada ayah mereka masing-masing, maka perang darah yang sedang di ambang pintu ini mungkin bisa dicegah. Mereka tidak lagi harus saling bunuh demi dendam masa lalu yang ternyata hanyalah sebuah perangkap politik kolonial yang keji.

Clara melangkah ke arah meja riasnya, membuka kotak perhiasan kecil tempat ia menyimpan cincin perunggu kuno berukir daun zaitun. Ia memandang cincin itu lekat-lekat, menyalurkan tekad baja ke dalam jiwanya. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil dan pena, lalu mulai menuliskan sebuah pesan rahasia yang sangat penting—sebuah petunjuk tentang lokasi dokumen perjanjian damai masa lalu yang tersimpan di brankas tersembunyi ruang kerja ayahnya.

"Aku akan menghentikan semua ini, Julian," bisik Clara seorang diri di dalam kamar tidurnya yang temaram oleh cahaya sore. "Kita akan menulis ulang takdir kita dengan cara kita sendiri."

Namun, Clara tidak menyadari bahwa setiap langkah gerakannya di dalam rumah besar Menteng telah diawasi lebih dekat dari yang ia duga. Di halaman depan, di balik rindangnya pohon palem hias, seorang pengintai bayaran dari faksi keluarga Van Houten yang bekerja sama dengan pengkhianat di dalam sindikat keluarga Liem sedang mengamati jendela kamarnya dengan teropong jarak jauh, membawa kabar yang siap memicu kekacauan besar sebelum malam berganti.

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!