Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Esok hari.
Suara derap langkah kuda dan prajurit yang sibuk berkemas memenuhi area perkemahan pagi itu. Saat Selir Lan yang berjalan agak pincang melintas menuju keretanya, Selir Kui berdiri tak jauh di sana.
Melihat kedatangan Selir Lan, Selir Kui tersenyum tipis.
"Selamat pagi, Selir Lan," sapa Selir Kui lebih dulu.
Selir Lan melirik. Dia tidak menyangka perempuan itu akan menyapa lebih dulu setelah apa yang ia lakukan tadi malam.
Namun dia tahu. Nada bicara Selir Kui begitu halus tapi penuh sindiran. Mungkin selir Kui berpikir dia bodoh karena berhasil ditipu.
Selir Huo yang berdiri tak jauh dari sana menoleh. Dia memperhatikan interaksi itu. Lalu mendengus memilih untuk tidak peduli. Dia lumayan takut dikaitkan soal selir Lan dan selir Xiao yang tersesat.
Sementara itu Xiao berdecih kesal karena Selir Kui berani menunjukkan muka dengan tenang. Padahal ia terpaksa harus membongkar identitas dirinya dengan bertarung melawan serigala di hutan, gara-gara idenya mengerjai Selir Lan.
"Dia terlihat biasa saja. Kurang ajar," desis Bao'er dengan lirih. Sesaat matanya menajam ke arah selir Kui. Bao'er melihat ke arah selir Kui dan Mei Lin juga dengan kesal.
Bola mata Mei Lin menemukan kalau dia sedang di awasi oleh Bao'er dan majikannya. Setelah itu ia malah melengos.
"Sungguh menyebalkan," dengus Bao'er.
"Selamat pagi, Selir Kui. Senang melihatmu kembali setelah tadi malam aku tersesat," sahut Selir Lan.
Xiao Yu tertegun di tempatnya. Langkahnya terhenti seketika. Ia tadi sudah ingin membuka mulut untuk bersuara menolong, namun ternyata Selir Lan sudah mengeluarkan kata-kata yang begitu tepat.
Padahal ia tadinya ingin pasang badan, tapi siapa sangka Selir Lan justru berani menyahut duluan dengan sindiran tajam seperti itu. Namun, ketika memperhatikan lebih dekat, Xiao Yu sadar Selir Lan sebenarnya sedang menahan diri mati-matian. Bahunya tegang dan tubuhnya sedikit gemetar. Perempuan itu jelas takut setengah mati, tapi rasa marahnya jauh lebih dominan.
Bibir Xiao Yu terhenyak membentuk senyum tipis yang amat tipis. Dia sedang masuk mode baru, batin Xiao Yu. Menurutnya ini perkembangan yang sangat bagus. Ada dorongan dari dalam diri Selir Lan untuk tampil berani di depan musuhnya, bukan lagi sekadar korban yang pasrah.
Selir Kui tersentak sesaat. Ia benar-benar tidak menyangka Selir Lan akan menyahut dengan cara seperti itu. Tak jauh dari sana, Selir Huo juga sempat tertegun heran, karena mereka semua tahu Selir Lan sama sekali bukan tipe orang yang berani membalas sindiran.
Selir Kui dengan cepat menguasai dirinya kembali, lalu mengulas senyum palsu.
"Oh, aku tidak menyangka Adik Lan akan tersesat," ujar Selir Kui datar.
Selir Lan mengulum senyum tipis, lalu menoleh ke arah Xiao Yu yang berdiri tak jauh di belakangnya. "Tidak akan ada yang menyangka memang. Bahkan aku sendiri. Benar kan, Selir Xiao?" tanya Selir Lan menoleh ke arah Xiao Yu.
Mata Xiao Yu mengerjap. Tidak menyangka kalau selir Lan akan mengikutkan dia dalam perbincangan itu. Xiao Yu mengangguk pelan sambil tersenyum. "Iya. Aku tidak tahu kalau tersesat."
Hampir saja ia lupa kalau harus terlihat bodoh.
Melihat respons dingin itu, Selir Kui mencibir halus seraya mengalihkan pandangannya dengan raut meremehkan. Bagi Selir Kui, mengajak atau melibatkan Xiao Yu dalam percakapan adalah hal yang sama sekali tak berguna. Perempuan itu dianggap tak punya pengaruh maupun posisi penting di dalam hirarki istana untuk dijadikan rekan bicara.
"Tentu saja," gumam Selir Kui dengan nada acuh tak acuh. "Adik Lan sepertinya memang butuh banyak pendamping agar merasa aman."
"Hutan Selatan memang sangat membingungkan saat malam," ujar Selir Huo yang akhirnya memilih untuk ikut bicara . "Lain kali, Adik Lan harus lebih hati-hati. Tidak semua orang beruntung bisa keluar dari sana dalam keadaan utuh."
Meski matanya menatap dingin, tapi kalimatnya benar.
Kenapa dia ikut bicara? Padahal tadi sepertinya ia enggan ikut campur, batin Xiao Yu.
"Terima kasih atas perhatiannya, Kakak Huo," sahut Selir Lan dengan kepala menunduk. "Beruntung, aku masih dilindungi dari niat buruk seseorang."
Selir Kui mempererat genggaman pada kipas lipatnya. Senyum palsunya makin kaku. Dia mulai pandai berkata-kata.
Suara gemerincing zirah besi dan derap langkah kaki kuda yang berat mendadak memotong udara dingin di area keberangkatan.
Pangeran Zhang Li melangkah mendekat. Di sampingnya, Feng Chuan mengiringi dengan tangan tetap bersiap di atas hulu pedang. Jubah hitam berbordir naga perak yang dikenakan sang pangeran berkibar tipis dihembus angin pagi, memberi aura intimidasi yang kuat.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh selir yang berdiri di sana. Suasana di sekitar mereka seketika membisu.
Selir Huo langsung merapatkan mulutnya, menunduk sedikit dengan hormat dan anggun seolah tak terjadi apa-apa. Selir Kui dengan cepat menegakkan tubuhnya, kembali memasang senyum paling anggun.
"Kereta kalian sudah disiapkan," ujar Pangeran Zhang Li dengan suara rendah, berat, dan penuh wibawa yang tak tertandingi. Sorot matanya sempat tertuju sejenak pada Selir Lan yang berdiri agak pincang, sebelum beralih menatap Selir Kui secara dingin. "Masuklah. Jangan membuat rombongan tertahan lebih lama lagi."
Tanpa menunggu jawaban atau perdebatan antar-wanita itu berlanjut, Pangeran Zhang Li mengibaskan jubahnya dan berbalik menuju kuda tunggangannya.
"Hamba mengerti, Yang Mulia," sahut semua selir hampir bersamaan seraya membungkuk hormat.
Selir Lan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Dengan dibantu A-Chui, ia membungkuk singkat lalu berbalik menuju kereta kudanya.
*
*
*
Pintu kereta kuda kini tertutup rapat. Mengisolasi kebisingan perkemahan di luar. Begitu roda kereta mulai berputar perlahan meninggalkan area Hutan Selatan, Bao'er langsung menghembuskan napas keras-keras seolah baru saja lepas dari cengkeraman bahaya.
Ia menata dudukan bantal untuk Xiao Yu dengan gerakan gusar, wajahnya masih merah padam menahan kekesalan yang sejak tadi dipendamnya di depan umum.
"Sungguh tidak tahu malu!" letup Bao'er akhirnya, tidak sanggup lagi menahan lidahnya. Bao'er mendengus kasar, memikirkan wajah Mei Lin yang tadi melengos acuh padanya.
Xiao Yu yang sedang menyandarkan punggungnya menoleh. "Pelankan suaramu, Bao'er," bisik Xiao Yu sambil meletakkan telunjuknya di atas bibir.
"Oh maaf, Yu'er." Bao'er langsung mengecilkan suaranya sambil melihat ke luar jendela kereta.
"Lanjutkan, tapi pelankan suaramu," kata Xiao Yu. Dia paham Bao'er emosi.
"Baik. Aku mengerti." Bao'er menghela napas. "Kamu lihat kan tadi?" lanjut Bao'er seraya mengepalkan tangan di atas lututnya. Suaranya di atur agar tidak terdengar oleh kusir di depan. Sengaja dipelankan, tapi sarat dengan emosi yang meluap-luap.