Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Kalkulasi di Lorong Sempit
Pukul 15.35 sore. Kabut belerang pekat yang berhembus dari arah Dermaga Wapping merayap rendah di sepanjang lorong-lorong tikus di belakang kawasan pergudangan kargo. Suara sirine kapal uap meraung panjang dari kejauhan, membelah gemericik gerimis dingin dan deru roda gerobak kayu yang melindas jalanan batu.
"Lewat celah peti ini, Tuan," bisik Pip seraya mengisyaratkan Hans untuk merunduk di balik tumpukan tong kayu berbau minyak ikan hering. "Lorong belakang Gudang Kargo No. 4 ada di ujung sana. Lorong mati, tidak ada jalan keluar kecuali menyebur ke kanal Thames."
Hans mengangguk pelan. Tangan kirinya terangkat, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Otaknya menyerap seluruh geometri spasial lorong sempit di hadapan mereka dalam hitungan detik.
lebar lorong tidak lebih dari 2,5 meter, diapit dinding batu bata setinggi 4 meter yang licin oleh lumut, dengan genangan air hujan bercampur minyak kapal di permukaannya. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah lentera minyak tanah berjelaga yang tergantung pada paku karat di dinding tengah.
Di bawah remang pendaran lentera itu, tiga sosok pria sedang berdiri rapat.
Thomas, sang asisten toko antik, tampak sangat gemetar. Mantel kerjanya yang kumal terpasang asal-asalan, kedua tangannya memeluk erat sebuah kotak kecil berbeludru hitam. Di hadapannya berdiri pelaut berambut merah menyala—pria bertubuh tinggi tegap dengan mantel pelaut basah dan bekas luka parut lebar yang mengerikan membentang dari pipi hingga leher kirinya. Di samping si rambut merah, seorang preman dermaga bertubuh kekar bersandar di dinding seraya memainkan sebilah pisau lipat berkilat.
"Mana sisa koinnya?" Suara Thomas terdengar gemetar, nyaris tenggelam oleh deru angin pelabuhan. "Kau bilang 12 sovereign emas! Di kantong ini cuma ada 5!"
Pelaut berambut merah itu terkekeh dingin, suara tawa yang sarat akan aroma tembakau murah dan alkohol kotor. "Kau beruntung aku masih memberimu 5 sovereign, Bocah Pincang. Tanpa jaringanku di Gudang No. 4, jam saku curian dari brankas barang antik itu cuma jadi kepingan besi tidak berguna yang membuatmu digantung di tiang Newgate."
"Tapi janji kita—"
"Serahkan kotaknya sebelum kupecahkan tempurung kepalamu," potong preman bersenjata pisau, mengikis kotoran di balik kukunya dengan mata pisau yang tajam.
Dari balik bayangan tumpukan peti, Hans menyalakan sebatang rokok gulung murah. Asap abu-abu pekat hembusannya terurai pelan, menembus kabut lembap.
*Dua lawan. Thomas bukan ancaman fisik,* batin Hans seraya memutar tongkat jalan berkepala besinya di genggaman tangan kanan. *Preman dengan pisau lipat: tinggi 175 cm, tumpuan kaki kiri terlalu condong ke belakang, lengan kanan sedikit kaku. Pelaut rambut merah: tinggi 185 cm, bahu lebar, pegangan tangan kanannya menunjukkan dia berpengalaman dalam pertarungan jarak dekat.*
"Kalkulasi yang sangat buruk untuk sebuah transaksi bisnis, Tuan-tuan," kata Hans dengan suara tenang yang bergema pelan di sepanjang dinding batu lorong.
Ketiga pria itu seketika tersentak. Si preman meremas gagang pisaunya, sementara si pelaut berambut merah berbalik dengan mata merah liar. Thomas tersentak hebat saat mengenali sosok pria jangkung bertopi pet kusam yang melangkah keluar dari balik kabut.
"S-siapa kau?" gertak si preman. Ia melangkah dua tapak ke depan seraya mengacungkan pisaunya. "Pergi sebelum kupotong lehermu!"
Hans tidak memperlambat langkahnya. Otaknya mencatat pergerakan preman tersebut secara dingin. *Jarak: 3 meter. Sudut serang: lurus dari kanan bawah. Kecepatan: lambat karena celana kainnya yang basah kuyup.*
"Pip, kunci jalan belakang Thomas," perintah Hans pendek.
Sebelum si preman sempat mengayunkan pisaunya, Hans melakukan gerakan taktis yang tidak terduga. Ia tidak menyerang pria itu secara langsung, melainkan mengayunkan ujung besi tongkat jalannya menghantam baji kayu ganjal di dasar tumpukan peti kargo setinggi 2 meter di samping mereka.
*Klek!*
Baji kayu terlempar. Tiga peti kayu berbobot masing-masing 50 kg seketika meluncur jatuh dari tempatnya, melindas genangan lumpur basah. Si preman tampak terperanjat histeris, melompat mundur secara refleks untuk menghindari timpahan peti. Namun, langkah kakinya terpeleset di atas permukaan lumpur licin yang sengaja diperhitungkan oleh Hans.
Saat tubuh preman itu kehilangan keseimbangan dan limbung ke belakang, Hans melangkah maju satu tapak. Dengan gerakan putar yang presisi, kepala besi tongkat jalannya dihantamkan telak ke celah leher samping preman itu.
*Brak!*
Pria kekar itu ambruk seketika ke atas lumpur, pingsan sebelum sempat menjerit.
Pelaut berambut merah menggeram murka. Ia merogoh sebuah pemukul kayu berujung timah dari balik mantelnya dan menerjang Hans dengan ayunan horizontal yang mematikan. Hans merunduk 5 cm—pukulan kayu itu menyambar udara kosong di atas topi pet kusamnya, menghantam paku lentera di dinding batu.
*Prang!*
Lentera minyak tanah pecah terhantam pemukul lawan. Minyak panas dan percikan api menyembur ke udara, menciptakan kobaran api mendadak di dinding batu yang remang.
Dalam kilatan cahaya api mendadak itu, pandangan si pelaut berambut merah tampak terganggu selama sepersekian detik. Bagi Hans, kurun waktu sepersekian detik sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan perhitungan.
Hans memanfaatkan sudut tumpuan kaki kiri si pelaut yang agak timpang akibat bekas luka lama. Ia memutar tubuhnya ke dalam celah jarak dekat lawan, lalu menekankan kepala besi tongkatnya tepat ke titik saraf *femoralis* di paha bagian dalam si rambut merah.
*Tuk!*
"Aaghh!" Si pelaut meraung kesakitan. Refleks sarafnya seketika membuat lutut kirinya menekuk tak berdaya. Pemukul kayunya terlepas dari genggaman.
Belum sempat si rambut merah membalas, Hans mengibaskan ujung bawah tongkatnya menghantam tumit lawan, menjatuhkan pria tinggi besar itu telentang secara brutal di atas lantai batu yang basah. Pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari 20 detik.
Thomas yang menyaksikan kejadian itu dengan tubuh gemetar hebat seketika berbalik untuk melarikan diri ke arah ujung lorong. Namun, saat ia berlari terpincang-pincang, Pip yang sudah bersiap di balik celah peti menyodorkan sebuah pipa besi tua di depan kakinya.
*Bruk!*
Thomas tersungkur hebat di atas lumpur hitam, kotak beludru di genggamannya terlempar sejengkal dari jemarinya.
Hans melangkah mendekat dengan napas yang tetap teratur. Ia memungut kotak beludru hitam itu dari atas lumpur, mengibaskan debu basah yang menempel pada permukaannya dengan saputangan. Thomas merangkak mundur, menatap Hans dengan mata membelalak penuh ketakutan murni.
"T-Tuan Lorte... tolong... aku dipaksa!" ratap Thomas histeris. "P-pelaut itu mengancam akan membunuhku jika aku tidak menyerahkan barang itu!"
"Kau melumasi engsel brankas Vance dengan minyak kapal sebelum Vance diperas malam tadi, Thomas," ujar Hans dingin seraya berdiri di atas tubuh Thomas yang telungkup. "Kau bukan korban. Kau adalah bagian dari rencana ini sejak awal."
Namun, sebelum Hans sempat membuka kotak beludru untuk memeriksa barang bukti di tangannya, suara tiupan wisel kepolisian mendadak menggelegar nyaring menembus kabut lorong.
*Twiittt! Twiittt!*
Derap langkah sepatu boot kulit tebal beradu kasar dengan jalanan batu dari dua arah lorong. Cahaya kuning tajam dari 5 lentera minyak kepolisian membelah kegelapan kabut, mengepung Hans, Pip, dan para pelaku yang tergeletak di tanah.
Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam wol biru tua dan kumis tebal yang dipotong kaku melangkah maju. Tangannya mengacungkan tongkat pemukul polisinya tepat ke dada Hans.
Inspektur Hallowell dari kepolisian Scotland Yard.
"Tahan di tempat, Lorte!" bentak Hallowell, suaranya menggelegar dipenuhi otoritas yang kaku. "Kami menerima laporan keributan dan penganiayaan di wilayah pelabuhan! Dan apa yang kulihat di sini? Kau merusak tempat kejadian perkara, menganiaya warga, dan mencampuri urusan kepolisian Kerajaan!"
Hans tidak bergeming. Ia hanya menghembuskan sisa asap rokoknya pelan, menatap Inspektur Hallowell secara dingin.
"Aku melakukan pekerjaan yang gagal dilakukan oleh anak buahmu sejak pagi tadi, Inspektur," sahut Hans datar. "Menangkap pencuri jam saku milik klienku."
"Cukup omong kosong mu!" Hallowell melangkah maju, merebut kasar kotak beludru dari tangan Hans. "Scotland Yard yang mengambil alih kasus ini sekarang. Amankan semua orang di lorong ini!"
Hans tidak melawan saat kotak itu diambil. Namun, tepat saat Inspektur Hallowell membuka selot kuningan pada kotak beludru tersebut untuk memastikan isinya di bawah pendaran cahaya lentera polisi, perhatian Hans tertuju penuh ke arah jam tersebut.
Di dalam beludru merah, terbaring sebuah jam saku emas berukir rumit. Namun, bagian luar ukiran lambang keluarga bangsawan yang diceritakan oleh Vance bukanlah hal yang menarik perhatian Hans.
Ketika tutup jam emas itu terbuka, di balik cermin tutup bagian dalam yang dipoles halus, tampak sebentuk ukiran garis rahasia yang sangat kecil dan halus—sebuah ukiran simbol lingkaran asing yang melingkupi pendaran guratan gelombang laut dan mata yang terbuka.
Simbol rahasia milik *The Abyssal Order*—perkumpulan terlarang yang diyakini hanya ada dalam legenda maritim kuno.
Hans merasakan ketegangan dingin merayap di tengkuknya saat menyadari satu hal yang mematikan: jam saku emas ini bukan sekadar barang koleksi mahal milik pembeli kaya. Ini adalah kunci identifikasi dari sebuah konspirasi yang jauh lebih gelap dan berbahaya di sepanjang Sungai Thames.