Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 29
Siang ini rasanya sangat gerah dan panas. Rara berhenti sebentar dari pembuatan kontennya. Ia turun kebawah untuk membuat es teh.
Pertama, Rara masukkan teh celup kedalam setengah gelas air panas. lalu ia tambahkan gula pasir kedalamya. Setelah diaduk, ia masukkan beberapa kubus kecil es. Ia langsung minum seteguk, rasanya sangat menyegarkan.
Rara bawa es tehnya ke kamarnya. Saat akan menapaki tangga, ia dikejutkan oleh kakak iparnya yang keluar kamar. Ia pikir Rio menemani kakaknya interview kerjaan.
"loh, Mas Rio. Nggak nemenin kakak ?" tanya Rara. Ia berhenti sejenak.
"hmm, nggak. Tadi habis nganterin Nadia, mas langsung pulang," jawab Rio. Matanya tampak sayu. Ia baru bangun tidur, karena tak tahan menahan ngantuk semalaman harus jaga malam.
"eh ra, mas mau tanya Bramantyo itu pacar kamu ?" tanya Rio, berdiri didepan kamar.
"bukan, cuman kenalan aja," jawab Rara.
"kamu kenal dimana ? Kenapa dia bisa sampai nampar kamu ?" tanya Rio. Ia ingin tahu yang sebenarnya.
"hmm," Rara mulai bingung harus berkata apa. Ia tidak bisa mengatakan kalau Bramantyo adalah tamu dikelab malam yang terikat kontrak dengannya.
"dia kenalan Rara dikerjaan," jawab Rara canggung.
"oh gitu. Terus kenapa dia bisa nampar kamu ?" tanya Rio.
"yah..mungkin karena tadi malam ada sedikit salah paham. Tapi sekarang udah aman, mas. Sudah clear," jawab Rara. Berharap kakak iparnya berhenti bertanya padanya.
"oh gitu. Ingat ya ra, semisal ada masalah, tolong cerita ke mas, atau ke Nadia. Jangan kamu pendam sendiri. Siapa tahu kita berdua bisa bantu cari solusi yang terbaik," kata Rio jelas.
Rara meminum seteguk es tehnya. Ia mencoba menghilangkan canggungnya.
"iya mas. Tenang aja aku aman," jawab Rara dengan tersenyum, berharap tak menimbulkan keingin tahuan baru dari kakak iparnya. Setelah itu, ia kembali melangkah ke kamar.
Rara letakkan segelas es tehnya ke atas nakas. Ia kini terduduk di pinggir kasur. Ada keinginan dihatinya untuk mulai terbuka. Ia ingin menceritakan masalahnya, terutama masalahnya dengan Rudi yang terus-terusan mengancamnya dan selalu memberikan rasa cemas dihatinya. Namun, rasanya sangat berat untuk mengungkapkannya.
Rara takut akan reaksi setelah ia mampu menceritakan masalahnya. Takut akan memunculkan kecemasan didalam rumah ini. Namun, jika ia hadapi sendiri, apakah sanggup ia lawan hingga masalahnya menemukan solusi yang ampuh ?. Ia mulai mempertanyakan itu.
Terbesit dihati Rara untuk mencobanya terlebih dahulu. Ia pun memberanikan diri untuk bercerita ke kakak iparnya. Ia kembali melangkah ke bawah.
Tok...tok...tok...
Rara mengetuk pintu kamar kakak iparnya. Sesaat kemudian Rio membuka pintu.
"ya kenapa ra ?," tanya Rio.
"aku mau ngomong sebentar mas," kata Rara.
"mau ngomong apa ra ?" jawab Rio penasaran.
"tapi ngomongnya diruang tamu aja mas," kata Rara. Ia lalu melangkah ke ruang tamu. Disusul Rio dibelakangnya. Mereka lalu duduk di sofa dengan Rio tetap menjaga jarak aman dengan Rara.
"mau ngomong apa ra ? Kayaknya serius banget," tanya Rio mulai sangat penasaran.
Rara menghela napas sejenak, menguatkan hatinya dan berusaha memberanikan diri untuk menceritakan masalahnya.
"aku mau cerita masalahku mas, tapi jangan ceritakan ke kakak ya. Nanti biar aku aja yang cerita kepadanya," ucap Rara.
"iya ra. Kamu punya masalah apa ?" tanya Rio.
"aku lagi ada masalah sama seorang laki-laki. Aku disuruh bayar bunga pinjaman kepadanya. Padahal aku nggak pernah pinjam uangnya. Laki-laki itu terus ngancam aku buat bayar. Menurut mas aku harus gimana ?" jelas Rara.
"kamu udah coba lapor polisi ?"kata Rio.
"jangan...jangan..aku nggak mau nantinya ini membuat khawatir kakak. Lebih baik cari cara lain," ucap Rara. Ia tahu, saran yang dikatakan kakak iparnya akan membuat masalah semakin melebar. Terutama terkait status Rudi adalah anak dari seorang koruptor.
"kalau menurut mas, solusi yang paling aman ya lapor polisi, tapi kalau kamu mau solusi lain, lebih baik kamu putus komunikasi dengannya. Siapa tahu dia akan berhenti mengancam dirimu," jelas Rio.
Obrolan di ruang tamu, berlangsung cukup lama. Semuanya berhenti ketika Rio menerima telpon dari Nadia untuk dijemput pulang karena sudah selesai interview. Rio pun bergegas ke mobil. Ia tak mau membuat istrinya menunggu lama.
"mas ingat ya, jangan ceritakan masalahku dulu pada kakak. Biar aku aja yang cerita padanya langsung," ucap Rara. Seketika ia meraih lengan kakak iparnya yang beranjak pergi.
"untuk sementara ini. Mas belum akan cerita pada Nadia. Mas akan tunggu kamu cerita padanya, tapi mas juga nggak bisa janji terus menutup masalah ini dari kakakmu," jawab Rio sambil melepas genggaman tangan Rara dilengannya.