Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos tirai kamar VVIP, menciptakan suasana hangat di dalam ruangan.
Rimba, yang sepanjang malam tidak memejamkan mata sedikit pun demi menjaga Dayang, mengusap lembut jemari wanita yang kini resmi menjadi tunangannya itu.
Pintu kamar terketuk pelan. Dokter spesialis ortopedi masuk didampingi oleh dua orang perawat untuk memeriksa kondisi fisik Dayang.
"Selamat pagi, Mbak Dayang, Pak Rimba," sapa dokter dengan ramah.
Dokter mulai memeriksa reflex saraf di telapak kaki Dayang yang menyembul dari balik gips, lalu memeriksa hasil rontgen terbaru yang dipasang di viewer box dinding kamar.
Rimba berdiri tegak di samping ranjang, memegang erat tangan Dayang sembari memperhatikan setiap gerakan dokter dengan raut cemas.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Rimba memotong keheningan, suaranya sarat akan rasa cemas.
Dokter tersenyum legat dan menoleh ke arah mereka berdua.
"Perkembangannya sangat luar biasa. Pendarahan di area dada sudah benar-benar berhenti dan stabil. Begitu juga dengan struktur tulang kakinya—posisinya sangat bagus setelah tindakan kemarin."
Mendengar hal itu, Dayang dan Rimba saling bertatap mata dengan binar lega yang membuncah.
"Tapi Dok, apakah kakinya bisa sembuh total?" kejar Rimba memastikan janji yang ia ucapkan semalam.
"Tentu saja, Pak Rimba. Jika pengobatan dan fisioterapi dilatih secara rutin, dalam beberapa bulan Mbak Dayang bisa berjalan normal kembali tanpa cacat sedikit pun," jelas dokter mantap.
"Hari ini gipsnya akan kita atur posisinya agar lebih nyaman, dan jika kondisi terus stabil, lusa Mbak Dayang sudah diperbolehkan pulang."
Belum sempat rasa bahagia itu memudar, pintu kamar VVIP mendadak terbuka lebar.
Bang Jaka dan Bintang melangkah masuk membawa sarapan dan pakaian ganti.
Langkah Bintang mendadak terhenti saat matanya menangkap pendar kilau berlian yang melingkar indah di jari manis sang kakak.
"Lho, Mbak?!" teriak Bintang spontan, matanya membelalak menunjuk jari manis Dayang.
"Itu, cincin apa, Mbak?!"
Bang Jaka yang berada di belakang Bintang ikut menghentikan langkahnya.
Pria bertubuh kekar itu memicingkan mata, lalu pandangannya beralih dari jari manis Dayang ke arah Rimba yang berdiri agak canggung dengan senyum tipis di bibirnya.
Dayang tersipu malu, pipinya yang pucat kini bersemu merah.
Ia memegang tangan Rimba makin erat, mencari kekuatan dari pria di sampingnya.
Rimba melangkah satu maju menghadap Bang Jaka dan Bintang.
Pria yang biasanya tegas di hadapan para pemegang saham itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan penghormatan penuh.
"Bang Jaka. Bintang." ucap Rimba dengan suara mantap namun sarat akan kerendahan hati.
"Semalam, saya sudah melamar Dayang. Dan alhamdulillah, Dayang menerima niat tulus saya untuk menjadikannya istri saya."
Ruangan VVIP itu seketika dibalut hening. Bintang menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya langsung berkaca-kaca menatap sang kakak.
Bang Jaka meletakkan rantang makanan yang dipegangnya ke atas meja.
Ia melangkah pelan mendekati Rimba. Tatapannya tajam memindai mata Rimba, mencari kepastian atas janji yang baru saja diucapkan.
"Rim," suara Bang Jaka terdengar berat dan bergetar.
"Dayang ini sudah seperti putriku sendiri. Dia sama Bintang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kamu benar-benar janji bakal bahagiakan dia? Tidak akan bikin dia menangis lagi kayak kemarin?"
"Saya bersumpah demi Allah dan almarhum orang tua saya, Bang," jawab Rimba tanpa ragu sedikit pun, menatap lurus mata Bang Jaka.
"Saya akan menjaga, memuliakan, dan membahagiakan Dayang serta Bintang seumur hidup saya."
Mendengar ketulusan itu, benteng ketegangan Bang Jaka runtuh sepenuhnya.
Pria tua itu tertawa pelan di tengah air mata harunya yang menetes.
Tanpa aba-aba, Bang Jaka menarik Rimba ke dalam dekapan hangat seorang saudara.
"Alhamdulillah. Matur nuwun, ya Allah." bisik Bang Jaka seraya menepuk-nepuk punggung Rimba keras-keras.
"Aku titip Dayang ya, Rim. Tolong jaga dia baik-baik."
Bintang langsung berlari kecil memeluk sang kakak di atas ranjang.
"Mbak! Bintang senang banget! Mbak bakal bahagia sama Mas Rimba!" seru Bintang sembari terisak haru.
Dayang memeluk erat adiknya, menyapu pandangan ke arah Rimba yang kini tersenyum lepas dalam dekapan Bang Jaka.
Duka, penderitaan, dan ancaman yang selama ini mengintai keluarga mereka akhirnya menguap, berganti dengan fajar baru yang penuh harapan.
Pintu kamar VVIP kembali terketuk pelan. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi sarapan pagi yang masih berasap tipis, lengkap dengan segelas susu hangat dan beberapa butir obat pemulihan.
Melihat nampan itu datang, Bintang dengan sigap mengambil alih dari tangan perawat.
"Terima kasih ya, Sus. Biar saya yang bawa," ucap Bintang sopan.
Perawat itu tersenyum ramah. "Sama-sama, Mas. Setelah sarapan, obatnya jangan lupa diminum ya. Nanti jam sepuluh dokter akan kembali untuk mengatur ulang posisi gips Mbak Dayang."
Setelah perawat pamit keluar, Rimba langsung mengambil mangkuk bubur di tangan Bintang. Pria itu kembali duduk di kursi samping ranjang, mengambil sendok dengan penuh kelembutan.
"Biar aku yang suapi lagi ya?" bisik Rimba lembut, menatap Dayang dengan binar mata yang penuh kasih sayang.
Bang Jaka yang melihat pemandangan itu terkekeh pelan sambil merangkul Bintang.
"Wis, Tang, kita keluar dulu yuk. Cari kopi di bawah. Kasih jalan buat yang baru tunangan mau mesra-mesraan," goda Bang Jaka seraya mengedipkan mata.
"Iya deh, Bang Jaka. Bintang juga ndak mau jadi pengganggu," seloroh Bintang tertawa kecil.
Pipi Dayang makin merona merah mendengarkan godaan Bang Jaka dan adiknya.
Pintu kamar kembali tertutup rapat setelah Bang Jaka dan Bintang melangkah keluar, menyisakan keheningan yang amat manis di antara Rimba dan Dayang.
Rimba meniup sendok bubur perlahan lalu menyodorkannya ke bibir Dayang.
"Ayo, buka mulutnya. Calon istriku harus makan yang banyak biar cepet sembuh dan bisa jalan lagi."
Dayang menerima suapan itu dengan senyum malu-malu yang mengembang indah.
"Mas Rimba ini, dari tadi godain terus," bisik Dayang pelan, menikmati tiap suapan penuh perhatian dari pria yang kini sangat dicintainya itu.
Rimba tersenyum tipis, sorot matanya melembut menatap wajah merona wanita di hadapannya.
Jemari tangannya yang kokoh dengan telaten mengusap sudut bibir Dayang yang terkena sedikit noda bubur menggunakan tisu.
Aku tidak lagi godain, Dayang. Aku cuma menyampaikan kenyataan," bisik Rimba dengan suara baritonnya yang hangat dan menenangkan.
"Mulai sekarang, ndak ada lagi yang boleh bikin kamu sedih atau kepikiran. Tugas kamu cuma satu: fokus sembuh, biar bisa jalan lagi di sampingku."
Dayang menunduk malu, mengunyah buburnya pelan sambil menyembunyikan senyum bahagianya.
Rasa hangat berdesir di dalam dadanya, menggantikan seluruh kepedihan dan trauma ketakutan yang sempat membayangi hidupnya.
Tepat saat suapan terakhir bubur itu habis dan Dayang meminum air putih hangatnya, pintu kamar kembali terbuka.
Dokter spesialis ortopedi masuk bersama perawat sesuai janji mereka untuk memeriksa dan mengatur ulang posisi gips di kaki kiri Dayang.
"Permisi, Pak Rimba, Mbak Dayang. Kita atur ulang posisi gipsnya sebentar ya, supaya aliran darah di kakinya lebih lancar dan rasa nyerinya makin berkurang," ujar dokter dengan ramah.
Rimba langsung berdiri di sisi kepala tempat tidur, menggenggam erat jemari Dayang untuk menyalurkan kekuatan saat dokter mulai menata ulang penyangga pada kakinya.
Dayang sempat meringis pelan saat posisi kakinya sedikit digeser, namun genggaman hangat Rimba dan kecupan lembut pria itu di keningnya membuat rasa nyeri itu menguap begitu saja.
"Selesai! Posisinya sudah sangat bagus," ucap dokter tersenyum puas setelah menyelesaikan tindakannya.
"Kalau kondisi fisik dan refleks kakinya tetap stabil sampai besok pagi, Mbak Dayang resmi diperbolehkan pulang."
Mendengar kabar gembira itu, senyum lega langsung terbit di wajah Rimba dan Dayang. Akhirnya, masa-masa kelam di rumah sakit ini akan segera berakhir.
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,
bahagia selalu dayang dan kluarga ,,
kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂