Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sang Patriarch dan Tarian Pedang Berdarah
Udara di lorong lantai dua kediaman Adhitama mendadak kaku, seolah-olah oksigen di ruangan itu terserap habis oleh kehadiran Dirga. Kilat dari luar jendela besar membelah kegelapan malam, memantulkan bayangan pria jangkung itu ke dinding marmer. Di tangannya yang bersarung tangan kulit hitam, berkilat dua bilah pisau trench knife berlekuk gerigi—senjata mematikan yang biasa digunakan dalam pertempuran jarak dekat tanpa suara.
Tania tidak menyiakan waktu satu detik pun. Sebelum Dirga sempat mengambil langkah pertama, Tania melesat maju. Gerakannya bukan lagi sekadar pertahanan diri, melainkan tarian mematikan dari aliran Silat Harimau Kuno yang ia pelajari dari ayah angkatnya. Ia memotong jarak, mengayunkan tusuk konde logamnya lurus ke arah arteri karotis di leher Dirga.
Traak!
Logam beradu logam. Dirga menangkis serangan Tania dengan punggung pisau geriginya. Benturan itu memercikkan bunga api kecil di antara wajah mereka yang kini hanya berjarak beberapa inci.
"Cepat dan presisi," bisik Dirga, suaranya serak menembus deru hujan di luar. "Tapi kau terlalu bergantung pada emosi, Tania. Emosi membuat langkahmu berat!"
Dirga memutar pergelangan tangannya, mengunci tusuk konde Tania, lalu melayangkan tendangan lutut brutal ke arah dada wanita itu. Tania bereaksi cepat dengan menyilangkan kedua tangannya untuk menahan benturan. Walaupun berhasil menangkis, dorongan tenaga Dirga yang luar biasa besar membuat tubuh Tania terlempar ke belakang, menggerus karpet mahal sejauh dua meter.
"Ibu!" teriak Dea dari balik pintu kamar. Tampak jelas tubuh gadis remaja itu bergetar hebat, namun ia memegang tongkat bisbolnya semakin erat, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menerjang keluar.
"Tetap di sana, Dea! Jangan keluar!" perintah Tania tanpa mengalihkan pandangannya dari Dirga. Sudut bibir Tania mengeluarkan sedikit darah akibat tekanan tenaga dalam Dirga, namun matanya menyala dengan api membara.
Dirga melangkah mendekat dengan santai, mengayun-ayunkan pisaunya. "Kau bertarung dengan sangat gigih untuk melindungi putri dari pria yang telah menghancurkan hidupmu, Tania. Ironis sekali."
Tania memasang kembali kuda-kudanya. "Jangan membuang napasmu dengan bualan murahan, eksekutor Teratai Merah. Hendra membayar berapa untuk nyawa kami? Aku bisa memberimu dua kali lipat dari aset Hendra yang kubekukan!"
Tawa rendah merayap dari tenggorokan Dirga. Tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun, melainkan cemoohan dingin. "Hendra? Kau pikir cacing tanah seperti Hendra punya akses atau kekuatan untuk menyewa eksekutor tingkat atas Teratai Merah? Kau pikir hutang judi puluhan miliar di Makau itu murni karena kebodohan Hendra?"
Langkah Tania terhenti sejenak. Dahi wanita itu berkerut kencang. "Apa maksudmu?"
Dirga berhenti tiga langkah di depan Tania. Ia perlahan menurunkan pisaunya, menatap Tania dengan mata yang dipenuhi misteri yang kelam.
"Hendra hanyalah pion bodoh yang diberi umpan agar merasa berkuasa. Dia sengaja dibiarkan terjerat hutang judi oleh majikanku agar bisa dijadikan kambing hitam yang sempurna," ucap Dirga datar. "Siapa yang paling diuntungkan jika kau dan Dea mati malam ini, lalu bukti-bukti kejahatan dituduhkan sepenuhnya kepada Hendra yang panik?"
Jantung Tania berdetak tak menentu. Baskoro. Nama itu bergema di dalam kepalanya bagai dentang lonceng kematian.
"Tidak mungkin..." suara Dea terdengar gemetar dari balik pintu kamar. Gadis itu akhirnya melangkah keluar, wajahnya seputih kertas. "Ayah... Ayah sangat menyayangiku! Dia membatalkan semua urusannya di Eropa demi mencariku!"
Dirga menoleh ke arah Dea, menatap gadis remaja itu dengan tatapan penuh kasihan yang aneh. "Baskoro Adhitama tidak pernah pergi ke Eropa, Dea. Dalam tiga minggu terakhir, ayahmu berada di Singapura, mematikan seluruh jalur akses keuangan rahasia ibumu dan mencuci sisa-sisa kekayaan klan Mawar Hitam ke rekening lepas pantai."
"Bohong! Kau bohong!" jerit Dea, air matanya menetes deras.
"Kenapa kau pikir Baskoro bersedia menikahi Tania—seorang wanita asing dari desa—dalam hitungan hari tanpa keraguan?" lanjut Dirga, suaranya menusuk bagai sembilu. "Bukan karena dia memikirkan kebahagiaanmu, Dea. Tapi karena intelijen Baskoro menemukan fakta bahwa Tania adalah pemilik darah Mawar Hitam kedua yang hilang! Brankas utama Mawar Hitam di Zurich memerlukan autentikasi biometrik dari dua keturunan darah murni yang masih hidup. Diana sudah mati sebelum memberikan otorisasi itu. Baskoro butuh Tania hidup-hidup di dalam jangkauannya sampai seluruh akses brankas itu berpindah tangan!"
Kata-kata itu menghantam Tania bagai petir di siang bolong. Segala potongan teka-teki yang membingungkannya kini menyatu dalam gambaran horor yang sempurna. Mengapa pernikahan kilat itu terjadi begitu mudah? Mengapa Baskoro memberinya otoritas penuh di rumah ini? Bukan untuk melindungi Dea, melainkan untuk mengurung Tania dan Dea di dalam satu kandang yang sama, menunggu waktu yang tepat untuk memanen seluruh warisan darah mereka!
"Lalu kenapa kau memberitahu kami semua ini?" desis Tania, otot-otot tubuhnya masih tegang penuh kewaspadaan. "Jika kau dikirim oleh Baskoro untuk membunuh kami, kenapa kau justru membongkar rencananya?"
Dirga tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menyarungkan kedua pisaunya ke dalam pinggang. Tangan kanannya bergerak ke balik jas panjangnya, meraih sesuatu dari saku dalam. Tania bersiap meledak menerjang, namun gerakan Dirga sangat pelan.
Pria itu mengeluarkan sebuah liontin perak berdebu, lalu melemparkannya ke arah Tania.
Tania menangkap liontin itu dengan refleks cepat. Saat ia membuka genggaman tangannya dan melihat ukiran di atas permukaan perak tersebut, nafas Tania berhenti seketika. Di atas liontin itu, terukir lambang Mawar Hitam... namun di bagian bawahnya, terdapat ukiran nama: Dirga Wibawa – Pelindung Utama Klan Mawar Hitam.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku gagal melindungi ibumu dan dirimu saat markas klan kita dihancurkan oleh Teratai Merah yang bersekutu dengan Baskoro," ucap Dirga, suaranya kini melunak, kehilangan seluruh aura dinginnya. "Aku menyusup ke dalam organ tertinggi Teratai Merah selama belasan tahun hanya untuk satu tujuan: menunggu hari di mana keturunan Mawar Hitam bangkit kembali."
Tania menatap pria di depannya dengan ketidakpercayaan yang membuncah. "Kau... kau adalah pengawal setia ibuku?"
"Aku adalah orang yang meletakkanmu di dalam kardus di pinggir hutan dua puluh tahun lalu, Tania," aku Dirga, matanya berkaca-kaca menatap wanita muda di depannya. "Aku menyembunyikanmu di desa itu, memberi surat pesan pada orang tua angkatmu, dan melatihmu dari jauh melalui guru silatmu di desa. Semua agar kau tumbuh menjadi prajurit yang sanggup bertahan hidup di dunia yang jahat ini."
Dea memegangi dadanya yang terasa sesak, hampir jatuh pingsan jika tidak ditahan oleh dinding lorong. Dunia yang disangkanya nyata kini hancur berkeping-keping. Ayah yang disembahnya ternyata adalah monster pembunuh ibunya, sementara pria pembunuh bayaran yang menakutkan ini adalah pelindung sejati keluarganya.
"Baskoro akan mendarat di bandara pribadi dalam waktu empat puluh lima menit," ujar Dirga cepat, melirik jam tangan taktisnya. "Dia menerima laporan palsu dari jaringan peretasku bahwa rencana eksekusi malam ini berjalan lancar. Dia datang untuk 'berduka' atas kematian kalian berdua dan menangkap Hendra sebagai pelaku tunggal."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tania, matanya kini berkilat dengan kecerdasan dan dendam yang berkobar. Rasa takutnya menguap habis, digantikan oleh naluri seorang pemimpin klan yang terbangun dari tidur panjangnya.
Dirga tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kebanggaan melihat ketangguhan Tania. "Baskoro mengira dia adalah catur utama yang mengendalikan papan permainan ini. Dia tidak tahu bahwa dua putri Mawar Hitam kini telah bersatu."
Pria itu menarik sebuah flashdisk terenkripsi dari sakunya dan menyodorkannya kepada Tania. "Di dalam ini ada seluruh rekaman percakapan rahasia, bukti transaksi racun digitalis yang dibeli Baskoro untuk membunuh kakakmu, serta dokumen pengalihan aset ilegal. Kita tidak bisa membunuhnya malam ini, Tania. Pembunuhan hanya akan membuat perusahaannya jatuh ke tangan konsorsium Teratai Merah."
Tania menerima flashdisk tersebut dan mengepalkannya erat-erat. "Lalu?"
"Mainkan perannya," bisik Dirga, matanya menatap tajam ke arah tangga bawah. "Pura-puralah kau tidak tahu apa-apa. Biarkan Baskoro berpikir bahwa kau masih wanita polos yang bisa dimanfaatkannya. Besok malam adalah Rapat Pemegang Saham Tahunan Adhitama Group. Di depan seluruh media nasional dan papan atas menteri, kita akan meruntuhkan kerajaannya dari dalam."
Tiba-tiba, suara deru mesin helikopter terdengar samar-samar dari kejauhan, membelah suara hujan malam. Lampu sorot helikopter mulai menyapu halaman belakang kediaman Adhitama. Baskoro Adhitama telah tiba lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Dia sudah datang," ucap Dirga. Dalam sekejap mata, ia meraih salah satu pembunuh bayaran yang pingsan di lantai, memposisikan tubuhnya seolah-olah baru saja terjadi pertempuran sengit. "Dea, kunci dirimu di dalam kamar! Menangislah sekeras yang kau bisa saat ayahmu masuk! Tania, pasang kembali topengmu!"
Sebelum Tania sempat menjawab, Dirga melompat keluar melewati jendela lorong lantai dua, menghilang ke dalam kegelapan malam dan lebatnya hujan tanpa bersuara.
Tania berbalik menatap Dea. Gadis remaja itu menghapus air matanya, menatap Tania dengan mata yang tak lagi memancarkan ketakutan seorang korban, melainkan keberanian seorang pewaris tunggal. Dea mengangguk pelan pada Tania, lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Tania melepaskan ikatan rambutnya, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai berantakan. Ia menggores sedikit lengannya sendiri dengan ujung tusuk konde hingga darah segar mengalir, menciptakan ilusi bahwa ia baru saja berjuang mati-matian melawan para penyusup.
Suara langkah kaki yang terburu-buru menghantam tangga kayu. Pintu utama terbuka lebar, dan sosok Baskoro Adhitama muncul dengan setelan jas hitamnya yang basah oleh bintik air hujan. Di belakangnya, puluhan pengawal pribadi bersenjata lengkap menyapu ruangan.
Wajah Baskoro tampak panik dan cemas—sebuah akting kelas dunia yang sempurna. "Tania! Dea! Apa yang terjadi di sini?!" serunya sambil berlari menaiki tangga.
Tania menyandarkan tubuhnya ke dinding, berpura-pura lemas dan bernapas terengah-engah, menatap pria yang menjadi pembunuh kakaknya itu dengan tatapan tersirat yang penuh racun.
Selamat datang di nerakamu sendiri, Baskoro, batin Tania, saat tangan sang suami merangkul bahunya dengan kehangatan palsu yang paling mematikan.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor