NovelToon NovelToon
Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius
Popularitas:627
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.

Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.

Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?

subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

Zahra duduk melamun di dalam kamarnya. Setelah bertemu Haesung, Zahra teringat seseorang. Bukan mengenali wajahnya tapi ... Karena bau parfum yang Zahra cium.

Kenapa? Kenapa aku merasa dia pria yang sama.

Batinnya.

Apa mungkin, mereka memakai parfum yang sama?

Dugaannya.

Zahra hanya bisa menduga. Sedetik Zahra menghela napas panjang, sambil terpejam. Bayangan masalalu kembali teringat. Bayangan, di mana seseorang menarik tubuhnya, menindihnya, hingga melakukan hal tak senonoh padanya.

Zahra mencengkram kuat kain gamisnya. Keringat dingin mulai bercucuran. Rasa trauma kembali ia rasakan. Detik itu juga mata Zahra terbuka lebar, deruan napas terdengar berat, dada terasa sesak— memaksa pikirannya membuang jauh bayangan itu.

"Huh .... Huh ... "

Zahra, mengatur napas perlahan. Lantas, membuka laci dengan cepat—mengambil obat penenang yang diberikan dokter psikologisnya.

Dalam satu tegukan, Zahra bisa lebih tenang. Kini ia berbaring di atas kasurnya. Tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamar.

"Ya Allah ... Kenapa engkau biarkan bayangan itu kembali. Aku sudah lama melupakannya, tapi ... bau parfum pria tadi membuat aku mengingat lagi." Saking mengerikannya masa itu, bau parfum yang dicium 6 tahun lalu masih terbayang.

"Tidak-tidak." Zahra menggeleng cepat. "Aku tidak boleh lemah. Bau parfum bisa saja sama tapi orangnya belum tentu sama."

Zahra bangkit dari kasurnya, turun dari ranjang berjalan ke arah pintu.

Zahra membuka pintu yang keluar dari kamarnya. Zahra, hendak berjalan ke arah dapur tapi langkahnya terhenti mendengar suara seseorang di ruang tamu.

Zahra berdiam diri sebentar. Merasa tak asing dengan suara tamu— ia pun membelokkan langkahnya menuju ruang tamu. Zahra, hanya diam di dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, ia mengintip sambil menguping pembicaraan mereka.

"Bu, Maryam ada apa, ya? Tumben datang ke sini." Ummi Hawa berkata sedikit canggung. Senyum yang terlukis terlalu dipaksakan.

"Kenapa Bu, tidak boleh saya datang? Setelah anak mu mengganggu kehidupan anak saya."

"Maksud Bu Maryam apa, ya? Bukankah kita sudah lama tidak bertemu, anak-anak kita pun sudah tidak pernah bertemu lagi."

"O, begitu." Bu Maryam dengan nada sinis. Tatapannya mendelik tidak suka kepada Ummi Hawa.

"Lalu kenapa anak saya selalu saja menolak setiap wanita yang akan dijodohkan. Bahkan ... pernikahannya yang hampir berlangsung tiba-tiba batal."

"Apa hubungannya dengan anak saya Bu? Jodoh itu Allah yang mengatur, jika memang batal ... mungkin belum jodohnya."

"Saya tidak percaya. Selama 5 tahun anak saya tidak tertarik pada perempuan manapun kecuali Zahra. Makanya saya datang ke sini untuk menemui Zahra, supaya tidak mengganggu anak saya lagi." Bu Maryam ngotot.

Ummi Hawa hanya bisa beristighfar dalam hatinya. Sebenarnya ia kesal karena putrinya dituduh, begitupun Zahra yang ikut mendengarkan. Zahra tidak mau ada fitnah atau tuduhan lainnya. Sehingga Zahra langsung menghampiri Maryam.

"Maaf Bu Maryam. Apakah Anda tidak malu, datang bertamu dengan tuduhan seperti itu?"

Maryam dan Hawa mendongak. Hawa terkejut melihat putrinya ada di sana, tapi Maryam terlihat begitu angkuh seolah senang ketika bertemu Zahra.

Maryam berdiri.

"Akhirnya kamu nonghol juga. Zahra, saya mau ingatkan agar kamu tidak mendekati anak saya lagi. Jika terus mendekati Azmi, lebih baik kamu cari lelaki lain yang mau menjadi ayah untuk anakmu."

"Bu Maryam!" sentak Zahra. Matanya membola sangat tajam.

Ummi Hawa mulai cemas.

"Kenapa?" Maryam dengan nada tinggi. Wanita itu semakin menantang. "Saya ingin tahu. Apa anak-anakmu sudah tahu siapa ayahnya!"

"Astagfirullah....," lirih Ummi Hawa. Hatinya sudah bergetar mendengar perdebatan yang mengarah ke masa lalu. "Sudah cukup Bu Maryam. Tolong ... Anda pergi dari sini."

Ekspresi Maryam semakin sinis.

"Tanpa kamu usir pun aku akan pergi!" tegasnya kepada Ummi Hawa.

"Kalau begitu pergilah Bu Maryam, sebelum aku menyeretmu keluar." Tantang Zahra. Bu Maryam semakin tidak suka.

"Ouh, jadi begini ... Akhlak seorang anak Kiyai. Untung saja, anak saya tidak jadi menikah denganmu." Maryam menunjuk dada Zahra. "Seorang anak Kiyai yang disanjung semua orang, menjadi tauladan para santrinya tapi ... malah hamil tanpa suami. Dan meminta anak saya untuk bertanggungjawab!"

"CUKUP!" sentak Zahra. Matanya mulai berkaca-kaca yang tak kuat lagi menahan hinaan.

Ummi Hawa terduduk lemah di atas kursi. Lututnya seakan tak kuat menahan beban, kakinya lemas sangat lemas. Tangisnya pun pecah.

"Bu Maryam, saya menghormati Anda sebagai orang tua. Anda boleh pergi tanpa harus saya usir, dan jangan pernah kembali lagi ke rumah saya jika ... Hanya untuk menghina. Soal, anak Anda yang belum menikah jangan salahkan saya dalam hal itu. Saya sudah tidak ada hubungan apapun dengan Mas Azmi. Tapi menurut saya ... seharusnya Bu Maryam yang introspeksi diri, mungkin saja ucapan Bu Maryam yang selalu pedas menghina dan menilai seseorang itulah yang menjadi alasan menghambatnya jodoh putra Anda."

Maryam terbelalak. Dia merasa geram dengan perkataan Zahra.

"Jaga ucapanmu ya, Zahra. Kamu yang menghambat jodoh anak saya. Kamu yang selalu mengganggu Azmi. Awas saja ... Jika kamu ketahuan bertemu dengan anak saya. Saya pastikan aib mu akan tersebar!"

Dengan marah Bu Maryam, pergi meninggalkan rumah Zahra.

Tubuh Zahra, langsung melorot lemas. Dia terduduk di lantai, dengan pandangan kosong. Baru saja Zahra menenangkan diri, seorang tamu tiba-tiba berkunjung membahas masa lalu.

"Zahra." Ummi Hawa langsung menghampiri Zahra, lalu memeluknya erat.

"Zahra, kamu baik-baik saja kan? Jangan dengarkan Bu Maryam."

Namun, nyatanya telinganya tidak tuli. Zahra, menangis di pelukan ibunya, punggungnya bergetar hebat, merasakan sakit yang amat dalam.

"Ummi, Zahra takut. Zahra takut Semi dan Arsyad tahu."

"Mereka tidak akan tahu, percaya sama Ummi." Hawa kembali memeluk Zahra.

"Padahal sudah 5 tahun Ummi, tapi mereka masih mengingatnya. Zahra lelah Ummi."

"Zahra ..." Ummi Hawa menggenggam tangannya untuk menguatkan. "Ummi dan Abi sudah ikhlas dan melupakan masalalu. Kamu ... Juga harus melakukan hal yang sama. Jangan biarkan ucapan Bu Maryam membuatmu benci lagi pada Arsyad dan Semi. Mereka tidak salah, mereka titipan Allah yang harus kamu jaga."

"Mereka memang tidak salah, tapi kehadirannya yang salah Ummi," ucap Zahra dengan bibir bergetar.

Ketakutan kembali dirasakan Ummi Hawa. Takut, jika Zahra akan membenci kedua anaknya lagi. Zahra, bangkit dari kursi meninggalkan ruang tamu, sementara Ummi Hawa dia masih duduk melamun di sana.

Tanpa mereka sadari dibalik kamar Arsyad menguping pembicaraan mereka. Arsyad, yang ingin membuat susu tidak sengaja mendengar keributan yang membuatnya penasaran. Arsyad segera sembunyi dibalik pintu kamar mandi ketika Zahra hendak kembali ke kamarnya.

"Sebenarnya siapa papaku? Apa aku tidak punya papa. Kenapa ibu tadi berkata begitu, dia sudah buat Mama nangis. Lihat saja nanti ... aku akan temukan papa. Papaku harus lebih keren dari anaknya." Tekad Arsyad dengan percaya dirinya.

Arsyad lalu keluar dari kamar mandi setelah mencium bau tak sedap.

***

Bantu semangatin Arsyad yuk, dengan kasih like, vote, dan jejak komen kalian ya 🤗

Saranghae ❤️

1
Dini_Ra
Teruntuk kalian yang baca karya ini. Author mau jelaskan jika karya ini sebenarnya sudah pernah publish sebelumnya dengan cover yang berbeda. Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah baca, lalu kenapa sih Thor? kok yang ini covernya beda, terus babnya juga udah banyak tapi yang ini kembali dari awal.

Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.

jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!