Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Sesampainya di restoran terkenal yang tenang dan nyaman itu, Wen Jin memastikan meja mereka berada di sudut yang sepi dan terpisah dari tamu lain. Setelah pelayan menyajikan teh hangat dan pergi, barulah Wen Jin mulai bercerita dengan suara rendah namun jelas.
"Kau tahu, Kakak sebenarnya telah lama mencintai seorang wanita bernama Su Meng, Nona Su pun memiliki perasaan yang sama. Namun cinta mereka tidak bisa bersatu, karena ada satu orang yang menghalanginya yaitu Putri Chun."
Feng Wu mengernyitkan dahi, matanya berbinar bingung. "Putri Chun? Putri kekaisaran ya, mengapa dia menghalangi cinta kakak Wen Qi dengan Nona Su Meng" tanyanya jujur, tak menyembunyikan ketidaktahuannya.
"Putri Chun adalah putri dari Kaisar dan Selir Mulia," jelas Wen Jin pelan. "Putri Chun mengagumi kakak sejak lama, dan karena kekuasaannya, Dia menggunakan segala cara untuk memisahkan Wen Qi dan Nona Su. Tak ada yang berani menentang keinginannya. Itulah sebabnya cinta mereka terhalang sampai sekarang."
Feng Wu terdiam, tak menyangka ada kisah sedih seperti itu. "Jadi... Kakak Wen Qi terpaksa berpisah dari wanita yang dicintainya hanya karena Putri Chun menginginkannya?"
"Bukan berpisah, tapi tidak bisa bersatu. Keluarga Su juga bukan dari kalangan bangsawan, seharusnya lebih pantas jadi selir . Karena ayah memperingatkannya, Kakak kecewa, dan meminta untuk ditugaskan tepat di perbatasan Nanjing" lanjut Wen Jin dengan nada berat. "Namun kali ini dia pulang ke ibukota bukan untuk hal yang membahagiakan. Kakak kembali untuk menikahi Putri Chun, meskipun hatinya tetap milik Nona Su."
Mata Feng Wu membelalak tak percaya. "Masalahnya terlalu rumit, tapi menurutku kakak Wen Qi terlalu larut dalam kesedihan, Apakah kakak Wen Qi tidak bisa menolak pernikahan itu ya? "
"Titah Kaisar sudah diterima, pantang ditolak. Kakak juga tidak punya pilihan lain, Wu'er. Menolaknya justru akan mendatangkan bencana bagi keluarga kita dan bagi Nona Su," jawab Wen Jin sedih. "Itulah sebabnya sejak kemarin kakak terlihat begitu murung. Pernikahan ini bukan kebahagiaan, melainkan pengorbanan yang harus dia lakukan."
Feng Wu mengerutkan kening, rasa penasaran semakin menguasai hatinya. "Putri Chun... lalu seperti apa sosoknya sebenarnya? Apakah dia tidak baik?"
Wen Jin menghela napas pelan, menatap ke luar jendela restoran. "Putri Chun dikatakan sebagai putri tercantik di seluruh istana kekaisaran. Kecantikannya dipuji-puji oleh siapa saja yang pernah melihatnya. Namun bagi kakak.... kecantikan itu tak berarti apa-apa. Matanya hanya terpaku pada satu wanita saja yaitu Su Meng. Tak ada orang lain yang bisa masuk ke dalam hatinya."
Feng Wu terdiam sejenak, lalu bertanya lagi. "Lalu pernikahan ini... kapan akan dilangsungkan?"
"Beberapa minggu lagi," jawab Wen Jin pelan namun penuh kepahitan.
Feng Wu menyandarkan punggungnya ke kursi, berpikir sejenak. "Su Meng tidak ingin jadi selir sedangkan statusnya tidak mendukung, benar-benar kepribadian yang angkuh".
Wen Jin mengangguk pelan, senyumnya terasa getir. "Kakak pernah menawarkan, Namun Su Meng menolaknya. Bagi dia, jika tidak bisa menjadi satu-satunya, maka dia lebih baik tidak menjadi apa-apa."
Feng Wu terdiam mendengar itu, ada perasaan tak terlukiskan di dadanya. "Hanya seorang wanita dari keluarga biasa saja... "Aku... aku ingin sekali bertemu dengan Su Meng. Wanita seperti apa dia, sampai bisa membuat Kakak Wen Qi mencintainya begitu dalam?"
Wen Jin tersenyum tipis, sorot matanya penuh kekaguman. "Su Meng memang bukan wanita yang paling cantik. Kecantikannya tidak menyamai Putri Chun. Namun dia adalah salah satu wanita berbakat di ibukota. Dia pintar, berwawasan luas, lembut hatinya, dan memiliki bakat yang luar biasa. Kecantikan wajah bisa pudar, namun keindahan jiwanya takkan pernah hilang. Itulah yang membuat kakak tak pernah bisa melupakannya."
Feng Wu mengangguk pelan, sepenuhnya mengerti. "Jadi kecantikan sejati bukanlah di wajah, melainkan di dalam hati dan kepribadian... Aku semakin ingin bertemu dengannya, dimana aku bisa bertemu."
Belum sempat percakapan berlanjut, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan dari lantai atas restoran. Suara benda pecah, langkah kaki berlarian, dan jeritan ketakutan bercampur menjadi satu. Seluruh pengunjung di lantai bawah seketika panik, wajah-wajah mereka pucat ketakutan.
"Ada apa?! Apa yang terjadi di atas?!" gumam Feng Wu, segera berdiri dan menatap ke arah tangga.
Tiba-tiba sesosok pria berlumuran darah melompat jatuh dari lantai atas, berusaha sekuat tenaga untuk lari menyelamatkan nyawanya. Namun di belakangnya, turun perlahan sosok yang begitu menakutkan, dia adalah Pangeran Ketiga. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, matanya tajam bagaikan mata elang yang mengincar mangsa. Tanpa ragu sedikit pun, beliau melangkah mendekati pria itu.
Pria itu merangkak mundur ketakutan, memohon dengan suara parau. "Ampun... Ampun, Pangeran! saya mengaku salah! Ampuni saya!"
Namun Pangeran Ketiga tak bergeming. Tanpa sepatah kata pun dia mengangkat tangannya dan dengan satu gerakan cepat, beliau menghabisi nyawa pria itu di tempat. Tanpa belas kasihan, tanpa keraguan, tanpa ampun sedikit pun. Darah memercik ke lantai, dan suasana seketika hening senyap. Semua orang terpaku, tak berani bernapas, tak berani bergerak.
Feng Wu berdiri mematung di tempatnya, matanya membelalak tak percaya. Dengan mata kepala sendiri, ia baru saja menyaksikan betapa kejam dan dinginnya Pangeran Ketiga saat bertindak. Sosok yang semalam menasihatinya dengan lembut dan mencegahnya membahayakan diri, ternyata juga adalah sosok yang dikenal sebagai Dewa Kematian yang tak mengenal belas kasihan.
Melihat pemandangan mengerikan itu, Wen Jin segera bertindak cepat. Ia melangkah ke samping Feng Wu, lalu dengan lembut namun tegas menutup kedua mata sepupunya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Jangan dilihat, Wu'er. Tutup matamu. Tidak perlu kau lihat hal yang demikian," bisiknya pelan namun tegas, berusaha melindungi hati dan pikiran Feng Wu dari pemandangan kejam itu.
Di saat yang sama, Pangeran Ketiga menoleh perlahan. Tatapan matanya yang dingin dan tajam tepat jatuh ke arah meja tempat Feng Wu dan Wen Jin berada. Tak ada ekspresi berubah di wajahnya, tetap datar, tetap dingin, tetap mengerikan. Hanya sesaat menatap ke arah Feng Wu, lalu berbalik dan pergi begitu saja, menghilang di antara kerumunan yang masih terpaku ketakutan.
Wen Jin baru melepaskan tangannya dari mata Feng Wu setelah sosok Pangeran Ketiga benar-benar hilang dari pandangan. Feng Wu menarik napas panjang, tubuhnya masih sedikit gemetar. Rasa ngeri merambat di sekujur tubuhnya terbayang kembali bagaimana Pangeran Ketiga menghunuskan pedangnya dan menghabisi nyawa orang itu tanpa ragu, tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Aku... aku tidak menyangka jika dia begitu kejam..." gumam Feng Wu pelan, suaranya masih bergetar.
Namun Wen Jin hanya menggeleng pelan, lalu mendekatkan wajahnya, berbisik rendah agar tak ada orang lain yang mendengar.
"Wu'er... kejadian ini sebenarnya belum seberapa. Jika kau tahu lebih banyak lagi, mungkin kau akan lebih terkejut."
Feng Wu menatapnya lekat, bingung sekaligus penasaran. "Maksud Kakak Jin?"
Wen Jin menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada penuh makna.
"Banyak yang lebih parah, bahkan terkadang sampai terputus anggota tubuhnya. Pangeran ketiga sang Dewa Kematian paling pantas dan berhak menjadi Pangeran Mahkota, penerus tahta kekaisaran ini. Dia memiliki kecerdasan, ketegasan, keberanian, dan kemampuan yang jauh melebihi semua Pangeran lainnya."
Feng Wu membelalakkan matanya, tak menyangka akan mendengar hal seperti itu. "Lalu... kenapa bukan dia yang menjadi Pangeran Mahkota saat ini?"
"Karena Permaisuri," jawab Wen Jin singkat namun berat. "Pangeran Mahkota yang sekarang duduk di posisi itu... sebenarnya hanyalah seorang pria yang kemampuannya biasa saja. Dia Licik, bisanya bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan Permaisuri, ibunya. Selama ini dia dilindungi dan didukung penuh oleh faksi Permaisuri, sehingga posisinya aman meskipun Pangeran Ketiga jauh lebih layak dan lebih mampu daripada beliau."
Feng Wu terdiam mematung, benaknya berputar memproses kenyataan besar itu. Ternyata di balik kemegahan istana, tersembunyi ketidakadilan dan intrik yang begitu dalam.