Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Zevan
Sementara itu, Zevan berjalan menyusuri koridor kantor menuju ruangan atasannya. Langkahnya kali ini tidak secepat biasanya.
Sesampainya di depan ruangan atasannya, Zevan berhenti.
Ia menatap pintu di hadapannya dengan ragu. Tangannya sempat terangkat, tetapi menggantung beberapa saat sebelum akhirnya mengetuk pintu tiga kali.
Tok... tok... tok.
“Masuk,” sahut suara dari dalam.
Zevan menarik napas pendek sebelum akhirnya meraih gagang pintu dan menekannya perlahan.
Pintu terbuka.
Ia melangkah masuk dan mendapati atasannya sedang duduk di balik meja kerja. Pria itu tampak fokus membaca sebuah buku yang terbuka di hadapannya.
“Pak...” sapa Zevan.
Atasannya mengangkat wajah dari buku tersebut.
“Ternyata kamu, Zevan.” Ia menutup bukunya perlahan. “Ada apa?”
Zevan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu sedikit membungkukkan badan di hadapan atasannya.
“Pak, saya boleh pinjam uang?”
Alis atasannya terangkat. “Untuk apa?”
Zevan terdiam sesaat.
Ia sudah menyiapkan alasan sebelum datang ke ruangan ini.
“Istri saya membutuhkan uang, Pak.” Zevan berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. “Ibunya sedang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit untuk menjalani operasi jantung.”
‘Nggak mungkin aku mengatakan kalau aku sudah nikah lagi diem-diem, apalagi uang ini akan kupakai untuk membelikan Rara kendaraan dan laptop.’
Atasannya menatap Zevan beberapa saat sebelum kembali bertanya.
“Kamu mau pinjam berapa?”
“T-tiga puluh juta saja, Pak,” jawab Zevan.
“Tiga puluh juta?”
Zevan segera mengangguk.
“Iya, Pak.” Ia mencoba terdengar meyakinkan. “Istri saya juga cukup boros. Kalau punya uang, jarang disimpan. Jadi saya bingung harus mencari pinjaman dari mana. Kebetulan sekarang kondisinya sangat mendesak.”
Ruangan kembali hening.
Zevan menunggu dengan gelisah. Jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya.
“Pak...”
“Baiklah,” jawab atasannya akhirnya. “Sistemnya, setiap bulan gajimu akan dipotong sampai pinjaman ini lunas.”
Zevan mengangguk cepat. “B-baik, Pak. Saya setuju.”
‘Biarin sajalah kalau gajiku di potong, yang penting bisa beli apa yang Rara mau.’
Atasannya kemudian meraih sesuatu dari laci meja. Beberapa gepok uang pecahan merah dikeluarkan dan diletakkan di atas meja.
“Ingat, jangan sampai ada alasan kenapa gajimu berkurang.”
Zevan kembali mengangguk. “Siap, Pak.”
Ia segera mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kalau begitu, saya lanjut bekerja dulu, Pak.”
Atasannya tidak memberikan jawaban.
Zevan pun berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas lega.
Tangannya sempat menepuk tas yang berisi uang pinjaman tersebut.
‘Setelah pulang dari sini, aku akan ke showroom motor, lalu ke toko untuk membeli laptop.’
Langkah Zevan kembali menyusuri koridor.
. . .
Waktu berlalu tanpa terasa.
Raya masih fokus pada beberapa dokumen yang sejak tadi dikerjakannya.
“Sudah waktunya makan siang, Ray.”
Jemari Raya yang berada di atas papan ketik berhenti. Ia mengangkat kepala, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop. Layarnya menyala ketika ia mengecek waktu.
‘Benar. Sudah siang.’
Raya menutup laptopnya, kemudian berdiri sambil merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas meja.
“Bapak mau makan apa?” tanyanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Saya pesankan.”
Kansa ikut berdiri dari kursinya.
“Kita makan di luar saja.”
Raya mengangguk. “Baik, Pak.”
Keduanya kemudian berjalan keluar dari ruangan CEO. Raya mengikuti langkah Kansa menyusuri koridor kantor yang mulai sepi karena sebagian karyawan sudah beranjak mencari makan siang.
. . .
Tak lama, mereka akhirnya tiba di pelataran gedung perusahaan. Kansa berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu utama, sementara Raya mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Setelah Kansa membuka pintu, keduanya masuk ke dalam mobil. Kansa duduk di balik kemudi, sedangkan Raya mengambil tempat di kursi penumpang di sampingnya.
Raya memasang sabuk pengaman, lalu meletakkan tasnya di pangkuan.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar. Kansa menginjak pedal gas dan perlahan membawa mobil meninggalkan pelataran gedung perusahaan.
Jalanan kota pada siang itu cukup padat. Kendaraan berlalu-lalang memenuhi ruas jalan, membuat mobil mereka harus bergerak dengan kecepatan sedang.
Raya memandang keluar jendela. Sesekali pandangannya mengikuti kendaraan yang melintas di sampingnya.
Di tengah perjalanan, suara Kansa terdengar.
“Kita jemput Syila dulu di sekolahnya. Kebetulan sudah waktunya Syila pulang.”
Raya segera menoleh. “Baik, Pak. Sekalian kita makan siang bersama.”
.
.
Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki kawasan sekolah Syila. Mobil pun perlahan memperlambat lajunya sebelum menghentikannya tepat di depan gerbang sekolah.
Raya segera melirik ke arah halaman sekolah yang tampak cukup ramai.
“Raya, tolong jemput Syila. Sekalian bilang ke susternya untuk kembali pulang. Kelasnya Syila di 2A, saya perlu mengangkat telepon.
Raya mengangguk. “Baik, Pak.”
Kansa kembali mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Kemudian ia turun dari mobil dan menutup pintu dengan hati-hati.
Ia berdiri sejenak di depan gerbang sekolah, lalu mengarahkan pandangan ke halaman yang dipenuhi siswa.
‘Syila pasti senang kalau melihatku yang datang menjemput.’
Tanpa membuang waktu, ia pun melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah untuk mencari Syila.
Raya terus melangkah menyusuri pelataran sekolah hingga akhirnya melihat seorang perempuan berseragam berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Dari seragam yang dikenakannya, Raya langsung mengenali bahwa perempuan itu adalah suster yang selama ini mendampingi Syila.
Raya pun mempercepat langkah untuk menghampirinya.
“Suster...” panggil Raya.
Perempuan itu menoleh. Wajahnya langsung mengenali Raya.
“Mbak Raya.”
Raya berhenti di hadapannya.
“Saya datang bersama Pak Kansa untuk menjemput Syila,” jelas Raya. “Suster pulang saja, biar Syila bersama kami.”
“Baik, Mbak.” Suster itu mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi.”
Raya membalas anggukan tersebut.
Setelah suster itu pergi, Raya kembali melanjutkan langkahnya menuju kelasnya Syila.
Matanya kini terus mencari kelas yang disebutkan Kansa sebelumnya.
Hingga akhirnya, pandangannya berhenti pada sebuah papan bertuliskan Kelas 2A.
“Kelas dua A...” gumam Raya pelan.
Ia tersenyum tipis, lalu melangkah mendekati kelas tersebut.
Namun, baru beberapa langkah, suara percakapan dari dalam ruangan membuat langkah Raya terhenti tepat di ambang pintu.
“Beneran, Syila punya Mamah. Mamah Syila baru pulang dari luar negeri.”
Raya mengernyit saat tidak sengaja mendengar percakapan beberapa anak dari dalam kelas.
“Bohong!” bantah seorang anak. “Kata mamah aku, kamu itu anak yang ditemukan di jalanan, terus dipungut sama Pak Kansa. Kalau nggak percaya, cari saja di internet.”
Raya terdiam.
“Enggak! Zoya bohong!” bantah Syila dengan suara bergetar. “Syila anaknya Papa Kansa sama Mamah Raya! Buktinya mereka sayang sama Syila!”
“Karena mereka kasihan sama kamu!”
“Zoya jahat!” Suara Syila terdengar semakin tinggi. “Syila benci sama Zoya!”
“Anak pungut! Anak pungut!”
Raya menarik napas dalam-dalam, kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
“Syila, Mamah datang.”
Suaranya membuat percakapan di dalam kelas seketika terhenti.
Syila yang sedang berdiri di tengah beberapa anak langsung menoleh. Mata bulatnya membesar begitu melihat Raya berdiri di ambang pintu.
“Mamah!”
Syila segera berlari ke arahnya.
Raya membuka kedua tangannya dan menangkap tubuh kecil itu ketika Syila langsung memeluk pinggangnya erat.
“Mamah...” panggil Syila lagi dengan suara lirih.
Raya mengusap rambutnya perlahan.
“Iya, Sayang. Mamah datang menjemput Syila.”
“Zoya bilang Syila anak pungut.”
Raya tidak langsung menjawab. Ia menatap anak bernama Zoya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Gadis kecil itu masih menatap Syila dengan wajah yang sulit dibaca.
Raya kemudian berjongkok agar sejajar dengan tinggi Zoya.
“Zoya...” panggilnya lembut. “Apa yang kamu ucapkan barusan bisa membuat orang lain sakit hati. Jangan mengucapkan hal seperti itu lagi, ya, Sayang?”
“Tapi memang benar, kok,” bantah Zoya polos. “Syila itu anak pungut.”
“Mau Syila anak pungut atau bukan, pada hakikatnya Syila dan Zoya sama-sama anak perempuan yang di sayang sama orang tua masing-masing,” ujar Raya lembut. “Jangan sampai perkataan Zoya membuat orang lain membenci Zoya.”
Zoya terdiam.
Gadis kecil itu perlahan menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian, ia melangkah mendekati Syila dan mengulurkan kelingkingnya.
“Zoya minta maaf, ya Syila.”
Raya kemudian menoleh kepada Syila.
“Syila...”
Syila menggeleng cepat. “Nggak. Syila nggak mau maafin.”
Raya tersenyum tipis. Ia kembali berjongkok di hadapan Syila.
“Syila, apa Papah pernah mengajarkan Syila untuk nggak memaafkan teman.” Raya mengusap kepala Syila. “Kalau Papah tahu Syila nggak mau memaafkan teman, nanti Papah bisa kecewa.”
Syila terdiam. Pandangannya berpindah dari Raya kepada Zoya yang masih mengulurkan kelingking.
“Baiklah. Syila maafin.”
Raya tersenyum lega. “Nah, begitu dong.”
Ia memperhatikan kedua anak itu yang akhirnya saling mengaitkan kelingking.
Raya tersenyum karena berhasil mendapatkan dua bocah kecil itu.
“Sudah, Mah. Ayo pulang.”
Raya berdiri dan mengangguk. “Iya. Tapi kita makan siang dulu, ya. Papah sedang menunggu di mobil.”
Syila langsung menatapnya dengan wajah sedikit cemas.
“Mamah jangan kasih tahu Papah, ya. Nanti Papah marah sama Syila.”
Raya terkekeh pelan. Ia kemudian mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya.
“Tenang saja. Ini rahasia Mamah dan Syila.”