"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN: Mahkota Ilusi (Bagian 2)
I want you to notice, when I’m not around
You’re so fucking special, I wish I was special...
“Zang, ditunggu pak Hendra di lobi,” Sandra menegurku yang tengah bersenandung lirih dengan headset yang terpasang sebelah. Aku hanya mengangguk sambil masih meneruskan nyanyianku ketika tiba-tiba kesadaranku terkumpul sempurna. Buru-buru aku berteriak dari bilikku.
“What? Apa kamu bilang?”
“Pak Hendra nunggu kamu di lobi?” Sandra mengulangi perkataannya dengan tidak yakin.
“Like...now?” tanyaku meminta kepastian.
“Yes, Sir.”
“Oh, crap!” aku dengan segera berlari menuju lift. Kurapikan lagi ujung bajuku yang mencuat tanpa kusadari. Untung saja lift sedang sepi, aku jadi leluasa merapikan rambut dan dasiku meskipun sebentar. Aku baru selesai membenahi dasiku ketika pintu lift berdenting terbuka. Pak Hendra seketika menoleh dan menyambutku dengan senyumnya yang ramah. Terlalu ramah kalau kupikir-pikir.
“Mencari saya, Pak?” tanyaku memulai percakapan.
“Ah, sebenarnya tidak juga. Tapi berhubung saya sedang lewat kantor, saya pikir tidak ada salahnya menengok kemari,” Pak Hendra melipat koran di tangannya.
“Oh, apa Bapak ingin saya memanggilkan Andra atau Vanno?”
“Tidak, tidak. Kamu saja sudah cukup kok, Nak,” pria paruh baya ini menepuk sofa di sebelahnya. Secara halus memintaku duduk.
“Oh, iya Pak,” jawabku pelan. Kurasakan keringat dingin di punggungku mulai merembes. Semoga saja kemeja hitamku tidak memunculkan bercaknya.
“Bagaimana Vanya? Apakah sudah cukup merepotkan nak Izang atau belum?”
“Ah, saya sama sekali tidak merasa direpotkan kok, Pak. Karena saya merasa tidak banyak membantu Vanya. Ian yang lebih sering membantu putri Bapak dalam mengumpulkan data dan menyelesaikan penelitian,” tanpa berniat merendah, memang begitulah kenyataan di lapangan.
“Really? Tapi, saya rasa Vanya senang sekali bekerja dengan nak Izang. Apalagi nak Izang beberapa kali meluangkan waktu untuk menjemput dan menemani Vanya. Saya jadi merasa berhutang budi,” tutur beliau kalem.
“Wah, tidak perlu sampai merasa begitu, Pak. Saya malah bersyukur kalau Vanya terbantu dengan kehadiran saya. It’s an honour for me,” aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau saya ingin mengajak nak Izang makan siang bagaimana? Sedang tidak sibuk kan?”
Holy double shit!
“Mm...maaf Pak. Bukannya saya ingin bersikap tidak sopan, tapi dengan berat hati sekali saya harus menolak ajakan Bapak,” aku sampai menelan ludah ketika mengatakannya. Takut jika penolakanku membuat beliau tidak terima.
“Ada apa? Ada pekerjaan yang harus diselesaikan?” alis pak Hendra bertaut.
“Sayangnya begitu, Pak.”
“Oh, pekerjaan dari mana kalau saya boleh tahu?” tanpa akting yang dibuat-buat, pak direktur memang terdengar penasaran dengan alasanku. Aku menahan napas.
“Dari Pemkot Banjarmasin, Pak. Saya harus menyelesaikan draft awal sebelum mulai merancang aplikasi yang diminta,” jelasku sederhana. Alasanku sudah cukup meyakinkan belum?
“Wah, sayang sekali. Benar-benar tidak bisa disempatkan meskipun hanya satu jam?” tawar pak Hendra lagi.
“Mohon maaf sekali, Pak,” aku sampai menundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan beliau. Ini kulakukan bukan karena aku berbohong. Ini hanya agar terlihat dramatis saja.
“Ah, baiklah kalau begitu, saya tidak akan memaksa lagi. Mungkin kita bisa makan siang di lain kesempatan. Setidaknya saya tahu kamu memang orang yang disiplin dalam masalah pekerjaan. Nilai plus untuk perusahaan di masa depan,” pak Hendra menepuk lututku perlahan. Nyaris saja aku melompat saking kagetnya.
“Kalau begitu saya pergi dulu ya, Nak? Saya jadi yakin kamu bisa membahagiakan Vanya,” gumam beliau lirih. Aku langsung mendongakkan kepalaku tegak-tegak. Beliau bilang apa barusan?
“Maaf, Pak?” tanyaku sopan. Berharap beliau akan mengulangi perkataannya beberapa detik lalu.
“Jaga anak saya baik-baik!” kalimat itu jelas bukan yang kudengar tadi. Aku ini tuli atau apa sih?
“I...iya, Pak” aku mengangguk cepat-cepat. Pak Hendra baru membalikkan badannya untuk meninggalkanku ketika tiba-tiba beliau berbalik lagi dan menepuk bahuku.
“Oh, iya satu lagi. Pekan depan akan ada makan malam di The Valley. Saya harap kamu bisa menyempatkan waktu untuk datang.”
“Oh. Baik, Pak. Akan saya usahakan,” tuturku setenang mungkin. Padahal isi kepalaku sudah berlarian kesana-kemari seperti kena gempa.
“Saya pergi dulu,” pamit beliau dan mengangguk ke arah ajudannya.
“Iya, Pak. Hati-hati di jalan!” aku membungkuk hormat sebelum memandang kepergian beliau dengan muka semrawut. Kucubit lenganku keras-keras dan aku mengumpat sendiri karena kesakitan. Aku jelas tidak bermimpi.
“Abis dari mana?” Ian merengkuh bahuku sekeluarku dari lift.
“Abis ketemu pak Hendra di bawah.”
“What? Seriusan?” Ian membalikkan badanku hingga menghadap ke arahnya. Good, sekarang kami terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
“Mukaku kelihatan bercanda apa?” aku menatapnya malas. Kulangkahkan kakiku menuju bilik.
“Terus beliau bilang apa? Komentar soal penelitian Vanya?” Ian mengekor di belakangku.
“Dikit aja. Yang banyak malah nawarin aku makan siang dan ajakan buat makan malam minggu depan.”
“Excuse me? Say it again!” baru kali ini Ian membelalakkan matanya yang coklat terang ke arahku. Aku memijat keningku.
“Ian, come on! You’ve heard it.”
“I did. But for real? Mr. Hendra asked you to dinner?” Ian menanyaiku dengan intonasi yang lebih lambat. Aku menganggukkan kepalaku lemah.
“It’s...strange, man! Don’t you feel anything about it?”
“Yeah. But you are the one who said that I can’t believe my feeling that much, remember?” ujarku sambil memejamkan mata.
“Yes, I am. But...you know...it’s getting weird now,” mau tak mau Ian juga menangkap keanehan yang kurasakan.
Terlepas dari kebohongan yang dilakukan Vanya di TSM—yang sengaja belum aku ceritakan pada Ian—aku merasa tidak ada masalah apa pun dengan gadis bertubuh semampai itu. Dia juga bertingkah seperti biasa ketika bersamaku atau Ian. Bahkan dia kembali ke kebiasaannya dalam merepotkan Ian. Hanya sekali atau dua kali dia meminta bantuanku secara langsung. Tentu saja perbuatannya itu membuatku memendam spekulasiku dalam-dalam.
Bagiku, aku sudah merasa hati-hati dalam bersikap. Neither too nice nor too cold. Dan tentu saja kejadian siang ini tadi tidak bisa membuatku bertindak gegabah dalam menghadapi kemungkinan yang sudah berseliweran di benakku. Aku tahu, aku harus menunggu sedikit lebih lama.
“Dude?” Ian menunggu.
“We will see,” kusandarkan kepalaku sembari menengadah ke langit-langit ruangan.
...***...