Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Ajakan Pergi Lelang
Isabella yang melihat itu benar-benar puas. Akan dia buat Lyra di benci oleh kedua orang tuanya dan tak akan pernah ia biarkan mereka mengasihani Lyra lagi.
Setelah drama panjang tentang gaun yang tertukar itu. Inti keluarga Davis mulai masuk kedalam mobil masing-masing tentu dengan Isabella yang berada di mobil kedua orang tuanya.
"Ra, kamu di mobil lain ya! Aku sedang kurang sehat dan butuh tempat nyaman dan lebih lenggang di dalam mobil!" katanya, sebelum Lyra menyentuh pintu mobil.
"Tap—"
"Ma," panggil Isabella.
"Ra, malam ini saja! Kakakmu butuh sedikit ketenangan!" suara Melody membuat Lyra kesal. Namun, dia tetap tenang dan memilih setuju.
"Terima kasih, Lyra!" kata Isabella, sebelum menutup kaca jendela mobilnya.
Lyra mengepalkan tangannya dengan benci. Saat mobil itu tak terlihat lagi kilatan kemarahan terlihat jelas tanpa bisa ia tutupi lagi.
"Sialan kamu Isabella!" desis Lyra dengan marah.
Lyra berbalik dia berteriak marah dan beberapa pelayan langsung berhamburan keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi hingga sang Nona angkat membuat keributan.
"Lamban! Keluarkan mobil cepat!" bentak Lyra, nada suaranya agak meninggi.
Lyra terus menghardik, membentak dan memarahi para pelayan dan pengawal mansion Davis. bahkan supir pribadi dari Matthew saja mendapatkan kemarahan itu juga.
Seseorang melihat semuanya. Memantau dengan mata gelapnya yang indah, lewat layar dia tersenyum tipis.
"Apa yang membuat kamu tersenyum seperti itu. Sayang?" pertanyaan itu membuat Isabella segera melunturkan senyum yang sejak tadi terpasang di bibirnya.
"Bukan apa-apa, Ma, hanya sebuah adegan film yang seru!" jawabnya dengan nada meyakinkan.
Melody mengangguk, dalam hati ia senang karena sang putri akhirnya berubah. Namun, di sudut hatinya yang lain dia merasa ada yang salah dengan sikap Lyra akhir-akhir ini.
"Bella," panggil Melody.
"Iya, Ma, ada apa?" tanya Isabella. Dia meletakan ponsel nya di atas pangkuannya.
"Apa menurut kamu Lyra berubah?" satu pertanyaan yang mengejutkan.
"Maksud Mama apa?"
"Sebenarnya beberapa hari lalu Mama tidak sengaja melihat Lyra tengah memarahi satu pelayan. Makiannya dan omelannya pada pelayan itu membuat Mama sempat tak percaya. Tapi jelas itu yang Mama lihat dan dengar," jelas Melody.
"Mama melihatnya?" cicit Isabella. Wajahnya merasa tak enak.
Melody menoleh dan menatap intens sang putri yang duduk tepat di kursi belakang dengan posisi bersandar pada jok mobil.
Melihat tatapan sang Mama. Isabella menunduk segera seolah tak berani mengatakan apapun tentang Lyra.
"Bella, apa maksud kamu tentang Mama melihat juga? Apa kamu juga tahu itu?" cecar Melody.
Isabella masih bungkam. Seolah dia takut salah bicara dan lewat lirikan mata sang putri. Melody melihat ketakutan.
"Sayang, coba katakan pada Mama dan Papa! Apa yang sebenarnya kamu katakan tadi?" bujuk Melody dengan nada lembut.
Namun, belum sempat Isabella menjawab mobil itu sudah berhenti di pelataran luar hotel mewah milik De Luca.
"Kita bicara di rumah nanti!" putus Matthew.
Dan di angguki oleh Isabella juga Melody yang setuju.
Mobil Lyra juga tiba di sana setelah lima menit kemudian. Sosok nya keluar dari mobil dengan wajah yang agak masam. Namun, dia menutup ketidaksukaan nya itu dengan wajah polosnya yang menakjubkan.
Inti keluarga Davis lain juga tiba di sana. Namun, banyak dari mereka yang tak suka pada Lyra bukan karena wanita itu hanya anak angkat. Namun, ada alasan lain di balik semua itu.
Sedangkan saat tatapan tak suka mengarah pada Lyra. Isabella tetap diam seolah tak melihat apapun.
"Kamu cantik sekali!" salah seorang sepupu memuji penampilan Isabella malam ini.
"Tentu, dia itu putri Davis dan pasti wajahnya seindah Tuan putri Asli. Dan tidak seperti seseorang yang hanya upik abu tapi mencoba naik menjadi sosialita," sindiran telak yang menghantam ulu hati Lyra malam itu.
Namun, saat Lyra menatap Isabella, wanita itu hanya acuh seolah tak melihat apa yang terjadi di sana.
Mereka semua masuk kedalam. Acara mungkin akan di mulai setengah jam lagi dan jelas itu menjadi kesempatan bagi Isabella untuk membuat rencana baru.
"Kamu tunggu saja!" gumam Isabella. Lewat ekor matanya dia melirik Lyra yang berwajah masam.
***
Di Ballroom hotel mewah De Luca, acara pertunangan yang sudah di siapkan untuk Isabella dan Arion malam ini.
Pintu utama itu terbuka. Dan menampilkan keluarga inti Davis termasuk sang mempelai wanita yang di gadang-gadang dulu sempat menolak keras pertunangan ini.
"Ternyata kamu menepati janji!" bisik Arion, saat Isabella tiba di sampingnya.
"Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tua ku lagi," jawaban kata lagi membuat Arion mengerutkan keningnya bingung.
Namun, dia tak menanggapi itu dan memilih lebih fokus pada acara malam ini.
"Lusa ada acara lelang, kamu mau pergi denganku?"
Isabella menoleh menatap Arion dengan bingung. Namun, itu hanya sesaat sebelum akhirnya dia setuju.
"Lelang? Dimana?" tanya Isabella. Dia harus memastikan apakah tempatnya sama seperti kehidupan dulu atau tidak.
"Tempat Tuan Hen, mau ikut?"
'Tuan Hen?' batin Isabella. Dia ingat karena di kehidupan sebelumnya dia datang kesana demi sebuah batu permata langka hal yang di inginkan Ayah dari Darel.
"Ada apa? Tidak ma—"
"Aku akan datang!" jawabnya cepat.
Arion mengangguk, "Bersiap lah dan aku akan menjemput kamu!"
Isabella tersenyum tipis. Dan akhirnya acara pesta pertunangan itu di mulai dengan banyaknya rangkaian acara.
BRAK!
Saat sesi tukar cincin. Pintu besar itu terbuka kasar, Isabella dan mereka semua terkejut dengan mata mengarah seluruhnya pada arah pintu.
DEGH!