NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Bayangan yang Diundang

Pagi itu kabut tipis masih menyelimuti atap ubin ketika teriakan pertama memecah keheningan pinggiran kota. Seorang anak pembawa susu yang lewat di depan rumah kosong itu mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit, lalu lari terbirit-birit menuju pasar, memberitahu siapa pun yang ia temui bahwa para perampok tergeletak seperti orang mati di lantai, dengan senjata mereka disusun rapi di sudut ruangan.

Ketika pengawal kota tiba, mereka menemukan empat pria masih tidak sadarkan diri, tangan terikat tali kasar yang entah siapa yang mengikatkan — padahal semalam tidak ada satu pun warga yang berani mendekat. Tidak ada darah. Tidak ada luka parah. Hanya memar di bagian belakang kepala dan pergelangan tangan yang bengkok. Yang kelima tidak ditemukan. Jejak sepatu bot menuju ke hutan utara, menghilang di antara semak belukar sebelum sempat diikuti.

Berita menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering. Di pasar, para pedagang berbisik dengan mata berbinar. Seorang penjual kain bersumpah ia melihat sosok hitam melompat dari atap tengah malam, jubahnya berkibar seperti sayap kelelawar. Seorang lain menambahkan bahwa sosok itu membawa tiga pedang dan matanya menyala seperti bara. Yang ketiga, yang sebenarnya tidur nyenyak sepanjang malam dan tidak mendengar apa-apa, mengangguk-angguk penuh yakin seolah ia menyaksikan semuanya dari jendela kamarnya.

"Pelindung kota," sebut seorang nenek penjual teh, suaranya gemetar karena kagum sambil menaruh secangkir teh hangat di atas batu penjuru pasar. "Dia dikirim oleh leluhur kita untuk menjaga kita di saat penjaga lengah."

"Tidak," bantah pengawal kepala, seorang pria bernama Daizen dengan wajah masam dan bekas luka di pipi, ketika laporan itu sampai ke tangannya. "Ini pekerjaan orang yang terlatih. Satu orang melumpuhkan lima dalam hitungan detik tanpa suara, tanpa darah, tanpa saksi. Orang seperti itu tidak muncul tanpa alasan. Dan orang seperti itu lebih berbahaya daripada lima bandit mana pun."

Namun warga tidak peduli dengan peringatan Daizen. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan para bandit, mereka tertawa lepas. Anak-anak berlari memainkan "perampok dan bayangan", salah satu dari mereka mengenakan kain hitam dan meneriaki yang lain dengan suara sengau. Di sudut pasar, seseorang meninggalkan semangkuk nasi hangat dan sebotol sake di depan rumah kosong itu, "untuk sang pelindung". Pada siang harinya, persembahan itu bertambah — buah, kue, bahkan sepasang sandal kayu baru. Tidak ada yang tahu kepada siapa mereka memberi, tapi itu tidak penting. Yang penting, mereka tidak lagi merasa sendirian.

Di Karya Baja, palu besi sudah berdentang sejak matahari terbit.

Kakashi memukul besi panas di atas landasan, setiap ayunan dihitung, setiap hentakan menghilangkan sebagian kegelisahan yang mengendap di tulangnya. Uap panas mengepul di wajahnya, bau besi terbakar mengisi hidungnya. Ia sengaja memilih pekerjaan terberat hari ini — meluruskan mata bajak yang bengkok, menempa ulang sebilah parang yang retak, memaku ulang roda pedati yang patah. Ia ingin tangannya lelah. Ia ingin ototnya pegal. Ia ingin sesuatu yang nyata, sesuatu yang berat dan panas dan tidak berbahaya, menahan getaran yang masih sesekali muncul di ujung jari ketika ia diam terlalu lama.

"Kau bekerja terlalu keras hari ini," suara Juro, pemilik toko yang sudah bungkuk, terdengar dari pintu. Tua itu menyandarkan bahunya pada tiang, matanya yang keriput mengamati setiap ayunan palu. "Besi tidak akan lebih cepat lunak hanya karena kau memukulnya seperti ingin membunuhnya. Kerjakan dengan tenang, anak. Besi merasakan niatmu."

Kakashi menghentikan palu. Ia menatap besi di landasan — memang, ada penyok yang tidak perlu di sana, bekas pukulan yang terlalu keras dan tidak terarah. Ia mengatur napas, merasakan denyut nadi di pelipisnya perlahan melandai.

"Maaf," katanya. "Pikiran sedang melayang."

"Memang," Juro mendengus. "Sejak semalam. Kau tidur sangat larut, bukan? Atau tidak tidur sama sekali? Aku mendengar jendelamu berderit sebelum fajar."

Kakashi tidak menjawab. Ia memasukkan besi kembali ke dalam api, memperhatikan warnanya berubah dari kelabu menjadi jingga keemasan.

Juro menatapnya lama. Tua itu telah menerima Kakashi tiga bulan lalu, ketika pria itu muncul di pintu toko dengan pakaian lusuh dan satu pedang di pinggang, meminta pekerjaan apa pun asalkan diberi tempat tidur dan makan. Juro tidak bertanya. Di kota ini, orang tidak bertanya tentang masa lalu — setiap orang punya sesuatu yang ingin mereka tinggalkan. Tapi Juro bukan orang bodoh. Ia melihat cara Kakashi memegang palu — jari-jari yang tahu cara memegang gagang senjata, bahu yang terlatih menahan hentakan, mata yang secara refleks memindai setiap orang yang masuk ke toko, mencari jalan keluar, mencari ancaman. Ia hanya tidak pernah menyebutkannya.

"Besok ada pesanan pedang upacara dari kuil," kata Juro pelan, berbalik menuju pintu. "Kau yang mengerjakan. Aku sudah terlalu tua untuk menempa baja halus. Dan... jangan pulang terlalu malam. Jalanan masih belum sepenuhnya aman."

Kakashi mengangguk. Ia tahu apa artinya — Juro memberinya kepercayaan, dan dengan itu, secara tidak langsung, sebuah pengingat: kau bagian dari tempat ini. Jangan pergi. Jangan kembali ke kegelapan.

Ketika matahari mulai meninggi, Yurika datang.

Ia melangkah masuk ke toko dengan wajah bersinar, rambutnya masih basah karena baru mencuci, busur panah tersampir di bahu dan seikat anak panah di punggung. Ia membawa sekeranjang buah pir yang matang dari kebunnya, menaruhnya di meja kayu dengan gerakan cepat.

"Kau dengar?" tanyanya tanpa basa-basi, matanya mencari wajah Kakashi di balik asap tempa. "Mereka ditemukan. Semuanya. Empat dari mereka tergeletak tidak sadar, dan yang kelima lari ke hutan. Seseorang melakukan itu semalam. Seseorang yang sangat terlatih."

Kakashi mengelap tangan dengan kain kasar. Wajahnya tetap datar. "Memang?" katanya. "Beruntunglah kota ini."

Yurika mendekat. Ia menatap wajahnya dari dekat, seolah ingin menemukan retakan di kediamannya yang tenang. Kakashi menatap balik dengan wajah yang tidak memberi apa-apa. Ia sudah berlatih ini selama bertahun-tahun — wajah kosong adalah tembok pertamanya, lebih kuat dari baju besi mana pun.

"Pengawal kota tidak menemukan jejak," lanjut Yurika pelan. "Tidak ada saksi. Tidak ada tanda perkelahian yang berarti. Hanya empat orang kuat yang tiba-tiba tumbang. Dan kau tahu apa yang paling aneh? Senjata mereka disusun rapi. Seperti... seperti orang yang melakukannya tidak membenci mereka. Hanya ingin menghentikan mereka."

"Orang yang melakukannya terlatih," jawab Kakashi. Ia berbalik mengambil sebatang besi dari rak, memberikan punggungnya pada Yurika. "Atau beruntung."

"Atau dia tidak ingin diketahui," kata Yurika. Suaranya kini hampir berbisik. "Kakashi..."

Ia berhenti. Kakashi bisa mendengarnya menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang ingin diucapkan. Di antara mereka tergantung keheningan yang berat, penuh dengan pertanyaan yang tidak terucapkan.

"Aku pergi ke hutan utara sore ini," katanya akhirnya, dengan nada yang berbeda — lebih ringan, seolah topik tadi tidak pernah ada. "Berlatih memanah, ke bukit pandang. Kau ingin ikut? Aku janji tidak akan menceritakan apa pun lagi tentang perampok. Haku... hanya ingin berjalan."

Kakashi menoleh. Yurika tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Ia tahu. Atau setengah tahu. Dan ia memberinya jalan keluar — sebuah kesempatan untuk menjadi orang biasa selama satu sore, tanpa pedang, tanpa rahasia, tanpa bayangan.

"Baik," kata Kakashi.

Hutan utara terletak di balik bukit kecil, jalurnya menanjak melalui pohon-pohon pinus yang rindang. Udara di sana lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan getah. Yurika berjalan di depan, langkahnya ringan dan yakin — ia memang anak hutan ini, mengenal setiap akar yang menjulur, setiap batu yang licin. Sesekali ia menunjuk tanaman obat atau sarang burung, bercerita dengan suara yang mengalir tentang hutan ini seperti bercerita tentang teman lama. Kakashi mendengarkan tanpa banyak bicara, tapi kehadirannya saja sudah cukup. Ia menyadari bahwa selama tiga bulan di kota ini, ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar bisa bernapas.

Di atas bukit pandang, seluruh kota terbentang di bawah mereka — atap merah yang berderet, sungai yang berkelok memantulkan cahaya sore, asap tipis dari dapur-dapur yang mulai menyiapkan makan malam. Yurika mengambil busurnya, memasang anak panah, dan melepaskannya ke sasaran batang pohon yang telah ditandai. Bullseye. Ia melepaskan satu lagi, dan lagi. Setiap tembakan tepat, tanpa ragu, tanpa gemetar. Kakashi memperhatikan — cara ia berdiri, cara ia menarik tali busur sampai ke sudut bibir, cara ia melepaskan dengan napas yang teratur. Ia mengerti sekarang. Yurika bukan sekadar gadis yang bermain panah. Ia adalah seorang yang terlatih, yang memahami disiplin dan fokus. Mungkin itu sebabnya ia bisa melihat melalui topengnya.

"Kakakku yang mengajariku," kata Yurika tiba-tiba, sambil memasang anak panah keempat. Ia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada sasaran. "Dia pergi ke ibu kota tujuh tahun lalu untuk menjadi pengawal istana. Tidak pernah kembali. Kami mendapat surat terakhir setahun yang lalu, mengatakan dia masih hidup dan baik-baik saja. Sejak itu... tidak ada. Tidak ada surat, tidak ada kabar. Ayahku bilang dia mungkin sibuk. Ibuku tidak bicara apa-apa lagi tentang dia."

Anak panah melesat, menancap tepat di pusat sasaran, membelah anak panah yang sudah ada di sana.

"Bandit-bandit itu," lanjut Yurika, suaranya kini lebih rendah. "Mereka tidak datang sendiri. Daizen menemukan sesuatu di rumah kosong itu — sebuah koin, terselip di bawah papan lantai. Bukan koin kota kita. Logamnya lebih berat, ada lambang bunga teratai di satu sisi. Koin dari provinsi timur, dari klan yang berkuasa di sana."

Ia menurunkan busurnya, lalu menoleh pada Kakashi. Mata sore menyinari separuh wajahnya.

"Artinya seseorang mengirim mereka," katanya. "Seseorang yang jauh, yang tahu kota ini sedang lemah, yang tahu penjagaan kita lengah. Dan jika orang itu mengetahui anak buahnya gagal... dia akan mengirim yang lain. Kali ini bukan orang compang-camping dengan belati tumpul. Kali ini dia akan mengirim seseorang yang benar-benar bisa membunuh."

Kakashi terdiam. Angin berhembus di antara mereka, membawa daun-daun pinus berputar. Ia memikirkan mata bandit yang kelima saat ia lari — ketakutan yang dalam, tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah laporan yang akan disampaikan. Sebuah nama yang akan disebut. Bukan nama Kakashi, karena tidak ada yang tahu namanya. Tapi sebuah deskripsi: seorang pendekar bayangan, bergerak seperti angin, mengalahkan lima orang tanpa membunuh. Di dunia tempat mereka berasal, deskripsi seperti itu cukup untuk melacak seseorang. Ada terlalu sedikit orang yang bisa bergerak seperti itu.

Matahari mulai turun ketika mereka berjalan pulang. Di jalan setapak, Yurika tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Kakashi. Wajahnya serius, tapi tidak menuntut.

"Aku tidak akan bertanya siapa kau," katanya pelan. "Aku tidak peduli dari mana kau berasal, atau apa yang kau tinggalkan di sana. Tapi jika suatu saat kau harus memegang pedang lagi untuk melindungi kota ini... ketahuilah bahwa aku tidak akan melihatmu sebagai monster. Aku akan melihatmu sebagai orang yang memilih untuk berbuat baik, meskipun ia takut. Dan itu... itu lebih berani daripada apa pun yang aku tahu."

Kakashi menatapnya. Ia ingin berkata sesuatu — terima kasih, atau jangan, atau kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Ia hanya mengangguk, perlahan, dan mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang nyaman.

Malam itu, di kamar belakang toko, Kakashi duduk dengan pedang Hiruzen di pangkuannya. Ia tidak mencabutnya. Ia hanya menatap sarungnya yang usang, merasakan beratnya yang familiar di telapak tangannya. Getaran di tangannya sudah hilang, tapi ia tahu itu akan kembali. Ia tahu sekarang bahwa pintu yang ia kira tertutup rapat ternyata hanya terkunci, dan sekali dibuka sedikit, cahaya lama akan masuk — cahaya yang terasa seperti hidup, tapi juga seperti racun.

Hanya sekali, janjinya pada diri sendiri lagi malam itu, seperti ia telah berjanji berkali-kali sebelumnya. Hanya untuk mereka. Lalu aku akan kembali menjadi orang biasa.

Tapi ia tahu, lebih dalam dari apa yang mau ia akui, bahwa janji seperti itu tidak pernah bisa ditepati.

Tiga hari kemudian, seorang pria asing tiba di kota.

Ia tinggi, berpakaian jubah abu-abu sederhana, dengan topi jerami lebar menutupi wajahnya. Di pinggangnya ada satu pedang — panjang, sarungnya hitam polos tanpa hiasan, gagangnya dibalut kulit yang sudah mengkilap karena usang. Ia berjalan lambat, berhenti di kedai teh di sudut pasar, memesan secangkir, dan mendengarkan. Orang-orang berbicara tentang sang bayangan pelindung, tentang koin bunga teratai, tentang bandit yang lari ke hutan dan tidak pernah terlihat lagi. Pria itu mendengarkan semuanya tanpa komentar, sesekali mengangguk pelan.

Ketika matahari terbenam, ia berdiri, membayar tehnya dengan koin perak biasa, dan bertanya kepada pemilik kedai dengan suara rendah, tenang, tapi memiliki berat yang membuat pemilik kedai tanpa sadar menjawab dengan jujur:

"Di mana aku bisa menemukan seorang pendatang baru? Seorang pria, kira-kira setinggi ini, bekerja di pandai besi? Namanya... mungkin Kakashi?"

Pemilik kedai menunjuk ke arah Karya Baja tanpa curiga.

Pria itu berjalan perlahan menuju toko. Langkahnya senyap, hampir tidak bersuara di atas jalan berbatu — sebuah kebiasaan yang hanya dimiliki oleh orang yang terlatih untuk tidak terdengar. Di pinggir jalan, anak-anak masih bermain perang-perangan. Salah satu dari mereka, yang mengenakan kain hitam sebagai jubah bayangan, berlari melewati pria itu. Pria itu tidak bergerak. Tapi matanya — di balik bayang topi — menyipit sebentar.

Ia berhenti di seberang jalan, menatap tanda kayu "Karya Baja" yang bergoyang tertiup angin. Lampu minyak di jendela belakang menyala redup. Di baliknya, seseorang sedang bergerak, bayangannya terpantul di tirai tipis.

Pria itu menyentuh gagang pedangnya dengan ujung jari, lalu tersenyum tipis — senyum yang tidak membawa kebahagiaan, hanya kepuasan dingin pemburu yang menemukan jejak.

"Akhirnya," gumamnya, suaranya hilang tertiup angin malam. "Ronin itu. Aku menemukanmu."

Di dalam toko, Kakashi yang sedang mengasah mata pisau tiba-tiba berhenti. Kulit tengkuknya merinding. Naluri lama — yang tidak pernah benar-benar hilang, yang hanya tertidur — berteriak satu kata di dalam kepalanya: bahaya.

Ia menaruh pisau itu perlahan di atas meja. Matanya menatap ke arah pintu, ke arah kegelapan di luar. Di luar, jendela berderit tertiup angin. Di luar, seseorang berdiri, dan Kakashi bisa merasakannya — berat dari sebuah tatapan yang mengenalnya, yang telah mencarinya, yang tidak akan pergi begitu saja.

Ia menarik napas panjang. Di pinggangnya, pedang Hiruzen terasa lebih berat dari biasanya.

Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, bayangan merasa sedang diawasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!