NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Cahaya di Ujung Kegelapan

"Li An! Li An, bangunlah!" Ling Yue memeluk tubuh yang semakin dingin itu, menepuk-nepuk pipinya dengan tangan gemetar. Namun mata yang biasanya menatapnya penuh kehangatan tetap tertutup rapat, napasnya nyaris tak terasa.

Ia menengok ke sekeliling—hutan lebat, kabut pagi yang masih tebal, tak ada siapa-siapa. Hanya dirinya, pria yang dicintainya, dan tumpukan dokumen yang kini terasa seberat beban dunia.

Tidak boleh menyerah! Tegur hatinya sendiri. Bukan sekarang! Bukan setelah semua orang berkorban untuk kita!

Ia meletakkan Li An perlahan di atas tumpukan dedaunan kering, lalu memeriksa lukanya. Bengkakannya semakin meluas, kulit di sekitarnya berwarna ungu gelap, dan denyut di pergelangan tangannya semakin lemah.

"Penawar..." gumamnya. "Shen Ying pasti meninggalkan sesuatu..."

Ia mencari di tempat perbekalan yang tersisa di perahu. Ada ramuan luka, perban, namun tidak ada penawar racun itu. Hanya selembar kertas kecil yang terselip di balik lipatan kain—tulisan tangan Shen Ying:

"Racun ini berasal dari akar bintang yang tumbuh di tepi Danau Awan. Penawarnya ada di sana, di air yang mengalir dari mata air di balik gua tempat kalian menemukan peti itu. Atau... bunga putih yang mekar di tempat air terjun menyentuh tanah. Hanya itu yang bisa menyelamatkannya."

Ling Yue menegang. Kembali ke sana berarti kembali ke sarang musuh. Tapi melihat wajah pucat Li An, ia tak ragu sedetik pun.

"Tunggu aku..." bisiknya, mengecup keningnya yang dingin. "Aku kembali. Aku janji."

Ia menata Li An di tempat yang tersembunyi di balik semak belukar rapat, menutupi tubuhnya dengan kain tebal agar hangat, lalu berlari kembali menuju danau dengan sekuat tenaga. Setiap langkah terasa berat, seakan ada tangan tak terlihat yang menariknya mundur. Ia tidak tahu apakah Ling Yan dan yang lainnya masih hidup, atau apakah musuh masih menunggu di sana. Namun ia tidak peduli.

Saat kembali ke tepian, tempat itu sunyi senyap. Tidak ada pasukan, tidak ada suara pertarungan. Hanya tanda-tanda bekas perkelahian—pedang yang patah, jejak kaki yang berantakan, dan bercak darah yang mengering di tanah.

"Ling Yan... Shen Ying... Mo Yu..." panggilnya pelan, namun tak ada jawaban.

Ia menahan tangis, berlari menuju air terjun seperti yang tertulis di catatan itu. Di sana, di antara bebatuan yang basah, tumbuh sekumpulan bunga putih kecil yang berkilau di bawah butiran embun—murni, lembut, dan indah. Ia memetiknya dengan hati-hati, meremas kelopaknya hingga keluar sarinya, lalu meminumnya sedikit untuk memastikan tidak berbahaya, sebelum berlari kembali ke tempat Li An menunggu.

Saat tiba, napasnya nyaris habis. Ia meneteskan sari bunga itu ke mulut Li An, lalu meletakkan remasan bunga itu di atas lukanya. Ia memeluknya erat, berdoa tanpa suara, menunggu... menunggu...

Detik terasa seperti jam. Pelan namun pasti, keringat dingin di dahinya berkurang. Warna kebiruan di wajahnya perlahan memudar. Napasnya yang lemah kini teratur, meski masih pelan.

"Dia akan baik-baik saja..." bisiknya, air mata menetes namun kali ini disertai harapan. "Dia akan hidup."

 

Tiga hari berlalu. Li An sadar di pagi keempat. Matanya perlahan terbuka, menatapnya dengan tatapan yang masih kabur namun penuh kasih sayang.

"Kau..." suaranya parau. "Kau kembali..."

Ling Yue tersenyum di sela isak tangis, memegang tangannya erat. "Aku bilang padaku sendiri, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Dan aku tidak pernah melanggar janji."

Li An tersenyum lemah, mengusap pipinya. "Terima kasih... karena tidak menyerah pada kami."

Namun istirahat mereka tak bisa lama. Di hutan ini, mereka tidak aman. Dan bukti di tangan mereka tidak akan berguna jika hanya tersimpan di sini.

"Malam ini kita berangkat ke ibu kota," putus Ling Yue. "Kita akan menghadap Kaisar. Kita akan bicara jujur, apa pun risikonya."

Li An mengangguk, meski tubuhnya masih lemah. "Aku di sisimu. Selalu."

 

Perjalanan ke ibu kota terasa panjang dan penuh bahaya. Mereka menghindari jalan utama, menyamar sebagai petani miskin, tidur di tempat tersembunyi, dan bergerak hanya saat gelap menyelimuti. Ling Yue memeluk dokumen itu erat di dadanya—setiap lembarnya adalah nyawa orang-orang yang ia cintai.

Namun musuh tidak tinggal diam. Di hari ketiga perjalanan, mereka menyadari ada yang mengikuti. Bayangan-bayangan gelap muncul di kejauhan, hilang saat mereka berbalik, namun perasaan diawasi itu tak pernah hilang.

"Mereka pengikut Pangeran Yu," bisik Li An saat mereka berhenti beristirahat di sebuah gubuk tua. "Mereka tahu kita hidup. Dan mereka tidak akan membiarkan kita sampai ke istana."

"Kalau begitu kita tidak akan lari lagi," jawab Ling Yue tegas. "Kita akan menghadapi mereka di tempat terbuka, di mana orang bisa melihat. Di mana mereka tidak bisa membunuh kita tanpa diketahui."

Mereka mengubah rute, bergerak menuju jalan raya yang ramai, membiarkan diri terlihat. Benar saja—para pengejar ragu untuk menyerang di tempat terbuka. Namun tekanan itu semakin berat. Setiap kali mereka berhenti, tatapan curiga dari orang-orang yang dikirim Pangeran Yu membuat jantung berdebar.

Pada hari ketujuh, gerbang ibu kota akhirnya tampak di kejauhan—megah, kokoh, namun menyembunyikan rahasia kelam di balik tembok tingginya.

"Kita sampai..." bisik Ling Yue, namun hatinya tak tenang.

Saat melangkah masuk, suasana kota terasa berbeda. Pasukan penjaga berpatroli lebih banyak dari biasanya, wajah-wajah penduduk tampak cemas. Di alun-alun, pengumuman tertulis di papan pengumuman: Pencarian Jenderal Li An dan wanita bernama Ling Yue — dituduh berkhianat dan merencanakan pemberontakan.

Ling Yue menahan napas. Pangeran Yu sudah bergerak duluan. Ia memutarbalikkan fakta, menjadikan mereka penjahat sebelum mereka sempat bicara.

"Kita tidak bisa masuk lewat gerbang utama begitu saja," kata Li An, menariknya ke samping. "Mereka akan menangkap kita sebelum kita menjelaskan apa pun."

"Kalau begitu kita tidak masuk lewat gerbang," jawab suara pelan dari balik kerumunan.

Mereka berdua menoleh. Sosok berpakaian pelayan tua mendekat, wajahnya tersenyum samar—Bibi Mu!

"Aku menunggu kalian di sini sejak kemarin," bisiknya cepat. "Ikut aku. Ada jalan rahasia yang mengarah langsung ke kediaman lama."

 

Malam itu, di ruangan yang remang di kediaman yang sepi, mereka mendengarkan laporan Bibi Mu dengan hati cemas.

"Pangeran Yu menguasai sebagian besar pasukan istana," ceritanya. "Kaisar sendiri terisolasi. Tak ada yang bisa dipercaya di lingkungan dalam istana. Jika kalian tertangkap, dokumen itu akan dirampas dan kalian akan dihukum tanpa sidang."

"Jadi kita harus menemui Kaisar secara langsung, sendirian," kata Ling Yue. "Tanpa diketahui siapa pun."

Li An mengangguk. "Besok pagi, saat upacara persembahan di kuil kekaisaran. Itu satu-satunya saat di mana Kaisar berada di tempat yang terbuka, dan di mana tidak semua orang Pangeran Yu bisa ikut masuk."

"Berbahaya sekali," Bibi Mu menggeleng cemas. "Banyak mata-mata di mana-mana."

"Kita tidak punya pilihan lain," jawab Ling Yue tegas. "Semakin lama kita diam, semakin banyak orang tak berdosa yang menderita. Ini bukan sekadar membersihkan nama keluarga kami. Ini menyelamatkan seluruh kekaisaran."

Malam itu Ling Yue tidak tidur. Ia menatap dokumen-dokumen itu, menyentuh tulisan tangan ayahnya, lalu memandang Li An yang beristirahat di sampingnya. Ia tahu, esok hari adalah pertarungan terberat mereka. Entah hidup atau mati, ia akan berjuang sampai akhir.

Fajar menyingsing dengan cahaya yang pucat dan dingin. Di kejauhan, suara lonceng kuil kekaisaran mulai terdengar, menandakan upacara akan segera dimulai.

Ling Yue melipat dokumen itu rapi, menyimpannya di bagian paling dalam pakaiannya, menempel di dada—dekat jantungnya.

"Ayo," ucapnya pelan, menatap Li An. "Kita pulang."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!