Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Selamat pagi, Ibu... Bagaimana kondisinya hari ini? Sudah merasa lebih baik?" tanya Bulan lembut, melukiskan senyum hangat yang langsung menghidupkan suasana gundah di hati Megawati.
Mega menatap lekat wajah dokter yang berjalan ke arahnya merasa familier. Hingga Bulan berhenti tepat di sebelah ranjang, memberi intruksi kepada perawat dengan kata-kata pelan tidak terdengar oleh Mega.
Seketika ingatan Mega kembali ke dua hari yang lalu saat ia kecelakaan. Mega berbinar seketika saat mengenali wajah di balik jas putih tersebut. Raut wajahnya yang tadinya sedih mendadak dipenuhi binar bahagia, dan rasa syukur yang luar biasa.
"Sudah mendingan kok, Dok..." ucapnya. Bibir yang awalnya terkunci kini tersenyum lebar membalas senyum Bulan.
"Dokter yang menolong saya kemarin ya?" Lanjut Mega memastikan. Jika benar, tentu saja ada kesempatan baginya untuk mengucapkan terima kasih sebelum pulang dari rumah sakit Citra Medika.
Bulan hanya mengangguk, dengan sigap membantu tubuh Mega yang hendak bangun, lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Ya Allah, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan dokter. Dua hari ini saya bertanya kepada perawat tentang keberadaan Anda. Terima kasih ya, karena dokter sudah menolong saya. Kalau tidak ada Dokter mungkin saya sudah menyusul supir taksi," kata Mega selalu berubah ngeri ingat kecelakaan, tangannya menggenggam erat punggung tangan Bulan yang putih, kontras dengan warna kulit sawo matang ibu Mega.
"Bukan begitu Bu, Ibu selamat dari kecelakaan karena memang kehendak Allah, bukan karena saya."
Bulan tersenyum ramah, berdiri di sisi ranjang memeriksa denyut nadi Mega dengan hati-hati. Setelah perawat mengukur tekanan darah.
"Sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Tapi kok tekanan darah Ibu agak tinggi? Ibu tidak boleh berpikir macam-macam ya..." pesan Bulan.
Ibu Mega tersenyum kecut, sejak kemarin ia memang banyak berpikir hingga tidak bisa tidur, memikirkan tentang video yang menyeret nama Bintang anaknya.
"Maaf ya, Bu..." ucap Bulan ketika melangkah dan berdiri di atas kepala hendak membuka perban yang masih melilit di kening.
"Tidak apa-apa, Dok..." jawab Mega, menatap wajah Bulan yang tepat berada di atas kepalanya lebih inten, hatinya merasa teduh dan kagum. Bulan bukan hanya sekedar wanita cantik wajahnya saja, tapi juga hatinya.
"Alhamdulillah... luka-lukanya sudah kering dan kondisi Ibu juga sudah membaik, hanya satu, tekanan darah. Makan yang bergizi dan pikirannya tolong di jaga." pesan Bulan, sambil mengganti perban dibantu perawat.
"Hari ini Ibu sudah boleh pulang kok, Ibu tinggal di mana memang?" Tanya Bulan, saat membaca ulang alamat ibu Mega ternyata berasal dari jauh, yakni Yogyakarta.
"Sebenarnya saya datang ke Jakarta ingin mengunjungi anak cucu saya, Dok. Tetapi naas, kecelakaan menimpa," papar ibu Mega berkaca-kaca.
"Boleh saya antar?" Bulan beranjak mendekati ibu Mega.
Mega hanya menggeleng tapi tidak henti-hentinya menatap wajah dokter muda di hadapannya itu dengan penuh kekaguman. Di matanya, Bulan adalah sosok malaikat penolong yang begitu anggun, cekatan, dan berhati mulia.
Mega sama sekali tidak menyadari, di balik tatapan penuh hormat dan rasa terima kasihnya itu, wanita anggun yang sedang memeriksa detak jantungnya adalah wanita yang sama dalam video kontroversial yang baru saja menghancurkan hatinya.
*****
Di luar ruangan, Bintang melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap Megawati. Tangannya memegang gagang pintu, lalu perlahan mendorongnya perlahan-lahan hingga terbuka.
Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu. Saat pandangannya tertuju kepada sesosok wanita berpakaian putih yang berdiri di samping ranjang mamanya. Wanita itu tampak teliti memeriksa selang infus dan mencatat perkembangan kondisi sang mama di lembaran rekam medis.
"Bulan..." batin Bintang, wanita yang ia cari kesana-kemari, ia khawatirkan dan dia rindukan hingga menumpuk di dada ternyata berada di depanya.
Hati Bintang sedikit lega karena sikap mama Mega kepada Bulan tampak akrab dan tersenyum bahagia. Menandakan bahwa ibunya tidak mengenali Bulan saat menonton video.
Bintang melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara, memandangi Megawati yang tersenyum kepadanya, tidak marah seperti saat malam tadi ia tinggalkan.
"Dokter Rembulan, kenalkan. Ini loh, anak laki-laki saya satu-satunya," Megawati mengenalkan.
Bulan terkejut saat menoleh, tidak menyangka jika Bintang adalah anak ibu Mega. Tapi lebih kaget lagi saat pandangannya tertuju pada pipi kiri Bintang yang lebam, dan ujung bibir tampak diplester.
...~Bersambung~...
sini aku kasih tau bulan dia d hadiahin bogem sama KK mu pantas lah soalnya dia engg gentle jd cowok huuh nyebelin
bodoh....atau...takut tdk dpt jodoh....
hidup kenapa dibuat ribet.
sahabatnya juga maksa tanpa hrs memikirkan konsekwensinya kebelakang hari.....
mikir bingung 🤦🤦🤦🤦