NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Payung Biru Di Bawah Langit Abu-abu

Gemuruh guntur terdengar saling bersahutan di atas langit, meredam sisa-sisa bising dari langkah kaki siswa yang berhamburan pulang. Di balik pintu kaca perpustakaan yang mulai sepi, Auren berdiri terpaku. Hujan sore itu turun terlalu deras. Rencana Auren untuk langsung berjalan ke halte bus di depan sekolah terpaksa tertunda karena ia tidak membawa payung.

"Aurenku, Belum pulang?"

Sebuah suara bas yang familier memecah keheningan dari arah belakang. Evan berjalan mendekat, menyampirkan tas ransel hitamnya di salah satu bahu. Rambut depannya sedikit berantakan, namun sorot matanya tetap tenang.

Panggilan itu... Aurenku. Sebuah kepemilikan sepihak yang sudah Evan gunakan sejak mereka pertama kali dekat di semester satu lalu. Panggilan yang awalnya dikira Auren hanya candaan biasa, namun nyatanya selalu diucapkan Evan dengan nada lambat, tulus, dan penuh penekanan yang setiap saat sukses membuat jantung Auren berdegup tak karuan.

Auren menoleh, menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Iya, Van. Aku harus ke halte depan untuk naik bus, tapi hujannya masih deras sekali."

Evan diam sejenak. Ia melirik jam tangan digitalnya, lalu tanpa sepatah kata pun mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna biru tua dari dalam tasnya.

"Ayo. Kita ke halte sekarang sebelum bus soremu lewat, Aurenku," ajak Evan tegas, memanggil namanya dengan sebutan khusus itu sekali lagi sambil membuka pintu kaca perpustakaan.

Begitu mereka melangkah keluar dari lobi gedung, hawa dingin seketika menusuk tulang. Evan membuka payung biru itu dengan satu hentakan tajam. Ukuran payung itu tidak terlalu besar. Demi melindungi gadis di sampingnya, Evan menggeser tubuhnya hingga bahu mereka bersentuhan erat.

"Mendekat sedikit, Aurenku. Nanti seragammu basah," bisik Evan.

Mereka berjalan membelah hujan menuju halte bus yang terletak di luar gerbang sekolah. Selama perjalanan, tangan kanan Evan yang bebas perlahan bergerak naik. Dengan gerakan lembut namun pasti, ia merengkuh bahu Auren, menarik gadis itu lebih dekat ke dalam dekapan hangat tubuhnya.

Auren mendongak kecil dan menyadari sesuatu yang membuat hatinya berdesir hebat. Demi melindunginya agar tidak terkena setetes air pun, Evan sengaja memiringkan payung itu ke arah Auren. Akibatnya, seluruh bahu kanan sang ketua kelas kini basah kuyup terkena guyuran hujan lebat.

"Evan... bahumu basah semua," bisik Auren panik, mencoba mendorong payung itu kembali ke arah Evan. "Sini, payungnya digeser ke tengah saja."

"Diam saja, Aurenku," potong Evan dengan nada suara yang sedikit lebih berat, namun terdengar sangat protektif. Dekapannya di bahu Auren justru semakin mengerat, memastikan gadisnya itu tetap berada di zona kering sampai mereka tiba di dalam halte.

Sesampainya di halte bus yang sepi, Evan melipat payungnya. Alih-alih langsung pamit untuk mengambil motornya di parkiran sekolah, Evan justru ikut duduk di bangku semen halte yang dingin.

Auren mengerjapkan mata, menatap seragam Evan yang basah di bagian bahu. "Evan, kamu tidak langsung pulang? Nanti kamu bisa kesorean, lagipula parkiran motor ada di dalam."

Evan menoleh, menatap lekat-lekat manik mata Auren, memotong jarak di antara mereka. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menunggu bus sendirian di halte sesepi ini. Aku akan menunggumu di sini sampai busmu datang, Aurenku."

Mendengar penuturan itu, Auren kehilangan kata-kata. Hawa dingin yang berembus di sekitar halte mendadak lenyap, tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di bawah atap halte yang tua, ditemani suara rintik hujan yang mulai mereda, mereka duduk berdampingan. Jarak yang dekat membuat Auren bisa merasakan kehadiran Evan seutuhnya—ketua kelas yang biasanya kaku dan dingin di depan murid lain, namun bertransformasi menjadi sosok yang sangat manis dan penuh perhatian jika bersamanya.

Tidak lama kemudian, lampu sorot kuning dari bus kota membelah kegelapan sore, perlahan berhenti tepat di depan halte.

Auren berdiri, bersiap melangkah. Namun sebelum ia melangkah naik, Evan menahan ujung lengan seragam Auren perlahan.

"Aurenku," panggil Evan lagi, suaranya melembut mengalahkan suara mesin bus yang menderu. "Sampai rumah, langsung mandi air hangat. Jangan sampai Juara 2-ku sakit sebelum ujian."

Auren menggigit bibir bawahnya, menahan senyumnya yang hampir pecah karena perlakuan manis itu. Ia mengangguk pelan. "Iya, Evan. Kamu juga ya. Terima kasih banyak sudah menemaniku."

Dari dalam jendela bus yang perlahan bergerak menjauh, Auren menoleh ke belakang. Di sana, di bawah temaram lampu halte yang mulai menyala, Evan masih berdiri tegak memandangi busnya berjalan, memastikan dengan matanya sendiri bahwa milik-nya yang paling berharga pulang dengan aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!