NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 09 - Ujian Sihir

 Sesampainya di lapangan utara, aku dapat merasakan begitu banyak tatapan yang tertuju kepadaku. Sebagian dipenuhi rasa penasaran, sebagian lagi dipenuhi ketakutan.

 "Hei, kau!"

 "Kau ini sebenarnya manusia atau monster?"

 Baru saja aku hendak melangkah lebih jauh, seorang gadis berjalan mendekat dengan dagu terangkat angkuh. "Iris Vivianne Crysalune, putri tunggal keluarga Count Crysalune."

 "Dasar monster," ucapnya sinis.

 Di sampingnya berdiri Aria Liorith Lumithor, putri pertama keluarga Baron Lumithor. Wilayah kekuasaan keluarga Lumithor sempat berada di ambang kehancuran beberapa tahun yang lalu. Namun, karena hubungan baik antara keluarga Lumithor dan keluarga Celesthior, keluargaku memberikan bantuan kepada mereka. Sebagai bentuk ikatan antarkedua keluarga, putri kedua Baron Lumithor, Alice Veloria Lumithor, dipertunangkan dengan kakak sulungku, Nicholas Astrerarius Celesthior.

 Karena itulah, kehadiran Aria di hadapanku terasa cukup mengherankan. Namun, jawabannya segera kutemukan. Tak jauh di belakang mereka berdiri seorang gadis lain, Kiara Karina Florencia, putri bungsu keluarga Marquis Florencia. Sejak kecil, ia sering dijuluki pembawa sial karena ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkannya.

 "Aku dengar kau sengaja menghancurkan bola kristal itu demi mencari perhatian," ujar Iris sambil menyilangkan kedua tangannya.

 "Benar."

 "Mana mungkin putri keluarga Viscount memiliki mana sebesar itu."

 Bisikan para siswa kembali terdengar dari berbagai penjuru lapangan. Aku hanya memandang mereka dengan tenang. Semakin lama mereka menatapku, ekspresi mereka justru berubah menjadi campuran antara takut dan iri.

 "Kalau kalian sudah selesai berbicara..." ucapku pelan sambil tersenyum tipis, "aku ingin mengikuti ujian dengan tenang."

 Entah mengapa, setelah aku mengucapkan kalimat itu, suasana di sekitar langsung menjadi sunyi. Aku melangkah melewati mereka. Dari sudut mataku, kulihat wajah Iris berubah semakin kesal.

 Aku kemudian menghentikan langkah tepat di depan Kiara.

 "Ah... Putri Kiara."

 Aku tersenyum tipis. Sepertinya ia berniat mempermalukanku di depan banyak orang dengan memanfaatkan Iris dan Aria. Namun, sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk mempermalukannya lebih dahulu.

 Aku berjalan mendekatinya perlahan, berpura-pura merapikan bahu seragamnya. Lalu...

 "A-Ah!"

 Kiara menjerit histeris.

 "Ada apa, Kiara?" tanya Iris terkejut.

 "B-Benda itu! Cepat singkirkan!"

 Dengan tangan gemetar, Kiara menunjuk bahunya. Di sana hanya ada seekor ulat mainan kecil.

 Suasana mendadak hening. Beberapa detik kemudian, terdengar tawa yang berusaha ditahan oleh para siswa.

 "Hah?" Iris memandang ulat itu dengan bingung. "Itu... hanya mainan."

 "Aah! Jauhkan benda itu dariku!"

 Kiara justru semakin panik. Hampir menangis, ia berlari meninggalkan lapangan, diikuti Iris dan Aria. Aku hanya memandangi punggung mereka yang semakin menjauh.

 "Hanya anak manja..." gumamku pelan.

 Tanpa kusadari, beberapa siswa mulai menatapku dengan ekspresi yang berbeda. Bukan lagi sekadar penasaran, melainkan takut. Dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari satu hal.

 Putri keluarga Celesthior ini bukanlah seseorang yang mudah ditindas.

 "Lucius Altharic Alvaris."

 Guru memanggil seorang siswa laki-laki untuk maju melaksanakan ujian sihir. Lucius melangkah ke tengah lapangan, lalu mengangkat tangan kanannya ke arah target.

 "Wahai api yang turun dari langit, pinjamkan aku kekuatanmu dan hanguskan musuh di hadapanku."

 "Flamshot!"

 Bum!

 Semburan api melesat lurus ke depan dan menghancurkan tiga target kayu sekaligus.

 "Dia berhasil menghancurkan tiga target sekaligus!"

 "Seperti yang diharapkan dari keluarga penyihir Alvaris."

 Bisikan kagum terdengar dari berbagai arah. Untuk anak seusianya, kemampuan Lucius memang tergolong luar biasa.

 "Celestia Lunastella Celesthior."

 Namaku kembali dipanggil. Aku melangkah menuju tengah lapangan di bawah tatapan ratusan pasang mata. Sebagian memandang dengan rasa penasaran, sebagian lagi masih menyimpan ketakutan setelah kejadian bola kristal tadi.

 Sebenarnya, aku tidak perlu mengucapkan mantra untuk menggunakan sihir. Berkat anugerah yang diberikan Veri, aku dapat mengendalikan sihir hanya dengan membayangkannya. Namun, jika aku menggunakan sihir tanpa mantra di depan semua orang, mereka pasti akan semakin mencurigaiku. Karena itu, aku sengaja mengucapkan mantra seperti penyihir pada umumnya.

 Aku mengangkat tangan perlahan.

 "Wahai lautan yang luas, pinjamkanlah aku kekuatanmu."

 "Ocean Weather!"

 Sesaat setelah mantra itu selesai diucapkan, sebuah lingkaran sihir berwarna biru pucat muncul di hadapanku. Angin lembut berembus melewati lapangan. Rambut perakku ikut berkibar pelan. Tanpa kusadari, ujung rambut putih keperakanku perlahan berubah menjadi biru muda, menyerupai warna lautan.

 Butiran-butiran air mulai bermunculan di udara. Semakin lama jumlahnya semakin banyak. Air itu tidak jatuh ke tanah, seolah-olah angin menopangnya agar tetap melayang di udara. Dalam hitungan detik, air yang terkumpul berubah menjadi ombak besar yang memenuhi area di hadapanku.

 "Cantik..." Seseorang berbisik tanpa sadar.

 Detik berikutnya...

 Bruaak!

 Ombak raksasa itu melesat ke depan dan menghancurkan lima target kayu sekaligus. Suara kayu yang patah bergema di seluruh lapangan. Air yang tersisa menggenangi sebagian arena latihan.

 Namun...

 Tidak ada seorang pun yang bersorak.

 Yang terdengar hanyalah keheningan.

 Aku hanya berkedip bingung. Kenapa saat Lucius menghancurkan tiga target semua orang memujinya, sedangkan saat aku menghancurkan lima target, tidak ada seorang pun yang mengatakan apa-apa?

 Aku mengembuskan napas pelan.

 Sedikit kesal.

 "Baik. Peserta berikutnya-"

 Guru kembali melanjutkan ujian seolah tidak terjadi apa-apa. Aku pun berbalik dan meninggalkan lapangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Karena masih sedikit kesal, aku langsung menuju area ujian pedang, tempat ujian berikutnya akan dilaksanakan.

 "Celes!"

 Seseorang memanggilku dari belakang.

 Aku menoleh dan melihat Kael Atheric Zeraphis berdiri menghadapku sambil tersenyum lebar.

 "Aku dengar kau menghancurkan lima target sekaligus," ucapnya kagum.

 Aku hanya mengembuskan napas pelan.

 "Tapi... tidak ada seorang pun yang memujiku."

 Kael terdiam sesaat sebelum tertawa kecil.

 "Kalau begitu... kalau tidak ada yang memujimu, biar aku yang melakukannya."

 Ia berhenti tepat di hadapanku, lalu menatapku dengan mata yang berbinar.

 "Kau sangat hebat."

 "Dan... kau juga sangat cantik."

 Aku sedikit terkejut mendengar ucapan itu. Napasku seolah berhenti sesaat. Pujian seperti itu belum pernah kudengar sebelumnya.

 "Terima kasih, Kael," ucapku sambil tersenyum lebar.

 Tanpa kusadari, beberapa siswa yang melihat kami mulai berbisik satu sama lain.

 "Jadi Tuan Muda Zeraphis mengenal gadis berambut aneh itu?"

 "Bukankah ini pertama kalinya Tuan Muda memuji seseorang secara langsung?"

 Sementara itu, aku sama sekali tidak menyadari bahwa percakapan kecil kami mulai menarik perhatian banyak orang. Saat mendengar bisikan mereka, hanya satu hal yang terlintas di benakku.

 Ke mana saja mereka saat pengumuman pertunangan keluarga Duke dulu?

 "Kael, kenapa kau ada di sini?" tanyaku.

 "Aku hanya datang untuk meminta data para siswa. Sekarang aku harus kembali."

 Ia melangkah mundur beberapa langkah.

 "Sampai jumpa, Celes."

 "Sampai jumpa, Kael."

 Kael melambaikan tangan sebelum berlari meninggalkanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!