Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pelanggan Boleh Minta Foto Bareng?!
Pagi harinya—hampir pukul delapan—Moiro sudah sampai di kafe tempatnya bekerja.
Pagi ini cukup dingin, jadi dirinya mengenakan pakaian yang lebih tebal.
Saat itu, ia terpaku menatap interior di dalam kafe terlihat indah. Ada replika pohon Cemara kecil berornamen indah dengan beberapa kotak hadiah lucu di bagian bawahnya, ada kaos kaki putih merah yang menjuntai di meja kasir, topi putih merah yang terlihat menempel di dinding, hingga hiasan dan ornamen lainnya. Sekarang, Moiro yakin kalau event yang dimaksud bosnya adalah event natal.
Tiba-tiba, Genki datang menghampirinya sembari membawa sebuah kotak kardus berukuran sedang di depan tubuhnya, "Moiroo!"
Moiro menoleh padanya, dan menemukan bahwa seniornya masih mengenakan pakaian santainya, dan sepertinya... itu cukup menggemaskan.
Mana? Saya mau tengok.
Genki menghampiri Moiro dengan senyuman cerianya. Pakaian santainya terlihat biasa, hanya baju lengan panjang yang tebal dan hangat berwarna oranye, sementara kakinya ditutupi celana panjang gelap yang sedikit lebih ketat namun juga cukup elastis. Mau bagaimanapun, cuaca saat itu cukup dingin.
Seperti biasa, Genki selalu bersemangat dan antusias dalam segala hal. Dia datang, berhadapan dengan Moiro dan langsung berkata, "Jadi kamu beneran datang buat bantu-bantu? Terima kasih banyak!"
Belum sempat Moiro membalas, Genki segera berpaling dan mengajaknya, "Ikuti aku! Kita kumpul di ruangan bos dulu, ya!"
Genki menatap kotak kardus yang dibawanya, dan teringat sesuatu, "Oh, iya! Aku hampir lupa!"
Dia menatap ke arah Moiro, "Aku mau meletakkan ini di kasir dulu, jadi tunggu sebentar, ya! Bye byee!"
Genki seketika berlari kecil menuju kasir.
Moiro hanya diam dan tanpa sadar melambai pelan.
Ia tersentak, "Bentar, kenapa bye bye?"
Genki pun sudah kembali dan menarik lengan Moiro untuk segera ke ruang bos karena yang lain sudah menunggu.
Moiro hanya bisa mengikuti dan akhirnya sampai di ruang bos.
Di sana, para seniornya sudah ada lebih dahulu. Mereka semua berdiri setengah melingkari kursi bos dan masih mengenakan pakaian santai. Ini pertama kali Moiro melihatnya. Semuanya terlihat manis.
Moiro! Gantian! Aku yang kerja!
Di sana juga ada bosnya yang sedang duduk di kursinya. Dia ternyata mengenakan pakaian kerja seperti biasanya, tidak seperti yang lain—mengenakan pakaian santai.
"Bos! Aku kembaliii!" seru Genki penuh semangat. Dia mengangkat tangannya tinggi setelah memasuki ruangan dan langsung berdiri di samping Hikari.
Moiro masih diam di depan pintu. Entah kenapa dirinya merasa tak nyaman saat itu. Tapi tiba-tiba, Shizuka melambai pelan padanya, seolah menyuruhnya untuk berdiri di sampingnya.
Moiro tak bisa hanya diam dan memperlambat waktu, jadi ia menghampiri dan berdiri di samping Shizuka tanpa memikirkan hal lain lagi.
Aku mau berdiri di samping Mamih!
Setelah memastikan semua pelayan maid sudah datang, bos kafe pun berdiri dan memulai pembicaraan.
"Baiklah, kumulai. Seperti yang kalian tahu, kita akan mengadakan event natal di kafe maid kita," ucap Bos tenang. Terlihat memiliki wibawa seorang pemimpin.
"Aku! Akuu!" seru Genki mengangkat tangan, ingin bertanya.
"Kamu ingin bertanya?"
"Benar!" Genki menurunkan tangannya, "Apa kafe tema yang satunya akan mengadakan event juga?"
Bos diam sejenak, memberi jeda lalu menjawab pertanyaannya dengan santai, "Sebenarnya tidak. Karena menurut para karyawan di sana, itu akan menghilangkan suasana normal dan mewah tema sebelumnya."
"Menghilangkan suasana?" pikir Moiro datar, batinnya berdecak sebal, "Itu pasti cuma akal-akalan mereka biar bisa nolak eventnya!"
Mendapat jawaban dari Bosnya, Genki pun mengangguk paham. Bibirnya tetap memperlihatkan senyum yang membawa kegembiraan.
Melihat itu, Bos merasa jawabannya sudah dipahami, jadi dia pun melanjutkan, "Baiklah, kulanjutkan. Karena event kali ini bertema natal, jadi aku ingin kalian mengenakan pakaian maid yang bertema natal juga."
"Bertema natal?" bisik Moiro pelan dengan bingung.
Hikari menunduk dan memegang dagu, "Maid dan natal? Boleh juga."
"Menarik," kata Sora datar.
"Aku tidak sabar melihat Dik Moiro mengenakan pakaiannya~" ucap Sarasara pelan sambil memegang pipi dengan lembut. Dia tersenyum simpul, terlihat senang.
Shizuka mengangguk singkat dengan senyum tipis di wajahnya, menandakan dia memiliki pemikiran yang sama dengan Sarasara.
"Aku ingin segera mengenakannya!" balas Genki antusias sambil mengangkat satu tangannya, terlihat tidak sabar.
Bos tersenyum, "Aku senang dengan semangat kalian. Dan ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan."
Semua mata seketika tertuju pada Bos.
Bos melanjutkan, "Kita akan membuka stand foto agar para pelanggan bisa berfoto dengan maid favorit mereka. Itu ide yang bagus, kan?"
Moiro langsung bergidik mendengar itu. Kalau benar seperti itu, maka ia bisa saja berfoto dengan pelanggan dan bisa menyebarkan kehadirannya di internet. Ia tak menginginkan itu! Terlebih lagi, bagaimana perasaan pelanggan kalau tau dirinya adalah cowok?!
Yahaha. Rasain tuh!
Moiro ingin menolaknya, tapi semua seniornya malah menyukai dan mendukung hal itu.
Moiro membatu. Hancur sudah jati dirinya jika itu benar-benar terjadi. Ia tak dapat membayangkan kalau foto dirinya yang menjadi maid tersebar ke sekolah dan diketahui oleh teman-temannya.
Bakal jadi heboh sih.
Melihat Moiro mematung seperti itu, Bosnya tau kalau Moiro tidak ingin melakukannya, jadi dia mengambil keputusan dan seketika berkata, "Oh, iya. Uang lebih hasil stand foto akan dijadikan bonus untuk kalian."
Moiro tersambar, wajahnya berubah serius, "B-Bonus?!"
Apakah abis denger bonus langsung...
Tak hanya Moiro, para maid yang lain juga terkejut mendengarnya. Mata mereka semua seolah tersulut oleh api yang membara.
Melihat akhir yang bagus, Bosnya tersenyum miring lalu melanjutkan, "Dan juga, jika semakin banyak yang berfoto dengan kalian, semakin banyak bonus yang didapat. Apa kalian setuju?"
Hening sejenak. Para maid dan juga Moiro saling menatap serius. Mereka mengangguk mantap bersamaan, lalu menjawab serempak penuh semangat, "Setuju!"
Nah kan! Mentang-mentang bakal dapat bonus langsung pada mau! Tapi tidak masalah, aku menunggunya, mwehehe.