NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIDALAM HUTAN

Di rumah besar milik keluarganya, Rey duduk sendirian di ruang kerja yang luas dan remang-remang. Hanya cahaya lampu meja yang menerangi wajahnya yang tampak muram dan lelah. Di depannya berdiri sebotol minuman keras yang sudah hampir habis, serta gelas berisi cairan bening yang sesekali ia angkat dan teguk dalam-dalam. Ayahnya sedang pergi mengurus pekerjaan yang mendesak, meninggalkannya sendirian di rumah yang terasa terlalu besar dan sepi. Kesunyian itu justru membuat pikirannya semakin berputar tanpa henti, penuh dengan rasa sakit dan amarah yang tak bisa ia tumpahkan kepada siapa pun.

Suara langkah kaki terdengar di luar pintu, lalu pintu itu terbuka perlahan. Alex masuk dengan tenang, wajahnya serius namun tetap tenang seperti biasa. Ia melangkah mendekati meja tempat Rey duduk sendirian.

"Masih sendirian saja di sini?" tanya Alex pelan, lalu berdiri di samping meja menatap sahabatnya itu.

Rey menoleh sekilas, lalu kembali menatap gelas di tangannya. "Untuk apa loe datang ke sini? Apakah loe datang karena disuruh Billy?" tanyanya singkat, nada bicaranya datar namun penuh kecurigaan.

Alex justru tertawa pelan mendengar pertanyaan itu. "Billy? Nggak mungkin dia bisa nyuruh gue ngelakuin apa pun. Gue datang karena gue tahu loe lagi di sini sendirian dan butuh teman ngobrol," jawabnya santai, lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rey. Tanpa diminta, ia mengambil gelas kosong, menuangkan minuman yang sama, dan mengangkatnya sedikit seakan menyapa, lalu meminumnya perlahan.

Rey menghela napas panjang, meletakkan gelasnya dengan pelan namun cukup keras hingga terdengar bunyi denting di ruangan yang sunyi itu. Tatapannya menerawang jauh, seakan melihat masa lalu yang menyakitkan.

"Gue... selama ini gue nggak pernah ngerasain kasih sayang mama gue," ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tenang. "Gue pikir dia udah pergi, nggak peduli lagi sama gue. Tapi pas akhirnya gue tahu siapa dia dan di mana dia berada... justru di saat yang sama gue harus dengar kenyataan paling pahit. Bahwa mama gue udah mati. Dibunuh sama Billy."

Alex terdiam seketika. Wajahnya yang tadi santai kini berubah menjadi serius dan penuh simpati. Ia meletakkan gelasnya perlahan di atas meja, menatap Rey dengan pandangan yang tulus.

"Gue ikut sedih banget sama apa yang terjadi sama loe, Rey. Serius," ucapnya lembut namun tegas. "Gue tahu berat banget hal itu buat loe. Kehilangan orang yang baru aja mau loe kenal lagi... itu bukan hal yang gampang buat diterima."

Rey tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. Ia mengangkat gelasnya lagi dan meminum isinya hingga habis, lalu menatap lurus ke mata Alex.

"Kalau loe ada di posisi gue... apa yang bakal loe lakuin?" tanyanya, matanya menyala penuh harap sekaligus penuh amarah yang tertahan.

Alex terdiam cukup lama, seakan mempertimbangkan setiap kata yang akan diucapkannya. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar napas mereka berdua yang teratur namun berat. Akhirnya Alex menarik napas panjang dan menjawab dengan tegas.

"Kalau gue di posisi loe... gue bakal bikin Billy hancur sehancur-hancurnya."

Rey tersentak mendengar jawaban itu, matanya membelalak sedikit — bukan karena terkejut, melainkan karena setuju. Namun Alex segera melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih serius dan penuh peringatan.

"Bukannya orang tua kita sendiri dulu pernah ngelakuin hal yang sama ke orang tua Joe? Kenapa kali ini kita harus diam aja?" tambah Alex, seakan membacakan apa yang sedang dipikirkan Rey.

Mendengar kalimat itu, secercah ide tiba-tiba muncul di benak Rey. Sebuah rencana yang samar namun berani, perlahan mulai terbentuk di kepalanya. Namun Alex seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu. Ia menggeleng pelan dan menambahkan dengan nada yang lebih berat.

"Tapi pikirin dulu baik-baik, Rey. Kalau loe ngelakuin sesuatu atas nama dendam kematian mama loe, dampaknya nggak cuma kena Billy doang. Ini bakal nyangkut bisnis besar yang udah dibangun orang tua kita selama bertahun-tahun. Bisa aja loe berhasil — dan kalau begitu, semuanya bakal jadi lebih baik buat kita ke depannya. Tapi kalau loe gagal... maka semua orang tua kita bakal ikut hancur. Termasuk ayah gue sendiri."

Rey terdiam mendengar peringatan itu. Ia tahu betul apa yang dikatakan Alex adalah kenyataan yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Namun rasa sakit di dalam dadanya tidak bisa begitu saja dihilangkan dengan pertimbangan bisnis. Ia hanya menunduk perlahan, menyadari bahwa jalannya masih panjang dan penuh bahaya.

 

Di tempat yang jauh dari kemewahan dan keramaian kota, suasana sangat berbeda. Di ruang bawah tanah bekas rumah milik ayah Joe yang sudah lama terbengkalai, cahaya hanya datang dari senter yang mereka arahkan ke sekeliling ruangan yang berdebu dan lembap. Di sana, Joe dan Arthur sibuk memeriksa benda-benda yang tersimpan di dalam kotak-kotak tua yang masih utuh. Udara di bawah tanah terasa dingin dan pengap, namun mereka tidak peduli. Mereka fokus mencari apa saja yang mungkin berguna untuk perjalanan panjang mereka ke depan.

Arthur tiba-tiba mengangkat sebuah benda berat yang terbungkus kain tebal. Dengan sedikit kesulitan, ia membukanya dan terkejut melihat isi di dalamnya — sebuah senjata laras panjang yang tampak masih kokoh dan berfungsi dengan baik. Matanya berbinar seketika.

"Kalau boleh, gue bakal bawa senjata mesin ini, Joe!" seru Arthur dengan semangat berlebihan sambil memegang senjata itu dengan kedua tangannya. "Gue bakal langsung pergi ke rumah mereka dan nembakin ribuan peluru ini sampai habis! Pasti mereka semua bakal jadi daging giling!"

Joe langsung tertawa lebar mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia menepuk bahu Arthur pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Loe justru bakal mati duluan sebelum sempat nembakin satu peluru pun," ucap Joe sambil menahan tawanya. "Penjagaan di rumah mereka pasti udah diperketat sejak lama. Kita bahkan belum sampai gerbang, udah pasti dikepung dan ditangkap duluan. Senjata bukan jawaban buat semuanya, Arthur."

Arthur mendengus pelan namun akhirnya meletakkan kembali senjata itu ke tempatnya dengan berat hati. Joe kemudian kembali sibuk memeriksa kotak-kotak lainnya, mencari barang-barang kecil yang mungkin berguna: peta lama, alat tulis, pisau lipat, dan beberapa perlengkapan bertahan hidup yang masih tersimpan rapi. Setelah memastikan tidak ada lagi yang terlewat, Joe membuka sebuah peti besi yang tersembunyi di sudut ruangan dan mengeluarkan beberapa batang emas berkilau yang berat. Emas-emas itu akan menjadi bekal mereka untuk waktu yang lama ke depan.

"Mari kita pergi," ucap Joe sambil membagi beban bawaan agar keduanya sama beratnya. "Kita masih punya perjalanan panjang ke depan."

Mereka pun berangkat meninggalkan rumah tua itu. Di tengah perjalanan, Arthur tiba-tiba menepuk bahu Joe dengan keras.

"Hei, Jo... gue lapar banget! Kita berhenti makan dulu di kota yang lewat sebentar, ya?" pinta Arthur dengan wajah memohon. "Gue udah kebayang masakan enak yang biasa dibuat Lisa... kangen banget rasanya!"

Joe hanya tersenyum tipis dan mengangguk setuju. Ia tidak tahu — dan Arthur pun belum tahu — bahwa Susi dan Lisa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Keduanya telah dibunuh dengan kejam oleh Billy. Kenangan tentang masakan Lisa yang mereka rindukan justru adalah kenangan terakhir dari orang-orang yang telah dikorbankan oleh kekejaman musuh mereka. Tanpa mengetahui hal itu, mereka berdua masuk ke sebuah rumah makan sederhana di kota kecil yang mereka lewati, menikmati makanan dengan tenang dan harapan yang masih utuh di hati.

Setelah perut kenyang, mereka melanjutkan perjalanan. Hari mulai gelap saat mobil yang mereka kendarai memasuki kawasan yang semakin sepi. Rumah penduduk semakin jarang terlihat, digantikan oleh pepohonan besar yang berdiri rapat di kedua sisi jalan. Langit di atas mereka tampak lebih gelap karena tertutup dedaunan lebat di atas sana. Jalanan pun berubah menjadi sempit dan berliku.

Joe memperlambat laju mobilnya, matanya meneliti setiap sudut jalan yang semakin sepi itu.

"Arthur, lihat baik-baik ke sebelah kiri," ucap Joe pelan namun tegas. "Nanti bakal ada jalan kecil yang tertutup semak belukar di sana. Itulah pintu masuk menuju hutan tempat kita bakal menemui Tukang Jagal."

Arthur mencondongkan tubuh ke depan, menatap ke arah sisi kiri jalan dengan saksama. Beberapa saat kemudian, ia menunjuk ke arah sebuah celah sempit yang hampir tertutup sepenuhnya oleh tanaman liar.

"Di sana, Jo! Ada jalannya!" seru Arthur.

Joe segera membelokkan mobilnya masuk ke jalan kecil itu. Permukaan jalan berubah menjadi berbatu dan tidak rata, membuat mobil berguncang hebat. Ia terus mengemudi sejauh yang dijangkau oleh jalan yang bisa dilalui kendaraan, hingga akhirnya mobil tidak bisa melangkah lebih jauh lagi karena jalannya tertutup semak belukar yang terlalu rapat.

"Kita turun dari sini," ucap Joe sambil mematikan mesin dan membuka pintu mobil.

Mereka berdua turun ke tanah yang lembap dan berlumut. Joe tidak lupa mengeluarkan sebuah kompas tua dari saku jaketnya, memeriksa arah dengan teliti agar mereka tidak tersesat di dalam hutan yang luas dan lebat ini.

Arthur menghela napas panjang sambil menatap ke dalam kegelapan hutan di depan mereka. Ia menggerutu pelan sambil menyesuaikan tas yang digendongnya di bahu.

"Ya ampun... gue ngerasa kayak gue dilahirkan buat nikmatin hidup yang nyaman, bukan berkelana kayak pendekar zaman dulu yang harus jalan dari hutan ke hutan," keluhnya dengan wajah berkerut, namun tetap melangkah mengikuti Joe tanpa menoleh ke belakang.

Perjalanan kaki di dalam hutan ternyata jauh lebih berat daripada yang mereka bayangkan. Medannya berbukit-bukit curam, tanahnya licin karena lembap. Mereka harus menyeberangi sungai yang airnya dingin dan deras, serta berhati-hati melangkah di antara akar pohon besar yang menjulur ke mana-mana. Di tengah perjalanan, mereka bahkan berpapasan dengan seekor ular besar yang melintasi jalan setapak tepat di depan mereka, membuat mereka berdua menahan napas hingga hewan itu pergi perlahan ke arah semak belukar. Jalan yang licin dan berbatuan tajam membuat kaki mereka terasa pegal dan berat, namun tidak ada pilihan lain selain terus melangkah maju.

Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara langkah kaki mereka dan bunyi hewan malam yang mulai bangun. Rasa lelah hampir menutupi semangat mereka, namun di saat itulah Joe tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah depan dengan senyum tipis di wajahnya.

Di kejauhan, di balik pepohonan rindang, terlihat sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu sederhana namun masih kokoh berdiri di sana. Atapnya terbuat dari daun kering yang sudah lama mengering. Rumah itu tampak sepi, seakan tidak pernah tersentuh oleh waktu.

Mereka berdua mempercepat langkah mendekati rumah itu. Namun belum sempat mereka melangkah jauh, tiba-tiba terdengar suara berat dan keras dari arah samping mereka — suara yang penuh kewaspadaan sekaligus ancaman.

"Siapa kalian?"

Bersamaan dengan suara itu, ujung senapan laras panjang tampak menonjol dari balik batang pohon besar, diarahkan tepat ke arah dada Joe dan Arthur. Langkah mereka terhenti seketika. Di hadapan mereka, tersembunyi seseorang yang jelas-jelas sudah menunggu kedatangan siapa pun yang berani masuk ke wilayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!