Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Sepuluh Tahun
Sekitar dua meter dari tempat Alea berdiri, tampak seseorang tengah berbincang hangat dengan beberapa tamu yang juga hadir di sana.
Seseorang yang selama sepuluh tahun ini hilang tanpa jejak. Seseorang yang selama sepuluh tahun terakhir tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.
Langkah Alea seketika terhenti.
Nafasnya tercekat. Untuk beberapa detik, suara riuh percakapan di sekitar mereka seolah menghilang.
Tatapan Alea hanya tertuju kepada pria yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu terlihat jauh berbeda dari sepuluh tahun lalu. Ia sudah jauh lebih dewasa dan lebih berwibawa.
Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya terlihat semakin tegap. Rambutnya ditata rapi, sementara wajahnya kini memperlihatkan garis-garis kedewasaan seorang pria matang.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah. Tatapan tenang dan sulit dibaca itu. Tatapan yang entah bagaimana masih mampu membuat jantung Alea berdetak tidak beraturan hanya dalam hitungan detik.
“Kak Agam...” bisiknya hampir tanpa suara.
Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Pak Hartono yang berjalan di sampingnya langsung menoleh.
“Kamu mengatakan sesuatu, Al?”
Alea tersentak kecil. Ia segera mengalihkan pandangan dan berusaha mengendalikan ekspresinya.
“Tidak, Yah. Aku tidak bilang apa-apa.” jawabnya, berusaha setenang mungkin di tengah gemuruh hati yang tiba-tiba bergejolak karena kehadiran seseorang itu.
Namun, Pak Hartono yang sempat mengikuti arah pandang putrinya hanya bisa tersenyum tipis.
Pak Hartono tahu, kalau putrinya itu baru saja menggumamkan nama seseorang. Nama seorang pria yang sepuluh tahun lalu menjadi kandidat pertama untuk menjadi menantunya, suami untuk Alea.
Namun, perjodohan itu tampaknya menjadi keputusan yang membuat putrinya kesulitan hingga akhirnya membuat Alea melakukan tindakan bodoh dan berbahaya.
Dimana ia pergi ke sebuah club bersama sahabatnya, Jihan. Bukan hanya pergi untuk sekedar melihat-lihat, namun, Alea sengaja mabuk berat hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan Agam.
Setelah kejadian itu, Alea benar-benar menyesal dan merasa sangat bersalah. Dan sejak saat itu, entah kenapa, Alea tidak pernah mampu membuka hati kepada pria lain.
Bukan karena tidak ada yang mendekatinya. Justru sebaliknya.
Ada cukup banyak pria yang mencoba mengenalnya.
Namun, setiap kali hubungan itu mulai mengarah kepada sesuatu yang lebih serius, Alea selalu mundur. Ia tidak pernah mengerti alasannya.
Atau mungkin...
Ia sebenarnya tahu. Hanya saja, ia tidak pernah berani mengakuinya. Tindakan nya sepuluh tahun yang lalu membuat Alea merasa tidak pantas untuk mengakui perasaan itu.
“Lalu, kenapa berhenti?”
“Iya? Ah… maaf, Yah, kita masuk sekarang.”
Namun, baru saja Alea hendak melangkah, langkahnya kembali terhenti. Kali ini, bukan karena Alea, melainkan karena Pak Hartono.
Pak Hartono menghentikan langkahnya saat salah satu tamu disana menyapanya dan mengajaknya berbincang.
Sementara itu, Alea kembali terdiam. Tanpa sadar, pandangannya kembali bergerak perlahan ke arah pria itu.
Seolah merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya, pria tersebut tiba-tiba menoleh.
Dan… untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, tatapan mereka kembali bertemu. Tubuh Alea bahkan sampai membeku saat matanya beradu pandang dengan mata Agam.
Sementara itu, Agam hanya terdiam dengan tatapan yang datar. Tatapan yang sudah sedikit berubah dari terakhir mereka bertemu. Dingin dan datar, tidak sehangat dulu.
Beberapa detik kemudian, Alea pun mulai tersadar. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. Mencoba menenangkan detak jantungnya berdetak lebih cepat.
“Alea.”
Suara Ayahnya kembali terdengar. Alea menarik nafas dalam-dalam demi bisa menetralkan perasaannya. Lalu bergegas menoleh ke arah sang Ayah.
“Iya, Yah?”
“Kamu kenapa? Gak nyaman, ya? Mau pulang saja?”
Alea terdiam. Belum sempat menjawab, dan baru saja akan membuka mulutnya. Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang mereka.
“Pak Hartono?”
Pak Hartono dan juga Alea langsung menoleh secara bersamaan. Wajahnya berubah cerah ketika melihat seorang pria paruh baya yang berjalan mendekatinya.
“Pak Surya.”
Keduanya berjabat tangan dengan hangat.
“Selamat datang. Saya senang sekali karena Bapak berkenan hadir di jamuan ini.”
“Terima kasih atas undangannya, Pak. Saya merasa terhormat mendapatkan undangan ini.”
Pak Surya kemudian melirik kepada Alea yang sejak hanya diam. Menyimak obrolan kedua pria paruh baya di hadapannya.
“Dan ini…”
“Perkenalkan, ini putri saya. Azalea.”
Alea memberikan senyum sopan, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Selamat malam, Pak.”
“Selamat malam. Wah, sudah dewasa sekali, ya. Terakhir saya melihat kamu saat kamu masih sekolah menengah pertama.” ucap Pak Surya membuat Alea tertawa kecil.
“Sudah lama sekali, Pak.”
“Betul. Waktu benar-benar cepat berlalu.”
Percakapan mereka terus berlanjut.
Namun, Alea justru semakin tidak nyaman.
Karena tanpa sadar, ia bisa merasakan keberadaan seseorang yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Beberapa detik kemudian, Pak Surya memanggil seseorang yang membuat Alea cukup terkejut.
“Agam, kemari, Nak.”
Deg.
Jantung Alea kembali berdegup kencang saat Pak Surya menyebut nama Agam dan memanggil pria itu untuk ikut bergabung.
Pria itu berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Namun, semakin lama, pria itu pun semakin mendekat. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di hadapan Pak Hartono dan Alea.
“Selamat malam, Om Hartono.” sapanya membuat Pak Hartono tersenyum lebar.
“Agam. Lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik, Om.”
“Syukurlah. Om senang mendengarnya.”
Kemudian tatapan Agam beralih kepada Alea. Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam. Begitu pun dengan Alea. Sampai akhirnya Agam lah yang terlebih dahulu membuka suara.
Dengan nada yang rendah dan tenang. Agam menyapa Alea.
“Hai, Alea. Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik, Kak. Senang bisa bertemu lagi dengan Kakak.”
“Aku juga.”
Hanya itu percakapan yang terjadi antara keduanya. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin Alea katakan. Namun, tidak satu pun berhasil keluar dari bibirnya.
Pak Hartono yang tidak menyadari ketegangan di antara keduanya kemudian tersenyum.
“Tidak menyangka kalian bisa bertemu lagi setelah sekian lama.” ucapnya dan Alea mengangguk kecil.
“Iya, Yah.”
Agam tetap diam. Namun, tatapannya sesekali masih tertuju kepada Alea.
Dan tatapan itu justru membuat Alea semakin gelisah.
Selama sepuluh tahun, Alea selalu berusaha meyakinkan dirinya kalau ia tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Agam.
Namun, entah kenapa, Alea tidak pernah sekalipun ia bisa membuka hatinya untuk pria lain.
Setiap kali ada seorang pria yang mencoba mendekat, Alea selalu menghindar. Bahkan, tidak sedikit yang ia tolak mentah-mentah.
Bukan karena mereka tidak baik.
Bukan karena ia tidak menyukai mereka. Tetapi entah kenapa hatinya, hatinya selalu menolak keberadaan orang baru.
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ia kembali berhadapan dengan sumber dari penyesalan itu.
Pria yang dulu begitu ia tolak. Namun kini, ketika pria itu benar-benar berdiri di hadapannya…
Alea merasa sangat gugup. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Bahkan saking gugupnya, Alea sampai tidak tahu harus berkata apa.