NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33. Rindu meski baru beberapa jam berpisah

Malam semakin larut, lampu-lampu jalan di luar jendela perlahan meredup, menyisakan kegelapan yang tenang. Aku berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar, namun mataku tak benar-benar melihat apa-apa. Pikiranku masih tertinggal di gerbang kampus, di tempat di mana kami berpisah tadi siang — saat ia berbalik pergi menuju gedung fakultas, dan aku berjalan ke arah pintu keluar, masing-masing menuju jalan yang berbeda, walau hati kami tetap berjalan beriringan.

Hanya beberapa jam saja kami berpisah. Belum genap setengah hari sejak kami berpapasan di lorong, sejak ia menatapku sekilas di dalam kelas, sejak ia berbisik pelan agar aku tak khawatir. Namun anehnya, rindu itu sudah datang begitu cepat, begitu dalam, dan begitu nyata. Seakan detik-detik kepergiannya adalah detik di mana hatiku mulai merindukannya, walau ia baru saja berjalan beberapa langkah di depanku.

Aku memeluk bantal erat-erat, seakan itu bisa menggantikan pelukannya yang belum boleh kurasakan. Bayangannya terus muncul di kepalaku — cara ia tersenyum tipis saat masuk ke kelas, cara ia menatapku dengan tatapan yang berbeda dari pada orang lain, cara ia berbicara dengan nada lembut saat hanya kami berdua. Semua hal kecil itu kini berputar di pikiranku, membuat hatiku terasa penuh namun sekaligus kosong. Penuh karena kenangan tentangnya, kosong karena ia tak ada di sisiku saat ini.

Ponsel di samping bantal kulihat berkali-kali, berharap ada pesan baru darinya. Aku tahu ia tadi sudah mengirim pesan agar aku istirahat, dan aku tahu aku harus menurutinya. Tapi jantungku seakan punya kehendak sendiri — ia terus berdebar, berharap mendengar kabarnya, berharap tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini, apakah ia juga sedang memikirkanku seperti aku memikirkannya.

"Apakah dia juga merindukanku?" pertanyaan itu terus berulang-ulang di kepalaku. "Apakah dia juga sesulit ini tidur tanpa melihatku dulu? Apakah saat ia duduk di meja kerjanya, ia juga teringat wajahku dan tersenyum sendiri?"

Rindu ini terasa aneh namun begitu nyata. Bukan rindu yang jauh, bukan rindu yang berbulan-bulan tak bertemu. Ini rindu yang lahir dari perpisahan singkat — dari kenyataan bahwa di siang hari kami bisa saling melihat namun tak bisa saling menyapa, bisa saling berdekatan namun tak bisa saling memeluk. Setiap kali berpisah sekecil apa pun, rasanya hatiku tertinggal di tempat ia berdiri. Dan rindu itu tumbuh bukan karena lama tak bertemu, tapi karena setiap pertemuan yang kami miliki begitu berharga, begitu singkat, dan begitu harus dijaga dengan diam-diam.

Aku teringat pesannya tadi malam: "Tidurlah sekarang. Jangan membalas lagi ya. Istirahatlah." Ia pasti sudah tidur sekarang, mungkin sedang beristirahat lelahnya hari yang berat. Dan di sini aku masih terjaga, merindukannya, menyadari betapa besar tempatnya di hidupku — bahkan dalam hitungan jam saja kepergiannya sudah membuatku merasa sepi.

Aku mengambil ponsel itu sekali lagi, bukan untuk mengirim pesan, tapi hanya untuk membaca ulang pesan singkat pertamanya. Setiap kata di sana terasa begitu hangat, seakan ia sedang berbicara langsung kepadaku. Dan perlahan, di tengah rindu yang mendalam itu, satu kesadaran datang menenangkan hatiku: rindu ini bukan tanda kelemahan, bukan tanda ketidaksabaran. Ini justru bukti bahwa cinta kami tumbuh kuat setiap detiknya. Bahwa meski raga terpisah jarak yang pendek, hati kami sudah saling menyatu begitu dalam sehingga kehadirannya terasa seperti udara — selalu dibutuhkan, selalu dirindukan, bahkan saat ia baru saja pergi.

Aku memejamkan mata, membayangkan wajahnya di depan mataku, berbisik pelan di dalam hati: "Aku rindu, Kak. Meski baru beberapa jam berpisah, aku sudah merindukanmu. Tapi tenanglah, aku akan tidur. Karena di mimpi, aku bisa bertemu denganmu tanpa perlu menyembunyikan apa pun. Dan besok pagi... aku akan melihatmu lagi. Itulah yang membuat rindu ini terasa manis — karena aku tahu, pertemuan berikutnya takkan lama lagi datang."

Rindu itu masih ada, masih terasa hangat di dada. Namun ia tak lagi menyakitkan. Ia justru menjadi alasan untuk tersenyum, menjadi alasan untuk tidur dengan tenang, dan menjadi alasan untuk menantikan pagi hari. Karena setiap detik yang berlalu tanpa kehadirannya adalah satu detik lebih dekat ke pertemuan kami yang berikutnya. Dan di situlah letak keindahannya — rindu ini bukan pemisah, melainkan pengikat yang semakin menguatkan cinta kami, bahkan di saat kami tak bersama.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!