Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##01
Gemerlap ribuan lampu kristal bergaya gothic di dalam Katedral St. George berpadu sempurna dengan pendar pencahayaan LED arsitektural yang modern.
Suasana di dalam bangunan megah berusia ratusan tahun itu terasa amat megah, menghadirkan kontras dramatis antara tradisi kerajaan kuno dan era modernisasi.
Di luar katedral, deretan mobil sport mewah berpendar di bawah paparan sinar matahari sore—mulai dari Bugatti Chiron berlapis krom hingga Aston Martin kustom milik keluarga kerajaan.
Semua disiarkan secara langsung melalui jaringan satelit ultra-HD ke ribuan layar raksasa di seluruh penjuru London, menyaksikan momentum bersejarah dari salah satu dinasti paling berpengaruh di dunia modern.
Namun, di pusat kemewahan itu, tepat di atas altar berlapis marmer putih yang sakral, atmosfer terasa membeku.
...oOo...
“Aku, Duke of Edmund Alistair Blackwood, mengambil engkau, Baxeena Valerio Desmon, menjadi istriku yang sah. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sakit maupun sehat, untuk saling mencintai dan menghargai, hingga maut memisahkan kita.”
Suara bariton yang berat, dalam, dan teratur itu memantul di dinding-dinding batu katedral.
Edmund Alistair Blackwood berdiri tegak dalam balutan seragam kebesaran Royal Military Officer berwarna hitam pekat dengan aksen emas yang amat presisi.
Tanda-tanda kehormatan militer dan medali keberanian berbaris rapi di dadanya, menegaskan posisinya bukan sekadar putra raja, melainkan seorang perwira tinggi yang ditempah di garis depan pertempuran.
Tatapan matanya yang tajam bak elang menyapu wajah wanita di hadapannya.
Wajah itu datar. Dingin. Tak ada sejengkal pun getaran emosi atau kehangatan di sana.
Di depannya, Baxeena Valerio Desmon berdiri kaku dalam gaun pengantin modern potongan haute couture yang membalut tubuh anggunnya. Kain sutra putih yang menyapu lantai itu dipadukan dengan tiara berlian kuno koleksi keluarga kerajaan, namun kilauannya tak sanggup menghangatkan raut wajah Baxeena yang sekeras es.
Gema janji suci itu disusul oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai yang pecah menyelimuti katedral.
Para bangsawan, pejabat tinggi negara, diplomat asing, hingga jajaran perwira militer bersorak menyambut penyatuan dua keluarga besar tersebut.
Di barisan paling depan, Ratu Lizzeebeeth Blackwood—ibu kandung Edmund sekaligus penguasa yang amat dihormati—bahkan berteriak paling heboh tanpa memedulikan etiket kaku yang biasanya ia agungkan.
Wanita paruh baya yang masih tampak amat anggun itu tampak menyeka air mata bahagianya sebelum langsung memeluk erat besannya, Zephyr Desmon.
Austin Jaxon Valerio-Desmon, ayah Baxeena, turut tersenyum lebar sembari merangkul istrinya dan berjabat tangan hangat dengan jajaran menteri yang menghampirinya.
Bagi istana dan publik internasional, hari ini adalah puncak kebahagiaan.
Sebuah pesta pernikahan termewah di era modern yang baru pertama kali terjadi lagi setelah sekian dekade. Sebuah penyatuan aliansi yang mengunci stabilitas politik dan ekonomi antara Inggris dan keluarga konglomerat besar dari Los Angeles.
Namun bagi wanita yang berdiri di atas altar itu, kebahagiaan tersebut adalah sebuah lelucon yang paling kejam.
Di balik tudung tipis yang menutupi wajah cantiknya, Baxeena mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih.
Wajah dingin yang ia tunjukkan hanyalah topeng tipis untuk menyembunyikan badai kebencian yang berkecamuk di dalam dadanya. Pria yang baru saja sah menjadi suaminya—pria yang baru saja ia beri sumpah atas nama Tuhan—adalah satu-satunya pria yang paling ia benci di atas bumi ini.
Edmund Alistair Blackwood. Pria yang selama 33 tahun hidup Baxeena menjadi pemicu trauma mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebaliknya, Edmund hanya menatap balik Baxeena dengan sorot mata yang sulit dibaca. Tidak ada ekspresi kemenangan, tidak ada benci yang menyala, hanya tatapan datar yang begitu tenang, seolah pria itu sengaja membangun dinding tak tertembus di antara mereka berdua.
...°...
Pikiran Edmund melayang kembali ke beberapa minggu yang lalu, di dalam ruang kerja pribadi Ratu Lizzeebeeth yang berada di sayap barat istana. Ruangan bertembok kayu mahoni itu dipenuhi monitor hologram yang menampilkan data-data geopolitik dan pemetaan wilayah militer.
Saat itu, Edmund baru saja meletakkan helm taktisnya setelah menyelesaikan simulasi latihan tempur. Sang ibu menatapnya tegas dari balik meja kerjanya.
"Kau adalah putraku satu-satunya, Edmund," tegas Ratu Lizzeebeeth saat itu, suaranya tenang namun bernada perintah yang tidak bisa dibantah. "Kerajaan ini bukan hanya butuh seorang jenderal di medan perang, tapi butuh seorang Ratu untuk berdiri di samping calon penguasanya. Posisi pewaris tahta memerlukan stabilitas. Kau sudah terlalu lama hidup menyendiri di markas militer. Kerajaan ini butuh aliansi baru, dan kau butuh seorang istri."
Edmund saat itu hanya berdiri bersedekah tangan, membiarkan garis rahangnya mengeras. Sebagai seorang perwira tinggi dan calon raja, dia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk kewajiban negara.
Setelah kegagalan dan kerumitan masa lalunya, dia tak lagi peduli pada konsep cinta atau kebahagiaan personal. Bagi Edmund, pernikahan tak lebih dari sebuah misi taktis lainnya.
"Lakukan apa yang menurut Ibu terbaik untuk kerajaan," jawab Edmund dingin saat itu. "Serahkan nama siapapun wanita itu pada saya. Saya akan menandatangani dokumen pernikahannya, asalkan dia paham bahwa tugas utama saya adalah untuk kerajaan dan militer. Saya tidak punya waktu untuk drama romansa."
Atas persetujuan dingin dari Edmund itulah, Ratu Lizzeebeeth bergerak cepat. Sang Ratu memilih wanita yang menurutnya paling sempurna untuk membendung opini publik sekaligus mengikat aliansi ekonomi terbesar: putri dari Kenalan lamanya di Los Angeles.
...°°...
Di sisi lain altar, pikiran Baxeena pun berlari mundur ke ingatan seminggu yang lalu di mansion mewahnya di Beverly Hills, Los Angeles.
Ingatan itu masih terasa menyengat. Selama seminggu penuh, Mansion nya berubah menjadi neraka teror emosional dari kedua orang tuanya.
Di usianya yang telah menginjak 33 tahun, Baxeena adalah seorang wanita karier yang amat mandiri, sukses, dan memiliki segalanya—kecuali seorang pasangan.
Dia menolak mentah-mentah setiap pria yang mencoba mendekatinya, hingga membiarkan dua adik laki-lakinya melangkahinya ke altar pernikahan lebih dulu.
Bagi Baxeena, pintu hatinya telah terkunci rapat sejak satu dekade lalu.
Namun, puncaknya terjadi pada suatu malam yang dramatis. Ibunya, Zephyr Desmon, menangis histeris di ruang keluarga, memegang sebotol obat dan mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Baxeena terus menolak untuk menikah.
Ibunya merasa gagal sebagai seorang ibu di mata lingkaran sosial kelas atas karena putri sulungnya terus membujang dan memendam rasa pahit.
"Ibu tidak minta banyak, Baxeena!" tangis Zephyr malam itu dengan suara terputus-putus, sementara ayahnya, AJ, hanya bisa menatap pasrah. "Ibu hanya ingin melihatmu memiliki pasangan! Apakah kau mau melihat Mommy mati mendadak karena menanggung malu dan rasa cemas memikirkan masa depanmu?!"
Baxeena yang tidak tega melihat keputusasaan sang Ibu akhirnya runtuh. Rasa sayangnya pada sang ibu mengalahkan keteguhan sikapnya selama ini. Dengan napas berat dan hati yang terasa kebas, Baxeena mengalah.
"Baik!" seru Baxeena malam itu, suaranya bergetar menahan amarah dan kekecewaan pada keadaan. "Aku akan menikah! Siapapun pria yang mommy dan Daddy pilihkan, aku akan terima! Aku tidak peduli siapa dia, apa latar belakangnya, asalkan satu syaratnya: dia pria yang bertanggung jawab dan tidak akan menuntutku dengan urusan anak!"
Saat itu, Zephyr menyeka air matanya dan menatap Baxeena dengan binar lega yang mencurigakan. "Bagaimana kalau... dia seorang duda beranak satu?"
Baxeena tertawa sumbang kala itu. "Terserah. Justru bagus jika dia sudah punya anak. Aku berniat tidak akan pernah hamil atau melahirkan anak dari pria manapun di dunia ini. Posisiku sebagai ibu tiri tidak akan mengubah apa-apa."
Baxeena mengira, pria duda beranak satu yang dijodohkan dengannya hanyalah seorang bangsawan atau pebisnis kaku pilihan ibunya. Karena kesibukan berkas aliansi dan persiapan gaun yang sangat cepat, Baxeena bahkan tidak sempat mengecek berkas identitas lengkap sang calon suami—ia menyerahkan segalanya pada keluarga.
...°°°...
Sampai akhirnya, pintu katedral terbuka sore ini.
Saat melangkah di sepanjang lorong gereja menuju altar, pandangan Baxeena jatuh pada pria berseragam militer hitam yang berdiri menunggunya di ujung sana.
Detik itu juga, seluruh dunianya seolah runtuh dan berputar hebat.
Pria itu bukan orang asing. Pria itu bukan sekadar bangsawan kaku.
Pria yang berdiri di sana—duda beranak satu yang kini sah menjadi suaminya—adalah Edmund Alistair Blackwood.
Pria yang satu dekade lalu menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Pria yang meninggalkan luka trauma mendalam di jiwanya dan membuat Baxeena membenci seluruh konsep cinta selama hidupnya.
"Pangeran Edmund, Anda dipersilakan mencium mempelai wanita."
Suara Uskup Agung memecahkan lamunan penderitaan Baxeena.
Sorak pembawa acara dan tepuk tangan para tamu semakin membahana.
Edmund melangkah satu tapak lebih dekat. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap menutupi bayangan Baxeena dari sorotan kamera depan. Tangan Edmund yang berbalut sarung tangan putih militer terangkat, menyentuh tepi tudung transparan Baxeena, lalu menyingkapnya perlahan ke belakang.
Mata mereka beradu secara langsung tanpa penghalang.
Di dalam jarak sejengkal itu, Baxeena bisa merasakan aura ketegasan dan aroma parfum kayu cendana bercampur leather khas milik Edmund—aroma yang dahulu sangat ia kenal, namun kini terasa amat meracuni jiwanya.
Baxeena menatap tepat ke dalam manik mata Edmund dengan kilatan kebencian yang terang-terangan, sebuah pesan tanpa kata yang menegaskan bahwa ia tidak akan pernah memaafkan pria ini.
Edmund tidak menunjukkan keterkejutan. Wajahnya tetap datar, seolah sudah memprediksi reaksi tersebut. Dengan gerakan yang amat terkontrol dan formal demi menjaga reputasi kerajaan di depan ribuan kamera, Edmund merundukkan kepalanya sedikit.
Bukan di bibir.
Edmund hanya mendaratkan sebuah kecupan singkat, dingin, dan formal di kening Baxeena.
Kecupan itu tidak terasa seperti simbol kasih sayang, melainkan sebuah stempel perikatan perang dingin yang baru saja resmi dimulai di dalam istana Kerajaan Inggris.
...ΩΩΩΩ...
Happy reading, Jangan lupa tinggalkan jejak komentarnya 🌷Yang Pernah baca Cerita Daddy AJ di novel Not Our Time pasti nggak Asing sama "Ratu Inggris Lizzeebeeth" 🫶🏻
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭