"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kertas Kosong Kedua
Gemertak kayu patah di tangga bawah langsung menghentikan gerakan Nio. Keheningan mencengkeram ruangan, menyisakan pendar redup monitor yang memantulkan bayangan panik.
"S-SIAPA DI BAWAH?!" jerit Nora ketakutan sambil bersembunyi di balik punggung Nio.
Nio menahan napas, menatap lurus ke arah kegelapan tangga. "Kael, amankan jalan belakang."
"Ngh... N-Nio... aku takut..." rintih Nora pasrah, mencengkeram erat kemeja Nio dari belakang.
'Cih, bajingan itu benar-benar mengirim suruhan. Lu kira gue bakal lari?' batin Nio gusar.
Kael meraih linggis besi tua dari balik lemari, matanya menatap tajam ke arah pintu tangga. "Bawa Nora lewat belakang, Nio. Aku yang tahan penyusup ini."
"Tidak perlu, Paman. Kita tidak punya waktu untuk drama bertukar tempat," potong Nio dingin.
Nio meraih pemantik api dan sebotol cairan pembersih mesin dari meja. Dalam satu gerakan cepat, dia melemparkan botol tersulut api itu ke arah tangga kayu bawah.
DUAARR!!
Ledakan api membumbung di lorong tangga, memicu jeritan kaget pria berjaket hitam di balik kegelapan. Terdengar derap langkah tergesa melarikan diri ke luar kedai.
"Ayo bergerak! Sebelum api menyambar!!" perintah Nio memimpin jalan.
Nora berlari sekuat tenaga di belakang Nio. Mereka bertiga menembus hujan deras di lorong belakang kedai Kael.
Air hujan dingin langsung membasahi seluruh pakaian mereka hingga menyerap ke tulang. Nio memimpin jalan menyusuri gang-gang sempit distrik selatan yang gelap.
'Hujan keparat. Tapi ini bagus, air menghapus jejak kaki dan residu minyak kita,' batin Nio mengusap air hujan dari dahinya.
"N-Nio... kita mau ke mana?!" teriak Nora di tengah deru angin dan hujan yang menampar wajahnya.
"Gedung tua di ujung lorong ini! Jangan banyak bertanya dan cepat!!" balas Nio tegas tanpa menoleh.
"K-kaki aku... tergelincir... Nio!" keluh Nora yang kewalahan menyeimbangkan badannya.
"Pegang lenganku, Nora!" seru Kael cepat sambil menahan siku cewek itu dari samping.
Pengetahuan Nio atas peta jalanan mati membuat mereka berhasil meloloskan diri tanpa terdeteksi radar patroli kota.
"Gedung di depan itu sudah mati dari jaringan sejak sepuluh tahun lalu," jelas Nio memelankan langkahnya.
"Artinya tidak ada kamera pengawas di sana?" tanya Kael memastikan.
"Sama sekali nihil. Tempat sempurna menyimpan barang mati," jawab Nio.
Setelah tiga puluh menit menembus badai, mereka sampai di depan bangunan tua berdinding beton kusam yang terasing di antara gudang terbengkalai.
"A-apa ini tempatnya, Nio?" tanya Nora menggigil hebat.
"Gedung arsip sipil tua milik Arthur Vance," jawab Nio tegas. "Tempat eksistensinya pertama kali tereliminasi."
Kael mendorong pintu besi berkarat yang berderit nyaring. "Keadaan di dalam sangat senyap. Tampaknya belum ada orang yang masuk bertahun-tahun."
Nio menyalakan senter kecil dari saku jaketnya. Pendar cahaya kuning membelah kegelapan ruangan yang penuh tumpukan berkas lapuk.
"T-tempat ini... rasanya seperti kuburan..." bisik Nora memeluk dirinya sendiri.
"Memang kuburan," sahut Nio datar. "Kuburan bagi jejak-jejak sejarah yang dihapus."
'Kalau data digital bisa diubah, fisik benda di sini tidak akan berbohong,' batin Nio.
Nio menyusuri lorong berdebu yang dipenuhi lemari besi. "Arsip Arthur Vance seharusnya ada di seksi paling belakang," tunjuk Kael.
Nio mendekati meja kayu besar tertutup debu tebal di sudut ruangan. Sebuah jaket kulit tua lapuk tergantung kusam di sandaran kursi.
"Lihat ini, Paman. Jaket milik Arthur Vance," panggil Nio.
Kael mendekat mengusap air hujan di wajahnya. "Kau mencari dokumen cetak di jaket itu?"
"Bukan. Zero selalu menyapu bersih seluruh tulisan," balas Nio.
Jemari Nio merayap masuk ke saku dalam jaket tua berdebu itu. Saat tangannya menyentuh bagian dasar saku, rasa hangat dan janggal menjalar ke ujung jarinya.
Nio menarik keluar selembar benda dari dalam saku. Mata Nio menyempit, dadanya berdesir hebat saat pendar senter menerangi benda di tangannya.
Selembar kertas kosong berwarna putih kusam berada di genggaman Nio.
'T-tunggu... kain dan seratnya...' batin Nio terguncang, tangannya bergetar hebat.
Dengan jemari gemetar, Nio merogoh saku jaketnya sendiri dan mengeluarkan kertas kosong miliknya. Dia meletakkan kedua lembar kertas kosong itu bersisian di atas meja.
Bentuk, jenis kain, tekstur serat, dan ukuran kedua kertas kosong itu seratus persen identik.
"K-kertas kosong?!" seru Nora kaget. "K-kenapa dia punya kertas yang sama persis seperti milikmu?!"
"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," gumam Nio lirih.
"Nio... wajahmu pucat sekali," kata Kael khawatir. "Kau tahu arti semua ini?"
"Arthur Vance juga membawa kertas ini sebelum dia tereliminasi," desis Nio dengan vokal bergetar.
"T-tapi bagaimana mungkin?!" cerceh Nora panik. "A-apa kamu kenal Arthur Vance?!"
Nio terdiam kaku, menatap lurus dua lembar kertas di atas meja. Bibirnya tertutup rapat saat pikirannya berputar hebat.
'Bangsat! Jangan bilang gue cuma pecahan ciptaan Zero yang dibuang?!' batin Nio memaki.
Penyangkalan Nio mendadak runtuh. Kehadirannya bagaikan tabula rasa yang tidak pernah memiliki catatan presensi di dunia nyata.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," bisik Nio linglung.
Kael menepuk bahu Nio dengan cengkeraman kuat. "Tenang, Nio. Siapa pun kau di masa lalu, kau nyata di sini bersamaku dan Nora."
"Tapi kertas ini..." desah Nio terputus.
"Kertas itu bukti kau dan Arthur terikat dalam proyek gila yang sama," potong Kael tenang.
Nio menarik napas panjang, mencoba merekonstruksi fokus otaknya. "Bagus. Berarti Zero memang sengaja membiarkanku hidup," ucap Nio tersenyum miring.
"N-Nio... lalu apa langkah kita selanjutnya?" tanya Nora ragu-ragu.
"Kita periksa setiap sudut kertas ini," kata Nio mengendalikan diri.
Nio membalik kertas kosong milik Arthur Vance di bawah cahaya senter. Di sudut bawah kertas, terukir stempel air yang samar.
"Ada tulisan di dalam serat kain kertas ini," tunjuk Nio.
"T-tulisan apa?" tanya Kael mendekat.
Nio mendekatkan senternya hingga satu sentimeter. "Proyek Anima - Subjek 00."
"Subjek 00?!" ulang Nora bingung. "A-apa artinya itu?!"
'Subjek 00... nol... Zero. Bajingan itu membuat kami seperti kelinci percobaan!' batin Nio geram.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan perlahan berdenting memecah keheningan gedung arsip tua itu. Derap langkah dari lantai atas membuat mereka membeku.
"Seperti tinta yang tersapu air hujan sebelum sempat mengering," suara bersintesis familiar bergema dari kegelapan.
Nio memasang posisi siaga, menatap lurus ke arah tangga atas. "Zero..."
"Luar biasa, Nio. Kau berhasil menemukan artefak pembandingmu," puji suara itu dingin.
"MUNCUL KAU, BAJINGAN!!" bentak Nio mengarahkan senternya ke atas.
Nora gemetar hebat, menggenggam kain jaket Nio. "N-Nio... d-dia di atas..."
"Tetap di belakangku, Nora!" perintah Nio mantap.
'Gue gak bakal biarkan tempat ini jadi kuburan akhir gue!' batin Nio bertekad.
Sosok bertopeng hitam perlahan melangkah keluar dari balik pilar beton di lantai atas, menatap meremehkan.
"Permainan data mati kalian berakhir di sini, Subjek 00," bisik Zero dingin.