Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Delapan
Azka masih berdiri di tempatnya, menatap Vania yang kini sudah mulai tenang. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk di sofa.
“Sudah. Sekarang makan dulu," ucap Azka.
Azka membuka kotak makanan yang tadi ia bawa dari restoran. Sarapan yang sengaja ia beli untuk Vania karena wanita itu mengaku sejak pagi belum makan apa-apa.
Vania mengusap sisa air matanya. “Kamu yang suapin.”
Azka menoleh. “Hah?”
“Aku masih lemas," ujar Vania.
Azka memijat pelipisnya. “Vania, tangan kamu masih lengkap, kan?”
Vania cemberut. “Lengkap.”
“Ya sudah. Berarti bisa makan sendiri," balas Azka.
Vania mendelik, tetapi akhirnya mengambil sendok. Mau tidak mau ia menyantap makanan itu. Beberapa menit kemudian, wajah Vania mulai kembali cerah.
“Enak,” katanya.
Azka hanya mengangguk. “Kalau sudah selesai, aku pulang.”
Vania langsung meletakkan sendok. “Pulang?” tanyanya.
“Iya.”
“Jangan," ujar Vania.
Azka menatapnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kita ke mall.”
Azka mengernyit. “Sekarang?”
“Iya.”
“Buat apa?” tanya Azka.
Vania tersenyum manis. “Aku akan memaafkan kamu.”
Azka terdiam dan bertanya, “Memangnya tadi kamu marah?”
Vania mengangguk mantap. “Banget.”
“Terus syaratnya?”
Vania menyandarkan tubuh ke sofa dengan wajah penuh kemenangan. “Kamu harus beli apa yang aku mau.”
Azka menatapnya beberapa detik. Entah harus tertawa atau menghela napas. Akhirnya ia hanya tersenyum tipis. “Iya. Ayo.”
Mall cukup ramai ketika mereka tiba. Vania langsung berubah seperti anak kecil yang baru dilepas di toko mainan.
“Azka! Lihat itu!” tunjuk Vania.
“Hmm.”
“Bagus, kan?” tanya Vania.
“Bagus.”
“Kalau yang ini?”
“Bagus.”
“Yang ini?”
“Bagus.”
Vania menyipitkan mata. “Kamu sebenarnya lihat atau enggak?” tanyanya lagi.
Azka yang sejak tadi hanya mengikuti langkahnya mengangkat alis. “Lihatlah," jawabnya.
“Terus kenapa semuanya bagus?” tanya Vania dengan suara sedikit kesal.
“Karena kalau aku bilang jelek, kita bisa berdebat sampai mall tutup," jawab Azka jujur.
Vania terdiam. Kemudian tertawa kecil. “Kamu memang paling tahu caranya menghindari masalah," ucapnya.
Azka hanya menggeleng. Mereka masuk ke sebuah butik ternama. Vania mulai memilih beberapa pakaian dan tas.
Azka berdiri tak jauh darinya, sesekali menjawab pertanyaan. Namun, pikirannya justru melayang ke rumah, ke Reatha.
Ia membayangkan wanita itu duduk sendirian di meja makan tadi. Wajahnya tertunduk.
Azka mengusap wajahnya pelan. Kenapa aku pergi begitu saja? Seharusnya aku berpamitan.
Setidaknya mengatakan bahwa Vania sedang sakit. Tapi tadi ia terlalu panik. Dan sekarang, entah kenapa, rasa bersalah itu semakin mengganggunya.
Pandangan Azka kemudian tertuju pada sebuah tas cantik di rak sebelah. Tanpa sadar ia membayangkan Raisa menggunakannya.
Sepertinya cocok untuk dia. Azka mengerutkan kening sendiri.
Kenapa aku malah memikirkan tas untuk Reatha?
Namun bukannya pergi, ia justru mengambil tas itu. “Mas, yang ini," ucap Azka pada seorang pelayan toko.
Seorang karyawan mendekat. “Baik, Pak.”
Azka melirik ke arah Vania. Wanita itu masih sibuk memilih tas lain.
“Bungkus yang ini juga. Tapi jangan bilang siapa-siapa," ucap Azka.
Karyawan itu tampak bingung. “Baik, Pak.”
Azka membayar tas tersebut, kemudian memberikan alamat rumahnya. “Tolong kirim ke alamat ini.”
“Baik, Pak.”
Azka bahkan memberikan sejumlah uang tambahan. “Ini untuk biaya kirim dan—”
“Wah, terima kasih, Pak.”
“Anggap saja tip," ucapnya. Setelah selesai, Azka kembali berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian Vania datang.
“Aku kira kamu ke mana?”
Azka menoleh. “Emangnya ke mana?”
“Tadi aku cari-cari. Kenapa berdiri dekat kasir?” tanya Vania heran.
Azka tersenyum santai. “Biar lebih enak membayar saat kamu sudah selesai.”
Vania langsung tersenyum puas. “Makanya aku sayang kamu.”
Azka hanya tersenyum tipis. Namun di dalam hatinya, ia kembali memikirkan satu nama. Raisa.
Setelah puas berbelanja, mereka makan malam. Vania tampak sangat bahagia dengan barang-barang belanjaannya.
“Besok aku mau coba baju ini.”
Azka mengangguk. “Ya.”
“Terus tas ini juga.”
“Ya.”
“Sepatunya juga.”
“Ya.”
Vania menatapnya dan berkata, “Kamu cuma bisa bilang ya?”
Azka tertawa kecil. “Aku capek.”
“Berarti kamu menyesal?” tanya Vania.
“Tidak.”
Setelah makan, Azka mengantar Vania pulang. Begitu sampai di depan apartemen, Vania tidak langsung turun.
“Azka.”
“Hm?”
“Kamu menginap, ya?”
Azka langsung menggeleng. “Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Vania, kalau Mama tahu, kita akan lebih sulit bertemu.”
Vania diam.
“Papa juga bisa menarik semua fasilitas yang dia berikan. Kamu nanti tidak bisa beli apa pun yang kamu inginkan.”
Wajah Vania langsung berubah. Cemberut. “Jadi kamu tidak mau menginap karena takut kehilangan fasilitas?”
Azka menatapnya tidak percaya. “Vania .…”
“Kamu menyesal membelikan aku tas dan baju ini?” tanya Vania.
Azka menarik napas panjang lagi. Selalu saja berakhir salah paham. “Vania, aku tidak bilang begitu.”
“Tapi ucapanmu seperti itu.”
“Aku hanya menjelaskan keadaan," ujar Azka.
“Seakan-akan kamu tidak ikhlas.”
Azka mulai kehilangan kesabaran dan berkata, “Kalau aku tidak ikhlas, mending aku tidak belikan kamu.”
Vania langsung terdiam.
Azka mengusap wajahnya. “Dan aku harap kamu jangan mencari ribut lagi. Kesabaranku ada batasnya!" serunya.
Vania menatapnya dengan wajah terluka. “Aku tidak suka kamu berkata begitu.”
Azka diam.
“Seakan kamu benar-benar sudah bosan denganku.”
Azka menghela napas. “Aku tidak bilang begitu.”
Namun Vania kembali diam.
Azka akhirnya membuka pintu mobil. “Aku pulang.”
“Azka .…”
Tetapi pria itu sudah masuk ke mobil. Tanpa menunggu ucapan Vania selanjutnya, Azka langsung tancap gas.
Vania berdiri di depan apartemen sambil menatap mobil itu menjauh. Tangannya mengepal.
“Aku harus lebih hati-hati.” Ia menggigit bibir. “Jangan sampai Azka benar-benar bosan denganku.”
Tatapannya berubah dan berucap, “Aku tidak bisa hidup tanpa uangnya.” Setelah itu Vania masuk ke apartemen.
Setengah jam kemudian, Azka tiba di rumah. Begitu masuk, bibi langsung membukakan pintu.
“Selamat datang, Pak.”
Azka mengangguk dan membalas, “Terima kasih, Bi.”
Ia berjalan menuju tangga. Namun baru beberapa langkah, matanya menangkap sebuah bungkusan di atas meja.
Azka berhenti. Tas yang tadi ia beli untuk Reatha. Bungkusannya masih utuh. Kening Azka berkerut.
“Bi," panggil Azka.
“Iya, Pak," jawab Bibi.
“Ini kenapa masih di sini?”
Bibi menoleh. “Oh, itu kiriman tadi, Pak.”
“Bu Raisa sudah lihat?” tanya Azka.
“Belum, Pak.”
Azka terdiam. “Di mana Bu Raisa?”
“Ada di kamar.”
Azka langsung menaiki tangga. Entah kenapa langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Sampai di depan kamar Reatha, ia mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Reatha muncul dengan rambut yang tertata sederhana dan wajah tanpa riasan berlebihan.
Azka mendadak diam. Ia menatap wanita itu cukup lama. Reatha mengerutkan kening.
“Kenapa memandangiku begitu?” tanya Reatha
Azka tersadar. “Kamu .…”
“Aku kenapa?” Kembali Reatha bertanya.
“Kamu tidak marah?” Bukannya menjawab pertanyaan Reatha, Azka balik bertanya.
Reatha semakin bingung. “Marah karena apa?”
Azka menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. “Maaf. Aku tadi panik. Vania sakit. Jadi … aku lupa pamit.”
Reatha justru tersenyum. “Santai. Aku mengerti kok.”
Jawaban sederhana itu membuat Azka terdiam.
“Ada perlu apa?”
Azka menunjuk ke bawah. “Itu bungkusan kenapa tidak kamu buka?”
Reatha menoleh ke arah meja. “Memangnya itu bungkusan buat siapa?”
“Ya … buat kamu.”
Reatha menatap Azka. Kemudian berkata polos, “Aku pikir punya Vania.”
Azka membeku. Dadanya terasa seperti ditusuk sesuatu.
Kenapa istriku lebih pengertian daripada Vania?
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Azka merasa bahwa mungkin perempuan yang selama ini ia anggap hanya sebagai istri di atas kertas, ternyata perlahan mulai menempati tempat yang berbeda di dalam pikirannya.
🤭 kapan bikinnya sama Azka?..ternyata beda orang 😄