NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pacaran

BAB 25

Pacaran

"Dan untuk sekarang, lu mau nggak kalau jadi pacar gue?"

Dinda tertegun dengan mulut terbuka.

"Lalat masuk Cil."

Kemudian dengan cepat menutup rapat mulutnya saat mendengar ucapan Daffa. Masih dengan keadaan yang membingungkan untuk dirinya, pernikahan yang tidak lama lagi akan ia jalani, tubuh yang kembali normal dan harus menyesuaikan kembali keadaan setelah kekacauan yang di buat Daffa semenjak berada dalam tubuhnya, lalu sekarang Daffa tiba-tiba mengajaknya berpacaran.

"Bang, serius lu?!"

"Biar nggak canggung kedepannya Cil? Jawab dengan jujur. Kalau sekarang, siapa yang mendominasi hati lu, Leon atau gue? Terus lu bayangin kalau gue pacaran dengan cewek lain, apa lu rela?"

"Enak aja, udah lihat semua lu malah pacaran sama cewek lain Bang!"

"Nah, lu cemburukan Cil. Ayo, kita pacaran sebelum menikah."

Dinda terdiam dan masih ragu untuk memberi keputusan. Namun saat melihat kesungguhan di mata Daffa, pada akhirnya ia pun mengangguk juga.

Melihat respon yang Dinda berikan, Daffa tersenyum manis merasa senang tujuannya tercapai. Refleks ia pun mengusap pucuk kepala Dinda dengan rasa sayang.

Eh...

"Mulai sekarang Abang nggak akan lu-gue lagi. Jadi, kita resmi pacaran ya Cil."

"Oh ya, Bang...."

Hampir saja Dinda melupakan tujuannya untuk bertemu Daffa.

"Aku mau kita buat kesepakatan sebelum setelah menikah nanti." Lanjut Dinda.

"Kesepakatan apa Cil?" Tanya Daffa bingung sekaligus penasaran.

"Aku mau menikmati masa muda ku dulu, Bang."

"Maksudnya, belum mau punya anak?"

"Iya, kan kita belum tahu juga pernikahan nanti berjalan berapa lama."

"Kamu masih ragu, Cil?" Daffa terlihat tidak suka mendengar ucapan Dinda. "Apa kamu masih ingin mengejar si Leon itu?!" Lanjut Daffa.

"Bukan begitu Bang, aku...."

Dinda tidak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan. Sesungguhnya ia memang tidak ingin menikah muda.

"Jadi buat mu, lelaki yang sudah memandang bagian intim mu nggak masalah, kalau bukan dia yang jadi suami mu?!"

"Bang!!"

Dinda sedikit menaikkan nada suaranya. Ia tidak suka Daffa berkata demikian. Kalimat itu terlalu menyakitkan. Seolah-olah Daffa sedang menganggap dirinya sebagai perempuan murahan yang mudah berpindah hati hanya karena apa yang pernah terjadi di antara mereka.

Daffa menghela napas kasar dan menoleh ke lain, begitu pula dengan Dinda. Keduanya tampak kesal satu sama lain, sehingga keheningan pun tercipta di antara mereka. Suasana yang sebelumnya terasa hangat mendadak berubah dingin.

Ini pertama kali Daffa marah kepada Dinda. Namun Daffa yakin akan instingnya, kalau Dinda sebenarnya menyukai dirinya walau gadis itu mungkin belum menyadari sepenuhnya.

Dinda tiba-tiba berdiri dalam diam.

Daffa yang melihat perubahan sikapnya langsung menoleh.

"Mau ke mana, Cil?"

"Pulang!" jawab Dinda ketus tanpa menoleh sedikit pun.

Daffa mengernyit. Pandangannya kemudian beralih pada makanan Dinda yang masih tersisa cukup banyak.

"Nasi uduknya masih banyak, Cil."

"Biarin! Udah kenyang!"

Dinda langsung melangkah pergi sebelum Daffa sempat mengatakan apa pun lagi.

"Cil, tunggu."

Namun Dinda tidak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat. Ia sudah terlalu kesal untuk sekadar menoleh ke belakang.

Daffa hanya bisa memandangi pintu warung yang baru saja dilewati Dinda. Ia sebenarnya ingin mengejar, tetapi masih harus menyelesaikan pembayaran pesanan mereka.

"Berapa, Pak?"

"Lima puluh dua ribu, sama minumnya, Mas."

Daffa segera mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan menyerahkannya kepada pemilik warung.

"Kembaliannya empat puluh delapan ribu, Mas."

"Biar aja, Pak."

Daffa buru-buru berbalik dan langsung menyusul Dinda.

"Makasih, Mas!" teriak pemilik warung.

Daffa yang masih mendengarnya hanya mengangkat sebelah tangan sebagai tanda sudah mendengar, tanpa menoleh ke belakang. Pikirannya kini hanya tertuju pada Dinda.

Namun begitu keluar dari warung, sosok gadis itu sudah tidak terlihat lagi.

Daffa mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri. Jalanan di depan warung cukup ramai, membuatnya semakin sulit menemukan Dinda.

"Cil..."

Daffa mengembuskan napas pelan.

Ia mulai melangkah cepat menyusuri jalan, berharap masih bisa menemukan Dinda sebelum gadis itu benar-benar pulang.

Ini pertama kalinya Daffa melihat Dinda benar-benar marah kepadanya.

Ia sebenarnya tidak bermaksud merendahkan Dinda. Ia hanya merasa khawatir, Dinda memilih Leon yang menurutnya bukan tipe laki-laki yang bertanggung jawab. Namun ucapan yang keluar dari mulutnya justru membuat Dinda terluka.

Daffa mengusap wajahnya kasar.

"Kenapa gue jadi ngomong begitu, sih..."

Langkahnya kembali terhenti. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka percakapannya dengan Dinda. Jemarinya sempat mengetik beberapa kata.

Cil, lo di mana?

Daffa menatap pesan itu beberapa detik. Namun sebelum dikirim, ia menghapusnya. Ia tahu Dinda sedang marah. Kalau sekarang ia terus menghubungi, mungkin justru akan membuat gadis itu semakin kesal.

Daffa memasukkan kembali ponselnya ke saku. Matanya kembali menyusuri jalan, berharap menemukan sosok Dinda.

Namun semakin jauh ia berjalan, gadis itu tetap tidak terlihat. Akhirnya Daffa mengembuskan napas panjang.

"Kayaknya dia udah jauh."

Ia berbalik dan berjalan kembali menuju warung nasi uduk tempat mereka makan tadi.

Sesampainya di sana, Daffa langsung menuju tempat motornya diparkir. Ia memasang helm, kemudian menyalakan mesin.

Sebelum pergi, pandangannya sempat tertuju pada warung yang mulai kembali ramai. Pikirannya kembali teringat pada Dinda yang pergi meninggalkan makanan yang belum habis.

Daffa menghela napas.

"Besok gue harus minta maaf."

Kalimat itu keluar begitu saja. Ia kemudian menarik gas perlahan dan meninggalkan warung.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi wajah Dinda yang terlihat kesal tadi. Bahkan setelah sampai di rumah, ia masih sempat duduk beberapa saat di atas motornya sebelum akhirnya turun. Ia memasukkan kunci ke saku dan melangkah masuk ke rumah dengan wajah murung, berharap besok Dinda sudah tidak semarah ini lagi.

***

Sementara itu, ketika Daffa tadi mencari keberadaan Dinda, gadis itu rupanya sudah menaiki ojek pengkolan untuk kembali ke rumah.

Namun bukannya langsung ke rumah, ia malah meminta sang ojek untuk membawanya berkeliling dulu.

Sepanjang perjalanan, dadanya terasa sesak. Bukan karena Daffa tiba-tiba mengajaknya berpacaran. Bukan pula karena mereka akan segera menikah. Tetapi karena ucapan Daffa yang membuatnya sakit hati.

Aku nggak suka banget kalau Abang ngomong kayak gitu.

Dinda menggerutu dalam hati. Tangannya mengepal di atas pangkuan, menahan kesal yang sejak tadi semakin memenuhi dadanya.

Ia masih teringat jelas bagaimana Daffa mengucapkan kalimat itu dengan santainya, seolah apa yang dirasakan Dinda hanyalah sesuatu yang bisa dijadikan bahan candaan.

Sesekali Dinda mengembuskan napas kasar, kesal.

Begitu tiba di rumah, Dinda langsung melihat motor Daffa sudah terparkir di halaman rumah sebelah.

Entah kenapa, melihat motor itu justru membuat emosinya kembali naik.

Begitu turun dari ojek, Dinda segera mempercepat langkah menuju rumah. Ia sama sekali tidak berniat menunggu lebih lama, apalagi menghubungi Daffa. Ia hanya ingin segera masuk ke kamarnya dan menenangkan diri.

Untuk saat ini, Dinda tidak ingin melihat wajah Daffa. Bahkan jika Daffa datang untuk menjelaskan ucapannya tadi, ia belum tentu mau mendengarkannya.

Ini pertama kalinya Dinda merasa benar-benar kecewa kepada Daffa. Dan ia merasa tidak ingin langsung memaafkannya.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
emang kalo pacaran nggak ada bumbu asem manis asin nggak seru suh wkwkwk

gelud aja dinnnn 🤣🤣🤣🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
lah baru aja pacaran udh marahan lagi
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
laki2 selalu salah
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah mereka jadi pacaran
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
duh bengek
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!