Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reputasi Ayyana
Langkah kaki tegap Chester membelah koridor utama markas dengan kecepatan yang tak biasa bagi seorang komandan. Pintu kaca lobby didorongnya kasar hingga menimbulkan dentuman bergaung yang menghentikan seluruh bisik-bisik kasak-kusuk di ruangan tersebut.
Pemandangan di lobby utama sukses membuat darah sang Kapten mendidih seketika.
Ayyana berdiri di dekat pilar tengah. Ia memang tidak memakai gaun tidurnya, melainkan sebuah dress sutra putih gading berpotongan bodycon yang membungkus sempurna siluet tubuhnya yang memikat. Bahu dan leher jenjangnya terpapar indah, memancarkan aura kemewahan yang sama sekali bertolak belakang dengan dominasi warna hijau tentara dan dinding beton barak.
Beberapa perwira muda dan prajurit penjaga piket mendadak kaku di tempatnya, pura-pura memeriksa dokumen padahal binar mata mereka tak lepas dari sosok Nyonya Sinclair.
"Kembali ke posisi kalian!" suara bas Chester menggelegar penuh aura intimidasi mutlak, memotong keheningan lobby.
Seketika seluruh prajurit mendisiplinkan pandangan lurus ke depan dan buru-buru membubarkan diri dari area sekitar Ayyana.
Chester melangkah lebar, memangkas jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan istrinya. Sosok tegap sang Kapten yang dibalut kemeja taktis hitam membentengi Ayyana sepenuhnya dari jangkauan mata-mata liar di ruangan itu. Rahangnya mengetat kaku, napasnya terengah berat saat binar mata abu-dark milik suaminya mengunci tatapan Ayyana.
"Kamu terlambat empat belas menit, Kapten," bisik Ayyana halus tanpa sedikit pun rasa gentar.
Ia perlahan menurunkan kacamata hitamnya, menyunggingkan senyum manis yang sarat akan dominasi berkelas. Jemari lentiknya terangkat, menyapu lembut kerah kemeja Chester di depan umum.
"Dan aku bukan wanita yang suka membiarkan ancaman ku hanya menjadi angin lalu," lanjut Ayyana tajam.
Chester tidak menjawab dengan kata-kata.
Tangan kekar Chester melingkar tegas di pinggang Ayyana, mencengkeramnya posesif dan menarik tubuh halus itu makin merapat ke dadanya.
"Ikut ke ruang kerja saya. Sekarang," bisik Chester serak dan sangat rendah tepat di depan bibir Ayyana, merebut kembali kendalinya dengan ketegangan pekat yang kini membakar habis batas di antara mereka.
Ayyana hanya membalas bisikan itu dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan.
Tanpa melepaskan pandangan dari manik mata abu gelap suaminya, ia membiarkan Chester mengarahkan langkahnya, menuntunnya melintasi lorong utama markas menuju ruang komando di ujung koridor.
Untuk mencapai ruangan elit sang Kapten, mereka harus melewati area operasional—tempat di mana para 'bujang Eclipse' sedang berkumpul.
Flyn, Ocla, Rowan, dan Zack berdiri berjajar di dekat meja taktis.
Begitu melihat sang Komandan melangkah masuk sambil merangkul posesif pinggang istrinya yang berbalut dress putih gading, keempat perwira khusus itu seketika memasang postur tegap formal, walau raut wajah mereka sama sekali tak bisa menyembunyikan keusilan.
Flyn adalah yang pertama melemparkan hormat militer dengan sudut bibir yang terangkat lebar. "Selamat siang, Nyonya Sinclair. Kehadiran Anda benar-benar meningkatkan moral tempur barak hari ini."
Ocla menyikut lengan Flyn pelan, namun tetap memberi hormat dengan nada santai. "Laporan taktis menyebutkan suhu ruang komando mendadak naik sepuluh derajat, Nyonya."
Rowan mendadak sibuk merapikan berkas di atas meja sambil menahan tawa, sementara Zack hanya berdiri kaku dengan helaan napas pasrah, menggeleng tipis melihat kelakuan rekan-rekannya yang sengaja memprovokasi sang Komandan.
Rahang Chester mengetat sekeras baja. Binar matanya melemparkan kilatan peringatan yang amat tajam pada keempat bawahannya itu.
"Tutup mulut kalian dan kembali bekerja," tegur Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
Ayyana justru menghentikan langkahnya sejenak. Dengan keanggunan mutlak, ia melirik keempat anggota Team Eclipse tersebut dan menyunggingkan senyum memikat.
"Terima kasih atas sambutannya, Kapten-Kapten," ujar Ayyana halus, intonasinya sarat akan dominasi berkelas yang membuat Flyn makin melebarkan cengirannya. "Saya hanya datang untuk memastikan Komandan kalian tidak lupa jalan pulang."
Sebelum Flyn sempat membalas dengan godaan baru, Chester sudah menarik lembut pinggang Ayyana, mendorong pintu kayu tebal ruang kerjanya di ujung lorong, lalu memasukkan istrinya ke dalam ruangan.
BAM.
Pintu jati itu tertutup rapat, mengunci dentuman engsel dan suara tawa Flyn di luar, menyisakan ketegangan pekat yang kini membakar habis udara di antara sang Kapten dan Nyonya Sinclair.
Pintu ruang kerja di ujung koridor itu tertutup rapat, mengunci riuh rendah barak di luar dan meninggalkan ruangan bernuansa hijau militer itu dalam keheningan yang amat pekat.
Chester memutar kunci dari dalam dengan satu dentuman cklek yang tegas.
Tanpa melepaskan pandangannya dari Ayyana, ia menyandar kaku pada daun pintu jati tersebut.
Ayyana berbalik perlahan, berjalan menelusuri karpet ruang kerja komando. Jemari lentiknya menyapu tepi meja kayu besar Chester, melewati tumpukan berkas taktis dan papan nama berukir Kapten Chester Sinclair.
"Ruang kerja yang sangat kaku, Kapten," gumam Ayyana halus. Ia berbalik memandang suaminya, menyilangkan tangan di bawah dada seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat. "Sangat mencerminkan pemiliknya."
Chester melepas dua kancing teratas kemeja taktis hitamnya yang mendadak terasa menyekik. Binar mata abu gelap milik suaminya berkilat tajam—sebuah campuran antara cemburu posesif, frustrasi yang membakar sejak semalam, dan gairah yang tak lagi sanggup ia kekang.
Ia melangkah lebar memangkas jarak, menghentikan pijakannya tepat di hadapan Ayyana.
Tinggi tubuh tegap Chester mengintimidasi ruangan, membentengi Ayyana sepenuhnya.
"Kamu sengaja, Ayyana," ujar Chester dengan suara bas yang amat rendah, serak, dan bergetar kaku. "Kamu datang ke markas saya, memakai dress ini di depan anak buah saya, hanya untuk membuktikan ancamanmu?"
Ayyana tidak mundur satu inci pun. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata suaminya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Chester," bisik Ayyana tajam namun sarat akan pesona memikat. Jemari lentiknya terangkat, mengelus dada bidang Chester yang naik turun memburu. "Kamu melarikan diri jam setengah lima subuh setelah menjadikan tubuhku alasan untuk menahan napas semalaman. Kamu pikir aku tidak tahu?"
Rahang Chester mengetat sekeras baja. Suara napasnya terengah berat.
Rahasia malam tadi—bagaimana Ayyana memeluk kakinya bagai guling dan mengelus dadanya saat tertidur—ditelanjangi begitu saja oleh istrinya sendiri.
"Saya tidak melarikan diri..." alibi Chester kaku, walau cengkeraman tangannya mendadak mendarat tegas di pinggang Ayyana, menarik wanita itu hingga tak menyisakan celah udara di antara mereka.
"Kamu takut, Kapten," potong Ayyana seraya mendekatkan wajahnya, hembusan napas hangatnya menerpa langsung bibir Chester. "Kamu takut kalau kamu menetap semenit lagi di kasur itu, kamu akan kehilangan seluruh kendali militermu."
Pernyataan itu meruntuhkan sisa-sisa perisai taktis sang Komandan.
Dengan dorongan kepemilikan mutlak yang meledak, Chester mengepit pinggang Ayyana, mengangkat tubuh anggun istrinya dalam satu gerakan mudah, dan mendudukkannya di atas tepi meja kerja komando.
Berkas-berkas taktis di meja bergeser sedikit, namun Chester tidak memedulikannya lagi.
Pria itu menyusupkan dirinya di antara kedua paha Ayyana, menangkup leher jenjang istrinya dengan tangan kekar yang hangat, mengunci Ayyana penuh dominasi posesif.
"Kalau begitu... berhenti memancing saya, Ayyana Sinclair," bisik Chester serak dan dalam di depan bibir istrinya, binar matanya membakar pekat. "Karena kalau kendali itu benar-benar runtuh detik ini, tidak akan ada aturan atau barak yang sanggup menyelamatkanmu dari saya."
Intimidasi posesif Chester yang mengunci tubuhnya di atas meja kerja berhasil membuat Ayyana mendadak gugup.
Rasa percaya diri yang semula mendominasi seketika luntur, digantikan detak jantung yang berpacu tak karuan.
Untuk mengalihkan tensi berbahaya di antara mereka, Ayyana berdeham pelan seraya menepuk dada bidang Chester, mendorongnya sedikit ke belakang.
"Aku... aku membawakan makan siang," bisik Ayyana, berusaha mempertahankan keanggunannya walau suaranya bergetar tipis.
Ia meraih kotak bekal eksklusif yang tadi sempat ia letakkan di tepi meja. Ayyana membukanya, memamerkan susunan hidangan khas yang tertata amat cantik, rapi, dan menggugah selera.
Di atas kertas, tampilan masakan itu tampak sempurna seperti hidangan restoran bintang lima.
Chester menatap kotak bekal itu, lalu melirik Ayyana yang menatapnya penuh antisipasi tersembunyi.
Sang Kapten mengambil sendok, menyuapkan porsi pertama ke dalam mulutnya.
Seketika, seluruh saraf indra pengecap Chester menjerit.
Rasa asin yang teramat pekat—hampir menyengat—meledak di lidahnya.
Takaran garam dalam hidangan itu jelas sangat kacau. Namun, saat Chester hendak mengernyit, ia melihat binar mata cokelat Ayyana yang menatapnya penuh harap. Binar yang begitu jarang dipancarkan oleh istrinya yang selalu dominan itu.
Otot rahang Chester mengetat keras. Dengan ketahanan fisik khas perwira militer, pria itu menelan suapan tajam tersebut tanpa mengedipkan mata, mempertahankan raut wajahnya agar tetap datar dan tenang sekeras baja.
"Bagaimana?" tanyanya cepat, ada sedikit dorongan ingin tahu di matanya.
"Enak," jawab Chester singkat dengan suara basnya yang rendah dan mantap. "Sangat enak, Ayyana."
Mata Ayyana seketika berbinar terang. Senyum puas dan bangga terukir manis di bibirnya—sebuah ekspresi murni yang membuat dada Chester mendadak berdesir hangat, menghapus seketika rasa asin luar biasa yang masih membakar tenggorokannya.
"Sudah kuduga," ujar Ayyana riang, langsung meraih kotak bekal tersebut dari meja. "Kalau begitu, aku harus membagikan sisanya ke anak buahmu di luar. Flyn dan yang lainnya pasti mau mencicipinya!"
Chester membeku seketika. Binar mata abu gelapnya melebar tipis saat melihat Ayyana sudah berbalik bergegas menuju pintu ruang kerja untuk berbagi dengan Team Eclipse.
"Ayyana, tunggu—" panggil Chester serak dengan kepanikan taktis yang mendadak muncul, membayangkan reputasi kuliner istrinya yang akan hancur—sekaligus nasib lidah keempat bawahannya.