Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Tangisan Menyayat Hati.
“Non.”
Wira mengulurkan kotak tissue kepada Sera untuk menghapus air mata gadis itu.
Mereka masih berada di taman itu sejak setengah jam yang lalu. Wira membiarkan Sera menumpahkan tangisannya.
Sera pasti merasa sangat sakit hati. Cinta pertama, yang selama ini ia nantikan, justru mengkhianati gadis itu bahkan di malan pernikahan mereka.
“Mas Wira. Untuk informasi tentang sejak kapan Rania tinggal di apartemen kak Ravin, apa sudah akurat?” Tanya gadis itu dengan suara khas orang menangis.
“Sudah, non. Saya pastikan, informasi itu 100 persen benar.” Ucap Wira.
Tentu saja informasi yang ia berikan pada Sera sangat akurat. Karena sudah lama Wira memerintahkan orang untuk mengawasi keluarga Arthadipa.
Suara tangis Sera kembali terdengar. Sangat menyayat hati. Ingin rasanya Wira pindah ke kursi belakang untuk menenangkan gadis itu.
Namun, sekarang bukanlah saat yang tepat. Sera tidak mengetahui siapa dirinya. Yang ada, gadis itu akan menganggap Wira lancang.
“Apa nona ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri?” Tanya Wira kemudian.
Sera mengusap air matanya. “Kita jalan saja dulu, mas. Tapi, jangan langsung pulang. Saya belum siap untuk bertemu dengan kak Ravin.”
“Jadi, nona tidak akan menuntut penjelasan pada pak Ravin?” Tanya Wira sembari melajukan mobilnya.
“Tentu. Saya akan bicara dengan kak Ravin. Tetapi tidak sekarang. Saya butuh waktu untuk mencerna semua ini.” Sera menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Hatinya terasa sangat hancur saat ini.
Ravin benar - benar mengkhianati dirinya.
Semua ucapan mama Safina seakan menjadi menjadi kenyataan.
Ravin yang tak menyentuhnya hingga saat ini, karena ada Rania yang tinggal di apartemen pria itu.
Kenapa Ravin begitu tega? Jika ia memang masih mencinta Rania, untuk apa menyetujui perjodohan dengan Sera?
Tidakkah Ravin memikirkan perasaan Sera?
“Non. Jika nona membutuhkan teman bicara, saya siap untuk mendengarnya.” Wira memberanikan untuk menawarkan diri.
Ia harus bisa membuat Sera secara perlahan mengandalkan dirinya.
“Tidak ada yang mengerti perasaan saya, mas.” Ucap Sera pelan.
Wira menyunggingkan sudut bibirnya.
“Saya sangat mengerti, non. Saya adalah salah satu anak korban dari perpisahan orang tua. Yang lebih menyakitkan, wanita yang di tolong dan di anggap teman oleh mama saya, ternyata adalah selingkuhan papa saya. Bahkan, mereka memiliki anak yang usianya 2 tahun lebih muda dari saya. Coba non bayangkan, seperti apa rasa sakit yang pernah saya dan mama rasakan?” Pria itu berbalik melempar tanya.
Mobil itu tetap melaju dengan pelan, meski tanpa tujuan.
Di kursi belakang, Sera tercengang mendengar ucapan panjang lebar pria itu.
“Mas Wira, korban broken home?” Tanya Sera sekali lagi dan Wira pun menganggukkan kepalanya.
“Bukannya mas Wira mengatakan yatim piatu?”
Wira menghela nafas cukup panjang. “Saya dan mama di usir dari rumah saat berusia 10 tahun. Dan mama meninggal 2 bulan setelahnya, karena mengetahui fakta kalau papa berkhianat sejak saya berusia 1 tahun. Semenjak kepergian mama, meski pria itu masih hidup sampai saat ini, saya tetap menganggap diri yatim piatu.”
Pria itu melirik Sera dari kaca sepion. “Karena hasutan selingkuhannya, papa saya juga menganggap kalau saya bukanlah anak kandungnya. Jadi, lebih baik anggap dia juga sudah tiada bukan?”
Sera sungguh merasa iba mendengar cerita pria itu. Dan dapat ia simpulkan, jika Wira sebelumnya berasal dari keluarga berada. Dari cara Wira memanggil orang tuanya dengan sebutan mama dan papa.
‘Pantas saja ada yang berbeda dari garis wajah mas Wira. Dia pasti berasal dari keluarga berada.” Sera bermonolog dalam hatinya.
“Saya turut prihatin atas yang terjadi pada keluarga mas Wira.” Ucap gadis itu dengan tulus.
Pasti Wira sudah merasakan bagaimana kerasnya hidup tanpa keluarga yang utuh.
“Terima kasih, non. Jadi, mulai sekarang nona jangan merasa sendiri. Karena, ada saya yang mengerti perasaan nona.”
“Kalau menurut mas Wira, apa yang harus saya lakukan pada kak Ravin?” Tanya Sera kemudian.
“Kalau menurut saya, nona tanyakan pada hati nona. Apa nona ingin bertahan di atas luka? Atau melangkah untuk memulai hidup baru yang lebih indah.”
.
.
.
Setelah merasa hatinya cukup tenang. Sera pun meminta Wira untuk mengajaknya pulang.
Sudah cukup lama ia berada di jalanan. Dan Ravin pun telah menghubunginya dua kali. Namun, Sera sama sekali tak menjawab panggilan pria itu.
Biarlah Ravin menunggu dalam kecemasan. Ini baru sekali dirinya terlambat pulang tanpa pemberitahuan.
Pria itu bahkan sudah berulang kali melakukannya. Membuat Sera teringat sesuatu.
“Mas Wira. Tolong bantu saya sekali lagi.” Ucap Sera saat mobil mereka memasuki gerbang perumahan elit itu.
“Nona tidak perlu merasa sungkan. Berapa kali pun saya siap untuk membantu nona.” Ucap Wira.
“Apa mas Wira bisa mencari tau, apa yang kak Ravin lakukan di rumah sakit Sehat Medika pada tanggal 20 bulan lalu? Saya ada bukti nota pembayaran di kantin rumah sakit itu.” Sera merogoh saku tasnya. Kemudian menyerahkan nota yang ia temukan di saku jas sang suami.
“Tentu, non. Saya akan memberikan informasinya segera.” Wira menerima nota itu, kemudian menyimpannya dalam saku celana.
Ia tidak perlu susah payah mencari tau. Tinggal menghubungi orang suruhannya. Semua informasi akan segera di dapat.
Pukul 8 malam Sera tiba di rumahnya.
“Tuan, nona sudah pulang.” Teriak bi Sari setelah membuka pintu untuk gadis itu.
Ravin muncul dari ruang tamu, kemudian memeluk Sera begitu saja.
“Kamu kemana saja, Ra? Kenapa tidak menjawab panggilanku? Aku sangat mengkhawatirkan kamu.” Ucap pria itu.
Sera sama sekali tidak berniat untuk membalas pelukan sang suami. Tidak pula merasa tersentuh dengan ucapan pria itu.
Andai Sera tidak mengetahui tentang pengkhianatan pria itu, mungkin sekarang ia akan membalas pelukan Ravin.
Namun sayangnya, semua sudah tidak ada artinya lagi.
Sera melepaskan diri dari pelukan pria itu.
“Kamu kenapa, Ra? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Ravin saat gadis itu bersikap dingin.
Sera masih tak bersuara. Namun tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.
“Aku ada sesuatu untuk kakak.” Sera menyodorkan amplop coklat yang sudah tidak rapi itu pada sang suami.
“Apa ini, Ra?” Tanya Ravin dengan kening berkerut halus.
“Lihatlah.”
Ravin kemudian mengeluarkan isi di dalam amplop coklat itu dengan penuh rasa penasaran.
Mata pria itu seketika membulat sempurna, setelah melihat foto - foto Rania di gedung apartemennya.
“Apa kakak bisa menjelaskannya padaku? Kenapa wanita itu bisa tinggal di apartemen kakak? Bahkan sejak malam pernikahan kita?”