NovelToon NovelToon
Terjebak Di Sarang Serigala

Terjebak Di Sarang Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:40.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.


yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di pelataran lantai marmer sebuah bangunan bergaya modern. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam yang melelahkan, Nina menatap ke luar jendela. Rumah Faris memang luas dan terkesan mewah untuk ukuran orang awam, tetapi jika dibandingkan dengan mansion megah milik Tuan Muda Ameer, suami Tania yang sering diceritakan sahabatnya lengkap dengan puluhan pelayan berseragam, rumah ini masih kalah jauh.

Belum sempat Nina melangkah turun, pintu utama rumah itu terbuka. Seorang wanita paruh baya berpenampilan modis melangkah keluar dengan senyum yang dipaksakan melebar. Ia mengenakan pakaian bermerek dan perhiasan yang tampak mencolok. Dia adalah selingkuhan ayahnya dulu, yang kini sudah resmi menjadi istri Faris.

"Aduuh, Faris! Ini Nina, ya? Akhirnya sampai juga!" seru wanita itu dengan nada suara yang dibuat sehangat mungkin. Ia mendekati Nina dan langsung memeluknya singkat, sebuah pelukan dingin yang menyebarkan aroma parfum menyengat. "Cantik banget anak kamu... Mulai sekarang panggil Tante Anggun, ya, Nak."

Tak lama kemudian, seorang gadis seumuran Nina menyusul keluar. Penampilannya tak kalah modis, dengan riasan wajah tebal dan pakaian kekinian.

"Hai, Nina! Aku Hazel," ujar gadis itu sambil tersenyum ramah. Namun, tatapan matanya dari atas ke bawah menilai penampilan Nina yang sederhana dengan hijab polosnya. Namun melihat wajahnya yang cantik dan polos,itu sedikit membuat nya iri . Tetapi kalah dengan penampilan, Binar merendahkan itu tak bisa disembunyikan dari balik keramahan buatannya. "Senang akhirnya punya saudari di rumah ini."

"Iya, Tante... hazel..." Nina merespons dengan suara pelan dan agak gemetar. Ia menundukkan kepala, memeluk tas ransel lusuhnya erat-erat, memainkan peran sebagai gadis desa yang canggung dan intimidasi oleh kemewahan kota besar.

"Di mana Hadin, Hazel?" tanya Faris sembari menyerahkan koper Nina pada pelayan.

"Oh, Hadin masih di kamarnya, sedang menyelesaikan tugas akhir. Kan sebentar lagi dia lulus kuliah," jawab Anggun manis, mengelus lengan Faris.

Nina menyimak setiap detail interaksi itu dari balik keheningannya. Dari pandangan mata Anggun yang berkilat penuh perhitungan, hingga senyum tipis Hazel yang menyimpan cemoohan, Nina tahu betul rumah ini bukanlah tempat berlindung. Ini adalah panggung sandiwara, di mana semua orang memakai topengnya masing-masing.

"Ayo masuk, Nina. Tante sudah siapkan kamar untuk kamu di atas," ucap Siska lembut sembari merangkul pundak Nina.

Nina hanya mengangguk patuh, membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam rumah. Di balik topeng kepasrahannya, hati Nina tetap dingin. Ia bersiap menantikan sosok anak tiri laki-laki ayahnya yang belum muncul, sekaligus memasang kewaspadaan penuh untuk menghadapi intrik keluarga baru ini

Mari, Nina, Tante antar kamu ke kamar," ucap Anggun manis, menggandeng tangan Nina dengan kehangatan yang dipaksakan.

Nina mengangguk patuh, melangkah canggung menyusuri koridor lantai dua yang berlantai marmer mengkilap. Anggun menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu jati berukir, lalu membukanya lebar-lebar.

"Nah, ini kamar kamu. Semoga kamu suka, ya," kata Anggun sembari mengelus lembut bahu Nina.

Nina melangkah masuk dan terpana sejenak. Kamar itu sangat luas untuk ukuran satu orang, dilengkapi ranjang berukuran besar, meja belajar elegan, dan balkon yang menghadap ke taman belakang. Dekorasinya terlihat sangat diperhatikan.

"Terima kasih banyak, Tante... Kamarnya bagus sekali," bisik Nina halus, memasang raut wajah polos penuh rasa haru.

"Sama-sama, Nak. Istirahatlah dulu, ya. Kamu baru sampai dari perjalanan jauh,pasti kamu lelah. Kalau butuh apa-apa, panggil saja pelayan," sahut Anggun penuh senyum sebelum melambaikan tangan dan menutup pintu.

Begitu pintu terkunci rapat dan langkah kaki Anggun menghilang di koridor, raut canggung di wajah Nina sirna seketika. Ia meletakkan tas ranselnya di atas meja, lalu berjalan pelan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Matanya yang tajam meneliti sela-sela lemari dan cermin, memastikan tidak ada kamera tersembunyi.

Fasilitas mewah ini terlalu berlebihan untuk seorang anak desa yang baru dijemput setelah belasan tahun dibuang. Nina tahu betul, semakin manis umpan yang diberikan, semakin mematikan perangkap yang sedang disiapkan.

Sementara itu, beberapa pintu dari kamar Nina, suasana jauh dari kata ramah.

Hazel menghempaskan tubuhnya ke sofa kamar dengan wajah dilipat. Matanya menatap sang mama dengan penuh amarah yang meluap-luap.

"Mama ini mikir apa, sih?!" semprot Hazel dengan nada tertahan, takut terdengar ke luar. "Kenapa si anak desa itu malah dikasih kamar kelas atas di lantai dua? Harusnya dia ditaruh di kamar pembantu atau gudang belakang saja! Bikin sebal lihatnya!"

Anggun berjalan mendekati putrinya, lalu duduk di samping Hazel. Wajah manis yang tadi ditunjukkannya pada Nina kini mengeras, berganti menjadi tatapan dingin dan penuh perhitungan. Ia memegang kedua bahu Hazel agar putrinya itu tenang.

"Jaga bicaramu, Hazel. Jangan sampai Papamu dengar," bisik Anggun tegas namun penuh intonasi berbahaya. "Kamu pikir Mama sudi memberikan kamar terbaik itu untuk anak dari mantan istrinya yang miskin itu?"

Hazel mengerutkan dahi, "Terus kenapa dikasih, Ma?"

Anggun tersenyum sinis, mengusap rambut Hazel dengan lembut. "Biarkan dia menikmati fasilitas itu sebentar. Ini cuma permainan sementara, Hazel. Kita harus bikin dia merasa nyaman dan percaya dulu sama keluarga ini, supaya dia gampang diatur. Lagi pula, dia itu cuma barang dagangan yang bakal dijual Papamu untuk menyelamatkan perusahaan. Begitu tugasnya selesai, dia sendiri yang bakal meratap di neraka."

Mendengar penjelasan sang mama, senyum penuh kejahatan perlahan terukir di bibir Hazel. Kebencian di matanya makin menyala, menantikan saat di mana gadis berhijab itu jatuh ke dalam jurang kekejaman yang sudah mereka siapkan bersama Hadin, kakak laki-lakinya yang sebentar lagi lulus kuliah..

_____

Malam harinya, Suasana di meja makan berukuran besar itu tampak begitu megah. Hidangan kelas atas tertata rapi, mengepulkan aroma lezat yang menggugah selera. Di bawah pendar lampu kristal yang hangat, Anggun duduk di samping Faris , memainkan perannya dengan amat sempurna.

"Nina, makan yang banyak ya, Nak," ujar Anggun dengan suara lembut yang mendayu, memindahkan sepotong daging kualitas terbaik ke atas piring Nina. Senyum manis tak lepas dari bibirnya, persis seperti sosok ibu peri yang penuh kasih. "Tante tahu di desa pasti jarang makan hidangan seperti ini. Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri."

Nina menunduk perlahan, memasang raut canggung yang tertahan. "Terima kasih banyak, Tante..." jawabnya pelan, memegang sendoknya dengan jemari yang dibuat sedikit gemetar, sebuah gestur cermat yang makin mengukuhkan citranya sebagai gadis desa yang minder.

Hazel yang duduk di samping Anggun melirik tajam, mendengus kencang tanpa berusaha menutupi rasa muaknya. "Bukan cuma jarang, Ma. Mungkin baru pertama kali lihat makanan kaya gini," sindir Hazel sinis sembari mengaduk sup di mangkuknya. "Awas nanti perutnya kaget, nggak terbiasa sama makanan mahal."

"Hazel, jaga bahasamu," tegur Hadin tegas.

1
@Mita🥰
nah gitu kan enak pembagian harta warisan jadi gak saling menghancurkan
Rita Susanti
wiih keren banget sih thor nina mudah2an bisa menyatukan keluarga
Sri Supriatin
Hatimu sangat mulia Nina 👍👍💪💪
Sukarti Wijaya
tdk bisa berkoment2 thor...🤭👍🙏💪
suti markonah
1 bab lg ya thorr plis🙏🙏🙏🙏🙏
suti markonah: 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 2 replies
suti markonah
part ini bikin aku terhura eh terharu smpe melelehlah air mata ku...
suti markonah
di salur kan ke yayasan bagi anak² yg kurang mampu dan yayasan anak yatim piatu saja nina biar jd berkah
Sri Supriatin
Lanjuuut thor n tjs upnya👍👍😍😍😍
@Mita🥰
udah kakek harta Karun nya di bagi sama rata biar gak ada yang salin menjatuhkan
Cica Aretha
mantaf kakek jalal..makin kepanas aja tuh or2 yg ada d situ..semangaattttt thor💪💪😍😍😍😍
Lovita BM
bagusss,🤣
makasih Thor, wujudkan nya 👍
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: sesuai permintaan 😄
total 1 replies
suti markonah
dosa sebesar apa pun, janji kita mau bertobat dan memperbaiki diri ALLAH pasti mengampuni nya kakek jalal
@Mita🥰
semoga kakek jalal mau bertobat
Cica Aretha
lanjut thor..semangattt💪😍😍
Lovita BM
jgn seret duluu,
biar Miska tampar Liliana 4x bolak balik, enak ajah 🤣😡👊🏼
Yasmin Natasya
lanjut thor...
Cica Aretha
😭😭 d gantung thor😍💪
Sri Supriatin
tks upnya thor dr pagi ta intip baru nongol 🤭 n sehat terus 🙏🙏🙏
Sri Supriatin
bener Jafar, uang dr mana si minah🤭🤭🤭
@Mita🥰
yeeeees .... akhirnya kena kamu Liliana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!