NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Hujan di Verona Heights malam ini membawa aroma tanah basah yang menyengat. Namun bagi Evangeline Cross, aroma itu selalu menyeret ingatan ke satu tempat, sebuah flat sempit di sudut kumuh Distrik St. Jude, tempat di mana masa kecilnya berakhir secara paksa empat belas tahun lalu.

Setelah melompat dari Apex Tower dan menghilang di antara gang-gang sempit kota, Eva tidak langsung kembali ke markas The Crow’s Veil.

Ia berdiri di atas atap bangunan tua yang menghadap ke pemukiman kumuh yang kini telah runtuh dan digantikan oleh pergudangan terbengkalai. Jemarinya meraba kartu undangan berlapis emas milik Blackwood Syndicate yang tersimpan rapat di dalam saku jaket kulitnya.

Pinggiran kartu yang kaku itu seolah mengiris kulit jarinya, memancing ingatan yang selama ini ia kunci di sudut tergelap pikirannya.

Empat belas tahun yang lalu, Evangeline baru berusia sepuluh tahun.

Dunia Eva saat itu tidak luas. Dunianya hanya berukuran empat kali lima meter, sebuah kamar sewaan beratap seng yang bocor setiap kali badai Atlantik menghantam kota.

Dindingnya terbuat dari kayu lapuk yang menghitam oleh kelembapan, dan jendela tunggalnya selalu ditutupi oleh kain seprai lusuh untuk menghalangi pandangan orang luar.

Kematian ayahnya tiga tahun sebelum malam nahas itu adalah awal dari kehancuran mereka.

Ayah Eva hanyalah seorang pekerja pelabuhan biasa yang tewas dalam kecelakaan kerja yang mencurigakan, sebuah kontainer kargo jatuh menimpa tubuhnya, dan pihak pengelola pelabuhan menolak membayar ganti rugi satu sen pun. Sejak hari itu, sisa keluarga dari pihak ayah maupun ibu sepenuhnya membuang mereka.

Keluarga besar Clara Cross, ibu Eva adalah orang-orang terpandang di pinggiran kota yang sangat menjunjung reputasi. Bagi mereka, pernikahan Clara dengan seorang buruh pelabuhan miskin adalah sebuah aib.

Dan ketika pria itu tewas tanpa meninggalkan warisan melainkan tumpukan utang medis, keluarga Cross secara resmi memutus hubungan darah.

"Jangan pernah mengetuk pintu rumah ini lagi, Clara," ucap paman Eva cold malam saat Clara mendatangi rumah keluarga besar untuk meminjam uang berobat Eva yang saat itu demam tinggi. "Kau memilih hidup di selokan bersama pria itu, maka di selokan pulalah tempatmu dan anakmu membusuk."

Eva kecil saat itu bersembunyi di balik rok ibunya, menyaksikan pintu jati yang megah dikunci rapat di depan wajah mereka. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada tangan yang terulur.

Sejak saat itu, Clara Cross berjuang sendirian sebagai single mother.

Setiap pagi, sebelum matahari menyinari langit Verona Heights yang selalu kelabu, Clara sudah bangun. Wanita itu bekerja mencuci pakaian di rumah-rumah elit distrik atas hingga siang hari, lalu melanjutkan sisa harinya dengan memilah sampah daur ulang di tempat pembuangan akhir hingga larut malam.

Tangannya yang dulu halus kini mengeras, penuh dengan luka parut dan kapalan. Kulit jarinya pecah-pecah akibat paparan detergen murah yang tajam. Namun, setiap kali Clara pulang ke flat sempit mereka, wanita itu selalu tersenyum.

"Eva, lihat apa yang Ibu bawa malam ini," bisik Clara lembut pada suatu malam, merogoh kantong apronnya yang basah.

Ia mengeluarkan sebuah roti manis yang agak terhimpit, namun dilapisi gula halus. Itu adalah sisa makanan dari pesta di salah satu rumah majikannya yang berhasil ia sembunyikan.

Eva kecil memandang wajah ibunya. Lingkar hitam tebal menghiasi bawah mata Clara yang cekung. Tubuh wanita itu kian hari kian kurus, seolah angin kencang Verona Heights bisa menghempaskannya kapan saja.

"Ibu sudah makan?" tanya Eva polos, membagi roti itu menjadi dua bagian dengan tangannya yang kecil.

Clara tertawa pelan, suara tawa yang sangat disukai Eva karena terdengar seperti denting lonceng kecil. Clara mengusap puncak kepala Eva, mengabaikan fakta bahwa perutnya sendiri sudah berbunyi nyaring sejak sore. "Ibu sudah kenyang di tempat kerja tadi, Sayang. Makanlah. Kau harus tumbuh tinggi dan kuat."

Eva tahu ibunya berbohong. Tetapi ia memakan roti itu dengan tetesan air mata yang mengalir diam-diam di pipinya. Malam itu, Eva bersumpah dalam hati kecilnya, suatu hari nanti, ketika ia sudah dewasa, ia akan bekerja sangat keras untuk membelikan ibunya sebuah rumah besar yang tidak bocor, dengan tempat tidur yang empuk dan makanan lezat setiap hari.

Namun, takdir di dunia bawah Verona Heights tidak pernah murah hati kepada mereka yang lemah.

Tekanan tidak hanya datang dari kelaparan. Pemeras jalanan dan lintah darat lokal yang menguasai St. Jude kerap mengetuk pintu mereka dengan kasar.

Mereka menuntut uang sewa yang dinaikkan secara sepihak atau bunga utang mendiang ayah Eva yang terus membengkak tanpa masuk akal.

Eva ingat betapa seringnya ia gemetar di bawah kolong tempat tidur kayu mereka, memeluk boneka kain kusamnya, sementara di luar pintu, pria-pria beraroma alkohol dan tembakau berteriak menyumpahi ibunya.

"Bayar minggu depan, atau kami akan menjual anakmu ke rumah hiburan di Pelabuhan Timur!" gertak salah satu penagih utang bertubuh besar suatu malam, menendang pintu kayu mereka hingga engselnya retak.

Clara tidak berteriak. Ia berdiri membusungkan dada di depan pintu yang rusak, menggenggam sebuah pisau dapur tumpul dengan tangan yang gemetar hebat.

"Melangkah satu senti lagi mendekati anakku, dan aku pastikan arteri lehermu robek sebelum kau sempat menyentuhku!" ancam Clara dengan suara yang bergetar namun sarat akan tekad seorang ibu yang melindungi anaknya.

Matanya yang biasanya lembut berubah menjadi begitu tajam dan berbahaya. Keberanian nekat dari seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan itulah yang berhasil membuat para preman itu mundur malam itu, meski mereka pergi dengan ancaman akan kembali.

Itulah pelajaran pertama yang diserap Eva dari ibunya. Di kota ini, jika kau tidak menunjukkan gigi, mereka akan mengunyahmu hidup-hidup.

Tetapi kemelaratan dan penindasan lintah darat ternyata hanyalah permukaan dari takdir kelam yang mengintai mereka.

Ada rahasia yang disimpan Clara rapat-rapat. Sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada Eva kecil.

Pada malam-malam tertentu, ketika Eva berpura-pura tidur, ia sering melihat ibunya duduk di bawah penerangan lilin yang remang-remang. Clara akan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam dari balik celah kasur mereka.

Dengan teliti, Clara menuliskan angka-angka, nama-nama rute kapal kargo, dan tanggal pencucian uang yang tak sengaja ia dengar saat membersihkan ruangan di rumah-rumah elit.

Clara tidak sekadar bekerja sebagai pembersih. Demi mengumpulkan uang untuk melarikan diri dari kota itu bersama Eva, Clara menjual informasi-informasi kecil yang ia dapatkan dari rumah para pejabat korup kepada informan jalanan.

Wanita itu bermain api di tengah kegelapan dunia bawah, tanpa menyadari bahwa salah satu informasi yang ia pegang menyenggol sosok iblis yang sangat mematikan.

Malam terkutuk itu tiba ketika Eva berusia sepuluh tahun dua bulan.

Malam itu, hujan turun sangat deras, memukul-mukul seng atap rumah mereka dengan ketukan yang memekakkan telinga. Listrik di Distrik St. Jude padam total sejak petang.

Clara baru saja menyalakan sebatang lilin di atas meja kayu ketika pintu depan mereka yang retak tidak diketuk, melainkan dihancurkan dari luar.

Brak!

Engsel pintu terlepas, menghantam lantai dengan suara keras. Hawa dingin malam dan aroma hujan bercampur darah mendadak memenuhi ruangan sempit itu.

Eva kecil yang sedang menggambar di meja terlonjak kaget. Clara dengan cepat menarik Eva ke belakang tubuhnya, mendorong putri kecilnya itu masuk ke dalam lemari pakaian kayu tua yang terletak di sudut ruangan.

"Eva, tetap di dalam. Jangan bersuara. Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar!" bisik Clara gemetar hebat. Matanya memancarkan ketakutan luar biasa yang belum pernah Eva lihat sebelumnya.

"Ibu-"

Cklek.

Clara menutup pintu lemari rapat-rapat, menyisakan sedikit celah tipis di antara ukiran kayu yang rusak.

Dari celah sempit itulah, dunia Eva hancur menjadi kepingan tak berbentuk.

Seorang pria tinggi besar melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna hitam berkerah tinggi.

Wajah bagian atasnya tertutup oleh bayangan tudung dan kegelapan, tetapi bagian bawah wajahnya memperlihatkan rahang tegas dengan bekas luka jahitan kecil di sudut bibirnya.

Pria itu bergerak tanpa suara. Langkah kakinya begitu tenang, seolah ia tidak sedang memasuki gubuk kumuh, melainkan berjalan di atas karpet istana.

"Kau menyimpan sesuatu yang bukan milikmu, Clara," suara pria itu terdengar berat, dalam, dan tanpa emosi. Sebuah suara yang mengandung kebencian maupun kemarahan.

Clara mundur hingga punggungnya menempel pada pintu lemari tempat Eva bersembunyi. Eva bisa merasakan getaran punggung ibunya yang menembus kayu tipis lemari.

"Aku... aku tidak tahu apa yang kau maksud!" jawab Clara, suaranya tercekat. "Tolong, aku tidak punya uang. Kami tidak punya apa-apa lagi!"

Pria itu menghela napas pelan. Ia mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam.

Dari balik mantelnya, ia menarik sebuah belati.

Bilah baja belati itu memantulkan cahaya lilin yang temaram. Dan di pangkal gumpalan pegangannya, terukir dengan sangat jelas sebuah lambang berbingkai emas, seekor ular yang melilit batang mawar berdurai.

Serpent-Rose.

"Logbook kargo Pelabuhan 4. Kau melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat," kata pria itu datar. "Pergerakan kami butuh kerahasiaan. Dan orang kecil seperti dirimu selalu menjadi celah yang berbahaya."

"Tolong! Jangan! Anakku-"

Clara bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Pria itu melangkah maju dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi tubuh besarnya. Gerakannya cepat dan mematikan. Kilatan logam melintasi udara malam.

Eva menyumbat mulutnya sendiri dengan kedua tangan kecilnya hingga giginya mengiris kulit jarinya. Matanya melotot selebar-lebarnya dari balik celah lemari.

Ia melihat darah ibunya menyembur keluar, membasahi kain seprai putih yang menggantung di dekat jendela. Ia melihat ibunya terkulai, matanya yang biasa menatap Eva dengan penuh kehangatan kini meredup perlahan saat tubuhnya roboh menghantam lantai kayu.

Pria bermantel itu tidak terburu-buru. Ia berlutut di samping tubuh Clara yang tak bernyawa, merogoh bagian bawah kasur, dan mengambil buku catatan kecil bersampul kulit hitam milik Clara.

Saat berdiri kembali, pria itu secara tidak sengaja menjatuhkan belati berukir Serpent-Rose itu ke lantai. Logam beradu dengan kayu menimbulkan suara yang nyaring.

Pria itu mendengar suara sirine polisi di kejauhan, mungkin tetangga akhirnya memanggil bantuan karena mendengar pintu yang hancur.

Tanpa repot-repot mengambil kembali senjatanya yang tertinggal, pria itu berbalik dan melangkah keluar menghilang ke dalam badai hujan.

Kening Eva menempel pada pintu lemari yang dingin. Tangisannya tidak bersuara, hanya napasnya yang sesak dan tubuhnya yang gemetar hebat.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti ribuan tahun, ketika hanya ada suara rintik hujan dan detak jarum jam dinding yang tua, Eva mendorong pintu lemari.

Ia keluar dengan kaki gemetar. Kaki kecilnya yang tidak bertelanjang melangkah mendekati genangan darah yang makin meluas di lantai kayu.

"Ibu...?" bisik Eva. Suaranya pecah.

Ia berlutut di samping Clara, menggoyang-goyangkan bahu wanita itu. Tetapi tubuh ibunya sudah dingin. Mata hazel Clara menatap kosong ke arah langit-langit yang bocor. Air hujan menetes tepat di atas pipi Clara, menyatu dengan darah segar yang mengering.

Dunia Eva telah mati.

Di samping jemari ibunya yang kaku, tergeletak belati berukir ular dan mawar itu. Eva kecil merangkak mendekat. Tangannya yang mungil, yang kini bernoda darah ibunya, terulur meraih gagang belati tersebut.

Ia menggenggamnya erat-erat. Ukiran mawar berdurai itu mengiris telapak tangannya sendiri, tetapi Eva tidak merasakan sakit.

Matanya yang dulu polos kini mengunci lambang Serpent-Rose itu dengan dendam yang murni, membakar, dan abadi. Setiap lengkungan ular, setiap kelopak mawar berdarah itu terpatri selamanya di dalam jiwanya.

Malam itu, di atas lantai kayu yang basah oleh darah Clara Cross, seorang anak kecil bernama Evangeline mati dan The Ghost Rose lahir dari ketidakadilan.

Eva mengedipkan matanya, menarik napas dalam-dalam saat kesadarannya kembali ke masa kini di atas atap salah satu bangunan di Verona Heights.

Angin malam menebarkan bau hujan yang sama. Eva menurunkan tangannya dari saku jas kulitnya, melepaskan cengkeramannya pada kartu undangan Blackwood.

"Empat belas tahun, Ibu," bisik Eva pada kegelapan malam, matanya memancarkan kilatan pembunuh yang sangat dingin. "Aku sudah menemukan mereka."

Kini, Eva bukan lagi anak kecil yang bersembunyi di dalam lemari kayu. Ia adalah pedang yang siap menuntut balas atas setiap tetes darah yang terbuang di lantai kumuh St. Jude.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!