NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Pancuran air dingin di atas kepala mengucur deras tanpa ampun, menghantam tubuh tegap Arthur yang berdiri kaku di bawah guyurannya. Uap dingin merebak di dalam kamar mandi berlantai marmer hitam itu, perlahan mengikis kehangatan fajar yang mulai menyusup tipis dari celah ventilasi.

Rambut basahnya menempel berantakan di dahi, sementara bulir-bulir air meluncur turun melintasi alur ketegangan otot dada, perut yang mengeras, hingga paha kokohnya.

Arthur menumpukan kedua telapak tangannya ke dinding keramik yang membeku. Ia menundukkan kepala seraya menghembuskan napas berat yang berembus bagai kabut tipis.

Pikirannya benar-benar kacau, dihantam oleh pusaran rasa sakit yang menghimpit dada. Di dalam heningnya ruangan, detak jantungnya sendiri bergemuruh hebat—suara getaran yang terlampau nyaring, berpacu dengan reaksi biologis tubuhnya yang liar pasca-pemandangan di kamar bayi tadi.

Secara impulsif, jemarinya yang gemetar sempat bergerak turun, terdorong oleh puncaknya gairah dan rasa haus akan sentuhan yang sudah lima tahun mengering. Ia ingin memuaskan dirinya sendiri di bawah guyuran air dingin ini. Namun, gerakan tangan Arthur mendadak terhenti di udara.

Ia memejamkan mata erat-erat, merutuki kelemahan jiwanya dengan kepahitan mendalam. Tidak. Ia tidak akan pernah merendahkan dirinya hingga sejauh itu hanya karena terbayang-bayang oleh wanita yang telah mencampakkannya tanpa sepatah kata pun.

Wanita jahat itu... desis Arthur di balik giginya yang mengatup rapat, menyisakan kepahitan melankolis yang meremukkan dada.

Perasaan tidak terima kembali membakar seluruh aliran darahnya. Snow telah menjadi milik orang lain. Tubuh yang dulu selalu hanya menjadi hak miliknya—kulit seputih susu yang biasa ia beri jejak ruam merah dan tanda keintiman dengan bibirnya—kini telah disentuh, diraih, dan dipeluk oleh pria lain. Wanita itu bahkan telah melahirkan anak dari laki-laki yang sama sekali tak Arthur kenal.

Arthur memukul dinding keramik di hadapannya hingga buku-buku jarinya memerah. Ia benar-benar tidak sanggup—dan tak akan pernah berani—membayangkan bagaimana jemari pria asing pernah menjelajahi lekuk tubuh yang amat ia puja dan agungkan itu.

Di bawah guyuran air yang menusuk hingga ke tulang, kesadaran Arthur mendadak ditarik mundur oleh pusaran memori yang menyiksa. Kilasan kenangan enam tahun lalu merebak hebat, membawa suasananya kembali pada masa-masa paling berharga sekaligus paling tragis dalam hidupnya.

Saat itu, usia Arthur baru dua puluh tujuh tahun. Sebagai seorang pangeran dan calon penguasa yang selalu terikat oleh rantai protokol serta ekspektasi istana yang mencekik, berburu sendirian di hutan lindung kawasan Hampshire adalah satu-satunya pelarian murni baginya.

Hari itu, takdir membawanya melangkah terlalu jauh memasuki area hutan yang lebat. Pohon-pohon oak tua yang tinggi menjulang saling bertaut rapat, menutupi pendar sinar matahari dan membuatnya kehilangan arah.

Di tengah langkahnya yang kebingungan mencari jalan keluar, detak jantung Arthur mendadak berdegup kencang saat telinganya menangkap suara teriakan halus dari balik semak belukar.

"Pergi dari sini! Jangan mendekat!"

Arthur yang bingung langsung menerobos rimbunnya semak-semak, menduga ada seseorang yang terdesak oleh ancaman binatang buas. Hutan itu memang dikenal sebagai kawasan pribadi milik seorang bangsawan kaya, meski Arthur tidak pernah memedulikan siapa pemilik pastinya.

Namun, bukannya menemukan bahaya, pandangan Arthur justru terkunci pada sosok seorang gadis muda yang berdiri di sebuah kliring kecil. Gadis itu tampak sangat bersih, memancarkan kepolosan yang asing. Pakaian gaun linen berwarna gading yang dikenakannya tidak tersentuh kotoran sedikit pun, dan sepatu kulitnya masih terawat rapi tanpa noda lumpur. Wajahnya halus seputih salju, dihiasi sepasang mata bening yang menatap lurus ke arahnya dengan kilatan yang membingungkan.

"Kau butuh bantuan?" tanya Arthur heran. Sorot matanya menyapu menyeluruh pada gadis yang sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang tersesat atau terancam.

Gadis itu menatap Arthur dengan dahi berkerut halus. Pandangan mata mereka saling mengunci untuk pertama kalinya.

"Kau... bisa melihatku?" tanya gadis itu, suaranya mengalun seperti bisikan angin di antara dedaunan.

Arthur tertawa tipis, menggelengkan kepalanya seraya melangkah mendekat. "Hah? Kau Bukan Hantu, Tentu saja aku bisa melihatmu. Kau berdiri tegak di depanku."

Gadis itu terdiam sejenak, tatapannya menyusuri figur Arthur sebelum ia berucap dengan raut polos yang menggemaskan, "Bagaimana mungkin kau bisa sampai ke sini? Apa kau tidak takut pada hantu?"

Mendengar pertanyaan konyol itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arthur yang terkenal dingin, kaku, dan berjarak dari wanita, justru melontarkan kata-kata godaan murahan yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari bibirnya sendiri.

"Hantu secantik dirimu? Bagaimana mungkin aku bisa takut?" goda Arthur dengan senyum tipis yang membiaskan ketertarikan spontan. "Aku justru ingin tersesat di sini selamanya tanpa perlu keluar, kalau hantunya secantik kau."

Gadis itu sempat tertegun, melukiskan rona tipis di pipinya sebelum akhirnya berbalik dan memandunya menuju jalan setapak yang aman. Ia mengantar Arthur hingga ke perbatasan hutan, lalu tanpa sepatah kata pun, berbalik dan kembali menghilang di balik kerimbunan vegetasi.

Arthur, yang pada dasarnya tak percaya pada hal-hal gaib, sempat merasakan bulu kuduknya merinding saat berjalan pulang. Namun bukannya takut, rasa penasaran yang teramat sangat justru membuatnya ketagihan.

Selama satu bulan penuh setelah hari itu, Arthur hampir setiap hari kembali melintasi hutan Hampshire, hanya untuk mencari-cari keberadaan sosok gadis misterius tersebut.

Hingga pada suatu sore, ketika Arthur hampir pasrah dan yakin bahwa kejadian hari itu hanyalah ilusi atas kelelahan pikirannya, gadis itu tiba-tiba muncul dari balik batang pohon oak tua.

"Kenapa kau selalu kemari?" tanya gadis itu tenang. Matanya menatap Arthur lekat. "Selama satu bulan ini aku memperhatikanmu dari jauh."

Arthur tersenyum lebar, dadanya bergemuruh oleh rasa lega dan hangat yang belum pernah ia rasakan. "Namaku Arthur... Siapa namamu? Kenapa kau bisa menghafal hampir seluruh penjuru hutan ini? Dan kenapa aku tidak pernah melihat keberadaanmu selama sebulan ini?"

Gadis itu menatap ke dalam manik mata Arthur sebelum menjawab halus, "Aku tinggal di balik hutan ini, Arthur. Aku menghabiskan seluruh hidupku di sini."

"Sendiri?" tanya Arthur tak percaya.

Gadis itu mengangguk pelan, lalu miringkan kepalanya sedikit. "Mau berkunjung ke rumahku?"

BYURRR!

Sensasi kenangan dalam benak Arthur terputus seketika saat jemarinya memutar keran, mematikan kucuran shower. Air yang membalur tubuhnya berhenti mengalir, menyisakan keheningan kamar mandi yang dihiasi napas Arthur yang berat, memburu, dan terengah-engah.

Ia mengambil handuk putih tebal, mengeringkan rambut dan tubuh tegapnya seraya melangkah keluar menuju ruang ganti. Namun, bayangan masa lalu yang melankolis itu masih enggan pergi, terus menghimpit jiwanya dengan kepingan-kepingan memori jujur yang menyiksa.

“Aku akan pelan-pelan...”

Suara Arthur sendiri di masa lalu bergema nyaring di dalam kepalanya.

“Umurku baru dua puluh satu tahun,”

Sahut suara halus gadis itu saat itu, berbisik di antara napas mereka yang saling memburu.

Arthur tersenyum pahit menatap pantulan dirinya di dalam cermin berbingkai emas.

Dulu, bersama gadis tanpa nama itu, Arthur merasakan arti kebebasan murni yang tidak pernah ia dapatkan di dalam tembok Istana Blackwood yang dingin. Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, Arthur hampir setiap hari mendatangi rumah kayu berarsitektur Victoria di tengah hutan. Bukan lagi untuk berburu, melainkan untuk menemui gadis yang berhasil mencuri seluruh jiwa dan perhatiannya.

Di sana, Arthur melepas seluruh atribut kepangeranannya. Terpancing oleh gairah muda, cerita-cerita liar teman-temannya di militer, dan rasa penasaran yang mendalam, Arthur mulai mencoba hal-hal baru bersama gadis itu.

Dan yang mengejutkan, gadis itu bukanlah sosok yang lugu atau menolak. Ketika Arthur memberanikan diri untuk mengajak berpacaran, gadis itu dengan tatapan jernih justru menawarkan dirinya untuk bercinta.

Konyol, namun dari sanalah hubungan rahasia mereka bermula. Bercinta di alam liar, di bawah naungan pohon-pohon tua, dan di dalam kamar beraroma mahoni tanpa ada seorang pun yang tahu. Di sana, ia bukanlah Pangeran Benedictus Arthur Blackwood, dan gadis itu adalah sosok yang pasrah serta penuh gairah di bawah kuncian tubuhnya.

Seiring berjalannya waktu, Arthur mulai menyimpulkan bahwa gadis itu adalah seorang bangsawan yang disembunyikan atau diasingkan oleh keluarganya. Rumah tua di tengah hutan itu memang terisolasi dari luar, namun fasilitas dan perlengkapan di dalamnya sangat lengkap, mahal, dan mewah, tanpa kekurangan satu apa pun.

Setiap kali usai bercinta, saat mereka berbaring bertaut di bawah selimut dengan dada yang masih naik-turun, Arthur selalu memeluknya erat dan bertanya dari keluarga mana gadis itu berasal, serta mengapa keluarganya membuangnya di tempat terpencil seperti ini.

Namun gadis itu selalu menjawab dengan nada tenang yang melindunginya, "Aku tidak dibuang, Arthur. Ini demi kebaikan semua orang. Aku disembunyikan karena sangat berbahaya jika aku berada di luar sana."

Arthur selalu terkagum-kagum pada cara berpikir kekasihnya yang selalu positif, meski logika Arthur yang rasional mengatakan hal sebaliknya. Orang Tua mana yang tega membiarkan putri mereka tinggal sendirian di tengah hutan, hanya dikunjungi oleh seorang pelayan satu bulan sekali yang membawa pasokan belanjaan melimpah?

Hari demi hari berlalu, Arthur terus mendatangi rumah itu, membawakan makanan ringan, perhatian, dan kasih sayang, hingga hubungan mereka berjalan selama satu tahun tiga bulan sepuluh hari. Namun hingga hari terakhir sebelum gadis itu lenyap dari muka bumi, nama aslinya tak pernah sekali pun terucap.

Prang!

Suara benturan keras dari kamar sebelah mendadak menghancurkan kepingan memori masa lalu Arthur, memaksanya kembali menghantam realitas yang membakar.

Suara jeritan dan bentakan histeris milik Savea bergema menembus dinding penghubung kamar mereka. Istrinya itu kembali meluapkan kemarahan pada para pelayan, memecahkan barang-barang di pagi buta.

"Savea..." gumam Arthur dingin, mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga urat lehernya menegang.

Arthur benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Wanita yang dulu ia kenal lembut kini telah berubah menjadi sosok yang penuh manipulasi, kebohongan, dan histeria yang tak terkontrol. Rasa muak menyeruak hebat di dada Arthur.

Dengan handuk yang melilit pinggangnya, Arthur melangkah lebar menuju pintu penghubung, bersiap menghentikan drama gila yang diciptakan oleh istrinya sendiri di pagi hari yang dingin ini.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!