NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:765
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.

Di kediaman Vuitton, Smith langsung bersiap pergi ke apartemen untuk menjemput anaknya, sekaligus bertemu dengan Tian, teman masa kecilnya.

"Mau ke mana, Smith? Ini masih terlalu pagi," ucap Dian, mama Smith.

"Mau jemput Rendra, Ma," jawab Smith.

Dian dan Josep sudah tahu kalau Rendra sedang bersama Tian, tetangga mereka beberapa tahun lalu sebelum mereka pindah ke luar negeri.

"Iya, sekalian bawa Tian ke sini. Sudah lama Mama tidak bertemu dengannya. Sudah berapa tahun ya, Pa?" tanya Dian kepada Josep.

"15 tahun, Ma," ucap Josep.

"Iya," sahut Dian.

"Itu pun kalau Tian mau, Ma," ucap Smith.

Sementara itu, di apartemen Tian, Rendra sedang sarapan bersama ketiga pemuda di sana.

"Setelah makan, Kakak antarkan kamu pulang, ya?" Rendra mengangguk mendengar ucapan Tian.

"Tapi Kak Tian ikut, ya? Rendra mau pulang kalau Kakak ikut," ucap Rendra dengan penuh harapan.

"Maaf, Kakak tidak bisa. Hari ini Kakak harus membuka kafe. Lain kali saja, ya," jawab Tian. Rendra langsung menunduk lesu.

"Yah, anaknya jadi sedih tuh, Kak," goda Brian.

"Haa... Baiklah, Kakak ikut," pasrah Tian.

Rendra langsung tersenyum senang dan memeluk pinggang Tian. "Yeeay, terima kasih, Kak!" ucap Rendra dengan senyuman manis.

"Habiskan makanannya, nanti Kakak antar pulang," ucap Tian.

"Oke!"

Ting-tong! Suara bel apartemen terdengar.

"Siapa, sih, pagi-pagi bertamu? Mengganggu orang sedang sarapan saja," gerutu Elvian.

"Siapa lagi kalau bukan Marlo and the gang," sahut Brian.

Ting-tong!

"Iya, sebentar!"

Revangga membuka pintu dan melihat seorang pria tampan berdiri di hadapannya.

"Cari siapa, ya?" tanya Revangga.

"Rendra," jawab Smith singkat.

"Rendra? Oh, anak kecil itu... Kamu ayahnya?" Smith mengangguk.

"Silakan masuk, Tuan. Rendra ada di dalam sedang sarapan."

Smith masuk dan melihat ke sekeliling apartemen yang cukup luas, meski tidak seluas apartemen miliknya.

"Daddy...!"

Bruk!

"Rendra." Smith langsung menggendong Rendra.

"Daddy kok tahu aku di sini?" tanya Rendra heran.

"Rahasia, dong," ucap Smith menggoda.

"Selalu seperti itu," gerutu Rendra sambil memanyunkan bibirnya.

Smith mengedarkan pandangan dan melihat empat pemuda di sana. Salah satunya sangat Smith kenali. Walau sudah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah manis itu tidak pernah berubah. Smith pun menghampiri Tian.

"Tian, bagaimana kabarmu?" ucap Smith.

Aku baik. Kamu sendiri?" tanya Tian.

"Kak Tian dan orang itu sepertinya saling kenal, ya?" bisik Revangga.

"Mereka sudah kenal lama, sejak kecil kalau tidak salah," jawab Elvian pelan.

"Sejak kecil? Kenapa baru bertemu sekarang?" tanya Revangga lagi.

"Karena dulu kata Kak Tian, Tuan Smith pindah ke luar negeri bersama keluarganya. Makanya mereka baru bertemu lagi sekarang," jelas Elvian.

Revangga mengangguk mengerti.

"Bisa bicara sebentar?" tanya Smith kepada Tian. Tian mengangguk.

"Rendra sama ketiga kakak ini dulu, ya. Daddy mau bicara sebentar dengan Kak Tian," ucap Smith.

"Iya, Dad."

"Ayo kita keluar beli es krim!" ajak Elvian.

"Ayooo!" seru Rendra gembira.

"Tuan Smith, saya bawa Rendra keluar sebentar, ya," pamit Elvian. Smith mengangguk.

Kini, tinggallah Smith dan Tian berdua di dalam apartemen.

Grep!

Tanpa aba-aba, Smith langsung memeluk Tian dengan sangat erat, membuat Tian terkejut.

"Smith..."

"Biarkan seperti ini sebentar, Tian." Tian akhirnya membalas pelukan hangat itu karena ia juga sangat merindukan teman masa kecilnya ini.

Setelah beberapa menit, Smith melepaskan pelukannya dan menatap Tian dengan tatapan kerinduan yang mendalam.

"Aku sangat merindukanmu, Tian," ucap Smith.

"Aku juga," jawab Tian lirih.

"Aku ingin meminta maaf kepadamu, Tian." Tian mengangkat alisnya, bingung dengan permintaan maaf Smith yang tiba-tiba.

"Untuk apa kamu meminta maaf kepadaku, Smith?" tanya Tian.

"Aku minta maaf... Seandainya waktu itu aku membawamu pergi jauh dari keluargamu, mungkin kita tidak akan..."

Tian segera menutup mulut Smith dengan jemarinya.

"Ini bukan salahmu. Ini sudah takdirku. Aku sudah melupakan semuanya dan sekarang aku baik-baik saja," ucap Tian menenangkan.

"Kamu masih bertemu dengan keluargamu?" tanya Smith hati-hati.

Tian menggeleng. "Tidak. Sejak aku pergi dari sana, aku tidak pernah dan tidak akan pernah mau pulang ke rumah yang seperti neraka itu."

"Aku tahu. Dan sekarang... apa kamu sudah menikah lagi?"

Tian kembali menggeleng. "Tidak, aku belum terpikir untuk menikah lagi. Apalagi..." Tian mengelus perutnya yang rata. "Gara-gara mereka, anakku tiada di dalam perutku," ucap Tian dengan mata berkaca-kaca. Tak lama, setetes air mata mengalir di pipinya.

Smith menghapus air mata itu dengan lembut menggunakan tangannya.

"Jangan menangis. Aku tahu kamu masih sedih karena kehilangan anakmu, tapi kamu harus kuat. Apa perlu aku bantu menghancurkan keluargamu itu?" tawar Smith.

"Aku berharap mereka hancur, bahkan lebih hancur dariku, Smith. Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Tian dengan tatapan penuh harap sekaligus amarah terpendam.

"Aku bisa melakukannya. Bahkan, aku akan membuat mereka bangkrut sampai tidak tersisa jika perlu," ucap Smith tegas.

Di dalam ruang tengah apartemen yang hening, suasana hangat reuni masa kecil seketika berubah menjadi dingin dan penuh ketegangan. Tatapan mata Smith mengunci manik mata Tian yang masih digenangi sisa air mata.

"Katakan padaku, Tian. Siapa saja yang paling bertanggung jawab atas penderitaanmu?" tanya Smith, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang mengintimidasi.

Tian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi yang bergemuruh di dadanya. Tangan yang tadi mengelus perutnya kini mengepal erat.

"seluruh keluargaku , Mereka yang menjebak ku, mereka merebut seluruh aset peninggalan kakekku , bahkan menyiksaku sampai aku kehilangan bayiku," ucap Tian dengan suara bergetar menahan amarah. "Sekarang mereka memimpin Wijaya Group menggunakan harta kakekku."ucap tian dengan perasaan marah

Sebenarnya, seluruh harta perusahaan itu atas nama aku. Tapi mereka dengan rakus dan tamak mengambil semuanya, bahkan memaksa aku untuk menikah dengan orang yang tidak pernah aku cintai.

"Padahal, mereka tahu kalau Robby itu suka main perempuan dan uke-uke manis. Tapi mereka tetap memaksaku menikah dengannya. Setelah sebulan menikah, aku hamil. Robby tidak pernah menginginkan anak ini. Selama ini dia menyiksaku, hingga aku keguguran karena kekerasan yang dilakukannya.

Saat aku ingin meminta cerai, keluargaku malah melarangnya. Akhirnya aku kabur dari sana. Sampai sekarang aku sangat marah dan membenci mereka semua. Aku ingin mereka hancur, bahkan lebih hancur dariku!"

Tian menatap Smith.

"Kamu mau, kan, tolong aku untuk mengambil kembali perusahaan dan seluruh harta kakekku?" ucap Tian dengan penuh harap.

"Saya akan bantu," ucap Smith.

"Terima kasih," ucap Tian.

Smith memegang pipi Tian dan mengelusnya lembut. "Apapun untuk kamu."

" (apapun untuk orang yang saya cintai)"ucap dalam hati Smith

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!