Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pintu smart lock apartemen berbunyi bip dua kali sebelum terbuka lebar, menyambut Barra dan Farra di tempat tinggal baru mereka. Apartemen bergaya modern minimalis yang terletak di lantai dua puluh itu terasa begitu hangat dengan nuansa kayu dan pencahayaan yang lembut. Sebuah hadiah pernikahan lainnya dari kedua orang tua mereka—ruang privat yang siap menjadi saksi perjuangan dua murid SMK Kesehatan Hewan ini.
Farra melangkah masuk, membiarkan kakinya disambut karpet empuk di ruang tengah. "Wah... apartemennya luas banget, Barra. View dari balkonnya juga langsung ke arah taman."
Barra meletakkan dua koper besar mereka di samping lemari pakaian utama, lalu menyusul Farra ke area dapur bersih. "Suka?" tanya Barra sembari merangkul pinggang Farra dari belakang dan menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Suka banget," balas Farra sembari tertawa pelan, merasakan geli akibat rambut Barra yang menusuk pipinya. "Tapi sekarang melepaskan dulu rangkulannya, Suami. Aku mau cek kulkas, kita butuh bahan makanan buat makan malam."
Sore itu diisi dengan keceriaan sederhana yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kulkas ternyata sudah terisi penuh dengan bahan makanan segar kiriman dari mama mereka. Farra yang terbiasa mandiri langsung cekatan mengenakan celemek, bersiap memasak menu simpel namun menggugah selera: tumis daging sapi lada hitam dan sup sayur hangat.
Barra yang awalnya bermaksud membantu justru lebih banyak mengganggu. Cowok yang biasanya tampil dingin dan berwibawa di sekolah itu kini bertingkah manja—sesekali mencuri cium di pipi Farra saat Farra sedang memotong sayur, atau sengaja memeluk dari belakang hingga Farra harus menepuk pelan tangan suaminya dengan sendok kayu.
"Barra, nanti garamnya ketumpah kalau kamu jahil terus!" protes Farra dengan wajah merona merah.
"Habisnya kamu lucu kalau lagi serius masak," goda Barra renyah, meski akhirnya ia menurut dan membantu menata piring di atas meja makan.
Makan malam pertama di rumah baru mereka berlangsung hangat dan dipenuhi senda gurau. Barra melahap masakan Farra dengan lahap, tak henti-hentinya memberi pujian yang membuat senyum Farra terkembang sepanjang malam. Usai mencuci piring bersama, fokus mereka kembali berganti.
Di meja belajar panjang yang menghadap ke jendela kota, tumpukan buku tebal farmakologi, kisi-kisi simulasi Ujian Nasional, serta seragam SMK Kesehatan Hewan yang sudah disetrika rapi terpajang siap di gantungannya. Farra menyiapkan dua pasang seragam, menyematkan bed nama dan pin sekolah mereka, memastikan besok pagi tidak ada atribut yang tertinggal saat mereka harus berakting menjadi dua siswa yang "tak saling kenal dekat".
Malam makin larut saat mereka duduk berdampingan di meja belajar. Di bawah pendar lampu baca, Barra telaten menjelaskan rumus perhitungan dosis obat ternak besar yang rumit, sementara Farra membantu Barra menghafal istilah-istilah patologi anatomi. Senda gurau sesekali menyelinap di antara lembaran kertas soal, diselingi bisikan manis dan usapan lembut di tangan.
Rasa kantuk akhirnya tak mampu dibendung lagi. Sekitar pukul satu dini hari, Farra menguap lebar dengan kepala menempel di atas modulnya. Melihat itu, Barra tersenyum lembut. Ia membereskan buku-buku mereka, lalu menggendong Farra secara perlahan menuju ranjang di kamar utama.
Di atas kasur empuk beraroma vanila yang menenangkan, Barra menarik selimut tebal untuk melingkupi tubuh mereka berdua. Farra langsung mengikis jarak, menyandarkan kepalanya di dada bidang Barra dan memeluk pinggang suaminya erat-erat. Barra melingkarkan armnya, membelai pelan rambut Farra dan mengecup keningnya lama.
"Selamat tidur, Farra," bisik Barra lembut.
"Selamat tidur, Barra... besok jangan lupa dibangunin jam lima," cicit Farra pelan dengan suara yang makin menghilang.
Dalam dekapan hangat dan detak jantung yang saling bersautan, kedua remaja yang kini telah terikat janji suci itu tertidur lelap, siap menyambut esok hari dengan peran rahasia mereka di sekolah.