“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Haikal perlahan membuka mata.
Pandangan pria itu masih buram. Langit-langit putih menjadi hal pertama yang dilihatnya. Aroma obat-obatan menusuk hidung. Suara mesin terdengar teratur dari samping tempat tidur.
Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi tubuhnya terasa begitu lemah.
"Di mana aku?"
Suara itu membuat seseorang yang duduk di samping ranjang tersentak.
Intan segera berdiri. Matanya sembap. Air mata masih mengalir di kedua pipinya.
"Kamu sudah sadar."
Haikal mengernyit. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Aku... kenapa ada di sini?"
"Rumah sakit."
"Rumah sakit?" Haikal menatap sekeliling. "Kenapa aku dibawa ke rumah sakit?"
Intan mengusap air matanya.
"Kau pingsan."
"Pingsan?"
Intan mengangguk.
"Kau tiba-tiba jatuh. Orang-orang membawamu ke sini."
Haikal menelan ludah. Dadanya terasa berat. Ia bahkan merasa bernapas lebih sulit daripada biasanya.
"Apa kata dokter?"
Intan terdiam beberapa saat.
"Kata dokter... ada masalah dengan paru-parumu."
Haikal langsung menatapnya.
"Masalah?"
Ia mencoba duduk, tetapi rasa sakit membuatnya kembali bersandar.
"Maksudmu penyakit?"
Intan mengangguk pelan.
"Penyakit."
"Penyakit apa?"
Intan tidak segera menjawab.
Haikal mulai merasa tidak nyaman.
"Intan, jawab!"
Air mata Intan kembali jatuh.
"Kanker."
Seolah dunia Haikal berhenti berputar.
"Apa?"
"Kau terkena kanker."
"Tidak mungkin."
Haikal menggeleng berkali-kali.
"Tidak mungkin."
"Kata dokter begitu."
"Tidak!"
Suara Haikal meninggi. Dadanya naik turun.
"Aku selalu hidup sehat. Aku tidak merokok. Aku juga bukan pecandu alkohol. Bagaimana mungkin aku terkena kanker paru-paru?"
Intan hanya diam.
"Bagaimana mungkin?"
Haikal menatap wanita itu dengan mata merah.
"Kalau tidak percaya, tanya sendiri saja pada dokter."
Kalimat itu membuat Haikal terdiam.
Air matanya perlahan mengalir.
Ia menatap kedua tangannya yang terlihat lemah di atas selimut putih.
Selama ini ia selalu mengira hidupnya masih panjang.
Ia masih ingin membangun perusahaan.
Masih ingin melunasi utang.
Masih ingin memiliki rumah besar.
Masih ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya berhasil.
Namun sekarang...
Satu kata dari dokter seakan menghancurkan seluruh rencana masa depannya.
Kanker.
Haikal menutup wajah dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah.
"Kenapa..."
Suaranya bergetar.
"Kenapa hidupku semalang ini?"
Intan tidak menjawab.
Haikal terisak.
"Aku punya banyak utang."
Air matanya semakin deras.
"Aku kehilangan Tiara."
Ia menarik napas panjang, tetapi justru terasa menyakitkan.
"Aku bahkan dinyatakan mandul..."
Haikal menundukkan kepala.
"Dan sekarang aku terkena kanker."
Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini begitu keras kepala itu merasa benar-benar tidak berdaya.
Ia teringat Tiara.
Wanita yang dahulu selalu berada di sisinya.
Wanita yang rela meninggalkan pekerjaannya demi merawat ibunya.
Wanita yang selalu memasak untuknya.
Wanita yang tidak pernah menuntut banyak.
Namun ia membalas semuanya dengan penghinaan.
Ia percaya begitu saja pada hasil pemeriksaan yang ternyata tidak benar.
Ia menceraikan Tiara.
Bahkan pernah menyakitinya.
Dan sekarang...
Tiara sudah menjadi milik orang lain.
Permana.
Pria itu kini berada di sisi Tiara, memberikan perlindungan yang dahulu tidak pernah Haikal berikan.
Haikal menggigit bibir.
"Ini bukan karma..."
Ia menggeleng sambil menangis.
"Ini hukuman."
Intan menatapnya.
"Hukuman dari Tuhan atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan."
Haikal menutup matanya.
Ia teringat bagaimana dirinya memperlakukan Tiara.
Bagaimana ia membiarkan ibunya menghina mantan istrinya.
Bagaimana ia memaksa Tiara menerima Intan.
Bagaimana tangannya pernah terangkat dan menyakiti wanita yang seharusnya ia lindungi.
"Aku sudah menghancurkan hidupku sendiri."
Beberapa saat tidak ada suara selain isak tangis Haikal.
Kemudian Intan berdiri.
"Aku juga minta maaf."
Haikal membuka mata.
Intan menatapnya.
"Atas semua kesalahanku."
Haikal tidak menjawab.
"Tapi aku punya satu permintaan."
"Apa?"
"Tolong jangan masukkan aku ke penjara."
Haikal menatap Intan dengan tatapan kosong.
Intan melanjutkan.
"Aku tahu aku melakukan banyak kesalahan. Tapi aku tidak mau menghabiskan hidupku di penjara."
Haikal menghela napas.
"Lagi pula..."
Intan mengusap pipinya.
"Hidupmu tidak lama lagi."
Haikal membeku.
"Kau harus banyak berbuat baik."
Intan kemudian tersenyum tipis.
"Terutama kepadaku."
Haikal menatapnya tidak percaya.
Bahkan dalam keadaan seperti ini, Intan masih memikirkan dirinya sendiri.
"Intan..."
"Aku minta maaf, tapi aku tidak punya keahlian dan kesabaran untuk merawat orang sakit."
Intan mengambil tasnya.
"Aku pamit pergi."
"Kau mau pergi?"
"Iya."
"Di saat aku baru saja tahu aku terkena kanker?"
Intan mengangkat bahu.
"Aku sudah mengatakan alasannya."
Ia berjalan menuju pintu.
"Semoga kau cepat sembuh."
Kemudian Intan pergi begitu saja.
Pintu kamar tertutup.
Haikal kembali sendirian.
Pria itu menatap pintu dengan mata kosong.
Tidak ada seorang pun yang tinggal bersamanya.
Tidak ada Tiara.
Tidak ada Intan.
Tidak ada keluarga yang benar-benar mampu memberinya ketenangan.
Haikal kembali menangis.
"Ya Tuhan..."
Ia menggenggam selimut.
"Kalau ini memang akhir hidupku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Belum sempat Haikal melanjutkan doanya, pintu kamar kembali terbuka.
Seorang perawat masuk membawa beberapa berkas.
Haikal segera menghapus air matanya.
"Sus..."
Perawat itu mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Bagaimana keadaan ibu saya?"
Perawat itu tersenyum kecil.
"Bu Rumi?"
Haikal mengangguk cepat.
"Bagaimana keadaan beliau?"
"Bu Rumi sudah sedikit membaik."
Haikal menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Namun..."
Perawat itu berhenti.
Haikal kembali tegang.
"Namun apa, Sus?"
"Beliau masih belum bisa berbicara dengan baik."
"Kenapa?"
"Stroke menyerang separuh bagian wajahnya."
Haikal terdiam.
Ia memejamkan mata.
Setidaknya ibunya masih hidup.
Setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf.
"Aku ingin melihat Ibu."
"Tentu. Tapi kondisi Anda juga harus diperhatikan."
Haikal mengangguk.
Namun ketika perawat hendak keluar, tiba-tiba ia berhenti.
"Pak Haikal."
"Ya?"
"Ada satu hal lagi."
Haikal menatapnya.
Perawat itu terlihat ragu sebelum akhirnya berkata,
"Tadi ada seseorang yang datang mencari Anda."
"Dari siapa?"
Perawat itu membuka berkas di tangannya.
"Saya tidak tahu siapa hubungan orang itu dengan Anda."
"Siapa?"
Perawat tersebut menatap Haikal dengan wajah serius.
"Dia bilang membawa sesuatu yang sangat penting."
Haikal mengerutkan kening.
"Apa?"
Perawat itu belum sempat menjawab ketika dari luar kamar terdengar suara seorang pria.
"Haikal!"
Wajah Haikal seketika berubah.
Suara itu...
Suara yang sangat ia kenal.
Suara yang tidak pernah ia sangka akan kembali muncul di saat hidupnya sedang berada di titik paling buruk.
Pintu kamar perlahan terbuka.
Dan seseorang melangkah masuk.
Haikal menatapnya dengan napas tertahan.
"Kenapa dia datang ke sini?"
Bersambung....