**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012
Aku yang Beli
“Itu apa?”
Laras menarik blus turun sampai menutupi pinggang. “Mungkin alergi.”
“Alergi bentuknya jari?”
Tiara mendekat dan mengangkat sedikit kain di belakang bahu Laras. Jejak merah lain tampak di sana. Keringat dingin langsung muncul di punggung Laras.
“Tadi gaunnya ketat,” katanya. “Mungkin kegesek.”
Tiara mengerutkan kening. “Gaun mana?”
“Yang merah.”
“Lo punya gaun merah?”
Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Laras menunduk pura-pura mencari baju tidur. Gerakannya terlalu cepat hingga kantong kacamata jatuh dari kasur.
Kotak hitam menggelinding ke kaki Tiara.
“Apa ini?”
“Kacamata.”
“Gue juga tahu.” Tiara membuka kotaknya. “Merek ini?”
Ia melihat nota yang terselip di bawah bantalan, lalu duduk di tepi kasur.
“Tiga juta?”
Laras merebut nota. “Aku beli sendiri.”
“Pakai uang dari mana?”
“Aku dapat bayaran proyek.”
“Baru satu hari kerja sudah beli kacamata tiga juta sama topi?” Tatapan Tiara bergerak ke kantong-kantong lain yang belum sempat disembunyikan. “Lo kenal cowok kaya, ya?”
“Nggak.”
“Cowok yang beliin lo semua ini?”
“Aku bilang aku beli sendiri.”
Tiara membuka kantong topi, memeriksa label, lalu melihat gaun merah yang tergantung di belakang pintu. “Ini juga baru.”
“Aku butuh baju buat kerja.”
“Kerja menerjemahkan pakai gaun bahu terbuka?”
Laras meremas nota kacamata sampai kusut. “Aku jalan-jalan setelah kerja.”
“Sama siapa?”
“Sendiri.”
“Terus bekas jarinya?” Tiara menunjuk pinggang Laras. “Jangan bilang itu karena gaun. Gue kerja di rumah sakit, Ras. Gue tahu bedanya kulit iritasi sama bekas dicengkeram.”
Darah Laras seperti turun ke kaki. Ia menutup pinggang dengan kedua lengan.
“Di kereta dan kampus aku bawa tas berat. Mungkin talinya menekan.”
“Talinya punya lima jari?”
Laras tidak mampu menjawab. Wajah Tiara kini tidak lagi sekadar penasaran. Ada ketakutan seorang sahabat yang mulai menyadari Laras menyimpan sesuatu darinya.
“Kalau ada laki-laki yang menyakiti lo, bilang sama gue,” suara Tiara melunak. “Gue bisa bantu.”
Kebaikan itu justru membuat dada Laras semakin sakit.
Tiara mengambil pouch skincare dari tas Laras dan mengangkatnya. “Skincare lo aja nggak sampai dua ratus ribu. Kemarin air impor di kamar tamu juga lo nggak berani minum karena lihat harga. Tiba-tiba beli kacamata tiga juta?”
Kata-kata itu membuat Laras seperti ditelanjangi tanpa perlu membuka pakaian. Tiara mengingat semua kemiskinannya, hanya tidak pernah memahami betapa memalukannya hal itu bagi Laras.
“Aku boleh beli sesuatu buat diriku sendiri,” katanya pelan.
“Boleh. Gue cuma takut lo dibohongin laki-laki.” Tiara menaruh pouch kembali. “Laki-laki kaya yang tiba-tiba baik biasanya mau sesuatu.”
Pintu kamar terbuka lebih lebar.
Bram berdiri di sana. Tatapannya berpindah dari mata Laras yang merah ke kacamata di tangan Tiara.
“Aku yang beli,” katanya.
Jantung Laras berhenti.
Tiara menatap suaminya dua detik, lalu tertawa keras. “Apaan, sih? Jangan ikut-ikutan.”
“Aku juga beliin bajunya.”
“Iya, iya. Sekalian bilang bekas di pinggangnya juga kerjaan lo.” Tiara masih tertawa, menganggap semuanya lelucon paling tidak masuk akal.
Bram tidak tersenyum. “Kalau aku bilang iya?”
Laras menatapnya dengan ngeri.
Tiara memukul lengan Bram pakai handuk. “Gila. Bercandanya jangan aneh. Sana keluar, gue mau mandi.”
“Katanya mau mandi. Kenapa malah interogasi orang?” Bram mengambil handuk dari bahunya dan meletakkannya di kepala Tiara. “Air panasnya sudah nyala. Pergi.”
“Laras belum jawab.”
“Nanti juga jawab kalau kamu berhenti memojokkan.”
Tiara mendecakkan lidah, tetapi akhirnya membawa handuk dan keluar. “Jangan kabur dulu, Ras. Habis mandi kita lanjut.”
Pintu kamar utama tertutup beberapa detik kemudian. Suara air terdengar dari lorong.
Laras menatap Bram. “Kamu gila?”
“Dia nggak percaya.”
“Kalau dia percaya?”
“Aku bilang yang sebenarnya.”
“Yang sebenarnya bisa menghancurkan dia.”
Bram menatap Laras lama, lalu merapikan ujung blus yang tadi ditarik terburu-buru. Sentuhannya berhenti sebelum mengenai kulit.
“Jangan nangis,” katanya.
Hanya itu. Ia keluar sebelum Tiara selesai mandi.
Laras mengunci pintu dan duduk di lantai. Air matanya jatuh bukan karena Tiara merendahkan skincare murahnya. Ia menangis karena iri.
Tiara bisa memanggil Bram `suami`. Tiara bisa menerima kartu spa dua belas juta, tinggal di apartemen mewah, dan tidur di kamar yang sama dengan laki-laki yang tidak tega melihat Laras menangis.
Laras menginginkan suami sahabatnya.
Pengakuan itu terasa lebih kotor daripada ciuman mana pun.
Keesokan harinya, Tiara sedang libur. Ketika Laras bersiap ke UI, sahabatnya muncul dengan tas dan kacamata hitam.
“Gue ikut.”
“Buat apa?”
“Mau lihat kampus. Kangen zaman kuliah.”
“Aku kerja, Tiara.”
“Gue nggak ganggu.”
Laras tahu ia tidak bisa menolak tanpa menambah kecurigaan.
Di kantor Bu Ratna, Tiara duduk manis selama sepuluh menit. Setelah itu, pertanyaannya mulai keluar.
“Bu, banyak klien kaya datang ke sini?”
Bu Ratna mengangkat wajah dari dokumen. “Klien kaya?”
“Iya. Pengusaha muda, dosen tamu, orang luar negeri.” Tiara melirik Laras. “Siapa tahu Laras kenal seseorang.”
“Laras kenal banyak orang dari pekerjaannya.”
Bu Ratna menyerahkan satu halaman hasil terjemahan kepada Laras. “Bagian ini sudah bagus. Tinggal samakan istilah pada paragraf terakhir.”
Laras langsung membaca ulang dan memberi tanda. Ia mencoba tenggelam dalam pekerjaan, tetapi Tiara terus mengamati pintu setiap kali ada dosen laki-laki atau staf yang lewat.
Seorang asisten membawa kopi untuk Bu Ratna dan menyapa Laras. Tiara menatapnya sampai pemuda itu keluar dengan bingung.
“Bukan dia,” bisik Tiara.
Laras meletakkan pulpen. “Kamu sebenarnya cari siapa?”
“Nggak cari siapa-siapa.”
“Dari tadi kamu menilai semua laki-laki yang masuk.”
Tiara mendekatkan mulut ke telinga Laras. “Gue cuma mau tahu siapa yang bikin sahabat gue tiba-tiba punya barang mahal dan bekas jari di badan.”
“Nggak ada siapa-siapa.”
“Kalau begitu lihat mata gue waktu ngomong.”
Laras tidak bisa. Ia memilih membaca dokumen yang sama untuk ketiga kalinya.
“Ada laki-laki yang sering jemput dia?”
Laras meletakkan pulpen. “Tiara.”
Bu Ratna memandang keduanya bergantian. “Kalau ada urusan pribadi, sebaiknya diselesaikan di luar kantor.”
Teguran halus itu membuat Tiara akhirnya diam, tetapi sepanjang siang ia mengawasi setiap pesan yang masuk ke ponsel Laras.
Saat kembali ke apartemen, Laras melihat pintu kamar utama, sofa tempat Tiara duduk, dan dapur tempat Bram biasa menunggunya masak.
Ia tidak bisa terus bersembunyi di rumah milik perempuan yang sedang ia khianati.
Malam itu juga ia membuka daftar kos dan kontrakan di ponsel. Ia menyimpan tiga alamat dekat jalur menuju UI, menghitung deposit, lalu memutuskan membawa seluruh pekerjaan Bu Ratna pulang ke Kebumen jika tidak menemukan tempat.
Bukan besok, bukan setelah Tiara mengajukan pertanyaan lain. Secepat mungkin.
Laras harus pergi dari sana.