Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
BAB 22
RAKA NGGAK MABUK
Selama tiga puluh tujuh hari, Wiwid berhasil tidak bertemu Raka.
Ia menolak dua undangan makan keluarga dengan alasan pemotretan. Ketika Bu Imas mengirim sayur asem, Wiwid meminta kurir online mengambilnya. Nama Raka tetap muncul di grup keluarga, kadang dalam foto tugas kampus, kadang dalam keluhan Pak Herman karena anaknya lupa mematikan lampu teras.
Wiwid tidak pernah membuka foto itu lebih dari beberapa detik.
Di studio, ia menenggelamkan diri dalam jadwal sampai kru terakhir pulang. Setiap kali ponsel bergetar, tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum akalnya membaca nama pengirim. Jika yang muncul bukan Raka, ia lega sekaligus kecewa, lalu marah kepada diri sendiri karena dua perasaan itu bisa hidup bersamaan.
Ia juga tidak menemui Alvin lagi.
Setiap malam, satu ingatan yang sama datang sebelum tidur. Bibir yang sempat membalas ciumannya, tangan yang menciptakan jarak, lalu suara pelan yang berkata, `Ini Raka.`
Wiwid selalu mematikan lampu sebelum ingatan itu sampai ke pagi.
Menjelang Tahun Baru, Pak Herman menelepon.
"Besok Raka antar bingkai foto punya almarhumah Mamah ke apartemenmu, ya. Akang takut rusak kalau ditaruh di gudang."
"Pakai kurir saja, Kang."
"Kacanya tua. Raka sekalian mau ke kampus. Kamu ada di rumah, kan?"
Wiwid memandang jadwal kosong di dinding. Kali ini tak ada pemotretan yang dapat dijadikan alasan.
"Ada."
"Jam sepuluh. Jangan lupa buka pintu."
Setelah sambungan berakhir, Wiwid menyesali jawabannya sepanjang malam.
***
Raka datang tepat pukul sepuluh.
Wiwid tahu karena bunyi bel terdengar ketika sampo masih memenuhi rambutnya. Ia berteriak dari kamar mandi agar Raka menunggu, lalu mendengar suara pintu dibuka oleh petugas gedung yang membantunya menerima bingkai besar.
"Taruh dekat ruang tengah saja, Mas," kata Raka dari luar.
Suara itu membuat air hangat di kulit Wiwid terasa dingin.
Ia membilas rambut secepat mungkin, mengenakan celana longgar dan kaus, lalu meraih kacamata. Uap masih menempel di lehernya ketika pintu kamar mandi terbuka.
Pada saat yang sama, Raka berbalik dari bingkai foto.
Mereka berhadapan di lorong sempit.
Raka mengenakan kemeja kampus biru tua dengan lengan digulung. Rambutnya lebih pendek daripada terakhir kali mereka bertemu. Tidak ada lagi wajah kusut pemuda yang tertidur di sisi ranjangnya. Di bawah cahaya pagi, ia tampak terlalu sadar, terlalu jelas.
Tatapan Raka turun sesaat ke rambut Wiwid yang basah, lalu kembali ke wajahnya.
"Teh."
Wiwid memeluk dirinya sendiri. "Bingkainya sudah ditaruh?"
"Sudah."
"Kalau begitu kamu bisa pergi."
Raka mengangguk, tetapi Wiwid justru tidak bergerak memberi jalan.
Tiga puluh tujuh hari menghindar seharusnya membuat semuanya mengecil. Kenyataannya, jarak hanya mengumpulkan pertanyaan yang kini memenuhi lorong.
"Tunggu," katanya.
Raka berhenti.
Wiwid berjalan ke ruang tengah dan menunjuk sofa. "Kita bicara lima menit. Habis itu lo pulang dan kita lupakan malam itu."
"Teteh sudah lupa?"
"Gue berusaha."
"Berarti belum."
"Jangan main kata-kata sama gue."
Raka duduk di ujung sofa. Punggungnya tegak, kedua tangan bertaut di antara lutut. Sikap itu sopan seperti anak yang menunggu nasihat, tetapi matanya tidak menunduk.
"Malam itu gue minum," kata Wiwid. "Gue pulang tanpa lensa kontak dan salah lihat."
"Aku tahu."
"Gue kira lo Alvin."
Rahang Raka bergerak. "Aku juga tahu."
"Lo bilang nama lo, kan?"
"Iya."
"Tapi gue nggak dengar."
"Iya."
Jawaban pendek itu membuat Wiwid semakin gelisah.
"Setelah gue sebut Alvin, lo berhenti."
"Aku berhenti begitu aku yakin Teteh nggak tahu siapa yang dicium."
Wiwid memandangi tangannya. Urutan malam itu muncul lebih tajam. Raka mengatakan sesuatu ketika ia baru masuk, tetapi hujan dan pusing membuat suara bercampur. Ia yang memeluk leher Raka. Ia yang mencium lebih dulu.
Namun ada satu bagian yang selama ini sengaja tidak disentuhnya.
Sebelum nama Alvin terucap, Raka sempat membalas.
Bukan refleks singkat. Ciuman itu bertahan cukup lama hingga telapak Wiwid merasakan detak jantung di dadanya. Raka baru menciptakan jarak setelah nama yang salah keluar dari mulutnya.
Wiwid mengangkat kepala. "Malam itu lo minum apa?"
"Air putih."
"Sebelumnya?"
"Kopi di kampus."
"Nggak ada alkohol?"
"Nggak."
Udara di ruang tengah seperti berhenti.
Wiwid mengingat meja yang kosong dari botol, keran yang sudah diperbaiki, makanan yang tersimpan rapi, dan kacamata yang diambil Raka tanpa menjatuhkan apa pun. Langkah pemuda itu lurus. Ucapannya jelas. Bahkan setelah dihantam nama Alvin, ia masih cukup tenang untuk memakaikan selimut dan memilih tidur di atasnya dengan pakaian lengkap.
Dia tidak mabuk.
Dia sadar sejak awal.
Jari Wiwid mendadak dingin. "Jadi waktu gue cium, lo tahu itu gue."
"Tahu."
"Dan lo balas."
Raka tidak menjawab.
"Jawab, Raka."
"Teteh sudah ingat sendiri."
Wiwid berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja. "Lo punya banyak kesempatan buat dorong gue!"
"Aku sudah bilang ini aku. Teteh tetap mencium."
"Lo bisa nyalakan lampu. Ambil kacamata gue. Telepon Alvin sekalian kalau perlu!"
"Aku berhenti saat Teteh menyebut dia."
"Tapi sebelum itu lo menikmati kesalahan gue."
Wajah Raka memucat. Untuk pertama kali ketenangannya retak.
"Iya," katanya pelan. "Satu kali. Aku salah karena membalas."
Pengakuan jujur itu seharusnya membuat Wiwid lebih mudah marah. Justru dadanya berdebar terlalu keras.
Ia mengambil jarak dan berdiri di dekat jendela. Di luar, suara pedagang sarapan naik dari jalan. Kehidupan berjalan biasa sementara susunan keluarganya bergeser di dalam ruangan.
"Aku ini sudah seperti bibimu, Raka," katanya. "Kita nggak boleh."
"Aku hafal itu dari kecil."
"Kalau hafal, kenapa melakukan ini?"
"Karena aku juga hafal Teteh bukan bibiku karena darah."
"Kita sudah membahas itu. Jangan ulangi."
"Tapi Teteh terus pakai alasan yang sama."
Wiwid berbalik. "Yang akan dihancurkan bukan cuma gue. Bapak lo, Bu Imas, semua orang yang percaya sama gue bisa terluka."
"Aku nggak bilang mereka nggak penting."
"Kalau begitu pulang. Jangan datang lagi kecuali ada keluarga lain. Jangan kirim pesan pribadi. Jangan bikin malam itu seolah punya arti."
Raka berdiri. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Ketika melewati Wiwid, ia tidak menyentuh ujung bajunya sekalipun.
Tangannya sudah berada di gagang pintu saat Wiwid bertanya, "Kamu sengaja, kan?"
Raka menoleh.
"Sengaja menunggu kesempatan? Sengaja membiarkan gue salah?"
"Aku nggak tahu Teteh akan pulang seperti itu. Aku juga nggak pernah merencanakan Teteh salah mengenali aku."
"Tapi ciuman itu?"
Raka terdiam cukup lama hingga diamnya menjadi jawaban.
"Aku hafal posisi kita dari kecil," katanya akhirnya. "Aku cuma nggak pernah menganggap perasaanku sebagai bagian dari posisi itu."
Pintu tertutup pelan setelah ia pergi.
Wiwid tetap berdiri di ruang tengah, menyadari satu hal yang lebih berbahaya daripada sebuah kecelakaan.
Malam itu tidak direncanakan, tetapi Raka memang menginginkannya.