NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Siapa yang Ingin Mati Lebih Dulu?

Sinar rembulan memancar lembut, menerangi dua sejoli yang tengah saling bertatap muka penuh arti di atas awan.

Binar di mata mereka memancarkan warna terang yang seketika mengubah persepsi satu sama lain. Dua insan yang ternyata menyimpan lembaran kisah masa lalu yang serupa—sama-sama berjuang sendirian, dan sama-sama dilingkupi rasa kesepian di tengah luasnya dunia.

Wajah keduanya merona merah, bagai kelopak bunga mawar yang baru saja mekar sempurna di awal musim semi.

Namun, tepat saat jarak di antara kedua wajah itu kian terkikis rapat, sebuah suara yang teramat dihafal oleh Edward mendadak menggema di telinganya—seketika menarik kesadarannya kembali ke alam nyata.

Refleks, kepala Edward ditarik mundur sedikit. Iselyna pun melakukan hal yang sama persis secara spontan.

Rupanya, mereka berdua baru saja hanyut terbawa suasana akibat keindahan panorama malam yang mengepung mereka.

“Tuan Muda, Anda berada di mana? Orang-orang di istana mulai mencari kalian berdua,” panggil Bernard tiba-tiba.

Tentu saja, meski sang pelayan pribadi tidak berada di dekat sana, pendengaran super Edward mampu menangkap transmisi suara itu dengan sangat jelas.

Seketika, atmosfer di antara mereka terbungkus rasa canggung yang luar biasa.

Masing-masing dari mereka buru-buru memalingkan wajah ke arah berlawanan demi menyembunyikan rona merah yang membakar pipi. Menariknya, terlepas dari rasa malu yang menyeruak, genggaman jemari keduanya justru terasa makin erat dari sebelumnya.

“E-eee... Maafkan saya, Yang Mulia,” ucap Edward terbata-bata, berusaha memecah keheningan. “Apakah... menurut Anda sebaiknya kita—”

“Y-ya! Mari kita kembali!” potong sang Putri cepat. “Itu... ehem! Itu adalah ide yang sangat bagus.”

Edward mengangguk kaku. Ia lalu membawa tubuh mereka melayang turun dari angkasa, mendarat dengan sangat mulus dan tanpa suara di titik semula—tempat di mana Juliet telah menunggu dengan raut wajah amat cemas.

Begitu melihat Tuan Putrinya mendarat dengan selamat, Juliet buru-buru berlari menghampiri.

“Yang Mulia! A-Anda tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?” tanyanya panik sembari memeriksa gaun Iselyna.

“Y-ya... Aku baik-baik saja, Juliet,” sahut Iselyna, berusaha memasang raut tenang.

“T-tetapi wajah Anda sangat merah, Yang Mulia! Apakah Anda yakin sedang tidak sakit atau semacamnya?”

“I-ini hanya karena embusan angin malam yang terlalu dingin!” dalih Iselyna cepat, mengalihkan pandangannya agar Juliet tak bisa membaca ekspresi salah tingkahnya.

Juliet tampak jelas tidak puas dengan alasan angin malam yang dilontarkan Tuan Putrinya.

Pelayan setia itu lalu melirik tajam ke arah Edward—yang saat itu pipinya juga masih merona merah. Edward yang sadar sedang dilirik buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan canggung.

Tepat saat Juliet hendak memberondong sang Pangeran dengan deretan pertanyaan penuh selidik, sebuah suara yang sangat familier menyeru memanggil nama Edward dari kejauhan, mengalihkan perhatian mereka seketika.

“Tuan Muda!”

Bernard berlari menghampiri dengan wajah cemas, peluh tampak mengucur di sekitar pelipisnya.

“Ternyata di sini Anda rupanya! Lain kali jika Anda ingin pergi berjalan-jalan ke suatu tempat, tolong beritahu saya terlebih dahulu,” ujar Bernard sembari menata napasnya yang agak terengah.

“I-iya, maafkan aku, Bernard,” sahut Edward kaku.

Mata jeli Bernard segera menangkap sosok Putri Iselyna yang berdiri tidak jauh di dekat Edward. Tanpa menunda, sang pelayan senior itu langsung membungkukkan tubuhnya penuh hormat.

“Sa-salam hormat saya, Yang Mulia Putri Iselyna.”

Bernard kemudian menegakkan tubuhnya kembali dan menyampaikan maksudnya. “Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia, namun Raja Isenbard saat ini juga tengah mencari keberadaan Anda di dalam istana.”

“Aku mengerti. Terima kasih telah memberitahuku, Tuan Bernard,” balas Iselyna santun.

Sang Putri mulai melangkah pergi bersama Juliet yang mengekor setia di belakangnya.

Namun, setelah beberapa langkah, Iselyna mendadak menghentikan geraknya. Gadis itu berbalik perlahan, menatap Edward lurus-lurus, lalu menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat lembut dan tulus.

“Aku... sangat menikmati malam ini, Pangeran Edward. Terima kasih banyak karena sudah mengabulkan keinginanku,” tutur sang Putri pelan. “Selamat malam.”

Edward tertegun sejenak sebelum membalas senyuman itu. “Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya, Yang Mulia Putri. Selamat malam juga untuk Anda.”

Iselyna mengangguk pelan, lalu kembali melangkah melintasi koridor taman menuju istana utama bersama Juliet.

Meninggalkan Edward dan Bernard yang masih berdiri di bawah pendar cahaya bulan.

“Tuan Muda... saya tentu sangat senang melihat Anda dan Putri Iselyna akhirnya bisa makin akrab,” ujar Bernard memecah keheningan.

Ia kemudian melirik ekspresi wajah tuan mudanya dari samping. “... Tapi, apa yang sebenarnya baru saja terjadi sampai-sampai membuat Anda tersenyum-senyum sendiri seperti itu, Tuan Muda?”

Seketika, Edward tersadar dari lamunannya dan mendadak panik luar biasa.

“A-a-a-a-apa sih?! Tidak ada yang terjadi kok! Sungguh!” bantahnya dengan suara melengking dan wajah yang kembali memerah panas.

“Eee... yang bener, Tuan Muda?” Bernard memicingkan matanya, menatap Edward penuh selidik dengan senyum jahil yang tertahan.

“S-sudahlah! Ayo kita kembali ke kamar sekarang!” seru pemuda itu terburu-buru melangkah pergi mendahului pelayannya.

Bernard hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, terkekeh pelan melihat tingkah Pangerannya yang sedang dimabuk asmara.

***

Pagi itu, Edward kembali melakukan rutinitas biasanya—bermeditasi di luar angkasa tepat di hadapan pendar megah sang surya.

Ia membiarkan tubuhnya menyerap pancaran energi radiasi matahari secara intensif. Rambut pirangnya yang semula berwarna kuning redup perlahan-lahan berubah menjadi kuning keemasan yang terang benderang.

Meskipun tingkat energinya saat ini masih jauh dari kapasitas penuhnya sebelum pertempuran sengit melawan Florence, pemulihan ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya sangat tak tertandingi.

Namun, di tengah fokusnya mengumpulkan energi, panca indra pendengaran supernya menangkap sebuah jeritan cemas yang memecah keheningan hampa udara.

“Seseorang... tolong!”

Edward seketika membuka kedua matanya.

Tanpa ragu, pemuda itu langsung melesat turun menuju Planet Terrasia. Menembus lapisan atmosfer tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun, Edward terbang secepat kilat mengarah langsung pada sumber suara—yang rupanya berlokasi tak jauh dari perbatasan Kerajaan Nivalis, tepatnya di area Hutan Beku Lunn.

Mata tajamnya memindai lanskap dari ketinggian dan segera menemukan sebuah kereta kuda mewah yang tengah dikepung rapat.

Para prajurit pengawal kerajaan tampak terdesak hebat akibat sergapan sekelompok bandit yang menang jumlah. Terutama seorang pria bertubuh kekar berotot, berkepala plontos, yang memegang kapak raksasa di tangannya—sosok yang jelas merupakan pemimpin dari komplotan penjahat tersebut.

“Cepat bantai mereka semua dan amankan kedua wanita itu!” seru si ketua bandit memberi perintah dingin.

ZRAAT!

Sebuah bilah pedang berhasil menembus zirah besi salah seorang pengawal—yang dari lambangnya terlihat jelas merupakan prajurit resmi Kerajaan Nivalis. Prajurit itu ambruk tersungkur ke atas salju, sementara burung unta bersalju yang menjadi tunggangannya sudah lari kabur ketakutan.

Di saat yang sama, seorang bandit bertubuh kurus berambut panjang melangkah menyeringai mendekati kabin kereta kuda.

Tanpa ampun, ia menghantamkan gada besinya ke arah pintu kendaraan tersebut.

BRUAK!

Pintu kayu kereta tersebut hancur berkeping-keping menjadi serpihan.

Kehancuran pintu itu seketika memperlihatkan dua sosok wanita yang tengah berpelukan erat di dalam kabin dengan tubuh gemetar ketakutan.

Seorang wanita berambut merah yang mengenakan seragam pelayan, serta seorang anak perempuan yang diperkirakan baru berusia sekitar delapan tahun—mengenakan gaun indah khas bangsawan utara, lengkap dengan sebuah tiara kecil yang berkilau di atas kepalanya.

Bandit bertubuh kurus berambut gondrong itu menyunggingkan senyuman menjijikkan penuh nafsu—terutama saat manik matanya memindai tubuh sang pelayan wanita.

Ia kemudian menoleh ke arah pemimpinnya. “Hei, Bos! Bolehkah aku bermain-main sedikit dengannya?”

Sang bos bandit melangkah mendekat, memicingkan mata mengintip ke dalam kabin kereta kuda.

“Lakukan sesukamu pada pelayannya. Tapi ingat, jika kau sampai berani menyentuh anak kecil itu, kau mati di tanganku! Kerajaan Nivalis pasti rela membayar tebusan teramat mahal untuk keselamatan anak itu.”

“Siap, Bos!”

Dengan seringai menjijikkan yang kian lebar, pria gondrong itu mengulurkan tangannya yang kotor, menarik paksa lengan sang pelayan keluar dari kereta.

“Tidak! Lepaskan aku!” jerit pelayan wanita itu histeris.

“Millie! Jangan bawa Millie!” teriak gadis cilik bertiara itu menangis histeris, berusaha sekuat tenaga menahan tubuh pelayannya agar tidak diseret keluar.

“Cih, bocah merepotkan!”

Pria gondrong itu mengibaskan tangannya kasar, mendorong tubuh anak kecil itu hingga terjerembab ke belakang kabin. Dalam satu hentakan keras, ia menyeret paksa sang pelayan hingga tersungkur di atas tanah bersalju.

“Tidak... Aku mohon, jangan...! Ampuni aku...!” ratap wanita bernama Millie itu dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.

“Jangan khawatir, Nona Manis. Kau akan segera menikmati kenikmatan bersamaku sebentar lagi... Hiehehehe!” kekeh pria itu penuh kepuasan, yang seketika disambut gelak tawa vulgar dari rekan-rekan bandit di sekelilingnya.

Namun... tepat saat jemari kotor bandit itu hendak menyentuh pakaian sang pelayan—

Grep!

Sebuah cengkeraman tangan mendadak terkunci rapat di pergelangan tangannya.

Seorang pemuda telah berdiri tegak di sana.

Manik mata Edward menatap tajam, memancarkan tatapan dingin nan penuh amarah yang sanggup membekukan darah siapa pun yang memandangnya.

Tanpa membuang kata-kata, Edward memutar pergelangan tangan bandit itu.

KRAK!

Satu gerakan sederhana—namun sanggup meremukkan tulang lengan orang tersebut layaknya mematahkan sebuah tusuk gigi kering.

“AAAAAHHH! LENGANKU! LENGANKU—!”

Jeritan kesakitan yang melengking membelah keheningan hutan beku.

Seketika, gelak tawa para bandit terhenti total.

Kehadiran Edward yang begitu tiba-tiba—ditambah kemampuannya mematahkan tulang lengan rekan mereka dengan sangat mudah—membuat sang bos bandit dan seluruh pasukannya mengencangkan cengkeraman pada senjata masing-masing, menatap sang Pangeran dengan kewaspadaan penuh.

Dengan gerakan kasar, Edward mengibaskan tangannya, mengempaskan tubuh pria gondrong itu ke samping.

WUSH!

Lemparan bertenaga masif itu menghempaskan tubuh sang bandit hingga melesat bagaikan peluru nyasar—menghantam dan meremukkan tiga batang pohon pinus besar berturut-turut sebelum akhirnya terhenti di atas tumpukan salju.

Pria itu tak lagi bergerak, meninggalkan raganya dalam kondisi patah tak beraturan.

Edward lalu melepas jubah luar yang mengenakan tubuhnya dengan gerakan tenang. Tanpa mengalihkan pandangan dari musuh, ia menyelimutkan kain hangat itu ke pundak sang pelayan yang masih gemetar ketakutan di atas tanah.

Setelah memastikan korban aman, Edward menegakkan tubuhnya kembali.

Manik matanya yang menyala dingin menatap lurus ke arah kawan-kawan bandit yang berdiri membeku ketakutan.

“Jadi...”

Edward mengapit jemarinya, menimbulkan bunyi retakan pelan yang menggema di tengah heningnya hutan beku.

“Siapa di antara kalian yang ingin mati lebih dulu?”

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!