Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 - Tawaran untuk Dr. Satria
Laboratorium Jiuxuan berubah menjadi dunia lain setelah pukul sepuluh malam. Cahaya fluoresen tampak makin putih melawan gelap di luar, alat-alat berdengung dengan nada rendah mesin yang tidak tidur, dan Xavier bekerja seakan jam tidak pernah ada.
Arga tahu karena kamera keamanan menunjukkannya. Xavier masuk pukul tujuh pagi dan keluar lewat tengah malam. Ia makan bekal di meja kerja. Minum kopi dari termos. Berbicara kepada para peneliti dengan kalimat pendek dan tepat, dan ketika sendirian, ia berdiri diam di depan hasil uji dengan wajah seperti orang berdoa.
Uji kultur sel sudah selesai. NX-7 menunjukkan aktivitas imunomodulator yang signifikan pada tiga lini sel berbeda. Penurunan sitokin inflamasi antara empat puluh sampai enam puluh lima persen. Tidak ada sitotoksisitas berarti pada konsentrasi yang diuji.
"Angkanya solid," kata Dr. Otavio dalam rapat Senin, membalik halaman laporan dengan kehati-hatian seseorang yang menangani benda rapuh. "Profil keamanan awalnya menguntungkan. Saya tidak melihat tanda hepatotoksisitas atau nefrotoksisitas pada model sel. Tentu saja, kultur sel tetap kultur sel. Lompatan ke model hewan adalah pembicaraan lain."
Xavier berdiri bersandar ke dinding, tangan terlipat.
"Saya sudah memulai protokol pada model murine. Tiga kelompok: dosis rendah, dosis terapeutik, dosis tinggi. Kontrol positif dan negatif. Enam minggu untuk hasil awal."
"Enam minggu," ulang Arga.
"Saya tidak akan mempercepatnya. Kalau senyawa ini bekerja, enam minggu akan menunjukkannya. Kalau tidak bekerja, enam minggu juga akan menunjukkannya. Tidak ada jalan pintas."
"Saya tidak meminta jalan pintas."
Xavier menurunkan tangannya. Ia melihat Otavio, lalu Arga.
"Saya perlu bicara denganmu. Berdua saja."
Otavio menangkap nadanya. Ia mengumpulkan kertas-kertas dan keluar tanpa komentar.
Xavier duduk di kursi yang tadi ditempati Otavio. Ia melepas kacamata, membersihkannya pada bagian belakang jas lab, lalu memakainya lagi. Gerakan itu mengingatkan Arga pada Bu Ningsih, dan ada sesak singkat di dadanya yang langsung ia abaikan.
"Saya akan langsung saja."
"Saya lebih suka begitu."
"Dari mana uang ini berasal?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap. Arga tidak bergerak.
"Rp500 miliar," lanjut Xavier. "Laboratorium dibangun dalam tiga minggu. Peralatan kelas atas. Perekrutan tanpa birokrasi. Tidak ada tender, tidak ada hibah, tidak ada dana publik. Semuanya privat, semuanya cepat, semuanya terlalu bersih." Ia mencondongkan tubuh. "Saya tidak bekerja untuk narkoba. Saya tidak bekerja untuk pencucian uang. Saya tidak bekerja untuk preman bersenjata. Kalau uang ini berdarah, saya keluar sekarang dan membawa semua yang saya tahu. Lalu saya buka ke publik."
Arga membalas tatapannya. Suaranya rendah dan mantap.
"Warisan keluarga. Tiga generasi investasi, kepemilikan saham, dan aset finansial yang terkumpul selama enam puluh tahun. Uangnya bersih. Setiap sen bisa ditelusuri, diaudit, dan dilaporkan."
"Buktikan."
Arga membuka laptop. Ia menunjukkan struktur korporasi holding itu, tanpa nama Mahendra, tanpa lapisan paling dalam, tetapi dengan catatan modal, laporan pajak, dan rekening koran lima tahun terakhir.
Xavier membaca dalam diam. Halaman demi halaman. Sepuluh menit.
"Kenapa anonim?"
"Alasan pribadi. Keluarga saya punya musuh. Paparan menciptakan risiko."
"Untukmu atau untuk saya?"
"Untuk kita berdua. Tapi terutama untuk pekerjaan ini. Kalau pasar tahu siapa yang membiayai Jiuxuan sebelum kami punya produk, para pesaing akan mencekik perusahaan ini sejak bayi. Termasuk keluarga Dewantara."
Xavier bersandar ke kursi. Ia mengusap wajah dengan dua tangan.
"Saya punya satu syarat."
"Katakan."
"Sains tidak boleh diburu-buru. Kalau suatu saat kamu menekan saya untuk mengarang hasil, memanipulasi data, atau melompati tahap regulasi, saya keluar. Dan saya buka ke publik. Tanpa peringatan, tanpa negosiasi, tanpa kesempatan kedua."
Arga mengangguk.
"Kalau saya melakukan itu, Anda memang harus membukanya ke publik."
Xavier menatapnya dengan ekspresi yang tidak langsung bisa dibaca Arga. Lalu ia paham: itu rasa hormat.
"Kalau begitu kita sepakat."
Mereka berjabat tangan. Genggaman Xavier kuat, kering, final. Tangan seseorang yang sudah pernah kehilangan segalanya dan tidak takut kehilangan lagi.
Enam minggu kemudian, laporan praklinis tiba.
NX-7 pada model murine artritis autoimun: efektivitas tujuh puluh tiga persen dalam menurunkan penanda inflamasi. Kelompok dosis terapeutik menunjukkan perbaikan klinis yang terlihat. Tidak ada efek samping signifikan. Profil keamanan kompatibel untuk maju ke studi lanjutan.
Arga membaca laporan itu pukul sebelas malam di apartemen, sementara Bianca tidur di kamar sebelah.
Telepon berdering pukul dua belas lewat dua belas.
Xavier.
"Sudah lihat laporannya?"
"Sudah."
"Kita perlu bicara soal Fase 1. Sekarang."
Arga melihat pintu kamar yang tertutup. Melihat laporan di layar. Melihat telepon.
"Saya dengar."