NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu, saat seluruh penghuni manor sibuk mempersiapkan keberangkatan Orion menuju perbatasan, Saiph diam-diam menghampiri Arina.

Dengan suara pelan, ia menceritakan semua percakapan yang didengarnya semalam antara Orion dan Stella.

Arina mendengarkan tanpa menyela. Setelah Saiph selesai berbicara, ia tetap diam beberapa saat. Wajahnya masih datar, nyaris tidak menunjukkan perubahan emosi.

Arcturus Bootes... beraninya kau bersikap semunafik itu.

Rasa jijik muncul di dalam hati Arina.

Di mata masyarakat, putra Wali Kota Varendel itu dikenal sebagai pria tampan, dermawan, saleh, dan selalu menjunjung tinggi kehormatan. Namun, di balik citra sempurna itu, ia justru menyembunyikan hubungan dengan wanita lain, lalu menjadikan Stella sebagai tameng demi mempertahankan nama baik keluarganya.

“Bisakah kau membantuku melakukan sesuatu?” tanya Arina setelah beberapa saat.

Saiph mengangguk tanpa ragu.

“Tentu, Nona. Apa yang harus saya lakukan?”

“Kirimkan tiga surat ancaman selama tiga minggu berturut-turut,” perintah Arina tenang. “Dalam surat itu, katakan bahwa kau mengetahui hubungan terlarangnya dengan wanita tersebut. Setelah itu, minta dia datang ke Rumah Hiburan Aurora.”

Arina menoleh sekilas ke arah Saiph. “Lakukan tanpa meninggalkan jejak. Kau ahli dalam hal seperti itu, bukan?”

“Baik, Nona. Saya mengerti.”

Arina mengangguk tipis, lalu melangkah menghampiri Orion yang baru keluar dari manor dengan balutan seragam militer.

Seragam itu membuat sosoknya tampak semakin gagah dan berwibawa.

Sementara itu, agar tidak menimbulkan kecurigaan, Saiph kembali berbaur dengan para prajurit lainnya. Ia memang tidak ikut berangkat ke perbatasan karena di manor ini statusnya hanyalah seorang prajurit penjaga biasa.

“Seragam itu cocok untukmu,” puji Arin begitu berhenti di depan Orion.

Orion mengangkat sebelah alisnya.

Pujian yang diucapkan dengan wajah datar dan tatapan sedingin itu? Bukankah terdengar lebih seperti ejekan daripada pujian?

Memilih mengabaikannya, Orion mengalihkan pandangan ke seluruh penghuni manor yang telah berkumpul di halaman. Manik hazelnya menyapu mereka satu per satu dengan tatapan tegas.

“Selama aku berada di perbatasan, Arina akan memimpin manor ini,” ucapnya lantang. “Apa pun yang kalian lakukan dan keputusan apa pun yang ingin kalian ambil, semuanya harus mendapat persetujuan Arina.”

“Jika ada yang berani membangkang, saat aku kembali, aku sendiri yang akan menjatuhkan hukumannya.” Suaranya menggema di seluruh halaman, membuat suasana seketika hening.

Para pelayan yang selama ini memandang rendah Arina tampak terkejut. Beberapa di antara mereka saling bertukar pandang dengan wajah tidak rela.

Grace bahkan mengepalkan kedua tangannya. Menurutnya, Arina sama sekali tidak pantas memimpin manor. Namun, membantah perintah Orion sama saja dengan mencari hukuman.

Orion kemudian menoleh kepada Rigel. “Kau yang bertanggung jawab mengawasi mereka. Pastikan tidak ada seorang pun yang berani melanggar perintah Arina.”

Rigel tampak terkejut.

“Bukankah saya ikut ke perbatasan, Tuan?” tanyanya heran. Selama ini, ke mana pun Orion pergi, ia selalu mendampingi. Ini pertama kalinya ia diminta tetap tinggal.

“Tidak.” Orion menggeleng singkat. “Kau tetap di manor. Awasi semuanya, lalu laporkan perkembangannya kepadaku.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Dan ingat pembicaraan kita tadi malam. Selidiki dia.”

“Baik, Tuan.”

Di samping mereka, Arina menyimak percakapan itu tanpa mengubah ekspresi.

Jadi Orion ingin Rigel menyelidiki Arcturus Bootes?

Itu memang langkah yang bagus.

Namun, Arin sudah memiliki rencana yang menurutnya jauh lebih efektif.

...\=\=\=...

Setelah Orion berangkat ke perbatasan, Arina kembali menjalankan tugasnya di manor. Ia memeriksa berbagai dokumen yang ditinggalkan Orion, mengurus administrasi, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai nyonya rumah.

Menjelang sore, seorang pelayan mengantarkan sepucuk surat misterius kepadanya.

Arina membawa surat itu ke kamarnya sebelum membukanya.

Aku belum berhasil menemukan identitas orang yang memberi perintah itu. Namun, pemimpin Asosiasi Telaga Hitam setuju untuk bertemu denganmu delapan hari lagi. Dermaga Ketujuh, Pelabuhan Varendel. Tengah malam. Datang sendiri.

Surat itu tidak mencantumkan nama pengirim. Meski begitu, Arina langsung mengetahui siapa yang mengirimkannya.

Pasti salah satu dari dua tahanan yang ia bebaskan.

"Aku sudah menduganya." Arina tersenyum tipis. "Dia sangat menghargai anggotanya. Tidak mungkin dia menolak bertemu ketika nyawa dua bawahannya berada di tanganku."

Perlahan ia meremas surat itu.

Cahaya ungu redup memancar dari sela-sela jemarinya. Ketika kepalannya kembali terbuka, kertas itu telah berubah menjadi abu halus.

Arina membuka jendela, lalu meniup abu tersebut hingga terbawa angin.

"Setelah urusanku dengan pemimpin Asosiasi Telaga Hitam selesai, aku juga harus menyelesaikan urusan dengan Arcturus."

Semua rencananya telah tersusun rapi di dalam kepala.

Hari-hari berlalu dengan cepat.

Waktu pertemuan yang telah disepakati kini tinggal tiga hari lagi. Karena perjalanan dari Regulus, ibu kota Kerajaan Elarion, menuju Varendel memerlukan waktu sekitar setengah hari menggunakan kereta kuda, Arina memutuskan untuk berangkat lebih awal.

Siang itu, ia memanggil Rigel ke ruang kerja Orion.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Rigel setelah memberi hormat singkat. Ia berdiri tegak di depan meja kerja, siap menerima perintah.

"Besok aku akan pergi ke Varendel. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengan adikku." Arina menatap Rigel dengan tenang. "Paling lama aku akan berada di sana selama tiga hari. Namun, jika semua berjalan lancar, aku akan kembali dalam dua hari. Selama aku pergi, aku ingin kau memastikan manor tetap dalam keadaan aman."

Alasan itu terdengar masuk akal.

Bagaimanapun juga, Stella tinggal di Varendel bersama keluarga Bootes. Tidak ada yang akan curiga jika Arina tiba-tiba memutuskan untuk mengunjunginya.

"Saya akan ikut mendampingi Anda, Nona."

Ekspresi Rigel berubah serius. Orion telah memerintahkannya untuk menjaga Arina selama sang jenderal berada di perbatasan. Mustahil baginya membiarkan Arina bepergian tanpa pengawasan.

"Aku tidak akan pergi sendirian, Rigel." Arina menggeleng pelan. "Aku akan membawa Alhena bersamaku. Selain itu, kau juga boleh memilih beberapa prajurit untuk mengawal perjalanan kami."

Ia membuka sebuah buku di atas meja, lalu merobek selembar halaman yang penuh dengan tulisan.

"Ini daftar pekerjaan yang harus kau awasi selama aku pergi."

Rigel menerima kertas itu, tetapi pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.

Ia sama sekali tidak memahami Arina.

Mengapa wanita itu tiba-tiba ingin menemui Stella, padahal mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu?

Apa Nona Arina mengetahui sesuatu tentang Nona Stella dan Arcturus?

Pikiran itu terus berputar di benak Rigel, meski ia tidak menunjukkan sedikit pun perubahan pada ekspresinya.

"Kau bisa membantuku memilih beberapa prajurit untuk mengawal perjalanan ini dan menyiapkan seluruh perbekalannya, Rigel?" tanya Arina.

Rigel tersentak dari lamunannya, lalu segera mengangguk tegas.

"Tentu, Nona. Akan saya kerjakan sekarang juga."

Setelah memberi hormat singkat, ia bergegas meninggalkan ruang kerja.

Arina pun keluar dari ruangan itu dan melangkah tenang menuju dapur.

Kepala koki sedang sibuk mempersiapkan hidangan makan malam. Beberapa pelayan yang melihat kedatangannya langsung menundukkan kepala dengan hormat. Sejak Orion memberikan peringatan keras sebelum berangkat ke perbatasan, tak seorang pun berani lagi terang-terangan bersikap lancang kepada Arina.

Di sudut dapur, Alhena tampak membersihkan peralatan makan dengan saksama.

"Alhena," panggil Arina pelan.

"Iya, Nona?" Alhena segera menoleh dan membungkukkan badan. "Apa yang bisa saya bantu?"

"Besok pagi aku akan berangkat ke Varendel. Apa kau bersedia ikut denganku?"

Nada bicara Arina tetap tenang. Ia tidak bermaksud memberi perintah. Jika Alhena menolak, ia tidak akan memaksanya.

"Huh! Anda pasti ingin mengganggu Nona Stella!"

Sebelum Alhena sempat menjawab, Grace yang baru saja memasuki dapur langsung menyela dengan nada sinis.

Tatapan datar Arina beralih kepadanya.

Grace adalah satu dari sedikit pelayan di manor yang masih terang-terangan menunjukkan permusuhan. Di mata wanita itu, Arina bukanlah nyonya rumah, melainkan saingan yang telah merebut posisi seseorang yang ia kagumi.

"Bagaimana, Alhena?" Arina kembali mengalihkan perhatiannya kepada Alhena, seolah Grace sama sekali tidak ada di ruangan itu.

Wajah Grace memerah karena diabaikan. Ia hendak membalas, tetapi kepala koki lebih dulu memanggilnya.

"Grace, ambilkan beberapa potong daging lagi.”

Grace menggertakkan gigi. Ia melemparkan tatapan tajam ke arah Arina sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

"Baik, Nona," jawab Alhena setelah suasana kembali tenang.

"Bagus."

Arina menepuk pelan bahu Alhena sebagai bentuk penghargaan. Setelah itu, ia mengangguk singkat kepada kepala koki sebelum meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!