NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. DUA YANG TERSISA

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan di depan pintu sumur yang tertutup itu.

Yang aku ingat terakhir adalah teriakan FARHAN. Tangannya yang mencoba meraih bibir sumur, lalu sebuah tangan hitam berlumpur dari dalam sumur menariknya dengan paksa. Darahnya muncrat ke wajahku. Hangat. Kental.

Lalu semuanya gelap.

Kepalaku sakit sekali. Seperti dipukul balok. Aku mencoba membuka mata. Cahaya merah masuk ke pupilku. Bukan cahaya lampu. Ini cahaya langit.

Langit Desa Penenun sudah merah darah. Bukan senja. Jam di tanganku menunjukkan pukul 15:12, tapi langitnya merah seperti luka yang menganga. Awan tidak bergerak. Angin tidak ada. Bahkan suara jangkrik pun hilang.

"Selvi..."

Suara itu pelan. Serak. Aku menoleh ke samping dengan leher yang kaku.

MAYA ada di sampingku. Dia duduk memeluk lututnya. Wajahnya pucat pasi. Bajunya robek di bagian lengan kiri, terlihat goresan panjang seperti dicakar. Di tangannya dia memeluk kain kafan itu erat-erat. Kain kafan panjang yang kami temukan di rumah Mbok Darmi. Kain yang ada nama kami berenam.

"May..." suaraku serak. Tenggorokanku kering seperti habis teriak semalaman. "Yang lain mana? Sinta? Riko? Bima?"

Maya menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tidak sesenggukan, dia hanya menangis diam. Itu lebih mengerikan.

"Gak ada, Vi. Cuma kita berdua yang tersisa di sini."

Dadaku sesak. Napasku tercekat. SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN. Empat nama. Empat teman KKN ku sudah diambil sumur itu satu per satu. Sinta ditarik dari dalam balai desa di BAB 8. Riko hilang di jejak kaki menuju sumur di BAB 6. Bima masuk ke pintu yang terbuka sendiri. Farhan barusan jadi tumbal di depan mataku. Pak Lurah Karjo juga sudah jadi tumbal karena obornya padam.

Tinggal aku dan Maya. Dua yang tersisa dari 6 mahasiswa KKN yang berangkat dengan bangga dari kampus 2 minggu lalu.

Aku berdiri dengan kaki gemetar. Lututku lemas. Balai desa di belakang kami kosong melompong. Pintu dan jendelanya terbuka semua, menganga hitam seperti mulut yang menunggu mangsa masuk. Obor besar milik Pak Lurah Karjo yang biasanya menyala di depan balai sudah padam, hanya menyisakan arang dan bau kemenyan yang menyengat bercampur bau tanah basah dan anyir darah.

Aku lihat pintu sumur di belakang balai desa. Pintu kayu tua itu sudah menutup rapat. Padahal tadi terbuka. Tidak ada gembok, tidak ada paku, tapi tertutup seperti disegel dari dalam. Dari celah bawah pintu itu, keluar rembesan air hitam yang berbau busuk.

"Vi, kita harus keluar dari sini sekarang," bisik Maya sambil menarik ujung bajuku. Tangannya dingin sekali. "Mbok Darmi pernah bilang, ada jalan lewat hutan larangan. Lewat situ kita bisa keluar dari desa ini. Kalau lewat jalan depan, kita gak akan pernah bisa keluar. Jalan itu muter terus."

Aku ingat. Di BAB 13, Mbok Darmi memang pernah bilang begitu sambil menenun. Katanya, "Ojo lewat ngarep, lewat mburi. Hutan larangan itu bukan larangan, itu jalan pulang." Tapi dia juga bilang tidak ada warga yang berani lewat karena yang lewat tidak pernah kembali.

"Kita gak punya pilihan lain, May. Kalau kita di sini, kita mati. Sumur itu nunggu kita."

Kami berdua berjalan berpegangan tangan menuju hutan larangan di belakang balai desa. Jalan setapak itu tidak ada di peta. Ditutupi akar-akar besar sebesar paha orang dewasa yang melintang seperti ular. Pohonnya tinggi-tinggi, batangnya hitam, daunnya rimbun sampai matahari tidak tembus sama sekali. Semakin masuk, semakin dingin. Napas kami sampai keluar asap putih, padahal ini di Jambi, bukan di Dieng.

Aku merasa ada yang mengikuti kami dari belakang. Perasaan itu sangat kuat. Bulu kudukku berdiri semua.

KRETEK.

Aku berhenti mendadak. Maya juga berhenti. Jantungku berdegup kencang sampai ke telinga.

"Vi, kamu denger gak?" Maya mencengkeram tanganku kuat sampai kukunya menancap.

Aku mengangguk pelan. Ada suara langkah kaki. Bukan satu. Banyak. Seperti puluhan kaki berjalan beriringan di belakang kami, menginjak daun kering. KRESEK KRESEK KRESEK. Tapi saat kami menoleh dengan gerakan pelan, tidak ada siapa-siapa. Hanya hutan kosong. Hanya jejak kaki basah di tanah lumpur. Jejak kaki kecil, besar, ada yang tanpa alas kaki. Semua jejak itu menuju ke arah sumur, bukan ke arah kami. Seolah-olah mereka baru saja keluar dari sumur dan berjalan ke desa.

"Jangan lihat ke belakang! Jangan dilihat!" teriakku panik. Aku menarik tangan Maya kuat-kuat. Kami lari.

Kami lari sekuat tenaga. Ranting-ranting mencambuk wajah kami. Napas kami ngos-ngosan. Kain kafan di tangan Maya berkibar-kibar tertiup angin. Padahal tidak ada angin di hutan itu. Anehnya, setiap kibaran kain itu, aku bisa mendengar bisikan nama.

"Sinta... Riko... Bima... Farhan... Selvi... Maya..."

Tiba-tiba Maya jatuh terjerembab.

"ARGGH!"

Kakinya tersangkut akar besar. Dia meringis kesakitan. Aku berusaha menariknya bangun. Tapi akar itu seperti hidup. Melilit pergelangan kaki Maya semakin kencang, semakin dalam sampai kulitnya memerah.

"Vi! Tolong! Sakit! Sakit banget!"

Aku panik. Aku coba tarik akar itu dengan kedua tanganku. Kasar dan dingin. Aku lihat lebih dekat dengan mata berkaca-kaca.

Itu bukan akar. Ya Tuhan, itu bukan akar.

Itu benang. Benang putih kusam seperti benang dari alat tenun Mbok Darmi. Benang itu keluar dari dalam tanah, banyak sekali, melilit kaki Maya, naik sampai ke lututnya. Dan benang itu bergerak sendiri, seperti cacing.

Dan dari dalam tanah lumpur di bawah kaki Maya, muncul sebuah tangan. Tangan pucat, kuku hitam penuh tanah. Tangan yang sangat aku kenal.

Tangan FARHAN.

"Selvi... tolong aku... dingin di bawah sini... gelap..."

Maya menjerit histeris. Aku menjerit lebih kencang sampai tenggorokanku sakit. Aku ambil batu besar yang berlumut di sampingku dan aku pukul benang-benang itu sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali.

PUTUS.

Benang-benang itu putus dan langsung masuk kembali ke dalam tanah seperti ditarik paksa. Tangan Farhan juga langsung menghilang, menyisakan lubang kecil yang mengeluarkan darah hitam.

Maya langsung aku gendong di punggung. Berat, tapi adrenalinku membuatku kuat. Kami lari lagi. Tidak peduli lagi ada duri, ada lumpur, ada darah di kaki kami. Kami harus keluar dari hutan itu.

Setelah hampir 30 menit lari tanpa henti, napas kami hampir habis, kami melihat cahaya kekuningan di ujung hutan. Sebuah rumah. Rumah panggung dari kayu jati tua. Lampu minyaknya menyala temaram. Asap keluar dari dapurnya.

RUMAH MBOK DARMI.

"Kita selamat, May! Itu rumah Mbok Darmi! Kita minta tolong!" Aku menangis lega. Air mataku akhirnya tumpah.

Kami berdua masuk ke halaman rumah itu dengan sempoyongan. Pintu rumah terbuka sedikit.

"Mbok? Mbok Darmi? Tolong kami, Mbok!" teriakku.

Tidak ada jawaban. Hanya suara alat tenun. KRETEK KRETEK KRETEK.

Kami naik ke atas rumah. Mbok Darmi sedang duduk di depan alat tenunnya yang besar, membelakangi kami. Punggungnya bongkok. Dia menenun dengan cepat, padahal tidak ada benang di tangannya. Tapi kain kafan itu memanjang sendiri.

"Kalian dua yang tersisa ya?" suaranya serak tanpa menoleh.

Aku dan Maya mengangguk sambil menangis. "Iya Mbok, tolong kami Mbok, teman-teman kami..."

Mbok Darmi berhenti menenun. Perlahan dia menoleh.

Dan saat itulah jantungku hampir berhenti.

Wajah Mbok Darmi bukan wajah Mbok Darmi yang kemarin. Wajahnya setengah hancur, matanya satu hilang, kulitnya penuh benang yang terjahit. Dia tersenyum. Senyumnya mengerikan. Giginya hitam semua dan panjang-panjang.

"Bagus. Karena sumur itu memang butuh dua yang tersisa. Satu untuk menenun, satu untuk jadi kainnya. Sudah lama sumur itu nunggu penenun baru."

Alat tenun itu bergerak sendiri semakin kencang. KRETEK KRETEK KRETEK KRETEK.

Dan dari dalam alat tenun itu, dari dalam kain kafan putih yang sedang ditenun, aku melihat wajah-wajah teman-temanku muncul. Sinta menangis, Riko berteriak, Bima melot, Farhan memanggil namaku. Wajah mereka ada di dalam kain itu, terjahit hidup-hidup.

Maya memelukku erat. Tubuhnya gemetar hebat. "Selvi, aku takut. Itu bukan Mbok Darmi, Vi. Itu bukan Mbok Darmi!"

Aku memeluk Maya balik. Air mataku tidak berhenti.

Di luar rumah, suara dari dalam sumur yang ada di tengah hutan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih dekat, memanggil nama kami berdua dengan suara yang sangat berat.

"SELVI... MAYA... GILIRAN KALIAN... MASUK..."

Pintu rumah Mbok Darmi menutup sendiri dengan keras. BANTING. Jendela-jendela juga tertutup. Lampu minyak padam.

Gelap.

Kami terjebak di dalam rumah itu. Tinggal dua yang tersisa. Dan malam baru saja dimulai. Di depan kami, Mbok Darmi yang bukan Mbok Darmi berdiri sambil membawa gunting besar yang berkarat.

1
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Mending pulang aja gak, sih???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Berasa kayak mau uji nyali dari pada mau KKN...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kalau saya ikut di tim mereka, terus dapat ucapan kayak begini sih, langsung merinding sumpah...
na-an
aku gak ngerti deh kak
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐
na-an
seru banget kak! sekarang juga udah lebih teratur alurnya. semangat ya!😁
Author Melda: makasih banyak kak na-an! 🥹❤️ seneng banget kalau sampai BAB 14 udah lebih teratur alurnya! BAB 15 nya lagi direview nih kak bentar lagi tayang, KAIN KAFAN SELVI bakal lebih ngeri lagi! ditungguin ya kak!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
merinding sih kak ame seram juga pasti terinspirasi sama film kkn ya kak
Author Melda: Hai kak @Ar.world makasih udah mampir di Bab 12! 🥺 Iya kak ada inspirasi dari film KKN, tapi ini kisah nyata dari desaku sendiri kak yang aku kembangin jadi cerita... Tungguin ya kak, Bab 13 Hutan Larangan lebih serem lagi, Maya bakal dicoret! 👻
total 1 replies
Author Melda
Guys menurut kalian BIMA masih bisa diselamatin gak? 😭 Atau dia udah jadi bagian warga tanpa bayangan selamanya? Komen #SaveBima kalau mau Selvi selamatkan Bima, komen #BimaUdahMati kalau udah ikhlasin! Aku baca semua komen kalian!
#@.Ar.world(。・ω・。): waduh kalo menurut ku bima kayaknya gak Selamat
total 1 replies
na-an
maaf kak selpi, boleh dikasih tahu gak nama-nama tokohnya? aku cukup bingung siapa aja karakternya karena muncul tanpa diperkenalkan di bab 1😅
Author Melda: Halo kak na-an makasih banyak udah baca dan udah kasih tau kak! 😭🙏 Maaf banget ya bikin bingung, kemarin di BAB 8-10 memang ada typo nama dari aku, udah aku benerin semua kok kak!

Ini 6 tokoh utamanya ya biar gak bingung lagi:

Tim KKN 6 orang:
1. SELVI - aku sendiri, ketua KKN
2. MAYA - sahabat aku, yang peka sama hal gaib
3. SINTA - yang paling cantik
4. RIKO - yang bawa kamera terus
5. BIMA - yang badan besar (yang hilang di sumur)
6. FARHAN - yang kocak

Maaf ya kak kalau sempet muncul nama lain selain 6 itu, itu salah ketik aku. Sekarang udah fix semua! Makasih ya udah ingetin, komen kakak membantu banget! Ditunggu lanjutannya di BAB 11 yaa ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!