NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 34: Rahasia Kampus

Hari pertama memiliki pacar dimulai dengan ketukan pukul enam pagi.

Kirana membuka pintu 803 dan menemukan Arya membawa dua kotak sarapan. Ia masih mengantuk, rambut berantakan, dan baru ingat status baru mereka ketika pria itu membungkuk mencium keningnya.

“Pagi, pacar saya.”

Wajah Kirana langsung panas. “Pelan. Winda masih tidur.”

“Dia sudah bangun.”

Dari kamar, Winda berteriak, “Aku dengar semuanya!”

Mereka sarapan bubur kacang hijau sebelum lari pagi. Di lift, Arya berdiri seperti penghuni biasa. Begitu pintu tertutup, jarinya mencari tangan Kirana. Ketika lift berhenti di lantai lain, ia melepaskan sebelum penghuni masuk.

“Kita seperti melakukan kejahatan,” bisik Kirana.

“Kejahatannya apa?”

“Pacaran dengan dosen.”

“Konflik kepentingan, bukan kejahatan. Dan sedang dikelola.”

Di kampus, aturan mereka mulai berlaku. Arya masuk kelas sebagai Prof Arya, bukan Mas Arya. Kirana duduk bersama Winda dan tidak menerima perlakuan khusus. Bahkan ketika ia terlambat menjawab pertanyaan, Arya berkata datar, “Saudari Kirana, argumen tanpa data adalah opini.”

Kirana mengatupkan gigi. “Baik, Prof.”

Winda menulis di pinggir buku: Romantis sekali.

Kirana membalas: Diam.

Setelah kelas, mahasiswa mengumpulkan tugas cetak. Di antara halaman esai Kirana, Arya menyelipkan kertas kecil saat memeriksa format.

Makan siang. Jangan cuma kopi.

Kirana menulis balasan di bawahnya.

Nilai saya jangan dinaikkan karena pacar cerewet.

Kertas itu kembali pada pertemuan berikutnya.

Tidak akan. Tata bahasamu tetap saya potong dua poin.

Hubungan rahasia ternyata memiliki bahasa sendiri. Dua ketukan singkat di dinding apartemen berarti sarapan siap. Pesan satu titik berarti bertemu di tangga darurat lantai delapan. Saat berpapasan di koridor, jari mereka hanya bersentuhan sepersekian detik di balik tumpukan buku.

Di perpustakaan, mereka memilih meja berjauhan. Arya membaca laporan penelitian, sedangkan Kirana menyelesaikan tugas statistik. Setiap dua puluh menit, ponselnya menyala.

Fokus.

Kirana membalas, Mas yang terus melihat.

Lima menit kemudian, petugas perpustakaan meletakkan sebungkus biskuit di mejanya. “Titipan dari meja sana.”

Kirana menatap Arya. Pria itu tidak mengangkat kepala, tetapi telinganya sedikit merah.

Saat pulang, mereka memakai lift berbeda dan bertemu di parkir basement. Begitu pintu mobil tertutup, Arya menarik tangan Kirana dan mencium buku-buku jarinya.

“Seharian tidak menyentuh,” katanya.

“Baru enam jam.”

“Terlalu lama.”

Kirana ingin menertawakan sikap posesif itu, tetapi ia merasakan hal sama. Ia membungkuk untuk mencium pipi Arya, lalu cepat memasang sabuk pengaman sebelum pria itu membalas.

“Pulang,” katanya.

“Kamu memulai lalu kabur?”

“Kita punya aturan kampus.”

“Ini mobil saya.”

“Mas tetap harus mengemudi.”

Arya menyalakan mesin dengan tatapan yang menjanjikan perhitungan lain di 805.

Malamnya, mereka menyusun batas praktis bersama. Tidak ada pesan romantis melalui akun universitas, tidak ada penggunaan ruang dosen untuk pertemuan pribadi, dan setiap penilaian Kirana tetap diperiksa dosen kedua. Jika ada agenda yang menempatkan Arya sebagai satu-satunya penentu, ia akan mengundurkan diri dari keputusan.

“Aku tidak mau hubungan ini jadi alasan orang meremehkan kerjaku,” kata Kirana.

“Tidak akan.”

“Dan aku tidak mau Mas kehilangan pekerjaan.”

“Itu tanggung jawab saya.”

“Sekarang tanggung jawab kita berdua.”

Arya berhenti menulis dan menatapnya. “Saya suka kata kita.”

Kirana mengambil pulpen dari tangannya agar pria itu berhenti membuat semua kalimat terdengar seperti rayuan.

Kirana menyukai semua itu lebih daripada yang ingin ia akui.

Namun hampir ketahuan terjadi pada sore kedua. Ia masuk ke 805 memakai kode 0719 dan langsung memeluk Arya dari belakang. Pria itu sedang memotong buah. Sebelum Kirana sempat mencuri satu potong, bel berbunyi.

“Kira?” suara Winda terdengar dari luar. “Kamu di sini?”

Kirana membeku.

Arya menunjuk sandal kelinci merah muda yang terlihat di dekat pintu. “Terlambat bersembunyi.”

“Dia tahu aku sering ke sini. Dia belum tahu sedetail ini.”

Arya membuka pintu. Winda melihat sandal, dua piring, dan tangan Kirana yang masih mencengkeram ujung kemejanya.

“Aku hanya mau meminjam charger,” kata Winda. “Tapi rupanya ada listrik lain.”

“Jangan bilang siapa pun,” ujar Kirana.

“Feby sudah kirim tiga puluh stiker. Bima juga tahu. Rahasia kalian aman selama tidak bermesraan di kantin.”

Winda mengambil charger dan pergi. Ia masih belum tahu apa yang terjadi di Singapura, dan Kirana belum siap menceritakannya.

Pada hari ketiga, Cindy memperhatikan Kirana menerima kopi dari petugas kantin yang mengatakan minuman itu sudah dibayar. Kirana pura-pura tidak tahu siapa pengirimnya. Di media sosial, Cindy masih menyukai unggahan CP mereka, tetapi komentarnya mulai lebih berhati-hati.

“Kita tidak akan bisa menyembunyikan ini selamanya,” kata Kirana malam itu.

Arya menyentuh ujung hidungnya. “Saya tidak berniat menyembunyikanmu selamanya.”

“Sampai semester selesai?”

“Atau sampai semua perlindungan akademik siap. Mana yang lebih dulu.”

Keesokan paginya, Arya membahas valuasi di depan kelas. Ia dingin, tepat, dan tidak memberikan satu senyum pun. Kirana hampir percaya mereka hanyalah dosen dan mahasiswa.

Lalu saat semua orang menunduk mencatat rumus, Arya mengangkat mata kepadanya.

Tatapan itu berlangsung singkat, tetapi cukup untuk mengatakan selamat pagi, jangan lupa makan, dan saya masih memikirkan ciuman semalam.

Kirana menunduk cepat agar seisi kelas tidak melihat senyumnya. Rahasia baru mereka ternyata hidup paling terang dalam hal-hal kecil dan manis yang tidak bisa dilihat siapa pun selain mereka berdua saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!