NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 9

Saat kalung itu terlepas perlahan dari leher Elizabeth, jatuh bergulir halus di atas lantai batu yang licin, berhenti tepat di dekat kakinya sendiri. Terdengar suara denting halus yang nyata. Raja Draven seketika menoleh sedikit, matanya baru saja hendak menangkap benda kecil yang berkilau samar itu, namun tepat sebelum ia sempat bergerak...

Pintu ruangan terbuka lebar dengan mendadak! Pengawal pribadi Raja melangkah masuk dengan napas terengah-engah, langkahnya terburu-buru dan wajahnya pucat penuh kecemasan luar biasa. Ia segera berlutut di hadapan Rajanya, lalu melaporkan dengan suara bergetar namun tegas:

"Tuanku... Hamba baru saja menerima kabar mendesak dari perbatasan! Asosiasi Penyihir... ternyata mereka juga sedang mencari seorang anak kecil! Mereka telah mengerahkan tiga pasukan pemburu khusus yang kini sedang berpatroli dan terus menyisir seluruh perbatasan wilayah kita dengan sangat teliti. Mereka terus mencari... dan tak akan berhenti sampai menemukan jejak anak yang dicari itu..."

Perhatian Raja Draven seketika teralihkan sepenuhnya kepada laporan itu. Matanya yang tadi sempat melirik ke arah benda kecil itu kini tertuju sepenuhnya pada pengawal di hadapannya. Ia belum sempat melihat dengan jelas, belum sempat memungutnya.

Di saat itulah, Elizabeth yang berdiri di sana dengan tenang menundukkan pandangannya, dan seketika matanya menangkap benda kecil yang berkilau di dekat kakinya sendiri. Hatinya sedikit berdebar . ia segera menyadari kalung itu terlepas. Dengan gerakan cepat namun sopan yang tak menarik perhatian siapa pun, ia berjongkok pelan dan memungut kalung itu kembali ke tangannya. Tanpa menampakkannya kepada siapa pun, ia segera menyimpannya rapat-rapat di dalam pakaiannya, lalu menundukkan kepalanya kembali seolah tak terjadi apa-apa.

Ia berdiri diam sejenak, mendengar setiap kata yang diucapkan pengawal itu dengan hati yang berdebar kencang, namun ia tetap tenang dan tak bersuara. Setelah suasana kembali hening sejenak, dengan sopan dan perlahan ia melangkah mundur, lalu berjalan menjauh meninggalkan ruangan itu. Kalung itu kini aman kembali di sisinya, dan Raja pun belum sempat mengetahui benda apa yang tadi sempat tergeletak di sana.

Raja Draven berdiri mematung sejenak, tangannya terkepal erat di sisi tubuh, sepasang matanya menyala merah padam menahan amarah yang meluap-luap mendengar laporan itu. Napasnya terdengar berat dan menyesakkan, seketika membuat udara di ruangan luas itu terasa dingin dan mencekam.

"Siapa pun anak yang mereka cari..." suaranya menggelegar penuh ketegasan yang tak dapat dibantah, bergema di seluruh penjuru ruangan. "Tak boleh jatuh ke tangan mereka. Sampaikan perintahku... Perkuat seluruh penjagaan perbatasan. Jangan biarkan satu pun pemburu itu melangkah masuk tanpa izin. Dan siapa pun yang berani melacak jejak anak itu... musnahkan tanpa ampun."

Pengawal itu segera membungkuk dalam penuh hormat. "Baik, Tuanku! Segera hamba laksanakan!" Dengan cepat ia berbalik dan melangkah keluar kembali, meninggalkan Raja Draven yang masih berdiri diam memandang ke arah jendela besar, pikirannya terbenam dalam kekhawatiran yang mendalam. Ia sama sekali belum menyadari siapa anak yang dicari itu, dan belum menyadari pula siapa wanita yang baru saja berdiri tak jauh darinya.

Sementara itu, Elizabeth terus melangkah perlahan menjauh sepanjang lorong yang sepi itu. Kalung itu kini digenggam erat di dalam dadanya, terasa hangat dan menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang mendengar laporan tadi. Ia tak menyadari... bahwa anak yang dicari oleh tiga pasukan pemburu itu adalah Leon, putranya sendiri. Dan Raja Draven pun belum tahu... bahwa wanita yang baru saja meninggalkan ruangannya, dan anak berusia empat tahun yang akan datang besok pagi... adalah orang-orang yang selama ini ia lindungi dan cari keberadaannya.

Dengan hati yang penuh harapan namun juga dibayangi rasa takut yang samar, Elizabeth terus melangkah pergi, berniat segera pulang dan menyiapkan diri untuk membawa Leon menemui Raja besok paginya, tanpa menyadari bahaya besar yang perlahan mulai mendekat ke arah mereka berdua.

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap lembut di antara dedaunan hijau yang berkilau berembun. Elizabeth berjalan perlahan menuntun tangan kecil Leon menyusuri taman kerajaan yang begitu luas dan indah. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran rapi di sepanjang jalan setapak batu, burung-burung berkicau riang di dahan pohon rindang, dan udara pagi terasa segar menyegarkan jiwa. Di kejauhan tampaklah bangunan istana yang menjulang megah, berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak begitu agung dan memukau pandangan siapa pun yang melihatnya.

Leon melangkah riang di samping ibunya, matanya yang bening membelalak takjub menatap ke segala arah. Pandangannya berhenti lekat-lekat pada bangunan istana yang megah itu, lalu mendongak menatap ibunya dengan raut wajah yang begitu bangga dan bahagia tak terlukiskan. Matanya bersinar terang, senyum merekah lebar di bibir mungilnya, lalu berseru dengan suara lantang penuh kekaguman:

"Mama... rumah penguasa kota ini sungguh keren sekali! Penguasanya pasti orang yang sangat hebat dan luar biasa!"

Ia menatap bangunan megah itu kembali dengan pandangan penuh kekaguman, seakan ada sesuatu di dalam hatinya yang ikut berbangga. sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami, namun terasa begitu hangat dan dekat di dadanya.

Elizabeth tersenyum lembut mendengar ucapan anaknya, tangannya mengusap lembut kepala kecil Leon. Hatinya terasa hangat namun juga sedikit berdebar. Ia tak menyangka bahwa penguasa yang dikagumi putranya itu... adalah orang yang kelak akan menjadi pelindung dan tempat mereka bersandar. Dan jauh di dalam dadanya, ia mulai merasakan... bahwa pertemuan yang akan terjadi sebentar lagi mungkin akan mengubah seluruh nasib mereka berdua selamanya.

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh menyusuri jalan taman yang indah itu, tiba-tiba sesosok bayangan merah melayang turun dari arah beranda istana, menghadang jalan mereka dengan tiba-tiba. Di hadapan mereka berdiri Carmilla, mengenakan gaun merah menyala yang berkilau mewah, payung hitam besar terbuka di atas kepalanya melindungi dari sinar matahari. Wajahnya tampak merah padam, matanya menyala tajam penuh amarah yang tak disembunyikan lagi.

Carmilla melangkah mendekat dengan senyum sinis yang mengerikan, suaranya terdengar tajam dan penuh penghinaan:

"Raja hanya berbasa-basi sedikit denganmu kemarin... dan kau sudah merasa hebat? Kau pikir dengan sekadar diizinkan masuk ke hadapannya, kau sudah menjadi siapa? Kau pikir kau pantas berdiri di tempat sepenting ini?"

Elizabeth seketika menahan langkahnya, menarik tubuh Leon perlahan ke belakang punggungnya, lalu menatap Carmilla dengan tenang namun tetap sopan.

"Nona Carmilla..." panggilnya pelan, suaranya tenang namun penuh kewaspadaan. "Aku datang atas perintah Tuanku Raja..."

Di sampingnya, Leon mendongak menatap sosok wanita yang berdiri angkuh di hadapan mereka itu. Matanya yang bening perlahan menyipit, tangannya mencengkeram erat ujung gaun ibunya. Sesuatu dari aura wanita itu membuatnya merasa takut . seperti rasa dingin yang menusuk tulang, seperti kebencian yang menyala terang. Ia segera bersembunyi di balik punggung Elizabeth, menyembunyikan wajahnya, namun matanya tetap mengintip dengan waspada.

Carmilla tertawa sinis mendengar jawaban Elizabeth, lalu melangkah selangkah lebih dekat, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan penuh jijik dan penghinaan yang menyakitkan .

"Seorang pelayan manusia rendahan... berani merayu dan menggoda Raja dengan senyumanmu yang dibuat-buat! Berani datang seenaknya ke istana hanya karena diberi sepatah kata sopan santun! Dan membawa anak haram yang tak diketahui siapa ayahnya... Kau pikir kalian pantas melangkah di tanah suci ini? Kau pikir anak yang lahir tanpa ayah itu pantas berada di dekat Raja?"

Ia menunjuk tajam ke arah Leon yang mengintip ketakutan dari balik punggung ibunya, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin meninggi dan penuh kebencian:

"Pergilah! Sebelum aku kehilangan kesabaranku! Tempat ini bukan untuk orang sepertimu—wanita miskin yang tak tahu diri dan anak yang tak memiliki ayah! Kau pikir dengan bermuka manis di hadapan Raja kemarin, kedudukanmu sudah berubah? Jangan bermimpi! Kau tetaplah sampah rendahan, dan anakmu tetaplah anak yang tak diinginkan siapa pun!"

Elizabeth menarik napas panjang, menahan segala rasa sakit dan amarah yang mulai menyergap hatinya. Ia meremas kedua tangannya erat-erat, berusaha tetap tenang demi Leon yang ketakutan di belakangnya.

"Kami datang atas perintah Tuanku Raja, Nona Carmilla..." ucap Elizabeth kembali, suaranya tetap teguh namun lembut. "Jika Tuanku mengundang kami, maka kiranya ada alasannya. Aku tidak bermaksud menghina atau merendahkan siapa pun..."

Carmilla menyeringai makin lebar, menatap tajam tepat ke mata Elizabeth:

"Alasannya? Karena Raja baik hati kepada siapa pun yang tampak kasihan? Jangan harap! Segera bawa anakmu itu pergi dari sini sebelum aku mengusir kalian dengan cara yang tidak menyenangkan! Ingatlah... di sini akulah yang memegang kendali... dan kau... tak akan pernah bisa menjadi apa pun di mata Raja!"

Tanpa belas kasihan sedikit pun, Carmilla melangkah cepat mendekat, lalu dengan kasar ia mencengkeram leher kecil Leon. Cengkeramannya begitu kuat hingga napas anak itu tersendat, wajahnya seketika memerah menahan sakit.

"Kelelawar yang dicabuti bulunya saja lebih baik daripada bocah sepertimu!" desis Carmilla dengan nada penuh kebencian, matanya menyala merah menyala. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorong dan melempar tubuh kecil itu dengan sekuat tenaga.

"Aaa!!!"

Leon terpelanting jatuh keras ke tanah yang berbatu. Lutut kecilnya terbentur batu tajam, seketika darah segar membasahi kulit pucatnya dan mengalir deras membasahi rumput hijau. Leon meringis kesakitan, tak kuasa menahan tangis yang meledak seketika.

"Mama!!! Sakit... Mama!!!"

Elizabeth seketika terduduk di tanah, menarik tubuh anaknya ke dalam pelukan erat. Air matanya jatuh deras membasahi wajah Leon yang penuh air mata dan keringat dingin. Ia menekan luka di lutut kecil itu dengan tangan gemetar, lalu mendongak menatap Carmilla dengan mata yang memerah penuh amarah dan kesakitan yang luar biasa. Suaranya pecah menjadi jeritan yang menyayat hati:

"Dia hanya seorang anak kecil!!! Apa salahnya kepadamu?! Mengapa begitu kejam kepada anak yang tak berdaya?!"

Namun jeritan Elizabeth seakan tak berarti sedikit pun bagi Carmilla. Wanita itu justru tersenyum miring mengerikan, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya. Cahaya gelap perlahan berpendar di ujung jari-jarinya yang kuku-kukunya memanjang tajam dan berkilau hitam. Dengan satu gerakan cepat dan kejam, ia melesat ke depan dan menancapkan kuku-kuku tajam itu paksa ke punggung Elizabeth!

"Aaaaahhh!!!"

Elizabeth meraung kesakitan, tubuhnya melengkung menahan rasa perih yang membakar hingga ke tulang. Darah segar merembes keluar seketika membasahi punggungnya. Namun Elizabeth tak melepaskan pelukannya pada Leon walau sedikit pun. Ia tetap melindungi anak itu di bawah tubuhnya sendiri, menahan setiap rasa sakit itu demi Leon yang ketakutan menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya .

Darah segar merembes membasahi punggungnya, rasa perih itu menjalar membakar seluruh tubuhnya, namun Elizabeth tak bergeming sedikit pun. Ia tetap memeluk Leon erat di pelukannya, melindungi tubuh kecil itu dengan tubuhnya sendiri. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Elizabeth menatap tajam ke arah Carmilla, matanya memancarkan ketegasan yang tak terduga. Suaranya terdengar bergetar namun penuh kekuatan, bagaikan pedang yang terhunus:

"Lepaskan dia!!!"

Carmilla justru tertawa renyah, tawa yang penuh keangkuhan dan penghinaan. Ia melepaskan kukunya perlahan dari punggung Elizabeth, lalu berdiri tegak di hadapan mereka berdua dengan wajah yang menyeringai puas. Matanya menatap Elizabeth seakan menatap serangga yang tak berharga, lalu berkata dengan nada mengejek dan penuh kebencian:

"Lihatlah... kau bukan apa-apa! Ingatlah baik-baik, Raja melindungimu hanya sesaat, hanya karena rasa kasihan! Itu tidak akan berlangsung selamanya! Suatu hari nanti... ia akan bosan dan membuangmu seperti sampah!"

Carmilla melangkah mendekat, lalu dengan kasar ia menangkupkan telapak tangannya ke dahi Elizabeth, menekan kepala wanita itu ke belakang hingga mendongak menatapnya. Tatapannya begitu tajam dan penuh racun, seakan ingin menghancurkan semangat Elizabeth seketika. Dengan suara yang berbisik namun menyakitkan, ia melanjutkan:

"Merayu dan memohonlah sesukamu... menangislah sepuas hatimu... Kau hanyalah wanita rendahan yang dijadikan penghangat ranjang semata! Hanya pelarian sesaat bagi Tuanku! Cepat atau lambat... ia akan bosan denganmu. Dan saat itu tiba... lihatlah siapa yang akan tertawa terakhir..."

Carmilla melepaskan tangannya dengan kasar, membuat kepala Elizabeth terhuyung ke belakang. Elizabeth terjatuh kembali ke tanah, napasnya tersengal hebat, darah dari luka di punggungnya terus menetes membasahi baju yang ia kenakan. Namun di pelukannya, Leon yang masih menangis memeluk erat ibunya, menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata di dada ibunya. Elizabeth menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan rasa sakit yang luar biasa itu, menatap tajam ke arah Carmilla tanpa menjatuhkan air mata lagi. Di dadanya kini bukan lagi rasa takut... melainkan tekad yang semakin membara.

Belum sempat suara permohonan Elizabeth yang penuh keputusasaan itu sepenuhnya lenyap di udara, tiba-tiba sebatang tombak bercahaya gelap muncul dari telapak tangan Carmilla! Tanpa belas kasihan sedikit pun, dengan satu ayunan tangan yang cepat dan kejam, ia melemparkannya tepat ke arah tubuh kecil Leon!

Tubuh Leon terpental jauh ke belakang bagai diterjang badai dahsyat, terhempas keras ke batang pohon besar di tepi taman sebelum jatuh terguling ke tanah yang berlumut. Dan saat ia berusaha mengangkat wajahnya yang pucat pasi... terlihatlah darah yang mengalir dari pipi kecilnya yang terluka itu . bukan merah biasa, melainkan cairan berkilau lembut berwarna emas murni yang memancarkan cahaya samar di bawah sinar matahari pagi!

Melihat pemandangan itu, seketika jiwa Elizabeth seakan tercabik berkeping-keping. Ia berdiri gemetar di tempatnya, mata membelalak tak percaya, napasnya tertahan hebat di tenggorokan. Darah emas... darah yang tak seharusnya dimiliki anak manusia biasa... Kakinya yang tadi lemas seketika seakan memiliki kekuatan luar biasa. Ia menjerit sekuat tenaga, suaranya pecah dan bergema penuh kepedihan yang tak terlukiskan:

"Aku sudah bersujud dan memohon kepadamu... Apa lagi yang kau inginkan?! Apa masih belum cukup penderitaan kami?! Mengapa kau begitu kejam kepada anak yang tak berdaya?!!"

Namun jeritan hati yang hancur itu seakan tak sampai ke telinga Carmilla. Wanita itu justru tersenyum puas . senyum yang begitu dingin, penuh kemenangan dan kebencian yang mendalam. Matanya menatap darah emas yang mengalir di pipi Leon dengan tatapan yang tak lagi menyembunyikan niat membunuh.

Belum sempat Elizabeth berlari merangkul anaknya, Carmilla kembali melirik tajam ke arah pelayan pribadinya yang berdiri tak jauh dari sana. Dengan satu isyarat tangan dingin dan perintah berbisik yang mengerikan, seketika dari tanah di dekat tubuh Leon muncul makhluk mengerikan , ular raksasa yang tubuhnya berkilauan dengan sihir hitam, matanya menyala merah menyala, dan taringnya meneteskan racun mematikan!

Ular itu melesat cepat bagai kilat ke arah Leon yang masih terbaring lemah!

"Jerrrrrrrtttttt!!!!"

Suara desisan mengerikan terdengar nyaring bersamaan dengan jeritan kesakitan Leon yang nyaris tak terdengar. Tubuh kecilnya terguncang hebat, sekujur tubuhnya menegang kaku diserang sihir racun yang membakar perlahan.

Melihat itu, seketika kesabaran dan ketabahan Elizabeth runtuh seketika. Ia melesat berlari sekuat tenaga, menjerit sekeras-kerasnya hingga suaranya berubah serak dan memilukan hati siapa pun yang mendengarnya:

"LEOOOOOOOOONNNNNNNNNNNN!!!!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!