Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGOSIASI
Ruang pertemuan di kantor notaris ternama di Jakarta Pusat terasa dingin. Di tengah meja kaca transparan, tergeletak sebuah folder cokelat tebal. Di satu sisi duduk aku dan Arya. Di sisi lain, Dimas—kakak iparku yang biasanya sombong—duduk gelisah, keringat mengucur di pelipisnya meski AC disetel dingin. Di sampingnya, seorang pengacara muda terlihat gugup memegang pulpen.
Dimas menatap folder itu seolah melihat bom waktu. Tangannya gemetar saat ia mencoba menyentuh ujung foldernya.
"Siren..." ucapnya, suaranya serak dan tidak yakin.
"Kamu benar-benar serius mau beli tanah di BSD itu? Dengan harga segitu?"
Aku tersenyum tipis, menyandarkan punggung ke kursi kulit hitam.
"Serius, Mas Dimas. Harga pasar untuk lahan seluas dua hektar di kawasan strategis itu minimal lima belas miliar. Tapi aku tawarkan delapan miliar. Tunai. Langsung transfer hari ini juga."
Dimas menelan ludah keras. Matanya berbinar karena godaan uang tunai, tapi egonya terluka karena ditawari harga murah.
"Itu... itu penghinaan!" protes Dimas, meski suaranya tidak meyakinkan.
"Tanah itu warisan Ayah! Nilainya sentimental! Kamu tidak bisa membelinya dengan harga barang bekas!"
Arya tidak berbicara. Ia hanya membuka laptopnya, memutar sebuah video pendek. Suara dari speaker laptop terdengar jelas di ruangan hening itu.
"Bro, tolongin gue deh. Gue butuh lima miliar buat nutup lubang judi online gue. Kalau nggak, istri gue bakal ceraiin gue besok. Jual aja tanah BSD itu. Murah juga gapapa, asal cair cepat."
Itu adalah rekaman suara Dimas yang dikirimkan secara tidak sengaja ke grup WhatsApp keluarga besar tiga bulan lalu. Grup yang sudah lama kublokir, tapi tim intelijen Arya berhasil mengambil datanya dari server cloud.
Wajah Dimas memucat seketika. Ia menoleh tajam ke arah pengacaranya, lalu kembali menatapku dengan tatapan ngeri.
"K-Kamu... kamu rekam itu?" stutternya.
"Bukan aku yang merekam, Mas," jawabku tenang.
"Itu jejak digitalmu sendiri. Dan sekarang, itu menjadi alat tawar-menawarku. Jadi, kita ulang lagi. Delapan miliar. Tunai. Hari ini. Atau besok, istri Mas akan menerima salinan rekaman ini, plus bukti transaksi judi onlinemu senilai dua miliar rupiah ke situs ilegal di luar negeri."
Pengacara Dimas terlihat panik. Ia membisikkan sesuatu ke telinga kliennya.
"Pak, lebih baik terima. Jika ini bocor ke publik atau istri Bapak, reputasi Bapak hancur. Dan aset bisa disita pengadilan sebagai hasil tindak pidana perjudian."
Dimas menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia menatapku dengan kebencian murni, tapi juga ketakutan yang mendalam.
"Kamu jahat, Siren," desisnya pelan.
"Dulu kamu wanita lemah yang cuma bisa menangis di dapur. Sekarang kamu jadi monster."
"Aku bukan monster, Mas," balasku dingin.
"Aku hanya wanita yang belajar bahwa air mata tidak membayar tagihan. Dan kebohongan tidak membangun masa depan. Kamu punya pilihan. Ambil uangnya, lunasi utang judimu, dan selamat dari perceraian. Atau pertahankan ego murahanmu, dan kehilangan semuanya."
Arya akhirnya berbicara. Suaranya rendah, berat, dan penuh otoritas.
"Waktu Anda tinggal lima menit, Tuan Dimas," ucap Arya tanpa menatap Dimas, matanya tetap pada layar laptop.
"Tim hukum kami sudah menyiapkan draft perjanjian jual beli. Jika tidak ditandatangani dalam lima menit, dokumen bukti perjudian akan dikirim ke Kepolisian Sektor setempat dan istri Anda via email otomatis."
Dimas terengah-engah. Napasnya berat. Ia memandang istrinya yang sedang menunggu di luar ruangan (tanpa sepengetahuannya bahwa Arya sudah mengatur agar istrinya 'kebetulan' lewat di dekat ruang pertemuan).
"Baiklah!" teriak Dimas tiba-tiba, suaranya pecah. Ia meraih pulpen dengan tangan gemetar.
"Saya tanda tangan! Tapi ingat, Siren... suatu hari nanti, karma akan datang padamu!"
Aku tertawa kecil. Tawa yang renyah dan meremehkan.
"Karma sudah datang, Mas. Namanya aku."
Dimas menandatangani dokumen itu dengan buru-buru, coretan tanda tangannya jelek dan miring karena panik. Setelah selesai, ia melemparkan pulpen ke atas meja, berdiri, dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Istrinya tampak bingung melihat wajah suaminya yang pucat pasi, tapi Dimas langsung menyeretnya pergi.
Ruangan kembali hening. Hanya ada suara dengungan AC dan detak jam dinding.
Aku menghela napas panjang, bahu ku rileks. "Selesai. Tanah itu sekarang milikku."
Arya menutup laptopnya, lalu menatapku dengan senyum bangga. Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di belakang kursiku. Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh telingaku.
"Eksekusi yang sempurna," bisiknya.
"Kamu tidak hanya membeli tanah. Kamu membeli kebebasanmu dari cengkeraman keluarga mereka. Dengan satu tanda tangan, kamu memutus tali terakhir yang mengikatmu pada masa lalu yang menyakitkan."
Aku menoleh, menatap wajahnya dari bawah. "Apakah aku terlalu kejam? Memanfaatkan kelemahan judinya?"
"Tidak," jawab Arya tegas. Ia memutar kursiku agar berhadapan langsung dengannya. "Dia menggunakan kelemahan emosionalmu selama bertahun-tahun untuk menyakitimu. Sekarang, giliranmu menggunakan kelemahan moralnya untuk menyelamatkan dirimu. Itu bukan kekejaman, Siren. Itu keseimbangan alam."
Ia mengulurkan tangannya, mengajakku berdiri. "Ayo. Kita rayakan kemenangan kecil ini. Makan siang di tempat favoritmu? Atau kamu ingin langsung ke lokasi tanah untuk survei?"
Aku tersenyum, mengambil tas jinjingku. "Survei dulu. Aku ingin melihat tanah itu dengan mata kepalaku. Tanah yang akan menjadi fondasi kerajaan Siren Group."
Arya mengangguk, menawarkan lengannya. "Mari kita bangun kerajaan itu. Batu bata pertama diletakkan hari ini."
Saat kami berjalan keluar dari gedung notaris, matahari siang terasa hangat di kulitku. Bukan panas yang membakar. Tapi hangat yang menjanjikan. Langit biru terbentang luas di atas kepala, seolah menyambut era baru yang finalmente dimulai.
Di dalam mobil, ponselku bergetar. Pesan dari bank: Transfer Rp 8.000.000.000 berhasil.
Aku menunjukkan layar itu pada Arya. Dia tersenyum, lalu mengecup keningku sekilas.
"Selamat datang di dunia pengusaha, Nyonya Direktur," godanya.
"Terima kasih, Tuan Penasihat," balasku, tersenyum balik.
"Tapi ingat, saya bosnya. Anda hanya karyawan paling istimewa."
Arya tertawa, tawa yang lepas dan bahagia. "Siap, Bos. Perintah apa selanjutnya?"
"Antar saya pulang," jawabku. "Saya ingin istirahat sebentar. Sebelum nanti malam... kita hadapi babak berikutnya."
"Babak apa?" tanya Arya, alisnya terangkat penasaran.
"Babak dimana Nia Tanjung divonis," jawabku dingin.
"Dan dimana Fadli akan menyaksikan dari kursi roda rumah sakit, menyadari bahwa wanita yang ia sia-siakan kini berdiri di puncak, sementara ia tenggelam di dasar lumpur."
Arya mengangguk serius. Wajahnya kembali menjadi topeng dingin sang strategist.
"Maka bersiaplah, Siren," ucapnya.
"Karena puncak itu tinggi, dan anginnya kencang. Tapi saya akan pastikan Anda tidak jatuh."
Mobil melaju mulus membelah kemacetan Jakarta. Di dalam kehangatan kabin itu, dua hati yang pernah hancur kini berdetak selaras, siap menghadapi apapun yang dunia lemparkan ke hadapan mereka. Bersama.