NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Setengah Lap di Depan

"Masih ada waktu untuk mundur, Bro."

Reno menurunkan kaca Porsche 911 GT3 RS-nya di garis start. Di belakangnya, bendera tim, mekanik, kamera, dan ratusan penonton membuat tantangan itu terlihat seperti acara resmi. Mereka sudah membingkai ini sebagai pertarungan new money melawan old money. Anak baru yang membeli Lamborghini melawan pewaris keluarga sawit yang sejak remaja hidup di paddock.

Raka mengencangkan sarung tangan.

"Kita bicara di garis akhir, Reno."

Fajar berdiri di pinggir lintasan dengan wajah pucat dan ponsel menyala. "Bang, kalau ada apa-apa, aku posting video kemenangan dulu baru pingsan."

"Prioritas bagus."

Lampu start menyala merah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hijau.

Dua supercar melesat seperti dilempar. Porsche Reno mengambil start lebih bersih dan unggul setengah badan. Penonton bersorak. Raka tidak mengejar secara membabi buta. Ia membiarkan Reno memimpin lap pertama, membaca ritme lawan, titik rem, dan kebiasaan kecil saat masuk tikungan.

[Mimpi: Reno kuat di tikungan lambat, ragu di high-speed S.]

Lap kedua, jarak tetap rapat. Reno mencoba menutup racing line di tikungan kelima. Raka tidak memaksa. Ia tahu penonton ingin drama cepat, tetapi kemenangan tidak perlu mengikuti selera penonton. Ia menempel cukup dekat untuk membuat kaca spion Reno penuh warna kuning Lamborghini.

Di paddock, pengikut Reno mulai gelisah.

"Kenapa dia belum tertinggal?"

Pelatih Reno tidak menjawab.

Lap ketiga, mereka masuk ke S cepat. Di situlah Reno menahan gas sepersekian detik. Refleks Raka menangkap ragu itu seperti lampu menyala. Ia menggeser mobil ke dalam, menekan gas lebih awal, dan Lamborghini melesat melewati sisi Porsche dengan jarak yang membuat penonton berdiri.

Fajar berteriak sampai suaranya pecah.

"BANG RAKA! GAS TERUS!"

Reno mencoba membalas di lurusan berikutnya. Porsche-nya meraung, tetapi Raka sudah keluar tikungan dengan kecepatan lebih baik. Jarak satu mobil menjadi dua, lalu tiga.

Lap keempat, Raka mulai melepaskan batas aman yang ia pegang sejak awal. Langkah itu terukur. Semua titik pengereman yang ia hafal semalam kini muncul sebagai garis naluriah. Manual belum ia dapat, tetapi tubuhnya sedang menulis catatan sendiri. Rem, putar, gas. Rem, tahan, keluar.

Reno tertinggal satu tikungan.

Kerumunan yang semula memihak Reno mulai berubah. Orang menyukai pewaris, tetapi mereka lebih menyukai keajaiban yang terjadi di depan mata.

Lap kelima, jarak menjadi seperempat lap.

Fajar tidak lagi melompat. Ia memegang pagar dengan dua tangan, wajahnya antara ingin menangis dan ingin muntah. "Ya Tuhan, kalau dia selamat, aku puasa konten sehari."

Di lap terakhir, Raka melihat Porsche Reno jauh di belakang. Ia tidak memperlambat untuk menghina. Ia hanya menjaga ritme bersih sampai garis finish.

Lamborghini melewati garis.

Setengah lap di depan.

Sirkuit hening satu detik, lalu pecah. Teriakan, klakson, kamera, orang berlari ke pagar. Raka menepi, mematikan mesin, dan membuka helm. Keringat membasahi rambutnya, tetapi matanya tenang.

Reno masuk finish jauh setelahnya. Ia keluar dari Porsche dengan wajah kaku. Timnya menunggu ledakan marah. Penonton menunggu alasan. Reno menatap mobil Raka, lalu berjalan mendekat.

Fajar ikut tegang.

Reno melepas sarung tangan dan mengulurkan tangan.

"Kamu menang. Bersih."

Raka menjabat tangannya. "Porsche Anda ditangani dengan baik."

Reno tertawa pendek, pahit tetapi jujur. "Jangan terlalu sopan. Aku kalah setengah lap. Itu bukan kalah tipis."

"Kamu tidak curang. Itu sudah lebih baik dari banyak orang yang pernah saya hadapi."

Kalimat itu membuat ekspresi Reno berubah. Ia datang untuk meremehkan anak baru. Ia pulang dengan hormat yang tidak ia rencanakan.

[Misi Kecepatan dan Kehormatan selesai.]

[Hadiah: 8.000 poin. Manual Mengemudi Ahli diperoleh.]

Pengetahuan masuk seperti peta yang tiba-tiba lengkap: bobot mobil, transfer beban, oversteer, understeer, rem trail, permukaan basah, kendaraan manual, otomatis, truk, motor, bahkan cara membaca pengemudi lain dari posisi roda. Raka menutup mata sebentar sampai gelombangnya reda.

Fajar menerjang dan memeluknya.

"Bang! Gue kira lu mati tadi!"

"Kamu sudah bilang itu sejak latihan."

"Karena kemungkinan itu konsisten!"

Video kemenangan menyebar sebelum Raka meninggalkan paddock. Judul-judul mulai muncul: pemuda misterius kalahkan pewaris sawit, Lamborghini kuning setengah lap di depan, Raka Surya Pratama bukan cuma pembeli supercar.

Di mobil pulang, Fajar terus menyegarkan layar.

"Lima puluh ribu views. Seratus ribu. Dua ratus ribu. Bang, ini naik gila."

Raka membaca Manual Mengemudi Ahli yang masih mengalir di kepalanya. Ia merasa setiap kendaraan di jalan mendadak punya bahasa.

Mimpi memberi peringatan baru.

[Trafik komentar meningkat. Nama Herman terdeteksi dalam beberapa utas diskusi.]

Raka membuka komentar.

Satu akun menulis: Saya kenal dia. Dulu cuma tukang cuci piring di restoran. Uangnya pasti dari judi atau penipuan.

Fajar melihat layar dan wajahnya langsung mengeras.

"Herman."

Raka menyimpan ponsel.

Setelah finish, beberapa penonton mendekati Reno lebih dulu, menunggu ia meledak. Reno mengepalkan tangan, lalu melepaskannya. Ia tahu ada kamera dari segala arah. Tetapi lebih dari itu, ia tahu sendiri bahwa tidak ada sabotage, tidak ada start curang, tidak ada potongan lintasan. Ia kalah di titik yang paling ia banggakan: kontrol.

"Lap ketiga," kata Reno pelan kepada Raka, "kamu ambil S cepat seolah lintasan itu sudah kamu hafal bertahun-tahun."

"Semalam saya menghafalnya."

Reno menatapnya, mencari kesombongan. Ia hanya menemukan fakta. Itu lebih menjengkelkan.

"Kalau lain kali kita balap lagi, aku bawa mobil yang lebih cocok."

"Bawa juga alasan yang lebih sedikit."

Reno tertawa, kali ini tulus. Orang-orang menangkap tawa itu, dan suasana yang hampir menjadi konflik berubah menjadi pengakuan. Bagi Raka, itu penting. Kemenangan bersih membuat Reno berubah menjadi saksi, lalu memotong peluang dendam baru menggigit dari belakang.

Seorang reporter lokal mencoba mendorong mikrofon. "Pak Raka, apa rahasia menang melawan pembalap berpengalaman?"

Raka membuka botol air, meneguk, lalu menjawab, "Saya belajar sebelum datang. Dan saya tidak meremehkan lawan."

Jawaban pendek itu menyebar bersama video overtaking. Netizen menyukai orang kaya yang tidak bicara panjang setelah menang. Mereka lebih suka melihat lawannya kehilangan suara.

Reno menepati janjinya di depan kamera. Ia berkata jelas bahwa Raka menang karena kemampuan yang terbukti. Kalimat itu membuat para pengikutnya tidak bisa membuat narasi murahan. Salah satu dari mereka mencoba menyebut Lamborghini lebih unggul, tetapi Reno sendiri memotong, "Mobil kencang tidak jalan sendiri." Pengakuan itu mahal karena keluar dari mulut lawan.

Fajar langsung menyimpan potongan video tersebut ke tiga tempat. "Ini bukti anti-nyinyir," katanya. "Kalau ada yang bilang lu cuma modal mobil, aku putar ini sampai mereka bosan hidup."

Raka meminta ia tidak berlebihan, tetapi diam-diam setuju. Kemenangan tanpa dokumentasi terlalu mudah dicuri oleh komentar.

Sebelum mereka pergi, Reno menghampiri sekali lagi dan menyerahkan kartu nama pribadi. "Kalau kamu butuh akses event otomotif nasional, hubungi aku. Aku masih sebal kalah, tapi aku tidak buta. Orang sepertimu akan naik cepat. Lebih baik aku kenal sekarang daripada pura-pura tidak lihat nanti."

Raka menerima kartu itu. Musuh yang tahu kapan berhenti bisa menjadi jembatan.

"Biarkan internet membaca. Kadang kerumunan lebih cepat membongkar orang kecil yang merasa besar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!