Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 30
"Kereeeen!!!"
Rowan mengacungkan dua jempolnya ke depan wajah Kael. Mata Rowan juga berbinar dengan terangnya. Berkali-kali Rowan berkata keren lalu diikuti oleh tepuk tangan atas keberhasilan mengusir Iras tanpa harus berkata keras.
"Apaan sih, Wan."
Kael mengendus kesal. Dia lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang masih tersisa. Pujian yang didengarnya dari Rowan baginya hanyalah sesuatu yang berlalu.
Waktu pun bergulir cepat. Langit yang tadi terlihat biru dengan dipenuhi awan putih nan bersih kini mulai berubah menjadi oranye kemerahan. Tapi Kael tetap berada pada tempatnya, dan tak ada tanda-tanda dia hendak beranjak.
"Bos, nggak pulang kah?"
Rowan merapikan tumpukan map yang ada di meja. Dia juga sudah menutup laptopnya. Peregangan tubuh yang dilakukan Rowan menunjukkan bahwa ia lelah duduk seharian.
Rowan terus berada di ruangan Kael, ia hanya pergi untuk makan dan ke kamar kecil saja.
"Duluan, aku nanti aja," jawab Kael yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Beneran nih nggak apa-apa. Jangan sampai pas aku udah sampai rumah dipanggil aja ya," ancam Rowan. Bukan hal yang baru bagi Rowan memenuhi panggilan tuannya meski dirinya sudah ada di kamar sekalipun.
Kael mengibaskan tangannya, Rowan pun paham jawaban itu. Tanpa ragu, Rowan melenggang pergi meninggalkan ruangan Kael dan pemiliknya sendirian.
Haaah
Kael membuang nafasnya kasar. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi lalu mengusap wajahnya kasar.
Enggan rasanya untuk pulang. Terlebih di rumah memang tak ada siapa-siapa. Sehingga Kael memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan pekerjaannya.
Perutnya terasa lapar, tapi Kael juga enggan untuk makan. Padahal mudah baginya mendapatkan makanan, hanya tingga pesan maka akan diantarkan.
"Meski aku nggak bisa makan bersama mereka, tapi rasanya lebih baik dari pada sendirian kayak gini," ucapnya lirih.
Tangan Kael terus menari di atas keyboard, matanya juga terus memicing, agar apa yang sedang dikerjakan tidak salah. Fokusnya tak buyar meski handphone nya berkali-kal berdering.
Nama sang ibu ada di layar, namun Kael tidak memedulikannya. Tapi dering itu tak kunjung berhenti. Kael lalu menghentikan pekerjaannya dan menjawab panggilan tersebut.
"Iya Mam, ada apa hmm?"
"Ayaaaaah!"
Degh!
Mata Kael membulat sempurna, dadanya berdegup kencang namun tak lama kemudian bibirnya tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya kembali pada sandaran kursi.
"Iya sayang, Ayah di sini. Ada apa hmmm?"
Hatinya yang tadi terasa tidak nyaman kini seketika berubah. Suara Al seakan mengusir semua gelisah yang memenuhinya.
"Ayah kenapa nda pulan? Al di lumah lho, mainannya Al bawa semua dan nda ada yan ketindalan."
Apa?
Kael menegakkan tubuhnya. Perkataan Al kembali dicernanya secara pelan-pelan. Rumah yang dikatakan Al, apakah itu adalah kediaman utama?
Tak lagi bertanya, Kael beranjak dari kursinya. Dia meraup kunci yang ada di atas meja lalu bergegas pergi.
"Iya, Ayah pulang," jawabnya sambil berlari. panggilan itu ditutupnya secara sepihak. Kal memencet tombol lift berkali-kali. Karena tak kunjung terbuka, ia memutuskan untuk turun melalui tangga.
Langkah kaki Kael yang begitu cepat membuatnya seolah tak menapak lantai. Nafasnya terengah-engah ketika sampai di lobi perusahaan.
"Lho, bapak belum pulang ternyata."
"Hmm."
Seorang security menyapa Kael, namun Kael mengabaikannya. Iya hanya menjawab begitu saja dan kembali berlari menuju ke mobil.
Klak
Brumm
Mobil dinyalakan, Kael melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Dia juga berkali-kali menekan tombol klakson agar pengendara di depannya dapat menyingkir.
"Woiiii!"
Beberapa umpatan dilontarkan ke arahnya. Tapi Kael tidak peduli. Rasa senang dalam hatinya membuncah mendengar Al yang ada di kediaman utama.
Kesimpulan yang ditarik Kael dengan adanya Al di rumah utama adalah berarti Rosa tidak menolak kembali. Dan itu berarti lagi bahwa Rosa tak lagi ingin menghindar.
"Aku harap pemikiranku benar. Aku sungguh berharap kamu bisa muncul di depan ku, Ros. Aku sangat ingin bicara sama kamu. Aku mohon, aku mohon jangan hindari aku. Tak apa, meski harus dengan jarak tiga atau empat meter aku nggak masalah, asalkan kamu mau mendengarkan apa yang aku katakan."
Kael berbicara sendri di dalam mobil yang melaju cepat. Dalam kepalanya bayangan Al dan Rosa datang silih berganti.
Ckiit
Akhirnya Kael sampai juga di rumah. Gerbang dibuka oleh security, ia lalu memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu.
Kael turun dari mobil. Langkahnya sangat cepat ketika memasuki rumah. Dengan senyum yang mengembang, Kael berkata, "Selamat malam. Ayah pulang."
Al berlari kecil, menghampiri Kael lalu memeluknya.
Kael pun menggendong Al dan memeluknya dengan erat. Ia juga berkali-kali mencium pipi putranya.
"Ah maaf, Ayah belum cuci tangan dan ganti baju," ucapnya saat menyadari bahwa tubuhnya masih kotor karena keringat. Dimana tak seharusnya dia memeluk anak kecil dengan kondisi seperti ini.
"Nda apa, Ayah nda bau kok," jawab Al sambil menggelengkan kepalanya.
Kael pun tertawa, dia senang bahwasannya Al benar-benar sudah menerima.
Degh!
Jantung Kale berdegup kencang ketika melihat sosok Rosa yang berdiri sedikit jauh di depannya. Saat masuk tadi, dia tidak menyadari bahwa ternyata Al ada bersama dengan ibunya.
"R-rosa."
"Selamat malam."
Degh!
Semakin tidak karuan debaran yang dirasakan oleh Kael saat ini. Meski berdiri jauh di depannya, tapi Rosa jelas tidak lari saat melihatnya. Rosa juga tak membuang muka, wanita itu sungguh-sungguh menatap ke arah dirinya.
"Y-ya, s-selamat malam. K-kamu sudah makan?"
"Sudah."
Jawaban yang singkat diberikan oleh Rosa tapi bagi Kael itu sungguh sangat berarti. Di senang bukan main hanya dengan jawaban dan sikap seperti tu.
"Al uda makan balen Ibu, Opa dan Oma. Ayah lama sekali pulannya, jadi kami makan dulu. Cekalan Ayah makan ya. Ah iya, Al mau bobo cama Ayah."
"Eh apa boleh?"
Kael mengalihkan pandangannya dari Al ke Rosa. Wajahnya sedikit bingung dengan pernyataan sang putra.
"Boleh."
Kael tersenyum. Dia mengucapkan terimakasih dengan begitu tulus kepada Rosa.
Setelah itu, Rosa membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi. Kael masih saja tersenyum sampai punggung itu benar-benar sudah tak terlihat.
"Apa aku boleh mengartikan ini bahwa kamu udah nggak takut lagi sama aku, Ros? Terimakasih Rosa, ini sungguh sangat berarti bagiku," ucap Kael sambil meletakkan tangannya di dada. Seolah ada air dingin yang mengalir disana, rasanya menjadi begitu nyaman dan menyegarkan.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara