Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Clarissa mendongak, menatap lekat-lekat mata suaminya. Gengsinya benar-benar sudah menguap entah ke mana.
"Kamu ternyata iblis berwajah malaikat ya, Devan," bisik Clarissa dengan nada yang serak dan memikat. Ia mengangkat tangannya, merapikan dasi Devan dengan sangat telaten.
"Aku mulai berpikir... mungkin aku tidak ingin pernikahan kontrak kita ini berakhir hanya dalam waktu satu tahun."
Devan tertegun sejenak melihat sisi agresif Clarissa yang baru pertama kali muncul, namun segera setelah itu, senyum dominan sang Dewa Perang kembali menghiasi wajahnya.
Senyum dominan perlahan mengembang di wajah Devan.
Mantan Dewa Perang itu tidak mundur. Alih-alih merasa terintimidasi oleh agresivitas istrinya, Devan justru memajukan langkahnya hingga punggung Clarissa bersentuhan dengan dinding dingin lift.
Tangan kanan Devan terangkat, menyelipkan sehelai rambut Clarissa yang menjuntai ke belakang telinganya. Jari kasarnya dengan sengaja mengusap lembut rahang wanita itu, membuat napas Clarissa seketika tertahan.
"Tawaran yang sangat menggiurkan, Nyonya Bos," bisik Devan dengan suara bariton yang berat dan serak. "Tapi berhati-hatilah saat bermain api. Begitu aku benar-benar masuk ke dalam hidupmu, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."
Wajah Clarissa merona merah hingga ke telinga. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Devan bisa mendengarnya. Namun, sebelum Clarissa sempat membalas ucapan itu, suasana romantis dan intens di dalam lift tiba-tiba dihancurkan oleh dering telepon yang sangat nyaring.
Kring! Kring!
Clarissa terkesiap, buru-buru mengambil jarak dan merogoh ponsel di tasnya. Layar ponselnya menunjukkan panggilan darurat dari Direktur Keuangan Grup Rajawali.
"Ya, Pak Haris? Ada apa?" jawab Clarissa, berusaha keras menstabilkan suaranya.
Terdengar suara kepanikan yang luar biasa dari seberang telepon. "Nyonya CEO! Gawat! Saham Grup Rajawali tiba-tiba anjlok dua belas persen dalam waktu kurang dari satu jam! Ada konsorsium bayangan yang membuang saham kita secara masif di pasar modal dan menyebarkan rumor kebangkrutan!"
Wajah Clarissa yang tadinya bersemu merah kini berubah pucat pasi. "Apa?! Bagaimana mungkin? Kumpulkan semua manajer investasi kita di ruang rapat sekarang. Aku akan tiba dalam sepuluh menit!"
Lift berbunyi pelan saat pintunya terbuka di lantai lobi. Clarissa langsung berlari menuju mobil cadangan yang sudah disiapkan, melupakan sepenuhnya momen intim yang baru saja terjadi. Devan mengikutinya dari belakang dengan langkah tenang, matanya menyorotkan kilatan dingin.
Ruang Trading Darurat, Grup Rajawali
Suasana di dalam ruangan itu terasa seperti zona perang. Enam pialang saham perusahaan sedang berteriak-teriak di depan monitor yang menampilkan grafik merah yang terus merosot turun.
"Mereka terus membuang saham kita! Kalau harganya turun melewati batas psikologis, bank akan membekukan fasilitas kredit kita besok pagi!" teriak Haris, sang Direktur Keuangan, sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Clarissa berdiri di depan layar utama dengan tangan terkepal erat. Ini adalah serangan finansial terkoordinasi. Keluarga Sanjaya mungkin tidak bisa menyerang secara fisik atau melalui birokrasi lagi, tapi mereka menggunakan aliansi pengusaha kotor untuk menghancurkan Grup Rajawali dari bursa saham.
"Berapa banyak cadangan kas tunai yang kita punya untuk membeli balik saham itu?" tanya Clarissa cepat.
"Hanya cukup untuk menahan penurunan selama dua puluh menit, Nyonya! Setelah itu, kita akan hancur lebur!" lapor seorang pialang dengan nada putus asa.
Di tengah kekacauan itu, Devan berjalan santai mendekati meja terminal utama.
Ting!
[Skill Aktif: Keterampilan Negosiasi Korporat Tingkat Menengah.]
[Menganalisis pergerakan pasar. Mendeteksi pola serangan dari tiga perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman.]