"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Misi Tingkat-S Pertama
Arka tidak langsung pergi ke lokasi.
Pesan Adira jelas: jangan pulang dulu.
Tetapi untuk perkara sebesar itu, ia tidak mungkin datang hanya dengan ponsel dan dompet.
Ia membalas singkat.
Saya ambil kit forensik di kos. Kirim titik kumpul.
Balasan Adira masuk kurang dari sepuluh detik.
Kos. Sepuluh menit lagi Bambang jemput. Jangan unggah apa pun. Jangan bicara ke siapa pun.
Arka menatap kalimat terakhir.
Itu berarti kasus ini sudah bocor.
Ia menyalakan motor dan meninggalkan restoran.
Di perjalanan, ponselnya terus bergetar. Bukan dari Adira. Dari notifikasi berita, grup kantor, dan Rudi yang jelas tidak bisa menahan rasa ingin tahu.
Rudi: Dok, itu artis yang jatuh siapa?
Rudi: Di TikTok rame.
Rudi: Namanya Rusa Kecil. Bener?
Arka tidak menjawab.
Di lampu merah, ia membuka satu tautan berita.
Judulnya besar.
RUSA KECIL JATUH DI LOKASI SYUTING, KONDISI KRITIS.
Berita lain sudah lebih cepat.
RUSA KECIL MENINGGAL DUNIA, FANS MEMENUHI KOMENTAR DENGAN DOA.
Video pendek berputar otomatis. Seorang artis muda memakai kostum drama sejarah berdiri di atas rangka panggung. Tubuhnya ditarik tali pengaman. Dalam satu detik, ia masih melayang. Detik berikutnya, tubuhnya jatuh lurus ke bawah.
Video terpotong sebelum benturan.
Kolom komentar bergerak liar.
Kecelakaan? Rasanya aneh.
Tim produksi harus tanggung jawab.
Dia baru 22 tahun.
Rusa Kecil, bangun.
Arka mematikan layar.
Kirana Ayu Prameswari.
Nama panggung: Rusa Kecil.
Penyanyi, aktris, wajah iklan skincare, dan idola jutaan remaja. Popularitasnya cukup besar untuk mengubah satu kesalahan kecil menjadi badai nasional.
Di persimpangan berikutnya, sistem muncul lagi.
[Sinyal Kasus Bernilai Tinggi Terkunci]
[Objek Publik: Kirana Ayu Prameswari]
[Alias Publik: Rusa Kecil]
[Status: Meninggal]
[Mode Misi Aktif]
Arka menggenggam setang lebih kuat.
Sistem tidak pernah memulai sesuatu dengan bahasa seperti itu.
Biasanya ia melihat label setelah bertemu jenazah, korban, tersangka, atau bukti.
Kali ini sistem mengejarnya lebih dulu.
Di layar transparan, huruf merah muncul satu per satu.
[Misi Tingkat-S Pertama]
[Terdeteksi Kasus Bernilai Tinggi yang Terhubung dengan Host]
[Tujuan Utama: Ungkap Sifat Kematian Rusa Kecil]
[Tujuan Lanjutan: Identifikasi Aktor Penyebab]
[Hadiah Awal: Fragmen Peningkatan Fungsi x1]
[Hadiah Tambahan: Bergantung Evaluasi Penyelesaian]
[Terima Misi?]
[Y / N]
Arka berhenti di tepi jalan dekat kos.
Ia tidak langsung memilih.
Satu huruf S cukup untuk menjelaskan banyak hal.
Kasus Rungkut saja tidak diberi tingkat itu. Di sana ada mutilasi, dua korban, cold storage, sungai, dan pengakuan pembunuh berantai kecil yang hampir terkubur oleh administrasi.
Kalau kasus artis ini S, bahayanya melewati urusan jenazah.
Ada tekanan publik.
Ada uang produksi.
Ada kamera.
Ada pengacara.
Ada orang-orang yang lebih cepat menghapus jejak daripada polisi menulis surat.
Arka masuk kos, mengambil tas forensik, sarung tangan cadangan, masker, senter kecil, kaca pembesar, buku catatan, dan kartu kerja baru.
Kartu itu masih terasa baru saat ia masukkan ke dompet.
Di lorong, pintu Anindya terbuka sedikit.
"Baru pulang kok sudah keluar lagi?"
"Kasus."
"Yang artis itu?"
Arka menatapnya.
Anindya mengangkat ponsel. "Semua timeline isinya itu. Aku nggak buta internet."
"Jangan sebar apa pun yang belum resmi."
"Aku bukan akun gosip."
"Bagus."
Anindya melihat tasnya. "Berat?"
"Lumayan."
"Maksudku kasusnya."
Arka diam sebentar. "Mungkin lebih berat dari yang terlihat."
Anindya tidak bertanya lagi. Ia hanya berkata, "Hati-hati, Dok. Orang terkenal punya penggemar. Tapi orang di belakang orang terkenal biasanya punya uang."
Kalimat itu terlalu tepat.
Arka mengangguk. "Saya ingat."
Di depan kos, motor dinas Bambang berhenti.
Bambang membuka kaca helm. "Cepat, Dok. Bu Adira sudah di Mako. Media sudah mulai datang ke RSUD."
Arka naik ke belakang.
"Jenazah sudah dibawa ke sini?"
"Belum. Dari Batu masih koordinasi. Kabarnya meninggal di rumah sakit daerah setelah jatuh. Keluarga minta dibawa ke Surabaya karena manajemen punya akses ke sini. Polda juga mulai masuk."
"Lokasi syuting di Batu?"
"Iya. Produksi drama streaming. Adegan pakai wiraga, katanya tali putus. Semua orang bilang kecelakaan kerja."
Sistem di depan mata Arka masih menampilkan dua pilihan.
[Y / N]
Bambang melirik lewat spion. "Dok?"
"Ya."
"Saya belum tanya apa-apa."
"Bukan jawab kamu."
Arka memilih Y.
Layar merah berkedip.
[Misi Diterima]
[Misi Tingkat-S: Kasus Jatuhnya Bintang]
[Status Awal: Informasi Publik Tidak Cukup]
[Catatan: Hindari Kesimpulan Tanpa Bukti Fisik]
[Penalti: Kesalahan Interpretasi Pada Kasus Publik Akan Menurunkan Reputasi dan Akses]
Arka menarik napas perlahan.
Bahkan sistem pun memperingatkannya soal reputasi.
Ini panggung penuh kamera.
Ini panggung.
Dan semua orang sudah membawa kamera.
Di Mako Polrestabes, Adira berdiri di ruang rapat kecil bersama Dimas dan Kevin. Layar besar menampilkan potongan berita, daftar akun yang pertama mengunggah video, dan timeline awal.
Adira tidak membuang waktu.
"Korban Kirana Ayu Prameswari, dua puluh dua tahun. Nama panggung Rusa Kecil. Jatuh dari ketinggian sekitar delapan meter saat adegan terbang dengan wiraga. Tali utama tidak putus. Pengait keamanan di sisi kanan patah. Itu informasi dari kru."
Kevin menunjuk layar. "Video publik hanya dari penonton luar pagar. Versi kru belum diberikan lengkap. Manajemen bilang menunggu pengacara."
Dimas mendengus. "Baru meninggal sudah pengacara duluan."
Adira menatapnya.
Dimas langsung diam.
Bambang meletakkan helm. "Jenazah kapan sampai IKF?"
"Paling cepat Senin pagi," kata Adira. "Keluarga masih di Batu. Administrasi pemindahan jenazah, permintaan visum, dan koordinasi Polda sedang jalan. Malam ini kita belum pegang jenazah. Tapi kita pegang informasi awal."
Arka melihat foto di layar.
Kirana tersenyum di poster drama. Kostum putih, rambut panjang, mata besar. Di sebelahnya ada judul serial yang belum tayang.
Di foto lain, ia sudah terbaring di brankar rumah sakit daerah. Wajahnya ditutup sebagian. Petugas medis berdiri di sekitar.
Tidak ada label sistem karena foto bukan objek langsung.
Tetapi misi sudah aktif.
"Dokter Arka," kata Adira. "Pendapat awal?"
"Terlalu awal untuk menyimpulkan. Tapi kalau yang patah pengait keamanan, pengait keamanan, kita perlu lihat tiga hal: titik patah, pola beban, dan riwayat perawatan alat."
"Kalau murni kecelakaan?"
"Masih mungkin. Pengait bisa aus, salah pasang, atau menerima beban mendadak. Tapi kalau ada permukaan patahan yang tidak konsisten, arahnya berubah."
Kevin mengetik cepat. "Saya akan minta semua foto alat dan log pemeliharaan."
"Minta video mentah juga," kata Arka. "Bukan potongan. Dari kamera utama, kamera belakang layar, ponsel kru, CCTV, apa pun."
Adira mengangguk. "Sudah. Mereka lambat."
"Kalau mereka lambat karena panik, masih wajar. Kalau lambat karena memilih file, itu masalah."
Ruang rapat diam.
Adira menatapnya. "Itu yang saya takutkan."
Pukul sebelas malam, rapat awal selesai. Tim dibagi. Kevin fokus data digital. Dimas memantau media sosial dan akun penyebar pertama. Bambang bersiap mengawal administrasi jenazah. Arka diminta pulang dan tidur.
Ia tertawa pendek saat mendengar kata itu.
Adira menatapnya. "Ini perintah. Kalau Senin pagi autopsi, saya butuh Anda sadar dan tajam."
"Baik, Bu."
Di luar Mako, Arka berdiri sebentar di dekat parkiran.
Surabaya lewat tengah malam tetap bergerak.
Di layar ponselnya, tagar Rusa Kecil sudah menembus peringkat pertama nasional.
#SelamatJalanRusaKecil
#UsutSyutingMaut
#JanganTutupKasusIni
Sistem muncul lagi.
[Progres Misi: 1%]
[Data Fisik Utama Belum Diperiksa]
[Objek Prioritas: Jenazah, Pengait Keamanan, Video Mentah]
Arka menutup layar.
Ia belum melihat luka.
Belum menyentuh bukti.
Belum mendengar satu pun saksi.
Tetapi satu hal sudah jelas.
Kalau polisi berkata ini kecelakaan, publik belum tentu percaya.
Kalau publik berkata ini pembunuhan, bukti belum tentu setuju.
Dan jika sistem memberi tingkat S, maka kebenarannya pasti tidak akan berdiri di tempat yang mudah dilihat.