Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Melawan Sang Raja
Final dimulai pukul tujuh malam, waktu terbaik untuk siaran nasional.
Aula turnamen berubah menjadi arena cahaya. Kamera tambahan dipasang. Kursi penonton penuh. Sponsor tersenyum di baris depan. Komentator Aditya dan Master Suroso duduk di studio kecil dengan papan digital raksasa. Di layar utama, wajah Hendra Kusuma dan Arya Wijaya muncul berdampingan: legenda nasional melawan siswa SMA yang dua minggu lalu belum dikenal dunia papan.
Rendy, presenter kompetisi pengetahuan, bahkan muncul sebagai tamu promosi. Rizky melihatnya dan berbisik, "Orang itu mengikuti kita seperti efek samping kemenangan."
Putri berkata, "Dia mengikuti rating."
Pak Surya duduk tegak, berusaha terlihat seperti kepala sekolah yang siap difoto dari sudut mana pun. Budi duduk di sebelahnya, jauh lebih jujur: tegang, bangga, dan ingin pertandingan selesai tanpa ada orang menyerang anaknya.
Rafi berdiri dekat pintu keluar bersama dua petugas keamanan. Pesan dari Maya sudah jelas: panggung final adalah tempat paling terang dan paling berbahaya.
Hendra masuk lebih dulu. Penonton berdiri. Tepuk tangan panjang. Ia menunduk, menerima kehormatan itu dengan gerakan yang telah dilatih oleh bertahun-tahun kemenangan. Arya masuk setelahnya. Tepuk tangannya berbeda: lebih liar, lebih penasaran, lebih muda. Hendra mendengar perbedaan itu. Untuk pertama kalinya, suara penonton terasa seperti gelombang yang bisa berbalik.
Mereka duduk berhadapan.
Hendra berkata pelan, "Kamu sudah membuat turnamen ini ramai."
Arya menjawab, "Papan yang membuatnya ramai. Saya hanya meletakkan batu."
"Kerendahan hati akhirnya muncul?"
"Bukan. Akurasi."
Hendra tertawa pendek. "Baik. Mari lihat akurasimu setelah lima puluh langkah."
Wasit memberi aba-aba. Hendra mendapat hitam. Batu pertama jatuh di tengah papan dengan suara kecil yang ditangkap mikrofon meja.
Suroso berkata di ruang komentator, "Hendra memilih pembukaan klasik. Ia tidak lari dari identitasnya."
Aditya bertanya, "Itu baik?"
"Bisa menjadi baik. Bisa menjadi keras kepala. Kita tunggu."
Arya menaruh putih di sisi kanan bawah pusat. Respons itu jarang dipilih pemain turnamen. Hendra mengangkat alis sedikit. Langkah ketiga Hendra membentuk struktur lama yang sering ia pakai untuk memancing serangan. Arya tidak menyerang. Ia menaruh batu putih jauh di tepi atas, seolah mengabaikan pusat.
Penonton biasa bingung. Pemain senior condong ke depan.
Hendra berkata, "Kamu ingin membuat papan lebar?"
"Saya ingin melihat apakah Bapak masih bisa membaca papan yang tidak memuji kebiasaan Bapak."
Hendra tersenyum, tetapi rahangnya mengeras. Ia mengambil pusat lebih dalam. Arya membiarkan. Lima langkah kemudian, Hendra memiliki bentuk kuat di tengah. Komentar daring mulai mengatakan Arya terlalu berani. Bahkan Rizky berbisik, "Apakah pusatnya boleh segemuk itu?"
Putri tidak menjawab. Ia memperhatikan tangan Arya. Tangan itu tidak ragu.
Pada langkah kedua belas, Arya menutup satu titik di tepi bawah. Batu itu tampak terlambat. Hendra melihatnya, menghitung sebentar, lalu memilih menyerang pusat. Itu langkah kuat menurut teori lokal. Penonton bertepuk tangan. Suroso tidak ikut bicara selama hampir sepuluh detik.
Aditya akhirnya bertanya, "Master?"
Suroso berkata pelan, "Saya tidak suka batu putih di tepi bawah itu. Bukan karena buruk. Karena saya belum tahu untuk apa, dan itu membuat saya gelisah."
Langkah kedelapan belas, fungsi batu itu muncul. Ia menghubungkan ancaman tepi atas dengan celah di pusat, menciptakan garis bayangan yang tidak langsung menang tetapi memaksa Hendra memakai dua langkah untuk menutup satu masalah. Hendra memilih menutup pusat. Arya membuka tepi. Hendra menutup tepi. Arya kembali ke pusat dengan batu yang membuat struktur hitam terlihat berat.
Waktu Hendra mulai turun.
Di papan digital, grafik evaluasi dari analis komunitas menunjukkan posisi seimbang. Namun Suroso tidak percaya grafik itu. "Seimbang di angka, tidak seimbang di beban. Hitam harus menemukan langkah tepat lebih sering. Putih hanya perlu menjaga tekanan."
Hendra menyadari hal yang sama. Ia tidak kalah. Belum. Tetapi setiap langkah terasa seperti berjalan di lantai yang mungkin kosong di bawahnya. Arya tidak memberi pukulan besar. Ia memberi pertanyaan kecil tanpa henti.
Pada langkah tiga puluh satu, Hendra menemukan serangan balik yang indah. Dua batu hitam membentuk ancaman ganda. Penonton bersorak. Aditya berseru bahwa sang raja menunjukkan kelasnya. Hendra akhirnya tersenyum sungguh-sungguh.
Arya memandang papan, lalu menaruh putih di titik yang tampak pasif.
Senyum Hendra hilang.
Titik itu tidak menutup ancaman secara langsung. Ia membuat ancaman Hendra kehilangan urutan. Jika Hendra memaksa, putih mendapat garis lima lebih dulu. Jika Hendra mundur, seluruh serangan balik berubah menjadi lubang.
Hendra menghitung. Satu menit. Dua menit. Kamera menyorot wajahnya. Untuk pertama kalinya, penonton nasional melihat tangan Hendra Kusuma diam terlalu lama di atas mangkuk batu.
Rizky berbisik, "Put, dia gemetar?"
Putri menjawab pelan, "Sedikit."
Arya tidak melihat tangan Hendra. Ia melihat papan. Baginya, gemetar bukan target. Targetnya posisi. Namun bagi semua orang lain, momen itu seperti melihat patung mulai retak.
Hendra akhirnya memilih mundur.
Di layar evaluasi, posisi putih naik tipis.
Suroso berkata, "Itu bukan keunggulan besar. Tapi secara psikologis, itu pukulan berat. Hendra menemukan serangan bagus, lalu dipaksa membatalkannya. Pemain hebat paling sakit ketika langkah terbaiknya dijadikan beban."
Permainan berlanjut. Hendra masih kuat. Ia bertahan, memutar arah, membuat ancaman kecil di kanan atas. Arya merespons tanpa tergesa. Setiap kali Hendra mencoba mengambil inisiatif, Arya menukar satu ancaman lokal dengan tekanan global. Setelah langkah empat puluh tujuh, papan penuh garis yang tampak tidak selesai. Bagi penonton awam, kacau. Bagi Hendra, semua garis itu mengarah ke tenggorokannya.
Pada langkah lima puluh dua, Arya menaruh batu putih di titik tengah yang sejak awal dibiarkan kosong.
Hendra menatapnya.
Batu itu menghidupkan semua hutang lama.
Pusat, tepi bawah, tepi atas, dan diagonal kanan tersambung dalam tiga ancaman berbeda. Tidak ada kemenangan langsung, tetapi semua jalan hitam sekarang memerlukan keajaiban urutan. Hendra mengangkat batu hitam, menurunkannya, mengangkat lagi.
Aula sunyi.
Arya akhirnya berkata pelan, "Bapak masih punya satu langkah yang tidak kalah langsung."
Hendra menatapnya. "Kamu memberi petunjuk?"
"Tidak. Saya memastikan Bapak tahu ini belum selesai. Kalau Bapak salah sekarang, orang akan mengira saya hanya menunggu blunder. Saya lebih suka menang dari posisi penuh."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada ejekan. Arya tidak hanya yakin menang. Ia menolak kemenangan yang terlalu murah.
Hendra menemukan langkah itu setelah tiga menit. Permainan berlanjut ke fase akhir. Namun sejak saat itu, semua orang tahu arah angin berubah.
Sang raja masih duduk di kursinya.
Di ruang komentar, Rendy yang biasanya ringan ikut terdiam. Ia pernah melihat Arya menghancurkan soal. Sekarang ia melihat Arya menghancurkan rasa aman legenda. Perbedaannya membuat kulitnya merinding.
Tetapi takhtanya sudah miring.